
Derap langkah kaki seseorang menggema di atas pijakan tangga kayu. Arthur yang baru saja ingin berpakaian tersentak kaget ketika Darren membuka pintu dengan kasar dan masuk begitu saja.
"Der, kau ingin mati heh?!" seru Arthur mengancam. Nyaris saja ia terkena serangan jantung karena Darren yang mengejutkan dirinya.
"Sorry Ar, tapi aku ada berita yang sangat penting," sahut Darren berdiri memenuhi ambang pintu.
"Apa? Kau tidak lihat aku sedang mengenakan kemejaku?!" Arthur tidak menghiraukan perkataan Darren, ia sibuk mengenakan kemeja hingga terakhir melekatkan jas berwarna ungu wine pada tubuhnya.
"Tapi ini menyangkut Nona Helena. Ada segerombolan orang menyerang rumah sakit. Saat ini Steve dan Sheriff Kevin berhasil meringkus beberapa menyusup di rumah sakit."
Seketika Arthur menoleh ke arah Darren. "Damn! Sepertinya ada yang ingin mengacaukan acaraku!" dengkusnya kesal.
Buru-buru Arthur melengkapi penampilannya dan segera keluar dari ruangan menuju rumah sakit di susul oleh Darren yang turut melangkah lebar, mengimbangi langkah Arthur.
"Apa saja yang dilakukan rumah sakit itu?! Kenapa bisa kecolongan seperti itu?!" Sepanjang melangkah, Arthur tiada henti mengumpat dan menggerutu. Ia meruntuki kebohongan Steve dan Sheriff Kevin itu.
"Anak buah kita sudah berjaga Ar, tapi ternyata mereka menghirup gas beracun." Benar. Bahkan Darren mendapati laporan jika ada beberapa petugas rumah sakit yang turut menghirup gas beracun dan tidak sadarkan diri. Bahkan beberapa di antaranya tewas di tempat.
"Cih, apa mereka suruhan Jorge?" Arthur masuk ke dalam mobil. Kali ini ia yang mengemudikan mobilnya.
"Sepertinya bukan! Mereka musuh kita. Dan sudah mengetahui kelemahanmu."
Arthur tidak kembali menyahut, pria itu menancapkan gas usai Darren masuk ke dalam mobil. Hanya butuh waktu lima menit untuk mereka tiba di rumah sakit.
Kedatangan mereka disambut oleh beberapa anak buah dan juga Steve serta Sheriff Kevin.
"Dimana Helena?" Hal yang pertama ditanyakan Arthur adalah calon istrinya itu, tanpa menyapa keduanya terlebih dahulu.
"Helen sudah aman, dia berada di ruangan laboratorium, aku mengamankannya disana. Beberapa ruangan sudah terpapar gas beracun. Jika kau ingin menemuinya berhati-hatilah." Steve kemudian memberitahukan keadaan yang terjadi di rumah sakit. Hingga dia menyelamatkan Helena terlebih dahulu dan menyembunyikan di tempat yang aman.
"Tindakan mengacaukan rumah sakit tidak bisa dibiarkan. Aku akan mengusut tuntas penyerangan ini," kata Sheriff Kevin menimpali. "Apalagi banyak korban yang berjatuhan!" Dan Sheriff Kevin memijat kepalanya, nampak frustasi. Sebab peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
"Ya, lakukan yang terbaik, Kevin. Aku berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi." Steve menyahuti sahabat baiknya itu, ia merasa miris kepada para korban dan meruntuki sistem keamanan yang ia buat begitu mudah di tembus oleh orang-orang jahat.
"Aku akan membantu kalian untuk menemukan kelompok itu dan membawanya kepada kalian. Sehingga kalian bisa bebas menghukum atau bahkan melenyapkan mereka." Arthur merasa bersalah, sebab penyerangan ini dipicu karenanya. Karena ada seseorang yang begitu ia jaga di rumah sakit, sehingga kelompok yang entah siapa menyerang rumah sakit.
Sebenarnya baik Steve dan Sheriff Kevin terkejut mendengarkan penuturan Arthur yang begitu yakin bisa segera menemukan kelompok itu. Tetapi tidak mengherankan, sebab apapun bisa dilakukan oleh Pewaris Keluarga Romanov dengan kekuasaannya.
"Baiklah. Cepatlah bawa Helena pergi ke tempat yang aman, seperti yang kau janjikan padaku. Aku tidak akan mengantarmu tapi aku menitipkannya padamu. Dan jika suatu saat kau menyakitinya, aku akan mengambilnya darimu!" Tatapan Steve penuh peringatan kepada Arthur, tetapi sorot matanya menyelipkan rasa terpukul yang mendalam karena sudah melepaskan wanita yang begitu ia cintai untuk bersama dengan pria lain.
"Kau tidak perlu mengancamku seperti itu! Apapun yang sudah menjadi milikku tidak akan kubiarkan lepas begitu saja dan dimiliki oleh pria lain!" ujar Arthur dingin.
Steve tersenyum kecut, bermaksud ingin bersikap lebih mendominasi. Akan tetapi justru ia yang tidak dapat berkutik dengan jawaban pria itu.
Seorang perawat wanita tiba-tiba saja melintas tergopoh-gopoh. Hingga menarik perhatian Arthur, Steve, Sheriff Kevin dan bahkan Darren yang sedari tadi diam mengamati.
"Apa yang terjadi?" Steve menahan langkah perawat tersebut. Ia mendadak gelisah teringat Helena yang sudah ia amankan itu.
