
Arthur dan Helena memutuskan untuk kembali ke kabin. Rasa lelah menyergap keduanya, tetapi jika dalam urusan ranjang, mereka tidak mengenal lelah. Seperti saat ini, keduanya tengah di mabuk cinta, saling menempel satu sama lain, tidak membiarkan jarak menjadi penghalang. Helena yang berada di atas pangkuan Arthur, memudahkan pria itu memainkan daerah sensitif sang istri. Sesekali Helena mengeluhkan desahaan ketika tangan Arthur dengan lihai memainkan puncuk dadanya dengan lidah yang tiada hentinya mengeksplor ke dalam rongga mulut, membelit lidah satu sama lain dengan begitu liar dan penuh dengan gelora panas. Terlebih desahaan Helena memacu desiran di dalam tubuh Arthur yang kian memanas. Tubuh Helena yang polos menjadi pelampiasan tangan besarnya menjalar kemana-mana dan kini turun ke bawah bagian inti Helena.
Tubuh Helena bergetar ketika satu jemari panjang Arthur menerobos masuk dan ia mencengkram kuat bahu Arthur yang polos. Meskipun pria itu masih menggunakan underwear, akan tetapi Helena merasakan milik suaminya yang sudah membesar di balik kain segitiga.
Tempo kecepatan jemari semakin dipercepat, Helena tidak tahan untuk tidak mendesaah, tubuhnya yang panas dingin menggelinjang, terlebih bibir Arthur kini tengah mengulum satu dadanya yang semakin membesar karena selalu mendapatkan sentuhan.
"Ar.... Honey.... a-aku ingin keluar...." Mendengar perkataan sang istri, Arthur kian mempercepat temponya, hingga kemudian jemarinya dipenuh cairan kental sang istri ketika sudah mencapai pelepasan.
Belum sempat mengatur napasnya yang terengah-engah, Arthur lebih dulu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa membuang waktu lagi, Arthur melepaskan penghalang satu-satunya yang masih membungkus senjatanya, ia segera membungkam bibir Helena dengan ganas. Sedangkan miliknya di bawah sana mengacung sempurna itu memasuki sang istri yang sudah pasrah dengan membuka keduanya pahanya dengan lebar. Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara erangan kenikmatan yang memenuhi kabin kapal. Arthur pandai membuat Helena mendesahh dengan permainannya. Pria itu sudah benar-benar ahli mengenai gaya bercinta yang kini mereka lakukan. Berulang kali Arthur membolak-balikkan tubuh Helena, memompanya tiada ampun. Keduanya berlomba-lomba saling meneguk kenikmatan dan tidak pedulikan erangan mereka yang mungkin saja dapat di dengar dari luar. Persetan jika ada yang mendengar percintaan panas mereka, sebab Arthur sudah mengatur kabin milik mereka agar tidak ada yang saat berkeliaran di sekitar kabin sang pemilik acara.
***
Sedangkan di dalam Bar, Veronica masih setia meneguk minumannya. Satu persatu-satu pengunjung di dalam Bar mulai berhamburan keluar karena rasa kantuk dan lelah, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam. Berulang kali Elie mengajak temannya itu untuk ke kabin, kepalanya pun sudah terasa berat, ia yang tidak terbiasa minum mudah sekali mabuk.
"Sweetheart, kita ke kabin saja. Biarkan temanmu jika dia masih ingin berada disini." Sekali lagi Mike meminta sang istri untuk ke kabin. Selain ia tidak tahan lagi untuk menyerang Elie di atas ranjang, ia pun khawatir malam ini istrinya terlalu banyak minum hanya untuk menemani Veronica. Elie tidak terbiasa dan cemas jika kondisi istrinya esok hari akan memburuk. Terlebih pukul 9 pagi, mereka memiliki agenda lain.
"Tapi Mike, aku khawatir jika ada seseorang yang memanfaatkan kondisi Vero yang seperti ini." Terlihat semburat kecemasan di wajah Elie, tidak rela harus meninggalkan Veronica seorang diri, meskipun di dalam Bar masih terdapat beberapa orang yang bukan dari pihak keluarganya.
"Sudahlah Elie, lebih baik kau dengarkan perkataan suamimu. Aku baik-baik saja disini, aku akan ke kabin jika aku sudah bosan disini." Veronica mengibaskan satu tangannya, mengusir Elie. Saat ini ia hanya menikmati waktunya dengan minum, sudah hampir dua minggu ia tidak minum karena jadwal pemotretan yang begitu padat.
"Kau yakin?" Elie merasa tidak yakin. Ia sangat tahu kebiasaan Veronica jika sedang di pengaruhi oleh alkohol akan menjadi sangat-sangat menyebalkan.
"Hem...." Veronica malas menjawab. Meski sudah mabuk berat, akan tetapi ia masih bisa mengendalikan kesadarannya.
"Baiklah kalau begitu, tapi jangan sampai kau tertidur di tempat seperti ini."
Veronica terkekeh. "Tidak akan. Kau tau aku selalu sadar meskipun aku mabuk sekalipun."
Elie tidak menyahut kembali. Ia beranjak bersama Mike dan menggandeng lengan suaminya itu meninggalkan Bar.
Sepeninggal Elie dan Mike, Veronica masih setia menyesap meminumnya. Kepalanya bergerak mengikuti alunan musik. Seorang pria bertindak nekat mendekati wanita itu, padahal sudah dilarang keras jika Bar itu hanya untuk pihak keluarga saja. Sedangkan pengunjung lain, bisa ke Bar yang berada di balik Bar tersebut. Pria itu tidak peduli, sebab ia merupakan teman baik dari Mike.
