The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Penyesalan Terbesar



PRANG!


Carmela membanting remote televisi ketika melihat konferensi pers yang memperkenalkan putri dari Xavier Alexander Romanov dengan Elleana Callista Romanov. Kini semua sudah mengetahui siapa Elie yang sebenarnya dan dirinya tidak bisa lagi leluasa memberikan pelajaran terhadap wanita itu.


Bahkan di dalam group perusahaan semua ramai membahas berita tersebut. Sebagian dari mereka mengutarakan ketakutannya akan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Elie di masa lalu. Dan sebagian merasa lega, sebab tidak pernah terpancing untuk memusuhi atau bahkan membenci wanita itu.


"Carmel, apa yang kau lakukan?!" Nyonya Sandler datang menghampiri, pakaiannya kini berbeda dari biasanya, tidak ada perhiasan mewah yang melekat di tubuhnya. Bahkan pakaian mahalnya kini tertutupi oleh apron yang membungkus tubuh wanita tua itu. Matanya mengitari ke sekitar dimana terlihat barang-barang berhamburan di lantai. "Astaga, kenapa berantakan seperti ini?!" Nyaris tidak percaya apa yang dilihatnya, Nyonya Sadler memekik sembari menuntut penjelasan kepada menantu kesayangannya itu.


"Lihatlah Mom, dia bisa tersenyum setelah menghancurkan kita seperti ini!" Dagu Carmela menunjuk terarah layar televisi, masih terpampang wajah cantik Elie yang menebarkan senyumnya. Senyum yang kian membuat Carmela meradang.


Nyonya Sandler mengikuti arah pandang sang menantu, matanya membulat sempurna melihat sosok yang dibencinya berada di televisi. Selama ini ia membenci wanita itu lantaran tidak jelas asal usulnya dan merasa tidak sederajat dengan Keluarga Sandler. Tetapi lihatlah saat ini, jutsru Keluarga Sandler tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluarga Romanov.


"Kenapa menjadi seperti ini," lirihnya. Ada setitik penyesalan di dalam dirinya. Andai saja kala itu ia merestui hubungan Brandon dengan wanita itu, mungkin kehidupannya akan jauh lebih baik.


"Mom, kenapa diam seperti itu?" Carmela bingung dengan sikap ibu mertuanya yang beberapa hari belakangan ini tidak mencibir wanita itu.


"Sudahlah Carmel, jangan membuat masalah lagi. Kita sudah seperti ini, aku tidak ingin cafe yang sudah kurintis dengan sudah payah ini harus dihancurkan juga." Nyonya Sandler berusaha memberi pengertian kepada Carmela. Percuma saja jika Carmela ingin memaki atau membalas dendam sekalipun, kini mereka tidak memiliki apapun yang bisa di banggakan. Saat ini harta yang ia memiliki hanya sebuah cafe yang tidak terlalu besar tetapi cukup untuk menghidupi mereka. Meskipun harus turun tangan secara langsung mengurusi cafe, sebab beberapa karyawan sudah dipecat karena tidak sanggup menggaji mereka. Hingga pada akhirnya dirinya yang melakukan tugas karyawan tersebut diusianya yang senja.


Carmela berdecak sinis, ia merasa tidak senang dengan perkataan ibu mertuanya itu. "Bukankah selama ini Mommy yang selalu mendukungku untuk tidak membiarkan wanita itu hidup dengan tenang. Bahkan rencana di pesta itu adalah ide Mommy!"


Nyonya Sandler sesaat tertegun, ia tidak bisa membantah, sebab faktanya seperti itu. Kebencian yang sudah mendarah daging itu entah kenapa membutakan dirinya, sehingga menghasut Carmela agar mengikuti rencananya untuk membuat wanita itu menderita. Ia sendiri heran kenapa bisa membenci wanita itu tanpa alasan yang jelas? Padahal sejak menjalin hubungan dengan putranya Brandon, wanita itu berlaku sopan kepadanya.


"Saat itu aku tidak tau jika Elie adalah putri dari Keluarga Romanov. Jika saja aku tau dari awal, aku tidak akan-"


"Tidak akan apa?" Carmela menyela, ia bersedekap dan tersenyum kecut. Dapat dilihat rasa penyesalan di dalam sorot mata ibu mertuanya. "Tidak akan menentang hubungan wanita itu dengan Brandon, hah?! Apa saat ini kau menyesal sudah memisahkan mereka?!" serunya sarkastik dan berteriak karena hormon kehamilan mudah membuatnya tersulut emosi.


"Kenapa kau berteriak padaku?!" Nyonya Sandler berteriak tidak terima. "Aku memang menyesal telah memisahkan Brandon dari wanita itu. Seandainya saja aku tau jika Elie adalah putri dari Keluarga Romanov, aku akan menyetujuinya dan menikahkan mereka!"


Carmela terkesiap tidak percaya mendengar penuturan ibu mertua yang selama ini selalu menyayanginya. Namun di saat dirinya tidak memiliki apa-apa, dengan gamblang mengatakan hal yang menyayat hatinya.


