The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Mempertahankan Apa Yang Sudah Menjadi Miliknya



Karena tidak terdapat luka serius, Helena sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya. Wanita itu hanya ditemani Elie saja, ekor matanya melirik kesana-kemari mencari sosok yang ditunggunya sedari tadi. Sayangnya Helena harus menelan kekecewaan ketika Elie mengatakan jika Arthur tidak bisa mengantar, sebab ada perjalanan bisnis ke Dubai bersama Darren.


"Helena, kau baik-baik saja?" Pertanyaan Elie mewakilkan kecemasan pada raut wajahnya ketika mendapati Helena nampak murung. Ia berpikir jika kondisi tubuh Helena belum pulih sepenuhnya.


Telinga Helena tersentak, wanita itu memang tercenung, entah apa yang dipikirkan. "Aku baik-baik saja." Sembari menyematkan senyuman. Meski di bibirnya menampakkan baik-baik saja, tidak dengan hatinya. Seperti ia tengah merasa kehilangan sosok penting yang mulai bertahta di hatinya. Tapi apa mungkin dirinya dengan pria itu bisa bersama, mengingat mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh membentang. Keluarganya berantakan dan dirinya memiliki depresi ringan dan diharuskan untuk selalu mengkonsumsi obat.


Kepala Helena mendongak ketika usapan lembut mendarat di bahunya. Lagi-lagi wanita itu hanya menyelipkan senyuman kepada Elie.


"Helena, kau bisa cerita padaku jika ada yang mengganggu pikiranmu." Perkataan Elie tidak segera di jawab oleh Helena, wanita itu bergeming dengan bibir yang terkatup rapat, merasa jika tidak ada yang ingin dibicarakan.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja, hanya saja sepertinya aku melupakan sesuatu dan sedang berusaha mengingatnya." Untuk membuktikan jika dirinya baik-baik saja, Helena tertawa kecil. Ia teringat belum memberi kabar kepada Christy, ia sangat yakin jika asistennya itu pasti mencemaskan dirinya. Terlebih kini ponselnya dalam keadaan tidak aktif. "Elie, kau bisa memanggilku Helen. Orang-orang terdekatku selalu memanggilku seperti itu," katanya mengalihkan pembicaraan.


Elie terlihat mengangguk. "Baiklah, aku akan memanggilmu Helen. Semua barang bawaanmu sudah dibawa ke mobil oleh bodyguardku. Kita langsung turun saja." Helena menjawab perkataan Elie dengan anggukan kepala. Keduanya kemudian segera berlalu dari ruangan menuju mobil yang terparkir.


Bertepatan dengan itu, Oscar baru saja tiba dirumah sakit, ia melihat Elie yang berjalan menuju mobil. Ingin ia menghampiri tetapi teringat akan peringatan Arthur jika tidak perlu tahu mengenai urusannya. Oscar mendesahkan napasnya ke udara, sungguh sebenarnya ia sangat penasaran mengenai hubungan Arthur dengan Helena. Hanya menyapa saja tidak masalah bukan? pikirnya. Hingga kemudian langkah panjangnya menghampiri Elie dengan Helena.


"Elie.... Nona Helena...." Panggilan Oscar membuat kedua wanita itu menoleh ke arahnya.


"Oscar, kau baru datang?" tanya Elie terheran. Sebab biasanya Oscar selalu tiba di rumah sakit pagi sekali.


"Hem, aku tidak begitu banyak pasien jadi membuka praktek sedikit lebih siang." Oscar menjawab dengan lirikan ekor mata yang mengarah pada Helena, sehingga yang ditatap seperti itu hanya mengulas senyum tipis. "Jadi Nona Helena sudah diperbolehkan pulang?" tanyanya berbasa-basi. Padahal ia sudah mengetahui prosedur rumah sakit jika pasien yang dalam kondisi tidak begitu parah, maka hanya akan menginap satu hari saja.


"Iya Dokter, aku sudah baik-baik saja. Hanya perlu minum obat untuk penyembuhan dan aku harap lukanya tidak akan membekas."