"Apa kau sendirian saja, Nona?" Tanpa tahu malu pria itu duduk di kursi yang kosong. Ia tidak peduli jika ada yang memergokinya, sebab ia merupakan bagian dari Pihak Keluarga Jhonson.
Veronica hanya menoleh, lalu bedecih. "Kau berani sekali duduk disini Tuan? Apa kau tidak takut jika penjaga akan menyeretmu keluar dari sini?"
Pria itu hanya terkekeh. "Mereka tidak mungkin menyeretku karena aku teman baik Mikel." Sebenarnya ia sedikit kecewa mengenai pria itu yang menyembunyikan identitasnya setelah pertemanan mereka selama sepuluh tahun. Tetapi jauh sebelum itu Mike berusaha menjelaskannya sehingga pada saat pengumuman mengenai Keluarga Jhonson ia tidak terkejut.
Veronica tidak peduli. Ia kembali menyesap minumannya, sehingga membuat pria itu sedikit kesal karena diabaikan. "Baiklah, aku pergi. Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, Nona. Banyak mata yang menatapmu dengan lapar." Kemudian pria itu beranjak berdiri, ia bukan tipe yang mudah menggoda wanita. Sebelumnya ia ingin menghampiri Mike dengan istrinya yang sebelumnya berada satu meja dengan wanita itu, tetapi ternyata keduanya sudah keluar Bar. Pria itu berpapasan dengan Darren saat baru saja melangkah.
"Mr. Can, anda masih disini?" Darren terkejut mendapati rekan bisnis perusahaan Romanov Group yang berasal dari Istanbul sekaligus merupakan teman baik Mike. Yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga jauh dengan Zayn.
"Hm, tadinya saya ingin menghampiri Mikel, tapi ternyata dia sudah pergi bersama istrinya," sahut Can apa adanya. "Kalau begitu saya permisi," lanjutnya melangkah pergi.
Darren mempersilahkan Can meninggalkan Bar dan kini fokusnya tertuju pada Veronica. Nampak sedikit geram, sebab wanita itu tidak memiliki kewaspadaan sedikitpun.
Sebelum mendekati wanita itu, Darren menarik napas panjang. Karena pasti akan sangat merepotkan mengurusi seseorang yang sedang mabuk.
"Ck, siapa kau berani mengaturku?" Veronica mendengkus kesal ketika pria itu mengusik kesenangannya. Mata Veronica menyipit untuk memperhatikan jelas wajah pria yang berdiri menjulang di hadapannya. "Ah kau, Tuan Darren...." Dalam keadaan setengah sadar pun ia masih dapat mengenali Darren, pria kaku dan menyebalkan.
"Kau pergilah, aku masih ingin berada disini." Veronica mengibaskan tangan mengusir Darren.
"Baiklah, jika Nona memang ingin mati kedinginan disini." Darren bukan tipe pria yang mudah membujuk. Jika memang keinginan wanita itu yang ingin tetap tinggal, tentu ia tidak akan memaksa.
Heh? Veronica baru menyadari jika tubuhnya kini menggigil. Memang di dalam Bar semakin malam suhu ruangan akan semakin dingin. Terlebih kini mereka berada di tengah laut.
"Tunggu. Aku ikut." Buru-buru Veronica beranjak berdiri. Ia mengikuti langkah Darren yang sudah lebih dulu berlalu dengan langkah yang sempoyongan karena mabuk.
Namun karena tidak bisa mengimbangi langkahnya sendiri sehingga Veronica menjegal kakinya sendiri dan terjerembab di dalam dekapan seseorang yang menangkapnya. Kepala Veronica mendongak, ia melihat wajah pria yang mendekapnya yang tidak lain ialah.... Darren.
"Ck, jantungku bermasalah. Padahal aku baru saja mendapati kekasihku berselingkuh, tetapi aku tidak merasakan sakit disini." Veronica menunjuk kepalanya bukan dadanya, sungguh terlihat bodoh. "Kau tau, aku memiliki rahasia. Tapi kau jangan memberitahu Elie, karena dia tidak mengetahui apapun." Perkataan Veronica mulai cegukan. Kepalanya terasa sangat berat. "Se-sebenarnya aku sedikit menyukai pria lain, tapi pria itu sangat menyebalkan sejak pertama kali kami bertemu."
Semakin lama, perkataan Veronica semakin melantur. Darren ingin sekali menghempaskan wanita itu, tetapi ada setitik rasa tidak tega.
"Nona, sadarlah. Aku akan membawa Nona ke kabin." Darren berusaha mengguncang kedua bahu Veronica.
Veronica menggeleng. "Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu mengantarku." Namun baru saja ia melangkah, wanita itu kembali kehilangan keseimbangan. Dan lagi-lagi membuat Darren terpaksa menangkapnya.
"Seperti ini yang Nona katakan bisa jalan sendiri?" Darren mengejek Veronica. Berjalan saja tidak benar, bagaimana bisa mencapai kabin wanita itu, pikirnya.
Wanita itu tidak menggubris perkataan Darren. "Kau tau tidak, aku kecewa pada diriku sendiri karena sudah dibodohi oleh mereka. Meskipun aku sendiri tidak tau apa aku mencintainya atau tidak, aku tetap tidak terima jika aku dibodohi seperti ini." Kedua matanya berusaha mengerjap, mengatur kepalanya agar tegak menatap Darren.
"Kau...." Telapak tangan Veronica menepuk-nepuk wajah Darren.
Darren tidak terima, ingin segera menjauhkan tangan wanita itu. Tetapi kejadian yang mengejutkan membuatnya tidak mampu untuk bergerak.
"Shiittt!!!" umpatnya.
To be continue
Veronica
Can Emir Roderick (Yoona lupa kasih visual Can di awal dia jg muncul)
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...