The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Dari Mana Suara Itu Berasal?



Zayn J. Scott lebih dikenal sebagai Jasper oleh para kelompok yang bergelung di dunia bawah. Dan bertahun-tahun Demon tidak pernah melupakan nama itu, ia tidak dapat hidup tenang sebelum pria itu beserta keturunannya menderita. Ia sudah bersumpah pada mendiang istrinya jika ia akan menuntut balas. Uang yang seharusnya menjadi miliknya lenyap seketika dan berpindah tangan. Padahal uang itu akan digunakan untuk biaya operasi besar sang istri yang terkena kanker rahim. Sehingga ia berusaha mati-matian mencari uang dan rela mengubur mimpinya di dunia kedokteran hanya untuk mendapatkan biaya yang lebih banyak lagi demi kesembuhan sang istri tercinta. Namun naasnya ketika ia baru akan memulai mengoperasi tubuh seseorang dengan mengambil ginjal tubuh korbannya. Ia diserang oleh sekolompok yang tidak dikenal, terlebih parahnya uang puluhan milyar raib dan ia bahkan menjadi buronan polisi. Padahal sudah bertahun-tahun ia bergabung pada kelompok mafia dan mengambil organ-organ tubuh manusia, akan tetapi tindakannya itu baru terendus oleh pihak yang berwajib.


Selama bertahun-tahun dirinya pun bersembunyi, jiwanya terguncang setelah kepergian sang istri tercinta. Damon hidup dalam penderitaan karena merindukan istrinya. Selama bertahun-tahun hidup dengan sang istri tanpa seorang anak, karena penyakit yang diderita istrinya, sehingga mereka tidak memiliki anak. Tidak masalah baginya, asalkan sang istri tetap hidup menemaninya.


Namun kenyataan yang harus dihadapi tidak seindah angannya, ia ditinggal pergi untuk selamanya. Marah dan memupuk dendam, sehingga ia mulai mencari tahu kelompok yang menyerangnya pada saat itu. Hasilnya membuahkan meski memakan waktu yang lama, dan faktanya sangat mengejutkan, sebab kelompok yang menyerangnya adalah Red Dragon yang ia kenal sangat kuat dan licik dalam strategi. Tapi kenapa? Kenapa mereka mengusiknya, padahal selama ini kelompoknya tidak bersinggungan dengan Red Dragon.


Demon mengusap wajahnya frustrasi. Hanya mengingat masa lalunya saja membuat darahnya mendidih. Ia kemudian menatap figura besar yang terpajang di dinding. Tatapannya begitu sendu dan menguapkan amarah yang sejak tadi menguasai.


"Sudah sepuluh tahun sayang, aku masih belum bisa melupakanmu. Dan tidak akan pernah bisa," lirihnya perih. Bahkan setetes air mata kembali mengalir dari sudut matanya.


Tatapan yang semula sendu itu seketika berubah kosong dan justru kembali mengalirkan amarah yang membara. "Aku akan membuatnya kehilangan istri dan putrinya. Aku bersumpah!" Ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi, meksipun ia harus mati, ia tidak peduli. Asalkan rasa sakit dan dendamnya terbalaskan.


***


Di kediaman Scott, Mommy Angela tengah mempersiapkan perlengkapan pakaian ganti. Hari ini dirinya serta Zayn akan membawa putri mereka ke rumah sakit. Zayn berpesan padanya, untuk tidak khawatir sebab akan melakukan yang terbaik untuk putri mereka.


Namun kegiatannya itu terhenti sejenak, ia menerima telepon di dalam kamarnya dan begitu terkejut mendengar berita tidak mengenakan. Daddy-nya Rolando harus dilarikan ke rumah sakit, sehingga kini Mommy Angela dilanda kebingungan. Ingin sekali ia terbang ke Los Angeles, akan tetapi keadaan putrinya pun belum membaik.


"Bagaimana ini?" Bergumam bingung, sebab baik Daddy-nya maupun putrinya, keduanya sangat penting.


Mommy Angela menoleh ke arah pintu, dimana sosok Zayn memasuki kamar mereka. Helaan napas lega ia hembusan, sebab ia tidak akan bingung lagi dan akan mengambil keputusan berdua.


"Aku sudah mendengarnya." Zayn merengkuh tubuh istri tercintanya. Ia sudah mendengar berita mengenai ayah mertuanya yang dilarikan ke rumah sakit. Saat ini ia ingin menenangkan sang istri melalui pelukannya. "Kau tenang saja, aku yang akan melihat keadaan ayah mertuaku."


Mendengar perkataan Zayn, Mommy Angela mendongak, menatap wajah Zayn. "Kau akan ke Los Angeles?" tanyanya memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Zayn.


"Kau pasti tidak bisa meninggalkan Licia. Biarkan aku yang kesana dan melihat keadaan Daddy. Jarak London dan Los Angeles tidak begitu jauh, hanya 7 sampai 8 jam saja. Aku akan kembali hari itu juga."


Namun Mommy Angela tidak menjawab. Ia seolah ragu, 7 hingga 8 jam memang tidak begitu jauh, akan tetapi ia tetap gelisah, sebab Zayn harus kembali ke London hari itu juga. Padahal kondisi suaminya saat ini pun tidak sedang baik-baik saja.


"Tapi Zayn...."


"Shhhttt...." Jemari Zayn menyentuh bibir sang istri, ia tidak membiarkan istrinya itu melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak akan mengizinkanmu kesana. Jadi biarkan aku yang pergi."


"Kau tau?" Mata Mommy Angela mendelik tidak percaya. Bahkan sang suami mengetahui jika dirinya yang bermaksud ingin melihat keadaan Daddy Rolando usai ia membawa sang putri ke rumah sakit.


