
"Diamlah, ini aku."
Elie sangat mengenali suara itu, suara yang ia rindukan sejak tadi malam. Saat telapak tangan yang membekap mulutnya menjauh, Elie segera membalikkan tubuhnya dan menghadap pria itu.
"Mike?" cicitnya tidak percaya, berusaha mengerjapkan mata dengan keberadaan Mikel yang berada disana.
"Iya Sweetheart, apa aku mengejutkanmu hm?" Mikel mengusap lembut kepala Elie. "Apa kau baik-baik saja? Apa mereka melukaimu?" Dan Mikel mencoba memeriksa tubuh wanitanya itu.
"Aku baik-baik saja, Mike." Dan Elie hanya pasrah, membiarkan Mike memeriksa setiap inci tubuh serta wajahnya. Tidak mendapati luka di tubuh Elie, membuatnya menghela napas lega.
"Hm, kalau begitu kita harus pergi dari sini." Tangan Mikel menggenggam pergelangan tangan Elie, menuntun wanitanya itu untuk ikut bersamanya.
"Tapi Mike-" Sebelum Elie melanjutkan kalimatnya, Mikel sudah lebih dulu membawa masuk Elie ke dalam mobilnya. Kembali, wanita itu nampak pasrah ketika Mikel akan membawanya entah kemana.
Mobil yang dikemudikan oleh Mikel yang mengangkut wanitanya itu telah berhenti di sebuah bangunan bertingkat tiga dan berada di kawasan sekitar hutan.
"Ini dimana?" Elie mengedarkan pandangannya ketika ia baru saja turun dari mobil. Tempat itu nampak asing baginya.
"Ini adalah penthouseku, Sweetheart. Untuk sementara kau akan aman berada disini." Mikel tersenyum, mengikuti arah pandang Elie yang tidak beralih dari penthouse miliknya.
"Tapi bagaimana jika Kak Ar dan Daddy mencariku?" Elie ragu. Jika untuk sementara berada di penthouse Mikel, Daddy beserta kakaknya itu pasti tidak akan tinggal diam dan mencari keberadaanya hingga dirinya ditemukan.
"Tenang saja, Sweetheart. Aku akan mengembalikanmu pada mereka keesokan harinya."
Elie tercengang sejenak mendengar perkataan santai Mikel. "Tapi Kak Ar akan sangat marah. Apalagi jika dia tau bahwa kau yang membawaku pergi." Sejak pertemuan di rumah sakit, Arthur selalu mengingatkan dirinya agar tidak bertemu lagi dengan Mikel. Dari tatapan kakaknya itu , Elie bisa melihat jika Arthur sangat membenci Mikel. Terlebih jika kakaknya itu mengetahui jika ia dibawa pergi oleh pria yang sangat tidak disukainya itu.
Mikel tersenyum, masalah ketidaksukaan Arthur padanya, tidak ingin ia ambil pusing. Wajar saja jika Arthur bersikap seperti itu lantaran ingin melindungi adik tercintanya.
"Biarkan saja dia seperti itu. Dia tidak menyukai pria yang berusaha mendekati adiknya."
"Tapi Mike, Kak Ar pasti akan keberatan jika tau kau adalah Mike." Dapat Elie bayangkan jika Arthur dan keluarganya mengetahui jika Mikel adalah Mike, mereka pasti akan menyambut Mikel dengan tangan terbuka.
"No Sweetheart, sudah ku katakan untuk merahasiakan identitasku kepada siapapun." Mikel merengkuh pinggul Elie untuk mendekat padanya. "Apa kau bisa berjanji padaku, hm?" imbuhnya kemudian dengan penuh permohonan. Belum saatnya untuk orang lain mengetahui siapa dirinya, sebab tidak hanya akan membahayakannya saja, akan tetapi orang-orang yang berada di sekitarnya bisa saja menjadi incaran paman beserta kelompoknya itu.
Elie mengangguk, sudah pasti Mikel memiliki alasan yang kuat untuk tetap ingin merahasiakan identitasnya yang sebenarnya. Tentu ia akan mendukung dan berada di sisi Mikel seperti yang pria itu lakukan di masa lalu.
"Aku berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun, termasuk kepada Kak Ar dan Daddy. Tapi kau juga harus berjanji padaku, jangan menghilang lagi seperti saat itu." Sungguh ketakutan akan kehilangan Mikel kembali menghantuinya sejak tadi malam, sehingga membuat dirinya kesulitan untuk terlelap.
