
Siang ini Austin benar-benar sibuk mengurus perusahaan. Sebab hari ini Arthur tidak datang ke perusahaan, karena itu ia menyempatkan datang untuk mengawasi para karyawan disana. Sebab sudah beberapa karyawan yang mengetahui peristiwa kecelakaan para pekerja dalam proyek pembangunan di Dubai. Romanov Group tidak akan mangkir dan tidak pernah berlaku demikian sebelumnya. Hanya saja ada saja pihak luar yang memanfaatkan situasi seperti ini.
Dubai yang merupakan kota terpadat di Negara Uni Emirat Arab itu salah satunya dinamakan kota bisnis. Banyaknya perusahaan yang berinvestasi dalam beberapa sektor termasuk perdagangan dan pembangunan.
Sedangkan Romanov Group memang sedang mendirikan perusahaan limited liability company (LLC) dengan kepemilikan saham 51% dimiliki oleh Dubai World dan Romanov Group sebesar 49% saham. Hal itu adalah salah satu syarat jika mendirikan perusahaan baru di Kota Dubai. Tetapi pada dasarnya Dubai World tidak bermaksud untuk aktif dalam menjalankan perusahaan, sehingga segala sesuatunya diserahkan kepada Romanov Group sebagai (sleeping partner) dengan pembagian hasil yang sudah disepakati.
Namun jika dikemudian hari ternyata perusahaannya tidak berhasil dengan baik dan dipandang perlu untuk melakukan kemitraan dengan pihak lain, maka pihak Dubai World dapat menuntut adanya ganti rugi atau ganti untung yang tinggi.
Terlebih biaya izin atau permit pendirian perusahaan, berkisar sekitar 50.000 Dirham atau sekitar 150 juta hingga sekitar 150.000 Dirham, yang setara dengan 450 juta pertahun.
"Haahh....." Austin mendesahkan napasnya dengan kasar. Proyek pembangunan disana baru 80% berjalan, tetapi justru memiliki kendala sebesar ini. Meski pihak Dubai World sudah mencoba untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi, tetapi media disana dan beberapa perusahaan pesaing lebih dulu mengeluarkan argumen dan statemen yang dapat membuat kendala besar pada pembangunan perusahaan yang hanya beberapa bulan kedepan akan rampung. Benar-benar diluar prediksi sebelumnya.
Ketukan pintu membuat Austin mengalihkan perhatiannya dari layar tap miliknya. Ia mempersilahkan siapapun itu untuk masuk. Dan nampaklah Bastian masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Muda, ada beberapa pemberitaan media London yang sudah diblokir dan juga beberapa artikel sudah tidak bisa diakses lagi." Bastian melaporkan hasil para bawahan yang membantu untuk membungkam para media London dan sekitarnya.
"Bagus. Jika ada yang berani membuat berita seperti itu lagi, lakukan hal yang sama."
Bastian mengangguk mengerti. Tetapi sebenarnya ada hal lainnya yang harus ia sampaikan dan hal itu pasti akan membuat Tuan Mudanya tidak akan senang mendengarnya.
"Ehm, tapi Tuan Muda, sebenarnya saya dan yang lainnya hanya bisa menghentikan media lokal saja, selebihnya media Dubai, kami sama sekali tidak bisa mengendalikan mereka."
Mendengar penuturan Bastian, benar saja raut wajah Austin berubah, nampak terlihat mengetatkan rahangnya. Tetapi ia tidak mungkin menyalahkan Bastian dan para bawahannya. Biar bagaimanapun mereka sudah bekerja keras untuk membungkam para awak media London dan sekitarnya. Hanya saja memang sangat sulit jika membungkam media Dubai.
"Kau kembalilah, aku yang akan mengurus media Dubai." Sepertinya memang harus ia yang turun tangan sendiri dan meminta bantuan Liam untuk meretas sistem keamanan media di Dubai.
