
Informasi mengenai wanita yang diketahui selama ini dekat dengan Mikel sudah di kantongi oleh Darren. Tanpa membuang waktu lagi, Darren segera melaporkannya kepada Arthur. Hingga sejak tadi Arthur nampak diam membaca kata demi kata sebuah artikel yang memberitakan mengenai hubungan Mikel dengan Helena.
Tidak menemukan sesuatu yang aneh pada artikel tersebut, Arthur meletakkan iPad tersebut di atas meja kerjanya.
"Jadi selama ini dia membiarkan wanita itu berada disisinya?" tanya Arthur. Sebab dari artikel yang ia baca, tidak ditemukan klarifikasi dari pihak Mikel. Dan yang hanya ia dapatkan jika wanita itu yang selalu menggembar-gemborkan hubungan mereka.
"Benar...." sahut Darren. "Sepertinya sejak awal wanita itu bertepuk sebelah tangan."
Arthur diam sejenak. Tanpa dijelaskan oleh Darren pun ia sudah dapat menyimpulkan jika selama ini cinta wanita itu bertepuk sebelah tangan.
"Kau terus awasi Elie, Der. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu kepada Elie," ujar Arthur bernada perintah.
"Aku sudah mengirim anak buah kita untuk mengawasinya."
"Hem..." Arthur mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan wanita itu?" Tentu Darren penasaran bagaimana nasib wanita yang bernama Helena. Mengingat tidak ada tindakan atau perintah dari Arthur untuk mengurus wanita yang selalu membuat masalah itu.
"Biarkan dia menjadi urusanku." Arthur menekankan ucapannya, diiringi jari telunjuknya yang mengetuk meja berulang kali. "Kau awasi saja Elie. Jangan biarkan siapapun melakukan sesuatu kepadanya. Dan jangan biarkan pria itu dengan mudah mendekati Elie!" perintahnya kemudian. Darren sudah paham siapa pria yang dimaksud, sudah pasti Mikel Jhonson. Karena saat ini hanya pria itu yang berusaha mendekati Elie.
"Baiklah. Aku akan menambah anak buah kita untuk menjaga Elie." Darren tidak heran jika Arthur begitu menjaga Elie, apapun yang berhubungan dengan Elie dan juga Austin sudah pasti Arthur akan bergerak cepat.
"Kirim anak buah yang lain untuk mengawasi As. Aku tidak ingin adikku dan yang lainnya membuat masalah diluar," ucap Arthur. Meskipun ia sudah disibukkan dengan berbagai perkejaan di perusahaan dan juga urusan yang lain, ia tetap ingat akan adik-adiknya. Dan ia pun harus mengetahui apa saja yang kedua adiknya lakukan diluar sana.
"Sejauh ini mereka baik-baik saja. Tidak ada laporan jika mereka membuat masalah. Tapi aku akan mengirim anak buah kita untuk mengawasinya."
Arthur mengangguk. "Bagus." Karena jika semua adik-adiknya membuat masalah, sudah pasti dirinya serta Darren yang akan menyelesaikannya. "Kalau begitu kau kembalilah bekerja Der," katanya kemudian hingga di angguki oleh Darren. Pria itu segera berlalu dari ruangan Arthur.
***
Berbeda dengan seseorang yang sejak tadi tidak berhenti memaki dan memarahi bawahannya hanya karena masalah kecil. Sudah tiga hari ini Mikel dalam keadaan tidak baik, apapun yang dilakukan oleh para bawahannya selalu salah. Bahkan hanya karena terdapat kata yang salah penulisan huruf, karyawan tersebut harus menerima konsekuensinya dengan di potong gaji selama satu bulan.
Nathan yang kembali menyaksikan kemarahan Mikel, hanya mampu meringis di dalam hati. Ia tidak dapat menahan atasannya itu untuk bertindak demikian, karena ia tidak ingin menjadi sasaran selanjutnya seperti dua hari sebelumnya. Dan penyebab kemarahan dan sikap atasannya itu sudah pasti karena wanita model itu. Karena dua hari ini Mikel mencoba menghubungi Elie Cassandra, namun nomer ponsel wanita itu dalam keadaan tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
"Kalian berdua benar-benar tidak berguna!" bentak Mikel. Untuk kesekian kalinya pria itu melontarkan makian yang hanya mampu di telan mentah-mentah oleh dua pria di hadapannya yang tengah sial mendapatkan amukan atasan mereka.