"Kau benar-benar keterlaluan Mom. Bukankah selama ini kau selalu menyayangiku melebihi rasa sayangmu pada Brandon!" Carmela memupuk air matanya, meskipun ibu mertuanya menyebalkan, akan tetapi dirinya sangat menyayangi ibu dari suaminya.


Nyonya Sandler gelagapan, ia kelepasan bicara seperti itu. Meskipun memisahkan Brandon dengan Elie adalah penyesalan terbesarnya, akan tetapi ia tidak sampai hati menyakiti hati menantunya yang sudah ia anggap seperti putri kandung sendiri.


"Maafkan Mommy, Carmel. Mommy tidak bisa berpikir dengan baik." Nyonya Sandler menangkup kedua bahu Carmela. "Kehidupan kita menjadi seperti ini, dan aku sudah merasa cukup lelah, karena itu tanpa sadar bicara seperti itu."


Carmela dapat melihat ketulusan di dalam diri Nyonya Sandler ketika menyesali ucapannya. Lalu ia menyeka air mata yang terlanjur meluruh di wajah.


"Aku masih memiliki Glory Ent. Aku akan menjual perusahaan itu dan memberikan kepada Brandon untuk suntikan dana." Meskipun Brandon tidak sepenuhnya mencintai dirinya, akan tetapi ia tentu tidak tega melihat pria yang dicintainya harus menderita mencari kesana-kemari seseorang yang ingin menyuntikan dana kepada Perusahaan Sandler.


Nyonya Sandler terharu, tidak menyangka jika rasa cinta menantunya untuk Brandon sebesar itu. "Terima kasih sayang. Maafkan perkataan Mommy yang sempat menyinggung perasaanmu." Tangannya kemudian terulur mengusap lembut perut Carmela yang sudah membuncit. "Brandon pasti sangat senang jika bayi kalian selalu sehat di dalam sini."


"Ehm, iya Mom. Hanya bayi ini yang bisa mendekatkan aku dengan Brandon."


"Brandon hanya butuh waktu, dia pasti mengerti. Saat ini Brandon dan Daddy mertuamu sedang mengurus Perusahaan Sandler yang sudah diambang kebangkrutan."


"Aku mengerti Mom, mereka berjuang keras untuk memulihkan perusahaan. Sementara perusahaan keluargaku sudah benar-benar tidak bisa diharapkan lagi, Daddy menghilang begitu saja dengan membawa uang perusahaan."


Keduanya mendesahkan napas berat. Kehidupan yang sebelumnya bergelimang harta dan sangat tercukupi, kini semua hilang begitu saja. Alan Born meninggalkan perusahaan yang mengalami kerugian hingga Carmela yang dituntut untuk membayar seluruh gaji karyawan. Dan ia tidak bisa melakukan apapun selain menjual Glory Ent untuk membayar semua gaji para karyawan dan memberikan suntikan dana untuk Brandon.


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Nyonya Brandon memerintahkan siapapun itu untuk masuk.


"Maaf Nyonya, ada dua pelanggan yang membuat masalah. Salah satu karyawan tidak sengaja menumpahkan minuman di sepatu salah satu dari mereka dan meminta ganti rugi sebesar 2 Milyar.


"Apa?" Nyonya Sandler dan Carmela terpekik kaget mendengar nominal yang begitu banyak. Keduanya buru-buru menemui dua pelanggan yang dimaksud oleh kepala pelayan tersebut.


Kedua mata mereka menyipit tajam, memperhatikan penampilan kedua pria setengah baya dengan pakaian serba bermerek di tubuh mereka. Nyonya Sandler segera menghampiri, sementara Carmela melihat dari balik meja kasir. Dua pria itu tidak lain ialah Xavier dan Zayn dengan wajah mereka yang sedikit disamarkan menjadi lebih tua. Xavier tidak terima ketika putrinya di tolak sebagai calon menantu idaman dan yang menolak putrinya adalah Keluarga Sandler yang tidak seberapa itu.


"Jadi kau pemilik cafe ini?" kata Zayn menunjuk, duduk dengan angkuh.


"Be-benar tuan..." Nyonya Sandler tertunduk takut, sungguh aura keduanya sangat kuat mengintimidasi.


"Kau tau apa yang karyawanmu lakukan padaku?" lanjutnya tanpa menyurutkan tatapan tajam.


"Ma-maafkan karyawan saya yang tidak sengaja menumpahkan minuman di sepatu tuan."


Pria setengah baya yang masih tampan itu mengangguk. "Kalau begitu berikan 2 Milyar padaku. Jika tidak kau akan aku laporkan ke polisi!"


Hah? Nyonya Sandler reflek mendongak, hanya karena menumpahkan minuman di sepatu pria itu, ia harus dilaporkan kepada polisi. Yang benar saja!


"Tapi Tuan, bukan saya yang melakukan kesalahan, kenapa saya yang harus dilaporkan ke polisi?" Nyonya Sandler tidak terima jika dirinya yang harus menanggung kesalahan salah satu karyawannya.


"Cafe ini milik siapa?" tanya Zayn acuh.


