
Arthur dan Helena memilih berada di dalam kamar, setelah pria itu menemani dan memastikan istrinya meminum obat. Obat yang sebenarnya dapat memulihkan ingatan wanita itu lebih cepat, meskipun melanggar kode etik rumah sakit. Tetapi setiap butir obat tersebut tidak berbahaya karena terdapat kandungan herbal di dalamnya.
Pandangan Arthur mengikuti gerak kemanapun istrinya itu melangkah. Ke dalam kamar mandi, ke dalam walk in closet dan bahkan merapikan riasannya di depan cermin, hingga ia dibuat gemas sendiri.
"Aku tidak ingin membuatmu malu di depan keluargamu karena penampilanku yang seperti ini." Helena baru saja selesai mengganti pakaiannya, terlihat sangat sopan.
Kening Arthur berkerut samar, ia mencoba menajamkan telinga kala mendengar gumaman Helena. Memangnya apa yang salah dengan penampilan Helena? Istrinya selalu terlihat cantik dan mempesona. Hanya saja semenjak menjadi istrinya, ia melarang keras wanita itu berpakaian yang terlalu terbuka seperti sebelumnya. Jika hanya memperlihatkan lengan serta bagian bahunya saja, tentu ia tidak akan mempermasalahkannya.
"Tidak perlu berpenampilan berlebihan, kau selalu cantik mengenakan apapun."
Heh?
Helena menatap Arthur dari pantulan cermin, ia baru saja mendengar pujian dari suaminya itu. Perkataan yang tidak pernah dikatakan selama mereka menikah sudah dua bulan lamanya.
"Apa aku benar-benar cantik?" Helena menolehkan kepala, memastikan sekali lagi. Sungguh ia ingin mendengar kembali pujian yang diucapkan oleh Arthur.
"Hm, kau selalu terlihat cantik," ulangnya tersenyum samar. Jika dalam jarak yang begitu jauh mungkin senyum pria itu tidak akan kentara. "Kemarilah." Dan menepuk-nepuk kedua pahanya, memberikan isyarat untuk Helena duduk di atas pangkuannya.
Dengan wajah yang tersipu malu, Helena mendekati Arthur, lalu mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan suaminya. Posisi mereka yang saling berhadapan membuat keduanya lebih leluasa mengunci pandangan dan mengagumi kecantikan serta ketampanan masing-masing.
Arthur menatap penuh damba wajah Helena. Tidak ada celah yang dapat ia kritik, karena baginya istrinya itu sempurna. Memiliki iris mata berwarna perak kebiruan, hidung yang lancip dan bibir yang mungil sangat pas membingkai di wajah sang istri.
Tangan Arthur bermain di ceruk leher Helena, hingga ia menarik tengkuk leher istrinya itu agar tidak ada celah sedikitpun yang tersisa. Benar saja posisi wajah mereka begitu dekat, bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Sebelum kemudian Arthur membenamkan ciuman di bibir Helena. Ciuman penuh kelembutan yang selalu membuat Helena terbuai, hingga membalas ciuman Arthur dengan menggebu-gebu dengan tangan yang sudah melingkar di leher Arthur. Ciuman lembut yang perlahan menuntut, terlebih tangan Arthur sudah berkelana menyentuh bagian kenyal favoritenya.
Helena melenguh, napasnya kian memburu ketika sentuhan Arthur membuatnya bergairah. Tidak puas bermain dada yabg masih terbungkus dress, Arthur berpindah di punggung Helena untuk melepaskan resleting dress hanya dengan satu tarikan saja, hingga mengekspos punggung telanjang Helena yang putih bersih. Arthur meraba punggung istrinya, membuat Helena merinding dibuatnya, sentuhan hangat dan dingin menelusup melalui jemari Arthur yang merabanya naik turun.
Tidak dapat menahan gairah lebih lama lagi, Arthur menurunkan dress Helena, sehingga menyuguhkan dua dada yang membusung dan menantang. Helena pun tidak tidak diam, kedua tangannya membantu Arthur melepaskan kancing kemeja suaminya tanpa melepaskan pagutan mereka yang semakin liar, melepaskan kemeja hitam Arthur, lalu melemparkannya dengan asal ke lantai.