"Ma-maafkan kami Tuan." Dan keduanya hanya mampu tertunduk.
"Keluar dari ruanganku dan jangan tunjukkan lagi wajah kalian di hadapanku!"
Kedua karyawan pria tersebut membelalakkan mata mereka, terkejut sudah pasti. Karena jika atasan mereka sudah mengatakan demikian bertanda jika mereka akan dikeluarkan dari perusahaan.
Nathan yang paham isi hati mereka, mengayunkan tangannya tanda mengusir mereka. Untuk sementara mengiyakan perintah dari Tuan Mikel, namun ia tetap memperkerjakan kedua karyawan tersebut. Mana mungkin ia memecat dua pria yang tidak bersalah hanya karena salinan berkas tertinggal di ruangan kerja mereka dan itu pun kesalahan atasannya sendiri lantaran tidak mengatakan jika ia juga menginginkan salinan berkas tersebut. Akan tetapi tidak mungkin Nathan secara terang-terangan menyalahkan Tuan Mikel, ia hanya cukup diam mendengarkan dan melaksanakan perintah atasannya itu.
Kedua pria tersebut lantas segera keluar dari ruangan Mikel. Menyerahkan nasib mereka kepada asisten dari atasan itu, berharap jika mereka masih bekerja di perusahaan MJ Corp.
Setelah kepergian dua karyawannya, Mikel menjatuhkan tubuhnya di atas sofa disertai helaan napas kasar. Tangannya memijat keningnya yang dirasa amat penat, berharap jika kegelisahannya segera berangsur lenyap.
Nathan yang melihat atasannya kembali tidak bersemangat mencoba mendekat satu langkah. "Apa Tuan ingin saya buatkan minuman hangat?" tanyanya memberanikan diri.
"Tidak perlu." Dan Mikel menolak dengan tegas. Yang ia butuhkan saat ini bukanlah minuman hangat, melainkan wanita yang tiga hari ini mengganggu pikirannya dan sepertinya sengaja mengindari dirinya. "Apa kau sudah mendatangi apartemennya Nath?" tanyanya memastikan. Karena sejak kemarin ia memerintahkan Nathan untuk mencari keberadaan Elie di apartemen wanita itu.
Kepala Nathan yang mengangguk cukup mewakili jawaban asistennya itu. "Nona Elie tidak berada di apartemen sejak dua hari lalu. Dari pemeriksaan CCTV Nona Elie pergi saat sore dan tidak kembali setelah itu."
Ya, karena tidak mendapati keberadaan wanita yang membuat Tuannya menjadi uring-uringan seperti ini, Nathan terpaksa harus meminta rekaman CCTV yang terdapat di lorong apartemen wanita itu. Hasil rekaman CCTV disana membuatnya terkejut karena menangkap dua pria yang menyambangi apartemen wanita itu dan Nathan menjadi ragu untuk menyampaikannya. Antara cemas dan takut. Cemas jika Mikel akan kecewa dan takut jika dirinya lagi-lagi akan menjadi sasaran empuk amukan atasannya itu.
"Apa Ar yang menyembunyikan Elie?" gumamnya. Sejak awal Mikel sudah mencurigai jika Arthur adalah dalang yang menjadi penyebab Elie menghindari dirinya.
"Tuan..." Meskipun dilanda ketakutan, tetapi Nathan tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari tuannya. "Sebelum Nona Elie meninggalkan apartemen, ada dua pria yang datang ke apartemennya." Pernyataan Nathan tentu saja membuat Mikel tersentak dan menatap tajam asistennya itu.
"Apa maksudmu?" tanyanya penuh desakan.
"Dua pria ini datang ke apartemen Nona Elie." Alih-alih menjelaskan, Nathan lebih memilih memberikan ponselnya yang terdapat rekaman CCTV apartemen Elie.
