
Zayn menyunggingkan senyum sinis kepada menantunya yang nampak tidak ramah akan kedatangan dirinya dan juga ayah pria itu sendiri. Bisakah ia memukul Austin di hadapan Xavier? Jawabannya jelas tidak, karena Xavier sudah lebih dulu melayangkan tatapan penuh peringatan padanya.
Dihembuskannya napas kasar. Kemudian memindai pandangan ke dalam room untuk mencari keberadaan Licia.
"Dimana Licia?"
Kedua alis Austin mengernyit ketika mendengar pertanyaan Daddy mertuanya. Come on, apa Daddy Zayn lupa jika Licia sudah menjadi istrinya? Lalu untuk apa mencari Licia? pikirnya.
"Licia sedang berada di dalam kamar mandi." Austin menyahut asal. Mana mungkin memberitahu jika mereka baru saja akan memulai sesi percintaan. "Apa kedatanganmu hanya untuk mencari Licia, Dad?" lanjutnya, bertanya memastikan keberadaan Daddy Zayn di depan room pengantin.
Zayn menggaruk kepala. "Ya dan tidak. Aku hanya ingin memastikan jika putriku tidak kau buat kelelahan."
Heh?
Austin terheran. Dan detik selanjutnya menghembuskan napas lelah. Daddy Zayn datang hanya untuk memastikan sesuatu yang sudah pasti terjadi. Dan bukankah jika kelelahan adalah sesuatu yang wajar di malam pengantin?
"Dad, Licia sudah menjadi istriku. Apapun yang kulakukan padanya, hal itu adalah urusanku." Austin menatap serius Daddy Zayn, berharap mertuanya itu dapat mengerti dan tidak lagi bersikap protektif pada Licia, karena saat ini Licia adalah tanggung jawabnya.
"Tapi kau tidak bisa-"
"Son, maafkan kami sudah mengganggumu dan Licia." Daddy Xavier menyela, tidak membiarkan Zayn untuk kembali melayangkan protes pada putranya. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan Zayn, tetapi pria tua itu sungguh keras kepala. "Kalian lanjutkanlah. Biar aku yang mengurusnya," sambungnya tanpa mengindahkan sorot tajam Zayn yang penuh protes.
"Hei Vier, aku belum selesai bicara dengan menantuku!" Benar saja Zayn menyerukan protes pada besannya itu.
"Masih ada hari esok. Apa kau akan mati malam ini, sehingga harus bicara pada putraku malam ini juga, heh?!" seru Xavier kesal. "Kau bahkan sudah mengganggu putraku!" Harus dengan cara apalagi ia bicara pada pria tua yang keras kepala itu. Sialnya kini mereka sudah menjadi besan.
"Sialan! Kau menyumpahiku, heh?!" Tidak Terima, Daddy Zayn menjadi geram.
"Kau ini berisik sekali." Apapun yang dikatakan oleh Zayn, Xavier tidak ingin dengar. "Sebaiknya segera pergi dari sini. Kau hanya mengganggu mereka." Lalu menarik bahu Zayn yang kekar itu dengan penuh paksaan. "Son, kami pergi dulu," pamitnya kemudian.
"Ya, Dad." Meskipun mereka sudah berlalu dari pandangan, Austin masih dapat mendengar umpatan Daddy Zayn.
"Fuckkk!! Lepaskan aku, bodoh!!" Siapa yang akan terima jika tubuhnya diseret paksa. Bahkan kerah kemejanya ditarik begitu saja. Hei, Xavier pikir dirinya adalah hewan?
"Diam, bodoh! Jangan berteriak dan mempermalukan dirimu sendiri!" Terpaksa Xavier harus menulikan pendengaran dan mengurus Zayn yang bodoh dan keras kepala itu, agar tidak mengganggu malam pertama putra dan menantunya.
Sungguh pemandangan yang sering kali terjadi. Tetapi kali ini lebih dari biasanya. Daddy-nya itu harus menahan Daddy Zayn yang seperti tidak rela melepaskan putri kesayangan. Meskipun keduanya tidak pernah akur, akan tetapi mereka juga tidak bisa terpisahkan.
Setelah kedua Daddy-nya lenyap dari pandangan, Austin menutup pintu. Ia berbalik badan dengan pandangan yang mengekor keberadaan Licia. Senyum tipisnya tersemat di sudut bibir kala mendapati sang istri yang bersembunyi, tetapi mengintip di balik pintu balkon.
"Mereka sudah pergi, Licia. Kemarilah." Suara Austin menyentak tubuh Licia, hingga kemudian gadis itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu balkon.
"Apa Daddy baru saja mencariku?" tanyanya sembari bergerak maju mendekati Austin. Licia sangat mengenali suara Daddy-nya itu, sehingga menimbulkan rasa penasarannya.
"Hmm..." Austin mengangguk. "Daddy Zayn hanya sedang mencemaskanmu dan mengatakan agar aku tidak membuatmu kelelahan."
Hah. Licia dibuat tercengang saat mendengar penuturan Austin.
"Daddy bicara seperti itu?" Masih saja Licia tidak mempercayainya. Padahal ia tahu benar sikap Daddy Zayn yang memang menyebalkan.
"Hmm..." Austin memberikan jawaban dengan deheman. "Menurutmu, aku akan benar-benar membuatmu kelelahan atau tidak?" Lalu melangkah maju, mengikis jarak. Terselip senyuman nakal yang nampak jelas di mata Licia.