Mikel mengulas senyum disertai anggukan kepala. "Aku berjanji padamu tidak akan meninggalkanmu lagi Sweetheart." Dan kemudian menyatukan keningnya dengan kening Elie. Keduanya saling bersitatap penuh cinta. Bahkan Mikel dapat melihat jelas, jika kini pancaran mata Elie sudah ada dirinya.
Elie dan Mikel melangkah serempak masuk ke dalam penthouse. Mikel menuntun wanitanya itu ke dalam kamarnya, sebab di penthouse miliknya hanya memiliki dua kamar saja. Kamar dirinya dengan Nathan. Selama ini Mikel meminta Nathan menempati penthouse selama dirinya pulang ke Mansion yang berada di Kota Wales untuk menemui Meisha.
***
Selama berada di penthouse milik Mikel. Tidak ada yang dapat Elie lakukan, sebab Mikel melarang dirinya untuk melakukan aktivitas disana. Wanita itu hanya duduk manis sembari menonton televisi. Bahkan sejak pagi ponselnya tidak dibiarkan aktif atas saran dari Mikel. Bukan untuk menghindari Arthur, melainkan tidak ingin keberadaan wanita itu diretas melalui ponsel.
Siang ini Mikel sudah berada di ruangan bawah tanah, ia melatih kemampuan ilmu bela dirinya. Semenjak fokus pada perusahaan, membuatnya tidak memiliki waktu untuk mengasah kemampuannya itu. Mikel berpuas hati, sebab ia yang dahulu dengan saat ini sungguh jauh berbeda. Jika pria lemah saat itu disematkan padanya, tidak untuk dirinya yang saat ini, ia bahkan sudah mampu melindungi Elie dari musuh dalam selimutnya itu.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu Sweetheart."
BUGH
Mikel meninju samsak yang menggantung di hadapannya, seolah samsak tersebut adalah musuhnya.
"Aku akan menghabisimu sebelum kau menyentuh Elie-ku!"
BUGH
Mata Mikel memancarkan api amarah, ia teramat murka karena secara terang-terangan kelompoknya itu ingin menyingkirkan Elie. Ia yang sudah mencurigai rencana Pablo, memasang alat penyadap di setiap sudut ruangan yang berada di Markas. Sudah pasti Pablo mengetahui jika dirinya gagal melenyapkan putri kesayangan dari Black yang tidak lain ialah Elie. Akan tetapi pria itu hanya diam dan menunggu saat yang tepat untuk membuatnya benar-benar tidak berdaya.
"Kau tidak akan bisa menekanku. Tidak akan bisa!"
BUGH
BUGH
Kali ini serangan pada samsak itu dilayangkan secara bertubi-tubi. Bisa dibayangkan jika samsak itu adalah Pablo, sudah habis penuh luka lebam. Mikel tidak peduli jika di anggap sebagai pengkhianat demi melindungi wanitanya. Bahkan ia akan menghadapi Pablo beserta Loz Zetas jika salah satu senjata dari mereka berhasil melukai wanitanya.
Tanpa disadari olehnya jika sedari tadi Elie berdiri di balik dinding, memperhatikan pria itu. Semula hanya tersenyum tipis, namun sesaat senyumnya memudar lantaran Mikel tidak berhenti menuju samsak dengan tangan kosong. Elie menjadi panik, ia bisa melihat gejolak amarah di dalam diri Mikel.
"Mikel hentikan!" Elie berhambur mendekati Mikel, ia menarik bahu pria itu agar aktivitasnya terhenti.
Mikel sontak melayangkan tinjunya ke udara ketika terkejut mendapati Elie dan nyaris meninju wajah wanitanya jika saja tangannya tidak ia arahkan ke udara.
"Maaf, aku tidak sengaja," cicitnya merasa bersalah. "Kau terlihat sangat marah, lihatlah tanganmu menjadi seperti ini," sambungnya kemudian meraih tangan Mikel dan memeriksa punggung tangan pria-nya itu.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa." Mikel mengusap lembut wajah Elie. Ia menyelipkan senyuman di sudut bibirnya, senang jika Elie terlihat mencemaskan dirinya seperti ini.
Bibir Elie mencebik sebal. "Jangan di biasakan seperti ini. Kau harus menggunakan sarung tangan. Jika tidak, tanganmu akan lebam seperti ini dan akan pulih cukup lama." Sungguh Mikel merindukan sikap cerewet wanitanya itu. Saat Elie menganggapnya Mikel, wanita itu memasang pertahanan dan bahkan menjaga image. Tetapi lihatlah, Elie bersikap apa adanya ketika mengetahui bahwa dirinya adalah Mike.