Ciuman Arthur berpindah ke leher jenjang Helena, lalu menjalar ke bawah hingga mencapai apa yang diinginkannya. Lantas segera mengulum pucuk dada Helena ke dalam mulutnya. Sensasi nikmat dan geli dirasakan oleh Helena, wanita itu memejamkan matanya, satu tangannya menyentuh pundak Arthur, sementara satu tangannya yang lain meremass rambut suaminya yang sudah nampak lebih panjang setelah dipangkas beberapa minggu yang lalu.
Dan yang terjadi selanjutnya tidak mungkin dapat terhindari karena keduanya sudah terbakar gairah yang menggebu-gebu. Arthur membaringkan Helena di atas ranjang, melepaskan semua pakaian yang masih melekat di tubuh masing-masing. Melakukan pemanasan yang semakin membuat keduanya menggila, memberikan rangsangaan pada setiap tubuh mereka hingga tidak hanya tubuh mereka saja yang panas, tetapi suasana di dalam kamar pun dipenuhi hawa panas yang semakin membangkitkan gairah kedua pasangan suami istri itu. Meneguk kenikmatan yang tidak dapat dijabarkan oleh kalimat seperti apapun. Mengabaikan keluarga yang masih bercengkrama di lantai bawah hanya untuk menuntaskan hasrat mereka yang menggila, terlebih suara erangan yang memenuhi kamar membuktikan jika keduanya begitu bersemangat melebur menjadi satu.
***
Permainan panas yang singkat tetapi sangat berkesan, karena dapat mendekatkan mereka lebih dekat lagi dan lebih intim. Arthur dan Helena sudah kembali berpenampilan rapi untuk menemui keluarga mereka. Arthur menuntun langkah sang istri menuju halaman yang begitu luas, dimana Elie dan yang lainnya berada, terdapat Jolicia. Meskipun Meisha juga berada disana, akan tetapi wanita itu lebih banyak diam dan hanya menanggapi dengan senyuman.
Elie mengalihkan perhatiannya ketika menyadari langkah Helena dan Arthur yang mendekat. Wanita itu beranjak dan berjalan menghampiri Helena.
Wanita itu menghambur ke pelukan Helena. Sedari tadi rasa bersalah merayap di hatinya. "Helen, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu dengan perkataanku."
Helena tersenyum, ia mengusap punggung adik iparnya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti jika kau tidak bermaksud seperti itu."
Bibir Elie melengkung penuh haru, ia segera mengurai pelukan mereka. "Terima kasih kau sudah mau memaafkanku. Lain kali aku lebih menjaga ucapanku."
"Jika aku mendengar kau menyudutkan Helen lagi, aku akan memberimu pelajaran." Bukan Helena, tetapi suara Arthur yang menyahut. Pria itu tentu saja tidak suka jika adiknya berkata yang dapat menyinggung perasaan istrinya.
"Baik kak, karena itu aku meminta maaf pada Helen." Bibir Elie mengerucut, ia tahu jika kakaknya itu masih kesal padanya, hanya saja mencoba untuk bersikap tenang. Dan sejauh ini, setelah menikah, Arthur lebih mampu mengendalikan emosinya yang selalu meledak sewaktu-waktu.
"Hm, jangan mengulanginya lagi, biar bagaimanapun Helen adalah kakak iparmu," ujarnya datar tetapi terdengar lembut.
"Baik Kak." Elie mengangguk mengerti. Tangannya kemudian mengapit lengan Helena. "Ayo Helen, bergabung dengan kami." Lalu menarik Helena agar mengikuti langkahnya menghampiri Jolicia dan Meisha.
Helena melemparkan senyum kepada Arthur dan bergabung bersama ketiga wanita cantik itu, sebelum pandangan beralih dari Arthur yang sudah berlalu menuju ruang tamu.
Meninggalkan para wanita di halaman, Arthur bergegas menghampiri Darren. Asisten sekaligus tangan kanan kepercayaannya itu menghubungi dirinya beberapa menit yang lalu, jika akan datang ke Mansion untuk membawakan dokumen yang harus di tandatangani serta informasi mengenai Jorge.
