
Keesokan harinya, Austin yang mendengar kejadian di kediaman Paman Zayn, terlihat nampak kesal. Satu tangannya yang mengepal menggebrak meja, ia nyaris saja melemparkan beberapa dokumen di atas meja kerjanya.
"Apa yang terjadi Tuan Muda?" tanya Bastian. Ia nampak keheranan melihat kekesalan pada raut wajah tuan mudanya.
"Tidak apa Bas." Austin tidak ingin berbagi apa yang ia rasakan, sekalipun itu pada asisten kepercayaannya. Memang selama ini, Bastian tidak dilibatkan apapun yang bersangkutan dengan Black Lion. Dan laporan itu ia dapatkan dari Jacob. Belakangan ini, ia dan Jacob saling bertukar pesan, hingga pada akhirnya Jacob mengetahui jika ia dan Jolicia tengah berselisih paham.
Keduanya mencoba mencari asal usul pria yang bernama Maxime itu. Namun belum menemukan sesuatu yang janggal. Maxime Eduardo adalah putra satu-satunya dari Keluarga Eduardo. Kedua orang tuanya sudah tiada akibat kecelakaan yang terjadi tiga tahun lalu dan pria itu menjadi satu-satunya pewaris dari perusahaan kecil yang tidak sebanding dengan Romanov Group. Dalam sekejap saja ia bisa menghancurleburkan perusahaan Eduardo, tetapi saat ini baik Austin maupun Jacob masih belum ingin bertindak terlalu jauh.
Austin menarik napas panjang agar amarahnya mereda. Saat ini ia sedang berada di perusahaan dan tidak ingin membuat kekacauan.
"Bas, bawakan dokumen-dokumen yang harus aku tandatangani pagi ini."
Bastian yang mendengarnya, mengangguk mengerti. "Tunggu sebentar Tuan Muda, saya akan mengambilnya di ruangan." Lalu ia bergegas keluar dari ruangan Tuan Muda Austin.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Bastian mengambil beberapa dokumen yang berada di ruangannya. Ia lantas segera memberikan setumpukan dokumen itu kepada Tuan Muda Austin.
Sebelum diberikan kepada kakaknya Arthur, tentu Austin harus memeriksakannya terlebih dahulu. Jika ada kejanggalan atau keanehan pada isi dari dokumen itu, ia bisa memperbaikinya lebih dulu. Kakaknya adalah pria perfeksionis, tidak akan pandang bulu meskipun yang melakukan kesalahan adalah adiknya sendiri.
Austin mulai berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang dan saatnya jam makan siang. Ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, Austin mempersilahkan siapapun itu untuk masuk. Pintu terbuka sebagian, nampaklah Bastian dan berjalan menghampiri meja kerja Austin.
"Tuan Muda, sudah saatnya makan siang. Apa Tuan Muda ingin saya reservasi tempat di Restauran?" Bastian selalu mengingatkan agar Tuan Mudanya tidak melewatkan jam makan siang.
Austin mengalihkan perhatiannya dari dokumen, ia menatap Bastian. "Reservasi ditempat yang biasa saja."
Bastian mengangguk. "Baiklah, saya akan segera menghubungi pihak Restauran." Setelahnya ia segera keluar dari ruangan. Tak lama, Austin bangkit berdiri usai membereskan meja kerjanya. Ia menyambar jas kerja yang tergantung di gantungan jas berbahan kayu, lalu mengenakannya. Ia segera keluar dari ruangan.
Langkah Austin terhenti begitu berpapasan dengan Arthur di lobby. Keberadaan mereka tentu saja menjadi pusat perhatian dan membuat para karyawan merasakan sesak napas sebab tidak tahan dengan ketampanan kedua putra Romanov itu.
"Aku akan makan siang dengan Bas. Apa Kak Ar ingin bergabung?" Austin menawarkan. Barangkali sang kakak bersedia bergabung.
Arthur menggeleng dengan wajah datarnya. "Aku akan makan siang di penthouse. Kakak iparmu sudah menungguku."
Ah. Austin mengangguk mengerti. Semenjak menikah, kakaknya itu memang selalu menyempatkan waktu untuk makan siang bersama kakak iparnya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu kak."
Arthur mengangguk. Lalu keduanya melangkah menuju luar pintu dan sudah terdapat mobil yang siap untuk membawa pun kemana mereka pergi.
***
Jacob baru saja selesai mandi, ia mengecek ponselnya sembari mengusap rambutnya yang basah. Saat melihat ponselnya dalam keadaan mati, ia meyakini jika ponselnya kehabisan daya, sehingga ia memutuskan untuk mencari dimana dirinya meletakkan charger. Dicari kemanapun ia tetap tidak menemukannya, akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meminjam charger pada Licia.
