
Helena berusaha menetralisir keterkejutannya ketika mendengar Arthur menyebut dirinya sebagai calon istri. Kedua matanya yang membola penuh itu menuntut Arthur untuk mempertanggungjawabkan apa yang dikatakannya. Sebab tidak hanya dirinya saja yang mendengar, tetapi Steve juga mendengar dan begitu terkejut.
"Hm, sepertinya aku masih memiliki pekerjaan lain. Aku permisi." Steve memilih undur diri dari sana, meskipun sebenarnya ia enggan meninggalkan Helena bersama dengan Arthur saja, tetapi ia tidak berhak melarang. Sebab sejak awal Helena sudah menegaskan jika dirinya hanya sebatas teman, pasien dan dokter saja.
Langkah Steve tertahan di ambang pintu, hatinya berdenyut nyeri, menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Kemudian ia menghela napas kasar dan segera berlalu dari sana. Sebesar apapun perasaannya terhadap Helena tidak akan membuat wanita itu berpaling padanya. Dengan jelas, ia dapat melihat ada cinta di mata Helena untuk Arthur.
Kau sudah kalah, Steve.
Steve memperpanjang langkahnya, ia tersenyum kecut. Kalah sebelum berjuang seperti seorang pengecut, tetapi ia bukanlah tipe pria yang memaksakan perasaan seseorang.
Sementara sepeninggalnya Steve, Arthur dan Helena masih bertukar pandang. Tidak ada yang ingin membuka suara terlebih dahulu. Entah kenapa keberanian Arthur yang sebelumnya menggebu-gebu, kini menciut hanya karena ditatap oleh Helena.
"Katakan sebenarnya apa tujuanmu berkata seperti itu, Ar?" Biarlah Helena yang membuka suara terlebih dahulu, ia sudah terlalu dibuat penasaran. Bahkan wanita itu sudah beranjak turun dari ranjang agar memudahkan mereka berbicara.
Arthur menarik napas dalam. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Helena. Suka tidak suka atau terima tidak terima, wanita itu tidak akan bisa menolak apapun yang sudah menjadi keputusannya.
"Aku tidak memiliki tujuan lain selain menikahimu!" Jawaban Arthur yang datar tetapi terdengar tegas itu kembali membuat Helena terkesiap lantaran terkejut. Wanita itu termangu, sulit mempercayai apa yang keluar dari mulut Arthur.
Menikahinya? Bagaimana mungkin? Dirinya dengan Arthur sangat berbeda jauh. Ia hanya seorang wanita yang hidup berjuang seorang diri tanpa siapapun di sisinya. Terlebih permasalahan dengan Jorge dan Margareth yang tidak memiliki ujung. Ia sangat membenci kedua orang tua itu, karena menyebabkan Mommy Anna menderita sepanjang hidupnya. Dan Caroline, ia ingin adik tirinya itu merasakan apa yang ia rasakan. Meski ingatannya tidak sepenuhnya kembali, tetapi ia tahu jika dirinya dan Caroline adalah saudari tiri satu ayah.
"Apa karena kau kasihan padaku?" Bukan menutup kemungkinan jika Arthur bersikap seperti ini karena kasihan kepada dirinya. Mengingat beberapa waktu lalu sikap pria itu begitu dingin.
"Apa menurutmu, aku seperti itu?" Dan Arthur justru balik bertanya.
"Ya, bisa saja. Kau tidak mungkin ingin menikahi wanita sepertiku!"
"Memangnya kau wanita seperti apa?" Sorot mata Arthur kian menajam memandang wanita itu dengan tidak terbaca. Melangkah mendekat hingga Helena reflek bergerak mundur, namun pergerakan wanita itu terpaksa terhenti lantaran kakinya sudah tersudut pada kaki ranjang dan ia tidak bisa bergerak kemana pun.
"Kau.... apa yang ingin kau lakukan?" Helena berupaya menunduk, menghindari kontak mata dengan Arthur. Entah kenapa sorot mata pria itu mampu menembus pertahanannya, hingga keberaniannya mengikis begitu saja.
Arthur menyeringai, ia merengkuh pinggang Helena, dan menarik ke dalam dekapannya. Benar-benar tidak akan membiarkan wanita itu menghindari dirinya.
"Dengar, jangan pernah menilai dirimu sendiri seperti itu. Bagiku kau berbeda dan hanya kau yang pantas."
Kedua mata Helena mengerjap, ia tidak dapat berkutik dan berusaha untuk mencerna. Apa ia boleh merasa di atas angin ketika pria itu menganggap dirinya berbeda?
"Ta-tapi kau sudah tau keadaanku seperti apa. Aku wanita tidak waras. Sedangkan kau pantas mendapatkan yang lebih dariku. Apa kata orang lain jika kau menikahi wanita gila sepertiku?" Suara Helena terdengar parau dan sedikit bergetar, menembus relung hati Arthur yang tiba-tiba saja berdenyut pilu. Namun tiba-tiba saja Helena mendorong dada Arthur, hingga pada akhirnya Arthur bergerak mundur.
"Aku tidak peduli penilaian orang lain. Aku bahkan bisa membungkam mulut mereka! Jadi jangan mengatakan sesuatu yang tidak penting seperti itu hanya untuk menolakku!" ujarnya tegas dan tak terbantahkan. Bahkan bibir Helena sontak mengatup dapat ketika hendak kembali membuka suara. "Tiga hari lagi, kita akan menikah. Jadi diamlah dan hanya menurut. Mulai hari ini kau bisa mengeluh padaku, membagi rasa sakitmu. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi!"
