
Tatapan Mikel penuh mendamba pada sosok wanita yang telah menempati hatinya. Jika selama ini ia hanya mampu menatap bibir ranum itu tanpa menyentuh, tetapi kali ini ia tidak bisa menahan keinginan untuk mencium wanita itu. Terlebih bibir wanitanya nampak begitu seksi jika sedang menggerutu kesal kepadanya. Tangan Mikel kemudian terulur menekan tengkuk leher Aurelie hingga akhirnya pria itu memberanikan diri untuk membenamkan bibirnya disana. Tidak peduli jika nantinya ia akan terkena tamparan atau lebih dari itu. Persetan, ia hanya ingin merasakan bibir yang seperti buah cherry itu.
Dan Aurelie hanya mampu membulatkan matanya penuh ketika Mikel menyambar bibirnya, lalu melumattnya dengan lembut. Meskipun berulang kali Aurelie menepuk-nepuk dada Mikel agar pria itu melepaskan pagutan bibirnya. Namun percuma saja karena Mikel semakin menyesap dan bahkan menelusuri pinggul ramping wanita itu. Tenaganya yang lebih besar dari Aurelie tentu saja memudahkan dirinya melakukan pertahanan ketika Aurelie berusaha menjauhkan tubuhnya.
Mikel menggigit bibir bawah Aurelie sehingga mau tidak mau wanita itu membuka mulutnya. Hingga lidah Mikel leluasa menyapu rongga mulut sang wanita pujaannya. Merasa pertahanannya sia-sia saja, akhirnya Aurelie hanya terpaku diam tanpa membalas atau tanpa melakukan perlawanan seperti sebelumnya. Dan hal itu membuat Mikel menarik sudut bibirnya tipis, ia semakin menyusup masuk dan menyesap begitu dalam. Dan ciuman tanpa balasan itu sudah cukup bagi Mikel, karena keinginannya untuk merasakan bibir sang wanitanya sudah terpenuhi. Seperti dugaannya, benar-benar manis. Bahkan itu adalah rasa yang paling ia sukai dan setelahnya ia pasti akan merasakannya lagi, karena rasa manis dari bibir Aurelie membuatnya candu.
"Kau...." Dan ciuman itu akhirnya terlepas, hingga memberikan kesempatan Aurelie untuk mendorong dengan kasar tubuh Mikel. "Kurang ajar!" pekiknya melayangkan tatapan kesal. "Itu adalah ciuman pertamaku, tapi kau mengambilnya. Sialan!" Akhirnya nampaklah sisi bar-bar Aurelie. Image yang selama ini ia tanamkan di dalam dirinya bahwa ia adalah wanita yang lembut seolah luntur seketika.
Mikel tertegun sejenak ketika mengetahui jika ciuman itu adalah ciuman pertama Aurelie. Namun perlahan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Senang? Tentu saja senang karena ia yang pertama untuk Aurelie, meskipun bukan dirinya yang pertama menjadi kekasih wanita itu.
"Itu juga adalah ciuman pertamaku, Sweetheart." Kata tersebut meluncur dari bibir Mikel. Bukan kata maaf karena telah lancang mencuri ciuman seorang wanita.
What? Sweetheart?
Aurelie bahkan harus menajamkan pendengarannya ketika pria itu justru memanggil dirinya dengan sebutan yang menjijikan. Tidak peduli jika ciuman tersebut juga pertama kalinya bagi pria itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pria di hadapannya benar-benar tidak waras.
"Aku tidak peduli itu ciuman pertamamu atau bukan!" bentaknya. "Yang jelas itu adalah ciuman pertamaku dan kau sudah mencurinya!" Wajah galak Aurelie tidak membuat Mikel merasa takut ataupun merasa bersalah. Justru wanita itu terlihat menggemaskan di matanya.
"Benarkah? Jadi aku yang pertama untukmu, Sweetheart?" Mikel mengulum senyumnya, maju satu langkah agar menepis jarak keduanya. Namun hal itu justru membuat Aurelie mundur satu langkah.