"Dokter Steve, Nona Helena melarikan diri. Dia ketakutan saat saya dekati dan terus berteriak." Perawat tersebut memberitahukan apa yang terjadi dengan wajah panik dan juga ketakutan jika Steve akan menyalahkan dirinya.
Benar saja. Steve nyaris saja mengumpati perawatnya itu jika saja tidak mengontrol emosinya dengan baik. "Kalau begitu carilah dengan benar. Aku juga akan mencarinya."
Arthur berlari begitu saja dalam keadaan panik dan marah yang bercampur. Seharusnya Helena dijaga lebih ketat lagi, mengingat halusinasi itu bisa kembali datang sewaktu-waktu. Dan Darren sudah pasti menyusul langkah Arthur dengan langkah cepat.
"Kau harus baik-baik saja." Gumamannya bergetar penuh rasa cemas. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Helena.
"Der, berpencar!" teriak Arthur yang langsung diangguki oleh Darren. Arthur berbelok ke kanan sementara Darren berlari lurus.
Lorong rumah sakit menjadi sepi seolah tidak berpenghuni, hingga irama derap langkah kakinya menggema dan menemani setiap langkahnya mencari Helena. Dan langkahnya tiba-tiba saja terhenti begitu mendapati wanita cantik yang tengah bersembunyi di balik deretan kursi besi. Tanpa ragu Arthur berlari mendekat, menarik lengan wanita itu dan membawa ke dalam dekapannya.
Tanpa menyebutkan nama, tentu Helena sudah mengenal baik suara bariton tegas milik Arthur. Wanita itu memeluk calon suaminya begitu erat.
"Tenanglah, semua baik-baik saja. Di sini sudah aman." Arthur memberikan ketenangan melalui usapan lembut pada telapak tangannya itu. "Kita pergi dari sini, hm. Pendeta sudah menunggu dan kita akan meninggalkan Paris."
Helena mengangguk pelan, ia tengah berusaha memulihkan diri dari rasa ketakutan melalui dekapan hangat Arthur.
"Der..." Panggilan Arthur membuat Darren terkesiap karena Arthur menyadari keberadaannya di ujung lorong. "Katakan pada pendeta untuk persiapkan semuanya. Kita akan datang dalam waktu tiga puluh menit lagi!" katanya bernada perintah.
"Baik Ar," sahut Darren mengerti.
Arthur kemudian menggiring Helena untuk jalan disisinya tanpa melepaskan pelukan. Wanita itu ternyata sudah merasa begitu nyaman dan aman, sehingga mempercayakan Arthur sebagai tempat dan persembunyian yang aman.
Ternyata benar, hanya dalam waktu tiga puluh menit saja Arthur dan Helena sudah tiba di lokasi pemberkatan. Di depan Gereja Notre Dame, kedua pasangan mempelai itu sudah disambut oleh pendeta dan beberapa saksi.
Darren menuntun jalan Arthur serta Helena dan mendudukkan diri di salah satu kursi keluarga sebagai saksi acara sakral teman baiknya, keluarga dan bahkan atasannya itu.
Arthur tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Jika keberadaanya di rumah sakit bisa terdeteksi, maka tidak menutup kemungkinan musuh mereka akan menemukannya juga di gereja.
Arthur mengumpat dan jengah dengan prosesi pernikahannya yang terbilang mengulur waktu itu. "Bisakah kau percepat pada bagian pengucapan janji suci?" Arthur menyela perkataan pendeta di hadapannya.
Semula pendeta itu merasa keberatan, tetapi jika mengingat masalah yang tengah dihadapi ia mengangguk setuju. "Baiklah," sahutnya.
Arthur dan Helena tidak melepaskan genggaman mereka sedari tadi. Keduanya mengucapkan janji suci yang dipandu langsung oleh pendeta. Keduanya menyanggupi pernyataan untuk menjadi suami istri dan mempertanggungjawabkannya seumur hidup. Hingga kini Arthur dan Helena resmi menjadi pasangan suami istri. Arthur segera menyematkan cincin yang dibawakan oleh Darren, pun dengan Helena. Kini cincin sudah tersemat di jari masing-masing. Arthur merengkuh tengkuk leher Helena dan membenamkan ciuman di bibir manis wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
Kecupan itu menjadi lumatann dalam, sebab Helena membalas ciumannya dengan lembut. Dan keduanya saling melepaskan pagutan bibir mereka saat dirasa sudah kehabisan napas.
Darren berjalan mendekat hendak memberikan ucapan selamat kepada keduanya. Tetapi Arthur menatapnya dengan sengit.
"Kau bisa memberikan selamat untuk kami nanti Der. Sekarang yang lebih penting kita pergi dari sini!" Arthur langsung menarik Helena untuk pergi dari sana, tanpa menunggu jawaban dari Darren.
Hah. Darren hanya bisa menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah pendeta yang juga menatap bingung.
Pernikahan macam apa ini yang berlangsung terburu-buru? batin pendeta tersebut menggelengkan kepala.
Darren berpamitan kepada pendeta, ia segera berlalu dari sana disusul oleh beberapa anak buah yang menjadi saksi.
Mereka bergegas masuk mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Arthur serta Helena menuju landasan pribadi Keluarga Romanov.
Pemberkatan sudah dilakukan dan Arthur resmi menyandang gelar suami. Dan ia berjanji akan melindungi istrinya dengan segenap nyawanya. Setelah keadaan Helena lebih tenang, ia akan kembali ke London untuk memberikan pelajaran kepada Jorge dan mencari tahu siapa yang menyerang Claude Huriez Lille Hospital.
To be continue
Babang Arthur
Helena
Flashback end. Yang tanya MP..... memang belum terjadi kok wkwk 😂
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...