Mikel menyambar ponsel milik Nathan, hingga beberapa menit kemudian matanya memanas ketika mendapati Arthur dan pria yang ia ketahui tangan kanan Arthur mendatangi apartemen wanitanya. Benar dugaan dirinya jika semuanya ada hubungannya dengan Arthur. Ia sangat mengenal Elie yang akan selalu menurut apapun yang dikatakan oleh kakak kembar wanita itu.
"Ck, kau benar-benar ingin menjauhkan aku dari Elie, Ar." Mikel tidak menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya, melainkan melemparkan ponsel itu di atas sofa.
Nathan mengusap dadanya sembari melirik ponselnya. Setidaknya merasa lega karena ponselnya hanya terbanting di atas sofa.
Brak
Pintu yang terbuka dengan kasar mengalihkan perhatian keduanya. Mikel memusatkan pandangan ke arah pintu, dimana seorang wanita dengan memasuki ruangan tanpa seizin darinya.
"Sudah ku katakan berulang kali untuk tidak menemuiku di perusahaan!" bentak Mikel dengan tatapan nyalang dan tidak bersahabat.
"Jangan salahkan aku. Salahmu karena kau tidak menjawab panggilanku." Dan wanita itu tidak lain ialah Helena. Yang membuatnya nekat datang ke perusahaan karena Mikel berulang kali menolak panggilannya dan mengabaikan permintaannya untuk bertemu.
"Keluarlah dan jangan pernah datang ke perusahaan. Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!" Mikel beranjak berdiri, sungguh ia sudah muak menghadapi sikap semena-mena wanita itu.
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kita bicara." Dan Helena tetap bersikeras. Jika ia pergi dari sana, akan lebih sulit lagi untuknya menemui Mikel. Dan hari ini keberuntungan dirinya karena wanita yang bernama Laura itu tidak berada di tempat sehingga ia bisa dengan mudah menerobos ruangan Mikel.
"Kau....." Tangan Mikel terkepal. Sangat sulit baginya menahan diri untuk tidak menyakiti fisik wanita di hadapannya itu. "Pergi atau aku tidak akan segan lagi untuk menyakitimu!"
"Sudah ku katakan, aku tidak akan pergi!" seru Helena. "Aku benar-benar tidak habis pikir, kau lebih memilih wanita itu! Apa kau lupa jika aku sudah melakukan banyak hal untukmu!" Ya, kedatangannya karena ingin membahas Elie. Ia tidak terima dan harus menegaskan posisinya.
Mikel tertegun sejenak. Ia tidak mengira jika Helena sudah mengetahui mengenai Elie. Sebenarnya ia tidak peduli jika Helena mengetahuinya sekalipun, yang ia cemaskan jika wanita itu akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Elie.
"Jika kau berani menyakitinya, maka kau akan berhadapan denganku, Helen!" seru Mikel penuh dengan ancaman.
"Aku tidak peduli!" Helena berteriak. Mengabaikan jika di dalam sana tidak hanya ada dirinya dan Mikel saja, tetapi juga terdapat Nathan yang sejak tadi memperhatikan. "Dia tidak akan bisa merebutmu dariku!" Mata Helena mengembun, sungguh situasi yang sangat sulit untuknya menahan rasa yang teramat menyesak.
"Aku bukan milikmu!" bentak Mikel. "Sejak awal aku sudah tegaskan padamu jika tidak ada hubungan apapun yang terjadi di antara kita. Selama ini aku membiarkanmu di sisiku hanya karena aku tidak ingin kau seperti dua tahun lalu. Aku menyelamatkanmu karena tidak ingin kau seperti adikku yang berulang kali mencoba untuk bunuh diri!" serunya. Akhirnya terucap sudah alasan Mikel selama ini tidak bisa melukai Helena.
Dan pernyataan Mikel tentu saja membuat Nathan terkejut. Sementara tubuh Helena mendadak kaku, tetapi kedua lututnya melemas. Matanya berusaha menemui Mikel yang terdapat kemarahan disana. Berbeda dengan Helena yang kini sudah memupuk air mata di wajahnya. Napas Mikel naik turun karena berhasil meluapkan emosinya yang selama ini selalu di tahan olehnya.
To be continue
Babang Mikel
...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...