Zayn mengangguk. Mana mungkin ia tidak mengetahui isi hati istrinya itu. Mereka sudah hidup bersama selama puluhan tahun dan bahkan hanya dengan saling menatap saja ia bisa membaca apa yang dipikirkan sang istri.


"Kau jaga Licia dengan baik. Aku akan kembali secepatnya." Zayn kembali merengkuh tubuh istrinya. Berharap kegelisahannya cepat memudar seiring pelukan mereka berakhir. Sungguh sebenarnya ia tengah gelisah, Perusahaan Wilson saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sebab itu ia harus kesana, memastikan perusahaan yang akan diwariskan kepada putranya, Jacob.


Jacob sudah menawarkan diri sebelumnya. Bahkan Jacob ingin terjun secara langsung melihat keadaan perusahaan yang sedikit kacau. Akan tetapi Zayn melarangnya, meski Jacob sudah sedikit menguasai permasalah perusahaan. Akan tetapi ia mempercayakan putranya yang menjaga istrinya.


"Aku akan pergi dengan Roy dan Jeff." Perkataan Zayn selanjutnya itu membelah keheningan yang terjadi saat ia tercenung sejenak. "Tapi kau tenang saja, Albern dan Beryl akan menjagamu," imbuhnya. Ia sangat mempercayai putra dari Roy dan Jeff itu. Meski mereka masih terbilang muda, akan tetapi kemampuan mereka dalam bertarung sangat memumpuni. Sama seperti putranya Jacob, meski terlihat lebih suka bermain-main, akan tetapi Jacob sama sepertinya yang tidak akan mengampuni musuh dengan mudah.


"Bukankah Jeff baru saja datang? Apa dia tidak lelah?" Mommy Angela heran, sebab beberapa jam yang lalu Jeff baru saja tiba di London, namun sudah harus kembali lagi ke Los Angeles.


"Apa kau lupa jika Roy dan Jeff akan selalu ikut kemanapun aku pergi, hm?" Zayn menjawil hidung bangir sang istri. Sehingga membuat Mommy Angela terkekeh. Memang sejak dulu mereka bertiga tidak bisa terpisahkan. Bahkan Jeff rela pulang pergi dari London ke Los Angeles di usianya yang tidak lagi prima.


Lama mereka berpelukan, keduanya keluar dari kamar. Mereka berjalan menuju kamar Licia. Dan tentu terkejut mendapati Licia yang sudah sadarkan diri dan tengah bersandar pada headboard ranjang.


"A-aku haus, Mom." Licia merasa tenggorokannya begitu kering, sehingga ia memerlukan air untuk membasahi tenggorakannya.


Mommy Angela segera melepaskan pelukannya begitu mendengar jika putrinya kehausan.


"Ah, Mommy akan ambilkan air minum." Ia segera berlari memanggil maid. Dengan sigap salah satu maid berlari menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Sementara Zayn bergerak lebih dekat ke sisi ranjang. Telapak tangannya mengusap kepala Licia dengan lembut. "Apa tubuhmu merasa ada yang sakit?" tanyanya memastikan. Jujur saja ia cemas hingga sulit bernapas rasanya. Meskipun ia sempat marah, tetapi setelah mengetahui penyebab putrinya bersikap kurang ajar, ia justru merasa bersalah.


Licia menggeleng lemah. "A-aku baik-baik saja, Dad." Sembari memaksakan senyum. Ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi padanya. Kenapa dirinya bisa tidak sadarkan diri dan saat ia tersadar tadi, ia terkejut mendapati tangan kanannya terdapat selang infus.


Mommy Angela kembali masuk ke dalam kamar dengan segelas air putih di tangannya. "Sayang, minum dulu." Lalu duduk di sisi ranjang dan membantu Licia meneguk air putih.


Licia tersenyum usai meneguk air putih, ia sisakan setengah. "Terima kasih, Mom."


"Sama-sama sayang." Ia letakkan gelas bening itu di atas nakas, lalu kembali menatap sang putri. "Sebaiknya kau beristirahat lagi, wajahmu masih sangat pucat." Tangannya terulur membelai surai panjang putrinya.


"Iya, Mom. Kepalaku masih terasa sangat pusing." Entah kenapa Licia merasa jika kepalanya begitu berat dan pening.


"Pejamkan matamu sayang, kau perlu tidur untuk mengurangi sakit kepalamu."


Licia tidak menjawab lagi, ia hanya mengangguki perkataan Mommy-nya itu. Setelahnya Mommy Angela menuntun suaminya keluar dari kamar Licia, membiarkan putri mereka untuk beristirahat kembali.


"Zayn, apa sebaiknya kita menunda membawa Licia ke rumah sakit? Sepertinya Licia tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak bisa menjawab jika dia bertanya." Itulah yang Mommy Angela cemaskan, sejak tadi ia merasa gelisah, takut sang putri menanyakan keadaan dirinya sendiri.


Zayn nampak menimbang. Sejujurnya ia pun sangat cemas, akan tetapi jika mereka pergi ke rumah sakit, ia tidak bisa mengantar, sebab harus segera pergi ke Los Angeles. "Jac dan As akan membantumu membawa Licia ke rumah sakit. Putri kita harus segera ditangani, Sayang." Tetapi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak ingin terlambat membawa sang putri ke rumah sakit.


"Baiklah." Mommy Angela mengangguk patuh.


Dan yang dibicarakan tengah tercenung dengan tatapan kosong. Sejak tadi ia sudah berusaha untuk memejamkan mata tetapi tetap tidak bisa kembali terlelap.


"Licia.... Licia.... kemarilah sayang, ikut denganku."


Deg


Licia tersentak kaget. Dengan jelas ia mendengar suara seseorang memanggil dirinya. Tetapi ia mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun di dalam kamarnya. Dari mana suara itu berasal?


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...