"Jangan memanggilku seperti itu!" Sungguh panggilan yang disematkan oleh pria yang baru dikenalnya membuatnya mual. "Kau bukan kekasihku, jadi jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Dan...." Aurelie semakin gelagapan ketika Mikel justru tetap melangkahkan kakinya, mendekat. "Dan menjauhlah dariku!" sambungnya membentak.
Ekor mata Aurelie melirik ke arah pintu yang jauh dari jangkauan matanya. Bagaimanapun caranya ia harus melarikan diri dari pria mesum di hadapannya. Sungguh ia telah tertipu dengan wajah tampan dan dingin itu, yang ternyata Presdir dari MJ Corp tidak dingin seperti yang dibicarakan diluar sana. Justru pria itu benar-benar mesum.
"Kalau begitu maukah kau menjadi kekasihku, Elie?" Mikel tidak menghiraukan bentakan wanitanya. Karena tentunya ia menikmati wajah galak yang menggemaskan. Ia tau jika selama ini Aurelie menjaga image menjadi wanita lembut. Tapi lihatlah, justru ia lebih menyukai Aurelie yang apa adanya.
Mata Aurelie membeliak sejenak. Dengan mudahnya pria itu meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya? Big No! Meskipun pria di hadapannya tampan bahkan sangat tampan, tetapi ia tidak ingin berurusan dengan pria mesum sepertinya. "Aku tidak mau menjadi kekasihmu!" tolaknya cepat. "Kau tampan dan sangat kaya. Tentunya kau bisa mengencani wanita-wanita diluar sana. Aku yakin jika selama ini banyak wanita yang mendekatimu dan bahkan merangkak ke atas ranjangmu."
"Kau benar," sahut Mikel tidak membantah tuduhan Aurelie, sebab faktanya seperti itu. "Tapi aku tidak menginginkan mereka. Aku hanya menginginkanmu yang menolakku seperti ini." Mikel kembali menyematkan senyumnya, hingga semakin membuat Aurelie kesal setengah mati.
"Ck, percuma saja aku bicara denganmu. Sebaiknya aku pergi dari sini." Aurelie tidak peduli lagi jika ia harus bersikap kasar terhadap pemilik sekaligus Prediksi MJ Corp. Bahkan jika harus berimbas pada kerja sama mereka. Dengan cepat Aurelie melangkah menuju ke arah pintu namun lagi-lagi lengannya lebih dulu di rengkuh oleh Mikel sebelum tangannya menggapai handel pintu.
Aurelie tidak bisa melakukan perlawanan, sebab Mikel berhasil mengukung dirinya pada dinding. Bahkan kakinya yang seharusnya bisa ia gunakan untuk menendang sela-sela paha pria itu, lebih dulu dikunci oleh Mikel.
"Kau... apa yang ingin kau lakukan?" Aurelie mendelik waspada, ia tidak ingin pria itu kembali menciumnya. Terlebih kini wajah mereka tidak berjarak dan hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Katakan jika kau menerimaku sebagai kekasihmu Sweetheart," ucapnya lembut. Keduanya dapat merasakan hembusan napas masing-masing karena posisi mereka yang begitu menempel.
"Tidak," tolaknya cepat. Dan Aurelie harus membuang pandangannya ke arah lain, karena tidak ingin bersitatap dengan Mikel.
Mikel tersenyum. "Kalau begitu aku tidak masalah jika harus menjadi yang kedua."
Perkataan Mikel tentu saja membuat Aurelie reflek kembali menatapnya. "Apa kau sudah gila?!" katanya kesal. "Aku sudah memiliki kekasih, itu artinya aku tidak bisa menerimamu." Setidaknya mejadikan alasan memiliki Brandon cukup masuk akal untuk menolak pria di hadapannya.
"Kalau begitu putuskanlah kekasihmu yang tidak berguna itu. Biarkan aku yang menjaga dan melindungimu, hm. Bagaimana?" katanya menawarkan diri, menatap dalam manik mata teduh wanitanya. Hingga kemudian beralih pada bibir ranum Aurelie yang ingin kembali ia cicipi.
