
Meeting yang berlangsung selama dua jam akhirnya selesai. Austin menutup meeting di akhir kalimatnya. Ia dan Darren mengantarkan Simons Corp hingga menuju lift. Kerjasama yang memuaskan. Kedua perusahaan besar sepakat dengan kontrak yang saling mereka ajukan.
Austin mengurungkan langkah untuk keluar dari lift. Ia segera menghadap Darren.
"Der, aku akan ke Brick Lane. Lion Boys dan Dragon Boys menungguku disana."
Darren terlihat mengangguk-anggukan kepala. Memang terakhir kali mereka berkumpul pada saat acara resepsi pernikahan. Austin kini lebih sibuk di perusahaan, pun dengan Devano yang juga sudah bekerja menggantikan Daddy Edward.
"Aku akan menyusul kalian jika pekerjaanku sudah selesai," sahut Darren. Tidak ada salahnya jika ia ikut bergabung selama sedang free.
"Ok!" Austin mengangkat satu ibu jarinya tanda mengerti. Lalu mereka berpisah di lift, Austin melangkah menuju ruangan diikuti oleh asisten yang membantu dirinya selama berjalannya rapat.
"Bass, aku tidak akan kembali ke perusahaan. Jika ada dokumen yang memerlukan tanda tanganku, kau bisa meletakkannya di atas meja. Besok pagi aku akan memeriksanya," ujar Austin kepada asistennya yang bernama Bastian begitu sudah berada di ruangan. Ia mengambil ponsel yang memang di tinggalkan di meja kerja, lalu memasukkan ke dalam saku jasnya.
"Baik Tuan Muda." Pria yang usianya jauh 10 tahun di atas Austin itu mengangguk paham. Sebelumnya ia adalah seorang manager yang mendapatkan kesempatan untuk membantu pekerjaan Direktur.
Austin bergegas keluar ruangan dan menuju lift. Sepanjang melangkah menyusuri lobby, pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian. Selain tampan dan gagah, Austin berstatus single sehingga beberapa wanita dengan sengaja mencari perhatian Austin. Namun Austin terlalu acuh hanya untuk sekedar menanggapi mereka.
***
Mobil yang dikendarai Austin telah terpakir sempurna di depan Brick Lane. Jas yang melekat di tubuhnya sudah terlepas, menyisakan celana panjang dan kemeja yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Ia segera masuk ke dalam dimana teman-temannya menunggu disana. Begitu sosoknya muncul, ia disambut suka cita oleh yang lainnya. Mereka saling merindukan satu sama lain, karena baik Austin dan Devano saat ini sudah bekerja di perusahaan.
"Bagaimana harimu menjadi direktur, As?" tanya Gavin membuka percakapan lebih dulu disaat Austin sudah membenamkan tubuhnya di kursi dan meneguk minuman bersoda yang sudah tersedia.
"Menyenangkan." Menjawab seadanya. Memang menurut Austin tidak terlalu sulit mempelajari semua dokumen-dokumen mengenai perusahaan.
"Wooww, luar biasa. Kau memang keturunan Paman Vier yang gila bekerja, bahkan kau tidak jauh berbeda dengan Bos Ar," seru Liam bertepuk tangan. Setau mereka, Austin tidak begitu berminat bekerja di perusahaan. Tetapi di saat sudah terjun secara langsung, ternyata teman mereka itu cukup menikmati pekerjaannya.
Perkataan Liam tersebut mengundang gelak tawa semua yang berkumpul disana. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, keturunan Paman Vier tidak mungkin tidak hebat.
"Dan kau bagaimana, Dev?" Kali ini Eden bertanya kepada Devano.
Pria itu menguyah french fries yang masih hangat. "Sama seperti As, menyenangkan."
"Baiklah, kalian memang pekerja keras." Eden mengakui kehebatan Austin dan Devano.
"Kalian bertiga juga akan bekerja di GL Corp," sahut Devano sembari menyesap soda miliknya.
"Benar. Paman Keil, Paman Nico dan Paman Daniel memiliki perusahaan. Sudah pasti perusahaan itu akan dibawah pengawasan kalian," kata Austin membenarkan. Ketiga Pamannya itu memiliki perusahaan di bidang jasa.
"Entahlah, aku rasa tidak ada salahnya mencoba bekerja secara langsung. Apalagi jika bisa melihat wanita karir di GL, pasti menyenangkan." Membayangkan wanita-wanita seksi di GL Corp membuat Liam begitu semangat. Ia yang malas mengurus perusahaan mencoba untuk bekerja disana. Niatnya untuk menebarkan pesonanya pada wanita-wanita seksi di GL Corp.
Tiba-tiba Liam mengaduh lantaran mendapatkan serangan french fries oleh Devano. "Apa kau akan mati jika tidak terbar pesona sehari saja, Lim?" serunya tidak habis pikir.
Liam hanya terkekeh-kekeh, baginya mendekati wanita-wanita cantik adalah kesenangan yang tidak bisa dihilangkan.
BUGH
Percakapan mereka terjeda sejenak ketika kedatangan Dragon Boys. Jacob terlihat mendorong pemuda tampan hingga jatuh tersungkur. Suasana yang sebelumnya ramai, mendadak sunyi mencekam, hingga semua mata memandang pemuda itu.
"Berani-beraninya kau menyentuh adikku!!" hardik Jacob berkilat amarah. Tangannya menunjuk tepat di depan mata pemuda yang tersungkur di lantai.
"Ma-maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja." Pemuda itu tertakut-takut, ia melirik ke sekitar dimana pengunjung yang lain memperhatikannya.