Austin meraih dagu Licia, menuntun pandangan istrinya agar tertuju padanya. "Apa aku pernah mengatakan jika kau cantik, hm?"
Licia menggeleng gelisah. Jujur saja, saat ini ia tengah dilanda kegugupan, sebab wajah Austin sangat dekat dengannya. Bahkan mereka seolah sedang mengadu napas.
"Kau tidak pernah mengatakan sebelumnya," jawabnya jujur. Sebab selama mereka memutuskan untuk merajut kasih, tidak sekalipun Austin memuji dirinya cantik.
Austin terkekeh kecil. "Benarkah?" Ia memastikan, seingat dirinya memang tidak pernah memuji kecantikan Licia. Selama ini ia merasa nyaman dan mencintai gadis di hadapannya itu tanpa memandang fisik. Sejak dulu ia menyukai sikap Licia yang apa adanya, kecantikan gadis itu adalah bonus. Dan mulai saat ini ia bisa memandangi wajah Licia setiap hari.
Licia mengangguk. Meski Austin tidak pernah mengatakan jika dirinya cantik, akan tetapi perlakuan dan rasa cinta Austin padanya sudah lebih dari cukup.
Kemudian Austin menekan pinggul Licia agar tubuh mereka saling merapat. "Meskipun aku tidak pernah mengatakannya, tapi kau lebih tau jika hanya wajahmu ini yang selalu kuingat, Baby." Sembari menelusuri wajah Licia. Selama ia bekerja, ia selalu teringat wajah dan senyum manis Licia.
Saat mendengar perkataan suaminya, gadis itu sudah merasakan tubuhnya meremang. Sesekali memejamkan mata kala hembusan napas mereka saling menyapukan pandangan. Dan Austin, pria itu menjatuhkan pandangan pada bibir tipis Licia. Begitu menggiurkan untuk disesap dan melahap hingga puas. Sebelum kemudian Austin segera membenamkan bibirnya pada bibir Licia. Menggigit bibir bawah Licia untuk menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut sang istri.
Tidak ada penolakan dari Licia. Austin selalu memiliki cara untuk membuatnya terbuai dan pada akhirnya menikmati ciuman mereka seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi saat ini, Licia merasakan perbedaan ciuman mereka. Ciuman menuntut yang terselip hasrat di dalamnya.
"Euughh..." Licia melenguh ketika Austin memperdalam ciuman mereka. Hingga beberapa detik kemudian, cumbuaan Austin terlepas. Seringai kecil nampak tercetak di sudut bibir pria itu. Austin sungguh puas melihat bibir Licia yang basah mengkilap dan membengkak karena ulahnya.
"Kita akan melanjutkannya nanti. Aku ingin membersihkan diri lebih dulu." Kemudian Austin melepaskan Licia begitu saja. Meskipun hasratnya sudah terpancing, tetapi ia ingin tubuhnya bersih sebelum melakukan kegiatan yang akan menguras banyak keringat.
Licia terperangah sesaat. Jujur saja ia sangat sedang menikmat cumbuan suaminya, tetapi tiba-tiba saja Austin melepaskan ciuman mereka begitu saja. Bukankah saat ini ia seperti sedang dipermainkan?
"As, kau benar-benar menyebalkan!" Licia berteriak geram diiringi sorot mata yang menajam, memandangi pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. Sudah pasti Austin dapat mendengar teriakannya, sebab ia mendengar suara tawa Austin di dalam sana.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Austin membersihkan diri. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang membalut tubuhnya. Tatapannya terarah pada sosok istrinya yang berdiri di depan pintu balkon dengan tangan yang terlipat di depan dada. Austin tahu jika Licia sedang kesal padanya. Dengan segera ia melangkah mendekat, sebelum kemudian memeluk istrinya itu dari belakang.
"Maaf, hm..." Lalu mengecupi tengkuk leher Licia berulang kali.
Licia mendecakan lidah saat mendengarnya. Dengan sekuat tenaga ia menahan lenguhan dari sensasi geli yang diterimanya. Menggigit bibir bawahnya agar benar-benar tidak mengeluarkan suara. Biarkan saja! Salah sendiri mempermainkan dirinya disaat sedang menikmati.
Karena tidak mendapati respons sang istri. Austin semakin gencar menciumi leher Licia. "Masih tidak ingin bersuara, hm?" Dan ternyata Licia masih merapatkan bibirnya.
Benar-benar Austin dibuat gemas. Ia kian menjilati leher dan menyesap kuat, sehingga mencetak sebuah tanda kemerahan dan akhirnya terdengar lenguhan kecil lolos dari bibir sang istri. Tentu saja Austin senang mendengarnya. Ia segera membalikkan tubuh Licia dan kembali menciumi leher istrinya itu.
"Aahhh...." Licia kembali meloloskan desahannyaa dan hal itu semakin membuat Austin menggila menjelajahi leher Licia yang jenjang.
Tangan Austin yang menekan tengkuk istrinya, perlahan turun kebawah. Meraba buah dada Licia yang masih terhalangi oleh bathrobe.
"Aku akan membuat banyak tanda di tubuhmu, Baby," ucapnya serak. Sorot matanya yang sayu sudah berkabut gairah.
See you next bonus chapter
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...