"Karena itu kau harus bertanggung jawab atas kesalahan karyawanmu!"


"Tapi Tuan..." Nyonya Sandler tidak diberikan kesempatan untuk memperotes.


"Jika tidak ingin dilaporkan ke polisi, kau harus membayar 2 Milyar!" Xavier yang sejak tadi diam memperhatikan turut bersuara.


"Tuan, saya tidak punya uang sebanyak itu." Benar, uang yang tersisa hanya cukup untuk menghidupi mereka selama satu tahun.


"Kalau begitu silahkan angkat kaki dari Cafe ini. Bahkan cafe kecil ini tidak bisa membayar ganti rugi sepatu temanku yang terbuat dari kulit badak!" Xavier tidak mau tahu, yang ia inginkan mereka segera angkat kaki dari Cafe tidak seberapa itu.


"Hei, sepatuku bukan terbuat dari kulit badak, tetapi dari kulit buaya!" seru Zayn mengoreksi perkataan Xavier.


"Kau menguliti dirimu sendiri, heh?!" sahut Xavier mengejek.


"Kurang ajar! Kau pikir aku buaya!" Zayn mendesis kesal.


"Menurutmu?"


"Sialan! Sudahlah, aku marah padamu!" kata Zayn memasang wajah masam.


"Ck, menjijikan!" Xavier menatap jijik temannya itu.


"Hei, aku marah! Marah! Apa kau tidak bisa melihat wajahku yang merah padam seperti ini?!" Zayn beranjak berdiri, menguarkan aura perselisihan.


Xavier tidak menghiraukan kekesalan Zayn. Sehingga membuat Zayn meradang, lalu menendang salah kursi dan menggulingkan salah satu meja. Sontak saja membuat Nyonya Sandler terkesiap dan Carmela terburu-buru menghampiri ibu mertuanya.


"Kenapa kau menghancurkan meja dan kursi disini?" Carmela berteriak marah dan tidak terima.


Zayn melamati penampilan Carmela dengan perut yang membuncit. "Jadi kau lebih memilih aku menendang perutmu, heh?!" sarkasnya berdecak sinis.


Mendengar perkataan pria paruh baya yang menurutnya gila itu, Carmela menutupi perutnya dengan kedua tangan. "Jangan macam-macam. Aku bisa melaporkanmu ke polisi!"


"Silahkan saja!" Zayn tersenyum meremehkan. "Kita akan melihat siapa yang nanti akan di penjara!"


Saat mendengar kata 'penjara' Nyonya Sandler mendelik takut, ia mendekati menantunya. "Sudahlah Carmel, jangan membuatnya bisa melakukan hal gila lebih dari ini!"


Xavier masih duduk dengan santai, tetapi ia segera beranjak berdiri. Dan melemparkan secarik kertas ke atas meja. "Kalian segera angkat kaki dari cafe ini. Karena cafe ini bukan milik kalian lagi!"


"Apa?" Nyonya Sandler terkejut. Pun dengan Carmela. Carmela segera mengambil secarik kertas yang dilemparkan tersebut. Seketika matanya membola sempurna membaca isi dari kertas itu.


"Tidak! Tidak mungkin!" Carmela menggeleng tidak percaya. "Cafe ini milik Mommy mertuaku, bagaimana bisa menjadi milikmu?!" serunya kepada Xavier.


Nyonya Sandler merampas kertas itu dari tangan Carmela dan tidak kalah terkejut seperti Carmela. "Ini tidak mungkin, aku tidak pernah menjual cafe ini!"


Xavier bersedekap, menatap tajam kedua wanita berbeda generasi itu. "Suamimu telah memberikannya padaku. Jadi cepatlah kalian angkat kaki dari sini!"


"Tidak. ini tidak mungkin!" Nyonya Sandler mengusap wajahnya kasar, merasa terguncang dengan yang baru saja ia ketahui. Tidak mungkin suaminya memberikan cafe yang dirintisnya dari nol kepada pria orang lain. Ia meratapi nasib mereka ke depannya dan penyesalan terbesarnya yang lain adalah berurusan dengan Keluarga Romanov.


"Ck, drama!" desis Zayn jengah. "Pergi saja dari sini, aku muak melihat mereka menjadi gila seperti itu!"


"Ya..." Xavier mengangguk. Ia berjalan melintasi Zayn lebih dulu, dan diekori eh Zayn dengan cepat. Sebelum berlalu, keduanya menoleh sekilas. Mereka tidak prihatin melihat Carmela yang sudah tidak sadarkan diri dan tubuhnya di tumpu oleh karyawan disana.


"Ck, cafe ini lebih cocok menjadi alas kakiku!" ujar Xavier melihat sekeliling cafe tersebut. Tidak ada yang istimewa, sangat berbeda jauh dengan cafe milik sang istri.


"Aku akan menumpang mencuci kaki disini." Zayn terkekeh geli, sebelum kemudian mengejar langkah Xavier yang sudah berlalu lebih dulu.


To be continue




Pasti kangen kan sama babang Vier dan babang Zayn? 🤭


...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...