"Aku tau bagaimana pria bodoh itu mempermainkanmu, Sweetheart." Namun Mikel tidak akan menyerah begitu saja. "Apa perlu aku menyingkirkannya? Kau tau bukan, aku dengan mudah menyuruh seseorang untuk mengeluarkan pria yang bernama Brandon itu dari agensi. Apa kau ingin aku melakukannya hm?"
Ah, Aurelie sempat melupakan siapa pria di hadapannya itu. Sudah pasti Mikel telah mencari tau terlebih dahulu. Atau mungkin pria itu juga sudah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya? pikirnya.
"Jangan membuang tenagamu untuk sesuatu yang bukan urusanmu, Tuan Mikel Jhonson yang terhormat." Aurelie bicara selembut mungkin, akan tetapi menekankan ucapannya.
Mikel kembali tersenyum menanggapinya. "Apapun mengenai dirimu adalah urusanku, Sweetheart."
"Kau sudah gila!" Dan Aurelie benar-benar kehilangan kesabaran menanggapi pria gila di hadapannya.
"Aku memang sudah gila." Dan Mikel menyahutinya dengan seulas senyum. "Gila karenamu, jadi kau harus bertanggung jawab," sambungnya kemudian, sehingga membuat Aurelie tidak mampu melontarkan serangan yang diucapkan oleh Mikel.
Untuk sejenak mereka saling beradu pandangan. Aurelie nampak diam menatap dalam manik mata berwarna hijau hazel.
Deg
Kenapa ia baru menyadari jika Mikel memiliki warna mata seperti..... Michael? Pantas saja saat pertama kali melihat Mikel, Aurelie merasa tidak asing dengan manik mata pria itu. Dan untuk sesaat keduanya hanya saling memandang, menyiratkan sesuatu yang hendak mereka sampaikan, namun justru keduanya memilih diam.
Mendapati wanitanya tidak lagi memberontak membuat Mikel kian mendekatkan wajah mereka. "Aku sudah lama menunggu, menghabiskan waktu untuk melihatmu dari kejauhan. Katakanlah itu omong kosong, tapi pada kenyataannya aku memang sudah jatuh cinta kepadamu hingga aku nyaris gila." Apa yang baru saja diucapkan oleh Mikel dengan begitu lembut mampu membuat tubuh Aurelie yang memaku kian membeku. Meskipun ia tidak mengenal sosok pria di hadapannya, tetapi entah kenapa ia dapat menemukan suatu keseriusan di manik mata pria itu.
"Ak-aku...."
"Shhttt, jangan mengatakan apapun." Ujung jari Mikel menekan bibir Aurelie yang kembali ingin membuka suara. Ia berusaha mengatur napasnya yang kian memanas. Matanya yang sebelumnya menatap dalam mata meneduhkan wanitanya, perlahan beralih menyoroti bibir yang saat ini sedang ia sentuh. Meskipun baru pertama kali ia merasakan bibir wanita itu, tetapi mampu membuatnya candu.
Mikel lebih merapatkan tubuh mereka, menahan dagu wanita itu, sebelum kemudian kembali membenamkan bibirnya disana. Rasanya Aurelie ingin sekali menolak, tatapi tidak bisa. Sungguh ia merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Terlebih saat sebelumnya ia sempat menatap dalam manik mata hijau hazel yang begitu mirip dengan Michael.
Aurelie membiarkan pria itu bermain pada bibirnya, bahkan ia tidak mendorong seperti sebelumnya. Justru ia terkesan menikmati ciuman Mikel, hingga tanpa sadar ia pun membalas ciuman pria itu.
Gila. Ini tidak benar. Tetapi entah kenapa, aku sungguh tidak bisa menolaknya.
To be continue
Babang Mikel
...Happy ya bang?? 😂 Iyalah masa enggak wkwk...
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...