Bertepatan saat masuk ke dalam kamar, Jacob melihat penampilan sang adik yang sudah rapi. Adiknya itu sudah pasti akan pergi ke kampus.
"Ada apa kak?" Licia menyadari keberadaan Jacob, ia menanyakan keberadaan kakaknya itu di dalam kamarnya.
Jujur saja ia masih kesal dengan sang adik karena kejadian tadi malam. Yang mengakibatkan kedua orang tuanya harus saling mendiamkan. Ini adalah kali pertama Daddy-nya mendiamkan Mommy-nya saat sarapan tadi pagi. Terlebih sikap Licia semakin tidak sopan dengan memberikan tatapan sinis. Bahkan tadi malam sikapnya benar-benar bukan seperti adiknya yang biasanya, Licia terlalu berani kepada Daddy Zayn dan bahkan saat mengobati Maxime, adiknya itu seakan memusuhi dirinya dan bahkan seluruh penghuni Mansion. Dan ia pun tidak habis pikir kenapa Licia lebih membela dan percaya pada Maxime ketimbang Austin. Biar bagaimanapun mereka tumbuh bersama, Austin tidak mungkin bertindak diluar batas jika tidak ada sesuatu yang membuatnya benar-benar marah.
Jacob segera mengambil charger yang tergeletak di atas meja. Namun tangannya tidak sengaja menyenggol tas Licia yang berdampingan dengan benda yang ia butuhkan. Tas dengan merek ternama itu terjatuh ke lantai dan isinya berhamburan keluar.
Licia menoleh ketika kakaknya menjatuhkan tas miliknya, ia ingin membereskan barang-barang yang keluar berhamburan dari dalam tas, akan tetapi Jacob sudah lebih dulu berjongkok dan membereskan barang-barang milik Licia. Beberapa sudah dimasukkan kembali ke dalam tas, namun menyisakan beberapa candy yang masih berserakan.
Bungkusan candy itu terasa aneh menurutnya, akan tetapi berwarna merah seperti strawberry dan itu merupakan rasa candy kesukaan Licia.
Licia yang memperhatikan Jacob hanya menatap beberapa candy miliknya seketika menjadi terdiam. Ia menatap heran bungkusan candy itu.
"Kau makan semua candy ini?" tanya Jacob saat sudah meletakkan kembali tas mahal milik adiknya ke tempat semula.
Licia tidak menjawab, ia seakan bingung. "Entahlah kak, aku tidak ingat kapan membelinya. Jika Kak Jac suka, maka ambil saja. Sepertinya aku memiliki banyak."
Jacob menggeleng. Sejak kapan ia menyukai candy dengan rasa yang manis menyiksa itu. "Tidak. Untukmu saja." Karena benda yang ia butuhkan sudah didapatkan, sehingga Jacob segera pergi dari kamar Licia.
Licia yang sudah rapi segera pergi turun ke bawah. Hari ini ia memiliki janji temu dengan dosen pembimbingnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia dan Jacob sedang mengerjakan tugas akhir, yaitu menyusun skripsi. Langkahnya terhenti saat mencapai tangga terakhir, ia mendapati Mommy-nya sedang duduk di sofa.
"Putri Mommy sudah cantik rupanya." Mommy Angela menatap sang putri dengan seulas senyum. Lalu beranjak dan menghampiri Mommy-nya.
"Aku akan ke kampus Mom."
"Semoga pertemuanmu dengan Mr. Augusto berjalan dengan lancar." Mommy Angela mengetahui jika hari ini Licia akan bertemu dengan dosen pembimbing untuk pertama kali dan ia berharap semuanya berjalan dengan lancar.
"Iya Mom." Licia memeluk Mommy Angela sebagai ungkapan rasa terima kasih. Hingga membuat Mommy Angela terkesiap. Bagaimana tidak, belakangan ini sikap Licia terasa jauh, sebelumnya jika ia menyentuh tangan Licia, maka putrinya itu akan menepis tangannya. Tapi berbeda dengan pagi ini, Licia seperti kembali pada sosoknya.
Usai berpamitan, Licia lantas melangkah menuju pelataran. Hari ini ia akan membawa mobilnya sendiri, namun langkahnya tertahan ketika ia berpapasan dengan Daddy Zayn. Baru saja ingin menyapa, tetapi Daddy-nya itu melewati dirinya begitu saja, seolah tidak melihatnya.
Deg
Hati Licia berdenyut nyeri. Tidak pernah sebelumnya Daddy Zayn mengabaikannya begitu saja. Tapi kenapa? Apa kesalahannya? Apa ia telah membuat Daddy-nya marah besar sehingga menatapnya saja seperti enggan.
Ingin bertanya tetapi Licia sadar jika dirinya sudah dikejar oleh waktu, sehingga ia memutuskan segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Mansion.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...