Saat melangkah menuju ruang tamu, ia sudah melihat Darren bergabung disana, kontak saja sosok dirinya menjadi pusat perhatian mereka semua.
"Ar, dimana Helen?" Mommy Elleana bertanya ketika tidak mendapati sosok menantunya di sisinya Arthur. "Apa Helen baik-baik saja?" Wanita paruh baya itu begitu mencemaskan menantu cantiknya sejak tadi.
"Hm, Helen baik-baik saja Mom. Dia sedang bersama Elie di halaman." Jawaban Arthur membuat Mommy Elleana menghela napas lega, syukurlah jika Helena baik-baik saja dan tidak terpengaruh dengan perkataan Elie.
Arthur tidak kembali menyahuti, pandangannya menemui Darren. "Der, ikut denganku."
Mendengar perkataan Arthur, pria itu segera beranjak dari duduknya. "Aku permisi dulu." Dan berpamitan kepada mereka yang ada, bergegas menyusul Arthur yang sudah lebih dulu melangkah menuju ruang kerja.
"Bagaimana persiapan pesta resepsi pernikahanku Der?" tanya Arthur begitu sudah berada di dalam ruangan kerja yang tengah membunuhi tanda tangannya pada beberapa dokumen tersebut.
"Semuanya sudah dipersiapkan seperti yang kau inginkan Ar."
"Baguslah. Persiapkan dengan baik, tapi sepertinya rencananya sedikit berubah. Aku ingin resepsi pernikahan Elie dan Mike dilakukan bersama dengan pesta resepsi pernikahanku." Dirinya sudah memikirkan hal itu sebelumnya, ia berpikir jika tidak ada salahnya mengadakan pesta pernikahan dirinya dan Elie bersamaan. Terlebih setelah itu mereka memutuskan akan berbulan madu.
"Apa kau yakin Ar?" Darren memastikan, ia cukup terkejut dengan rencana Arthur mengenai pesta resepsi pernikahan mereka.
"Hm, lakukan saja Der." Seperti biasa, perkataan Arthur adalah perintah mutlak yang tidak akan bisa dibantah.
"Baiklah." Pada akhirnya Darren mengiyakan dan akan melalukan seperti yang diperintahkan oleh teman sekaligus atasannya itu.
"Lalu bagaimana dengan Jorge?"
"Jorge masih menjadi tahanan rumah dan tiga hari sekali mendatangi kantor kepolisian untuk memberikan keterangan. Sepertinya sedikit sulit menjebloskan pria tua itu ke dalam penjara Ar, karena kita tidak memiliki bukti yang kuat. Justru sebaliknya, dia memiliki bukti rekaman Nona Helena pada saat kejadian itu."
"Bukankah kau juga sepakat jika rekaman cctv itu hanya rekayasa saja, meskipun dari belakang seperti Helen, tetapi aku yakin yang di dalam rekaman itu bukan istriku." Ya, Arthur sangat yakin jika wanita itu bukan Helen, hanya postur tubuh mereka saja yang sama.
"Tapi bagaimana dengan pernyataan Jorge jika semasa hidupnya Nyonya Anna mengkonsumsi obat yang diberikan oleh Nona Helena?" kata Darren menjelaskan lebih terperinci lagi mengenai berita terbaru yang di dapatkan dari orang dalam yang bekerja di kepolisian, merupakan kenalan Peir.
Arthur mendesahkan napasnya dengan kasar. Ia melayangkan tatapan tajam kepada Darren. "Tanpa perlu aku menjawabnya kau sudah tau jawabannya Der. Pastikan pernyataan Jorge tidak mempengaruhi penyelidikan."
"Hem, aku pastikan tidak akan mengganggu rencana pesta pernikahan kalian dan akan dilaksanakan seperti tanggal yang sudah di tentukan." Mendengar perkataan Darren, Arthur hanya merespons dengan deheman. Ia sungguh dibuat heran oleh Jorge yang tidak berhenti mengusik ketenangan Helena yang juga merupakan ketenangannya.
To be continue
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...