"Sweetheart, maafkan aku." Tiba-tiba saja Mikel menarik Elie ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika saat itu senjatanya berhasil menghantamkan pelurunya ke dalam tubuh Elie.
"Sweetheart, apapun yang terjadi kau harus percaya padaku," ucapnya lirih.
Mendengar perkataan Mikel, Elie melepaskan pelukan pria itu dan berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Mikel.
"Mikel, sudah kukatakan untuk membagi bebanmu padaku." Elie mengguncang kedua lengan Mikel, mengingatkan akan perkataannya kemarin yang bersungguh-sungguh.
"Apa saat kau mengetahuinya, kau tidak akan marah?" Mikel melamat-lamati wajah Elie, ia ragu untuk mengatakannya. Namun ia tidak ingin jika seseorang berusaha memprovokasi Elie jika wanitanya itu mengetahui yang sebenarnya.
"Aku tidak akan marah." Elie menyahut dengan seulas senyum tipis.
"Kau berjanji?" Tentu Mikel harus memastikannya. Jika Elie sampai salah paham kepadanya, sungguh ia bisa kehilangan akal sehatnya.
"Iya, aku berjanji." Sorot mata Elie berusaha meyakinkan Mikel. Sejujurnya ia tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin di sampaikan oleh Mikel.
"Baiklah." Kemudian Mikel menarik napas dalam. Ia mulai merangkum peristiwa kemarin. "Kau ingat ketika mendapatkan pesan dari nomor asing yang membawamu pada bangunan penyimpanan batu baru saat di Birmingham?"
Elie mengangguk tidak yakin, akan tetapi tempat itu tentu tidak asing, sebab dua anak buahnya itu langsung membawanya pergi dari sana.
"Aku yang menjebakmu untuk datang kesana. Lebih tepatnya orang-orangku yang mengirim pesan padamu untuk datang ke tempat itu."
Elie bergeming, bibirnya mendadak keluh dengan bola mata yang membeliak terkejut. Namun ia tidak ingin menyela, menunggu kelanjutan kalimat Mikel.
"Aku hampir saja membunuhmu Sweetheart. Maafkan aku. Jika saja aku tau jika wanita itu adalah kau, aku tidak akan menyanggupi permintaannya." Mikel tertuduk dengan luapan penyesalan.
"Permintaan siapa?" Elie bertanya dengan tatapan datar namun menusuk, sehingga membuat tubuh Mikel sedikit bergidik.
"Pablo."
"Siapa Pablo?" tanya Elie menuntut jawaban.
"Ketua dari Loz Zetas."
"Dan siapa Loz Zetas? Kenapa pria yang bernama Pablo itu menginginkan kematianku?" Semakin besar rasa penasaran Elie.
"Karena kau adalah putri dari Paman Vier. Kau adik dari Arthur, penerus Black Lion setelah Paman Vier. Dia ingin kematianmu sebagai awal ancaman agar Black Lion mundur dan bertekuk lutut pada Loz Zetas."
Elie sejenak diam, meresapi dan mencerna penuturan Mikel. Kini ia bisa merangkum kejadian kemarin saat mendengar suara letupan senjata.
"Jadi suara ledakan itu berasal dari senjatamu yang ingin membunuhku, Mike?" Semakin pias saja wajah Mikel ketika yang Elie ingat justru hanya suara senjatanya yang menggema di udara itu.
"Tidak, Sweetheart. Aku benar-benar tidak ingin melakukannya." Mikel segera membantah agar Elie tidak berpikiran buruk mengenai dirinya. "Aku menembakan peluruku di udara agar kau pergi dari tempat itu sebelum Loz Zetas datang. Jika mereka mendapati target mereka masih hidup, sudah pasti mereka akan melenyapkanmu saat itu juga."
Elie menatap seksama, mencari kebohongan di dalam sorot mata Mikel. Namun ia tidak menemukan kebohongan disana, pria-nya itu benar-benar berkata jujur dan apa adanya.
"Jadi kau adalah bagian dari Loz Zetas? Musuh dari Black Lion?" Mata Elie semakin menukik tajam. Terlebih kenyataan yang didengarnya membuat hatinya serasa diremat.
Mikel mengangguk lemah. "Benar."
Melihat tidak ada respons dari Elie dan wanitanya itu hanya diam saja, Mikel sudah dapat menduga jika Elie kecewa kepadanya. Dan asumsinya itu semakin diperkuat ketika melihat Elie berbalik memunggungi dirinya, lalu melangkah menjauh.
"Elie...."
To be continue
Babang Mikel
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...