Bastian terperangah mendengar perkataan Tuan Mudanya. Mengurus media Dubai? Mengurus yang bagaimana? Ingin ia bertanya demikian tetapi hanya ia simpan dalam hatinya saja. Saat ini suasana hati Tuan Mudanya sangat buruk, ia cemas jika dirinya banyak bertanya, maka akan semakin membuat mood Tuan Mudanya semakin memburuk. Bastian segera pergi dari setelah mengangguk.
Melihat Bastian sudah menghilang di balik pintu, Austin segera menghubungi Liam. Dalam nada tunggu ketiga seseorang menjawab panggilannya.
"Ada apa, As?" Suara Liam terdengar menyapa di seberang sana.
"Kau di Markas atau perusahaan?" Austin memastikan terlebih dahulu.
"Aku baru saja sampai Markas." Liam hanya beberapa jam saja berada di perusahaan. Ia tidak mungkin betah berlama-lama mengurus beberapa dokumen.
"Baiklah, aku akan kesana."
"Hm, aku tau apa yang kau butuhkan, As. Aku sudah menyiapkannya." Dan ia memang mendengar berita mengenai Romanov Group, karena itu ia buru-buru kembali ke markas.
Austin berdehem saja, kemudian segera memutuskan sambungan telepon. Tanpa membuang lebih banyak waktu, ia segera meluncur ke Markas, tetapi sebelumnya ia sudah bicara pada Bastian untuk menghubungi dirinya jika terjadi masalah yang lebih besar.
Setibanya di Markas, beberapa anak buah menyapanya, Austin menganggukkan kepala dan melewati barisan anak buah. Ia mengayunkan langkah menuju salah satu ruangan, dimana mereka selalu melakukan aksi. Terlihat Liam yang sudah duduk di depan komputer begitu Austin memasuki ruangan. Ia lantas segera menduduki salah satu kursi beroda itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka Romanov Group akan terkena guncangan kecil seperti ini." Liam berucap dengan kekehan, baginya guncangan kecil, sebab semua saham Romanov Group masih tetap stabil.
"Ya, setidaknya semua penanam saham tidak menarik saham mereka dan masih tetap mempercayakan saham mereka pada Romanov Group."
"Karena itulah aku menyebutnya guncangan kecil, tapi mungkin menurut pandangan orang biasa adalah kesalahan besar karena sampai ada yang kehilangan nyawa."
Austin mengangguk setuju. Karena bagi seorang pebisnis, masalah seperti yang perusahannya sedang alami bisa terjadi pada perusahaan manapun. Dan hal ini bisa dikatakan jika Romanov Group sedang sial.
"Aku ingin kau meretas sistem beberapa media di Dubai. Anggap saja kita sedang memberikan peringatan."
Liam terkekeh, tetapi tetap mengikuti perkataan Austin. Liam mulai mengoperasikan komputernya, lalu memasukkan kode-kode yang hanya mereka ketahui. Pip. Bunyi seperti itu menandakan jika peretasan berhasil, seluruh jemari Liam menari-nari di atas keyboard.
Austin pun tak tinggal diam, meski tak sehebat Liam dalam meretas tetapi ia masih mampu melakukannya.
"Yess, berhasil!" Seruan Liam membuat Austin menoleh kearahnya. "Kau lihat, beberapa perusahaan media Dubai sudah aku lumpuhkan."
"Hm, aku ini putra Daniel, sudah pasti akan mewarisi keahliannya." Liam mencuil hidungnya sendiri dengan ibu jarinya, ia menjadi besar kepala karena mendapatkan pujian seperti itu.
Austin berdecak, merasa malas menanggapi Liam yang sedang membanggakan dirinya sendiri.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Ah, kenapa cepat sekali. Apa kau tidak ingin menemaniku minum?" Liam menawarkan. Saat ini ia sedang membutuhkan teman minum.
"Lain kali saja. Nanti sore Kak Ar akan ke Dubai dan mungkin Kak Elie dan Mike sudah berada di Mansion."
Liam mengangguk saja. Ia tidak akan memaksa. Lagi pula ia hanya perlu meminta salah satu anak buah untuk menemani dirinya minum, atau bila perlu ia menuju Mansion Elden dan mengganggu temannya itu.
