
Demon sungguh tidak sabar untuk membawa istri Jasper itu ke Paviliun Dongdae. Ia akan menjadikan wanita itu ratu di dalam istananya.
"Hahahaha, aku tidak sabar untuk membawanya." Ia mengusap dagunya, bersandar pada sofa. Memikirkan wanita itu membuatnya kembali merasakan getaran di hatinya. Beberapa jam yang lalu, ia memeriksa sendiri keadaan istri Jasper yang bernama Angela itu. Meski dalam keadaan lemah dan tidak sadarkan diri, ia merasakan pesona yang menguar dari dalam tubuh Angela. Dan ia menginginkan wanita itu, sehingga ia memerintahkan anak buah untuk membawanya tinggal di Paviliun Dongdae. Tidak lama lagi, hanya beberapa jam saja, ia akan berada satu atap dengan wanita itu. Wanita yang akan menemaninya hingga akhir hayat.
"Mungkin aku tidak bisa membunuh istrimu, Jasper. Tapi aku bisa menjadikannya milikku selamanya." Demon tertawa penuh kepuasan. Ia bisa membayangkan wajah nelangsa Jasper yang harus kehilangan istri serta putrinya sekaligus.
Gelak tawa yang menggelar memenuhi ruangan Paviliun itu terpaksa harus dihentikan, sebab dering ponselnya sungguh mengganggu dirinya.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu segera menjawabnya. "Ada apa?" serunya kesal. "Apa yang kau katakan, hah?! Aku akan ke Markas. Jika kalian sengaja mempermainkanku, aku akan memenggal kepala kalian!" Tut. Ia memutuskan telepon begitu saja dan membuang ponselnya dengan asal. Dengan wajah yang tiba-tiba dipenuhi oleh kilatan amarah, Demon meninggalkan Paviliun Dongdae dan menaiki mobil yang perlu ditempuh hanya lima menit saja.
Setibanya di pelataran Markas, suasana malam bertambah mencekam. Terlebih ketika melihat mobil Demon, bos dari Bloods Dead itu menapakkan wajahnya dari jendela kaca mobil yang sudah terbuka dengan lebar.
Beberapa anak buah sudah berbaris di halaman Markas, tak terkecuali Maxime yang juga terkejut mendapati tawanan mereka tidak berada di tempat. Salah satu dari mereka mendekat ke sisi mobil dan memberikan laporan dengan jelas dan detail. Wajah Demon semakin tidak bersahabat dan diliputi kilatan api amarah.
Demon memukul kepala anak buahnya tersebut. "Bodoh! Kalian benar-benar bodoh dan tidak becus!" serunya membentak. Anak buahnya tersebut hanya dapat meminta maaf, percuma saja mereka jelaskan, sebab bos mereka tidak mau tahu alasan apapun.
"Max!!" panggilnya kemudian. Sehingga membuat Maxime melangkah menuju sisi mobil. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa semua tawanan bisa menghilang?!" tanyanya menghardik. Bahkan ingin sekali ia melayangkan pukulan di wajah Maxime.
"Aku benar-benar tidak tau." Diluar dugaan, Maxime justru berani menjawab. Memang di antara anak buah lainnya, hanya Maxime yang berani membantah perkataan Demon. "Saat memeriksa ruangan bawah tanah, aku tidak menemukan mereka," lanjutnya memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelumnya memang tugasnya untuk memantau keadaan tawanan yang berjumlah puluhan itu, akan tetapi ia dibuat terkejut saat mendapati ruangan bawah tanah dalam keadaan kosong.
"Aku tidak mau tau, cari mereka sampai ketemu!" Demon tetaplah Demon, ia tidak akan mau tahu dengan kesalahan apapun. "Jika tidak, gadis itu yang akan menggantikannya. Kau tau apa artinya itu?!" ujarnya meninju atap mobil berulang kali, sebagai tekanan yang harus diterima oleh Maxime karena telah lalai dan ceroboh.
"Damn! Kau mengancamku?!" Maxime tentu tahu apa artinya itu. Jika tidak ada korban untuk di ambil bagian tubuhnya, maka Demon menginginkan Licia sebagai gantinya. Fuuckk! Demon pikir akan sangat mudah mengancamnya?! Tidak akan.
"Benar! Itu harga yang pantas untukmu yang bodoh!" Demon mencibir. Hukuman yang setimpal bukan? Ia kehilangan puluhan bahkan ratusan milyar karena puluhan tawanan menghilang tanpa jejak.
"Jangan pernah menyentuh Licia seujung kukupun!" Maxime menantang, alih-alih terjepit dengan ancaman Maxime.
Demon menanggapi dengan sinis. "Kau pikir akan menang melawanku, heh!"
"Kau...." Geraman Maxime tertahan lantaran tiba-tiba saja satu anak buah mendekati mereka.
"Bos, wanita yang di tunggu sudah tiba. Dia sudah berada di Paviliun Dongdae."
Hanya mendengar mengenai wanita yang ia nantikan sudah tiba tepat waktu membuat kemarahannya mereda seketika, bibirnya tersungging senyuman tipis. "Baguslah. Aku akan segera menemuinya." Perkataannya diangguki oleh anak buah tersebut dan segera undur diri. Demon kembali menatap Maxime dengan sinis.