Mendengar perkataan Helena, perasaan bersalah Elie semakin membuncah. Ia yang menyebabkan Helena terluka karena menyelamatkan dirinya.


"Sepertinya tidak akan membekas. Dari yang aku dengar lukanya akan sembuh jika kau rutin memberikan salep dan jangan terkena air selama beberapa hari ke depan." Oscar paham apa yang dirasakan oleh Elie, sehingga memberikan penjelasan kepada Helena.


Helena mengangguk, ia tidak bermaksud membuat Elie merasa bersalah. Sebab menyelamatkan Elie adalah keinginannya sendiri. "Elie maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi, seperti apa yang dikatakan oleh Dokter Oscar lukaku tidak akan membekas."


Elie menarik napas dalam, menghempaskan perasaan bersalahnya sejauh mungkin. "Aku akan melakukan apapun untuk mengobati lukamu. Katakan padaku jika kau butuh Dokter kulit, aku yang akan menemanimu." Setidaknya ia harus bertanggung jika kedepannya luka Helena meninggalkan bekas.


Helena tersenyum, ia tersentuh karena merasa begitu diperhatikan. "Terima kasih, aku pasti akan memberitahumu."


"Ehem, kalau begitu aku masuk dulu. Kalian berhati-hatilah." Suara Oscar menghentikan momen manis antara Elie dengan Helena. Seketika pandangan Oscar menyapu sekitar, mencari sosok Arthur yang mungkin saja mengekori, tetapi ia tidak menemukan sosok temannya itu. "Dimana Ar? Apa dia tidak datang ke rumah sakit?" tanyanya memastikan.


"Tidak, Kak Ar ada perjalanan bisnis ke Dubai, mungkin akan kembali minggu depan." Dan penuturan Elie semakin membuat dada Helena bergemuruh. Selama itukah? Artinya ia tidak akan pernah berjumpa lagi dengan Arthur, mengingat hari ini adalah hari terakhir dirinya di London dan entah kapan ia kembali kemari, sebab tidak ada alasannya untuk kembali.


Oscar mengangguk memahami kesibukan Arthur, meskipun ia sudah melarang Arthur untuk mengurangi kesibukannya, namun percuma saja. See? Arthur tetap mengurus perusahaan dengan melakukan perjalanan bisnis selama satu minggu padahal ia sudah menyuruhnya untuk beristirahat selama satu minggu ke depan.


Elie dan Helena masuk ke dalam mobil usai berpamitan kepada Oscar yang segera diiyakan oleh pria itu. Oscar memasuki rumah sakit, sementara mobil yang ditumpangi Elie serta Helena meninggalkan rumah sakit.


***


"Helen, kau yakin tidak ingin aku temani?" Elie bertanya memastikan ketika mobilnya sudah berhenti di depan gedung apartement mewah. Ia mendongak, menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya itu.


"Iya, aku baik-baik saja, Elie. Aku hanya tidak ingin semakin merepotkanmu."


"Tapi-"


Helena menyentuh punggung tangan Elie dan kemudian menggenggamnya. "Aku akan menghubungimu jika perlu bantuan. Bukankah kau sudah memberikan kartu namamu." Sebisa mungkin Helena menyakinkan Elie agar tidak terlalu mencemaskan dirinya.


Elie menghembuskan napas berat. "Baiklah, kau harus segera menghubungiku jika terjadi apa-apa." Pada akhirnya ia hanya bisa menyetujuinya.


"Sama-sama. Jangan sungkan padaku jika kau butuh bantuan," sahut Elie sembari melerai pelukan mereka. "Meskipun hubungan kita sebelumnya tidak baik," sambungnya terkekeh kecil.


Helena turut terkekeh. Jika mengingat sikapnya saat itu benar-benar sangat memalukan. Elie kemudian masuk kembali ke dalam mobil usai memastikan Helena masuk ke dalam dan dibantu oleh petugas disana. Padahal Elie sangat ingin membantu Helena hingga mencapai unit apartment wanita itu, akan tetapi Helena bersikeras agar dirinya mengantar hingga depan gedung saja. Elie memakluminya, mungkin wanita itu belum terbiasa dengan kedekatan mereka, pikirnya.