Austin segera meninggalkan bangunan tua itu. Saat sudah berada di dalam mobil, ia memeriksa ponselnya yang sedari tadi terabaikan di dalam mobil. Keningnya berkerut samar ketika mendapati beberapa panggilan masuk dari Licia. Kemudian ia mencoba menghubungi gadis itu kembali, tetapi tak kunjung diangkat.
Karena merasa cemas, Austin gegas melajukan mobilnya usai melempar asal ponsel pada kursi samping. Tidak biasanya Licia menghubungi sebanyak itu, ia menjadi sangat cemas dan berpikir mungkin saja gadis itu sedang berada dalam bahaya.
"Apa anak buah Paman Zayn tidak menjaganya?" gumamnya. Jika memang tidak dijaga, betapa bodohnya sekali Pamannya itu, jelas-jelas Licia masih harus mendapatkan pengawasan. Dengan menambah kecepatan penuh, akhirnya mobil Austin sudah berada di jalan raya setelah harus memasuki hutan yang terhubung dengan Markas Black Lion.
Tak berselang lama, mobilnya sudah memasuki pelataran kediaman Keluarga Scott. Disana terdapat beberapa anak buah, lantas Austin segera menghampiri salah satu dari mereka.
"Apa Licia berada di dalam?" tanyanya memastikan.
"Ah, Tuan Muda As." Anak buah tersebut terjingkat kaget dengan sosok Austin yang tiba-tiba saja berada di hadapannya itu. "Nona Licia baru saja kembali bersama temannya."
Kedua alis Austin saling berkerut. Teman? Teman yang mana? Namun ia enggan bertanya dan lebih memilih untuk melangkah masuk menuju halaman. Disana terdapat Licia, Paman Zayn dan wait.... Gavin? Kenapa pria itu bisa berada disana?
Sialll! Apa dia melewatkan sesuatu? pikirnya. Sepertinya Gavin berusaha berjalan satu langkah darinya. Lihat saja ia tidak tahu jika Paman Zayn bisa seramah itu pada Gavin. Ah, mereka terlihat sangat serasi. Dan kentara sekali jika temannya itu memiliki perasaan terhadap Licia. Lalu apa ia harus bersaing dengan Gavin dan merusak persahabatan mereka?
Alih-alih menghampiri, Austin lebih memilih pergi dari sana. Beberapa anak buah terlihat bingung karena Austin terlihat kembali lagi dan masuk ke dalam mobil, sebelum kemudian meninggalkan Kediaman Keluarga Scott.
Setibanya di Mansion, Austin berjalan dengan lesu. Ia menjadi tidak semangat. Hah, ini bukanlah dirinya.
Saat melewati ruang kerja, samar-samar ia mendengar percakapan di dalam sana. Dibukanya pintu ruangan kerja dan memberikan sedikit celah agar dirinya bisa dengan jelas mendengarnya.
"Kau tidak bisa ikut denganku, Mike. Elie lebih membutuhkanmu. Aku dan Der yang akan ke Dubai." Terdengar suara Arthur yang menolak usulan Mike.
Mike tercenung, kemudian menjawab, "Baiklah, tetapi jika terjadi sesuatu, kau tidak bisa melarangku untuk menyusul kesana!"
Austin membuka pintu dengan lebar, ia ingin terlihat dalam percakapan mereka. "Apa aku tidak perlu dilibatkan?" Tiba-tiba menyambar dan menduduki salah satu sofa. Sontak semua mata tertuju padanya. "Aku dan Kak Ar yang akan ke Dubai. Biar Der yang menghandle perusahaan selama kami pergi. Bagaimana?" Austin mengusulkan. Dari sorot matanya saja sudah jelas jika pria itu serius dengan perkataannya.
"Baiklah, sudah diputuskan aku dan As yang akan ke Dubai," putus Arthur pada akhirnya.
Daddy Xavier menghembuskan napas panjang. Sebenarnya ia ingin mencegah, tetapi jika sudah mengambil keputusan, kedua putranya itu tidak ingin dibantah. Memang benar-benar keturunan dirinya.
Mike dan Darren mengangguk saja. Terutama Darren, ia akan melakukan apapun keputusan Arthur.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...