"Temukan mereka bagaimanapun caranya. Aku ada urusan yang lebih penting!" ujarnya kemudian sambil menghidupkan mesin mobil dan melaju begitu saja. Demon tidak mau tahu apapun, yang jelas anak buahnya harus menemukan keberadaan para tawanan dan meraka harus kembali di kurung di ruangan bawah tanah.
Setibanya di Paviliun Dongdae, tak hentinya Demon menyunggingkan senyum, ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang merupakan istri Jasper. Saat tiba di pelataran paviliun, anak buahnya mengatakan jika wanita itu berada di dalam kamarnya. Ah, rasanya ia ingin sekali menyentuh tubuh Angela, tubuhnya begitu kencang dan menonjol di beberapa bagian tertentu.
Begitu membuka pintu, ia disuguhkan dengan punggung wanita itu. Balutan dress putih tulang yang ia berikan, sungguh terlihat menawan hanya dilihat dari belakang saja. Demon berjalan mendekati Angela yang duduk di bibir ranjang. Disentuhnya bahu wanita itu dan ia segera membalikkan tubuhnya. Ah, dia lupa. Jika wajah Angela ditutupi oleh selembar kain berwarna hitam agar wanita itu tidak dapat mengenali dimana dirinya berada.
"Tunggu sebentar, aku akan membukakan kain penutupnya lebih dulu." Begitu lembut Demon berkata kepada wanita di hadapannya itu. Dengan perlahan ia membuka kain penutup tersebut dan ketika sudah terlepas, ia buang dengan asal.
Demon membalikkan tubuh wanita itu, namun senyum yang sejak tadi terukir mendadak menyurut. "Kenapa kau ada disini, hah?!" Wajahnya mendadak merah padam. "Dimana wanita itu? DIMANA DIA, SIALAN!" Bahkan Demon menjambak rambut brunette wanita itu. Tidak pedulikan pekikan rasa sakit yang dirasakan wanita itu.
"ARRGGGHH..!!!" Demon mengerang frustasi usai mendorong wanita panggilan itu hingga tersungkur di lantai.
"A-aku tidak tau. Maafkan aku Tuan." Wanita panggilan itu bersujud di bawah kaki Demon. Sungguh ia ketakutan jika Demon akan membunuhnya.
Demon menunduk, menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit terbaca. Kemudian membungkuk untuk kembali menarik rambut wanita itu.
"Katakan siapa yang membawamu kemari, jalaang!!" Tarikan pada rambut wanita itu kian diperkuat, hingga membuat wanita itu meringis. "Dan dimana dia? Dimana wanita itu? Dimana Angela, hah?!"
Wanita itu menggeleng. Sungguh ia tidak tahu siapa 'dia' yang dimaksud oleh Tuannya. "Ma-maafkan aku Tuan, aku tidak tau apa yang terjadi. Aku hanya menerima job untuk memuaskan seseorang. Ta-tapi saat aku tiba disana, mereka membiusku dan setelahnya aku tidak ingat apapun."
"Bodoh!" Demon menghempaskan tubuh wanita itu. "Dasar jalaang bodoh, sialan!" Demon yang sudah gelap mata berjalan menuju lemari yang penuh akan senjata kesayangannya. Ia meraih salah satu senjata api, lalu menodongkan tepat di kepala wanita itu.
"Tu-tuan aku mohon, ampuni aku. Aku benar-benar tidak tau apapun." Wanita itu terisak. Nyawanya benar-benar berada di ujung tanduk.
Namun Demon tidak mengindahkannya. Ia menarik pelatuknya, detik kemudian terdengar suara letupan dengan peluru yang menembus di kening wanita itu.
Pintu paviliun terbuka dengan kasar. Beberapa anak buah ingin melaporkan sesuatu berita yang penting, tetapi mereka mendengar suara letupan senjata, hingga terpaksa membuka dengan kasar pintu kamar bos mereka.
"APA-APAAN KALIAN, HAH?!" Demon masih tersulut emosi. Sehingga ia menyemburkan amarah pada beberapa anak buah yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin. Ia melempar senjata apinya itu tepat di atas tubuh wanita panggilan yang sudah tidak bernyawa.
"Maafkan kami bos, tapi bos harus tau apa yang terjadi sekarang ini." Salah satu anak buah menjawab sembari melirik singkat ke arah wanita yang terkapar di lantai dengan keadaan bersimbah darah.
Apa yang terjadi? Kenapa? Bukankah wanita itu diinginkan oleh bos mereka. Lalu kenapa bos membunuh wanita itu, pikir mereka bersamaan.
"Apa yang terjadi, hah?!" Sentakan Demon mengejutkan mereka yang masih bertanya-tanya di dalam hati.
"Wi-wilayah perbatasan terdeteksi ada beberapa penyusup. Mereka sudah menghabisi anak buah yang berjaga di perbatasan. Dan mungkin sebentar lagi mereka akan menyerang markas kita!" Salah satu dari mereka melapor dengan tertakut-takut.
"APA?!" Pupil mata Demon melebar, benar-benar terkejut. "Maksud kalian markas kita di serang, hah?!" serunya memastikan.
Namun belum hilang rasa keterkejutannya, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang menggelegar.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...