Helena mengamati seisi ruangan yang sudah nampak rapih. Beberapa koper sudah berjajar dan terisi pakaian miliknya. Untung saja ia sudah membereskan semuanya satu hari sebelumnya, sehingga hari ini tidak perlu melakukannya dengan keadaan tangannya yang terluka meskipun sudah bisa digerakkan.


Ponselnya yang dibiarkan tidak aktif sudah ia hidupkan kembali. Banyak notifikasi pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Christy dan juga.... Mikel? Kedua alis Helena bertaut dalam begitu melihat dua panggilan tidak terjawab dari Mikel. Ia membalas pesan dari Christy terlebih dahulu mengabari asistennya itu jika dirinya baik-baik saja dan besok akan melakukan penerbangan pukul lima pagi. Sementara baru saja ia hendak menghubungi Mikel, pria itu sudah menghubunginya lebih dulu, tertera nomor nama Mikel di layar ponselnya tersebut.


Sebenarnya Helena merasa enggan untuk menjawab panggilan dari Mikel. Namun ia berpikir, Mikel tidak akan menghubungi dirinya jika bukan untuk sesuatu yang penting. Helena menggulir tombol hijau, kemudian menempelkan ponsel pada daun telinganya.


"Mikel, ada apa?" tanyanya to the point begitu Mikel menjawab panggilan dirinya.


"Kau dimana? Elie mengatakan jika kau sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit."


"Aku di apartement. Ada apa? Kau tidak mungkin meneleponku hanya untuk menanyakan keberadaanku, bukan?" Bersama dengan Mikel dua tahun lebih membuatnya cukup paham sikap pria itu. Sedari dulu Mikel tidak pernah menghubungi dirinya hanya untuk sekedar berbasa-basi.


Terdengar helaan napas Mikel di seberang sana. "Benar, ada sesuatu yang penting untukmu."


"Apa? Cepat katakan!" Helena mendesak tidak sabar mengenai berita penting tersebut.


"Jorge dan Margareth akan menjual saham milikmu."


"Apa?" Tentu saja Helena terkejut, berita itu sangat penting. Saham miliknya di Perusahaan Bonham adalah warisan dari kakeknya. Dan dua manusia biadab itu masih saja serakah ingin menguasai hak miliknya. "Aku akan kesana. Aku tidak akan membiarkan mereka menjual saham milikku."


"Aku akan menemanimu!" ujar Mikel terdengar tegas.


"Tidak perlu, Mikel. Kau sudah terlalu banyak membantuku." Sungguh, Helena merasa sungkan dan sudah sering merepotkan pria itu.


"Setidaknya sampai dia kembali. Sekali ini saja kau harus menurutiku." Dan Mikel adalah pria yang tentunya tidak ingin dibantah.


"Baiklah...." Helena pasrah, ia menatap layar ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan Mikel. Dia? Siapa dia yang dimaksud oleh Mikel? pikirnya.


Tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi, Helena bergegas berganti pakaian, ia memilih dress berlengan panjang yang masih tersisa di lemarinya. Kemudian segera meninggalkan apartement dengan tergesa-gesa.


"Mom, meskipun aku melupakan yang terjadi saat itu, aku tidak akan bisa melepaskan sahamku yang sudah menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil milik kita, Mom." Di sepanjang perjalanan menuju Perusahaan Bonham, Helena tidak tenang. Kedua tangannya saling bertautan dan terasa bergetar hebat. Beberapa peristiwa di masa lalu telah ia lupakan dan hal itu dikarenakan efek dari depresinya. Sebagaimana pun ia mencoba mengingatnya, tetapi ingatannya tetap melumpuh. Dan meskipun sulit menghadapi Jorge dan Margareth, ia akan tetap mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya.


To be continue


Elie dan Helena



Maaf ya Yoona baru bisa up lagi, kemarin kurang sehat... 🤧


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...