Sedangkan Jolicia yang sempat di goda bersikap acuh saja dengan duduk di salah satu kursi yang tersedia. Ia sudah terbiasa dengan sikap Jacob yang akan menerjang siapapun yang berani menggoda atau bahkan dengan tidak tahu malu merangkul dirinya seperti pemuda yang terlihat ketakutan itu.
"Cih, pengecut. Bukankah tadi dia percaya diri ingin mengajakku kencan?" cibir Jolicia di dalam hati. Ia paling tidak menyukai pria yang pengecut. Jika memang benar-benar ingin mendekati dirinya harus bisa menghadapi kakaknya yang keras kepala dan posesif itu.
"Ada apa?" Austin datang menghampiri. Ia bergantian menatap Jacob dan pemuda yang tersungkur di lantai.
"Bajingan ini berani menggoda dan menyentuh Licia. Dia pikir dia siapa, heh?!" Jacob memberitahu alasan dirinya menyerang bajingan tersebut.
"A-aku benar-benar minta maaf." Keringat dingin sudah memenuhi kening pemuda itu, akan tetapi pria di hadapannya tidak juga melepaskannya.
"Tangan yang mana?" tanya Austin datar. Namun sorot matanya menyimpan amarah.
"Kiri," jawab Jacob.
Krek
Setelah puas, Austin segera menjauhkan kakinya, kemudian berjongkok. "Dengar, aku hanya menginjak saja bukan meremukkan tanganmu. Maka pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk mematahkan semua tulang tubuhmu!" tekannya penuh peringatan.
Dalam menahan rasa sakit, pemuda itu mengangguk. Sungguh ia menyesal sudah menggoda dan bahkan merangkul gadis itu. "B-baik, aku akan pergi... Aku akan pergi." Lalu tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu berlari tunggang langgang meninggalkan arena bowling.
"Kalian!" teriak Albern kepada pengunjung lainnya. "Siapapun yang merekam kejadian yang baru saja terjadi, silahkan maju dan hadapi kami!"
Glek
Beberapa pengunjung yang diam-diam merekam kejadian tersebut menelan saliva dengan susah payah. Mereka tidak ingin bernasib sama dengan pemuda itu, sehingga rekaman yang sempat tersimpan di ponsel mereka segera dihapus.
Hening
Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara. "Kalian lanjutkan saja, anggap saja tidak ada yang terjadi!" seru Beryl mencarikan suasana. Ia lalu bergabung duduk dengan Albern, Maxwell, serta Jacob yang sudah lebih dulu bergabung dengan Lions Boys.
Sementara Austin memisahkan diri dengan Jolicia.
"Kenapa kau menyentilku, As?" cebik Jolicia mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Austin.
"Lain kali jika ada yang menggoda dan menyentuhmu, kau bisa mengajar mereka seperti biasanya."
"Ck, itu jika aku sedang sendiri. Jika ada kau atau Kak Jac, aku yakin kalian tidak akan tinggal diam." Benar, selama berada di dekat Jacob atau yang lainnya, pemuda manapun tidak ada yang berani menyentuhnya. Hanya saja tadi ketika ia baru saja dari toilet tiba-tiba pemuda itu menggoda dan bahkan lancang merangkulnya.
Austin menghela napas. Memang bicara dengan Jolicia hanya akan membuatnya kesal. "Terserah kau saja."
Jolicia terkekeh-kekeh. Ia tahu jika Austin kesal padanya dan ia selalu menikmati wajah Austin setiap kali sedang kesal.
"Hei, kalian. Kemarilah!" Maxwell berteriak memanggil Austin dan Jolicia untuk segera bergabung. Dan keduanya beranjak bersamaan, duduk di masing-masing kursi yang tersedia.
"Jika kalian berdua saja, orang lain yang melihat akan beranggapan kalian adalah sepasang kekasih," celetuk Liam tiba-tiba. Sontak saja membuat mata mereka tertuju pada Austin dan juga Jolicia.
"Sepasang kekasih? Oh, tidak... tidak! Aku tidak ingin memiliki adik ipar sepertinya." Belum apa-apa, Jacob menolak dengan tegas.
"Kau pikir aku sudi memiliki ipar menyebalkan sepertimu, heh?!" seru Austin membalas perkataan Jacob.
"Kau yang menyebalkan bodoh!" balas Jacob tidak terima.
"Ck, sudahlah. Kalian ini selalu saja seperti itu," kata Elden heran.
"Dia yang mulai lebih dulu," cetus Austin kesal.
"Kau, bodoh!" sahut Jacob tidak kalah kesal.
"Aish, kalian berdua ini." Jolicia yang terlihat kesal, mengacak rambutnya frustasi. Lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Jacob melihat adiknya menjauh.
"Bermain bowling. Apalagi? Apa aku harus melihat pertengkaran kalian, heh?!" sahut Jolicia sinis. Ia kemudian mengambil satu bola bowling dan bersiap untuk melemparkan bola ke arah pin-pin yang tersusun rapi di ujung papan lane.
Prang
Berhasil. Jolicia berhasil melemparkan bola dan mengenai seluruh pin-pin. Gadis itu berseru senang kala mendapatkan poin. Melihat keberhasilan Jolicia tentu saja yang lainnya bersorak senang. Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat duduk dan membentuk sebuah tim. Masing-masing tim yang kalah, maka akan bersiap kehilangan mobil sport.
"Deal?" tanya Jacob memastikan. Bahkan pemuda itu sudah melupakan pertikaian kecilnya dengan Austin.
"Oke Deal!" Austin menyanggupi. Kehilangan satu mobil tidak masalah baginya.
Dan permainan dimulai dengan Jolicia sebagai jurinya. Sebenarnya ia ingin ikut main, tetapi yang lainnya sungguh menyebalkan dan melupakan dirinya.
Sialan. Aku dilupakan!
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...