Helena terkesiap. Bahkan tanpa sadar sudah melelehkan air matanya, tetapi ia buru-buru menyeka air mata yang sudah terlanjur meluruh. Baru pertama kali ia mendengar seseorang berbicara seperti ini kepadanya. Tetapi hati kecilnya merasa tidak yakin jika Arthur benar-benar ingin menikahinya, bahkan dalam waktu tiga hari kedepan. Mungkin pria itu sedang mempermainkanya? pikirnya.
"Kepalamu pasti terluka dan kau tidak sadar mengatakan hal seperti ini. Hentikan Ar, ini bukan dirimu!" Helena berupaya memupuk air mata, rasa haru sebelumnya berubah menjadi rasa kekecewaan jika memang ternyata benar pria itu hanya sedang ingin mempermainkan dirinya saja.
"Benar!" sahut Arthur. "Kau hanya tidak pernah melihat diriku yang seperti ini. Kau tidak tau apa yang kurasakan ketika aku jatuh cinta padamu!" Arthur menegaskan setiap kalimat yang baru saja ia ucapkan. Ia harus bisa mengendalikan emosi serta perasannya yang menggebu-gebu secara bersamaan. Sebab Arthur begitu kesal dan emosi ketika Helena seolah menganggapnya hanya mempermainkan wanita itu saja.
Helena benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ternyata ia telah salah menilai jika pria itu yang hanya ingin mempermainkannya saja, mengingat sikap pria itu di masa lalu begitu menyebalkan dan dingin.
"Kau benar-benar ingin menikahiku?" Dan Helena ingin memastikan kembali kesungguhan pria itu.
Arthur mengangguk. "Benar."
"Jadi benar kau dan aku akan menikah dalam tiga hari lagi?" tanyanya kembali dan Arthur kembali mengangguki.
"Apa kau tidak masalah dengan keadaanku yang seperti ini? Kau tidak masalah dengan masa laluku? Mungkin kau tidak akan percaya, tapi Keluarga Bonham tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Aku tidak ingin kau menyesal karena berurusan dengan wanita dari Keluarga Bonham."
Arthur yang kesal lantaran Helena kembali meragukan dirinya, melangkah mendekat dengan sirat emosi yang tertahan. Ia kembali menghapus jarak antara dirinya dengan Helena.
"Termasuk jika aku dan Caroline adalah saudari tiri satu ayah?" Helena menyambar perkataan Arthur.
Kali ini Arthur yang terkesiap. Ia tidak menduga jika ternyata Helena sudah sedikit mengingat masa lalunya. "Kau ingat?" tanyanya memastikan.
Helena mengangguk. "Sudah beberapa hari ini aku memimpikan masa laluku dan kurasa itu bukan hanya sekedar mimpi," ucapnya menjelaskan. "Dan mimpi yang baru saja kualami, sudah pasti berkaitan dengan diriku yang tidak bisa mengingat masa laluku. Mungkin darah yang selama ini selalu muncul di mimpiku adalah darahku sendiri."
"Kalau begitu tetaplah bersamaku. Aku akan melindungimu. Kau bisa memanfaatkanku untuk membalas mereka yang sudah menyakitimu!" Seumur hidup, Arthur tidak pernah membiarkan siapapun memanfaat dirinya dalam keadaan apapun. Tetapi lihatlah, ia bahkan rela menyerahkan dirinya untuk wanita itu.
Helena terdiam sejenak dengan mata yang terpejam singkat. Meskipun ia tidak yakin, tetapi pria itu pun tidak akan membiarkannya untuk menolak, terlebih menghindari. Pria di hadapannya itu terlalu sulit untuk ia hadapi.
"Bisakah aku mempercayaimu?" Helena memandang Arthur dengan tatapan penuh harap.
"Hem, kau bisa mempercayaiku," sahut Arthur.
"Baiklah kalau begitu, tolong kau lindungi aku. Aku tidak memiliki siapapun," ucap Helena lirih.
"Mulai saat ini kau memilikiku."
"Kalau begitu bolehkah aku memelukmu?" tanya Helena merona malu. Entahlah, ia hanya ingin memeluk pria itu saja.
"Boleh. Kemarilah." Bahkan Arthur sudah merentangkan kedua tangannya. Hingga kemudian Helena berjalan mendekat dan memeluk tubuh Arthur.
Hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan oleh Helena. Memejamkan matanya, berharap ini bukanlah mimpi. Ada seseorang pria yang kini melindunginya, tentu saja ia merasa bahagia. Arthur membalas pelukan Helena, bahkan telapak tangannya mendarat di kepala Helena dan mengusap rambut wanita itu.
"Kau tidak akan bisa menarik perkataanmu lagi." Ya, Helena tidak akan pernah membiarkan Arthur menarik kembali perkataan untuk menikahinya.
"Tidak akan!" Arthur menyahut tegas. Lagi pula ia adalah pria yang selalu menjaga perkataan dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi keputusannya.
"Aku gila dan tidak waras!"
"Aku akan membayar dokter terbaik untuk menyembuhkanmu!"
"Uangmu akan habis!" cicit Helena semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arthur.
"Tidak akan. Uangku banyak!"
"Tapi-"
"Diamlah. Kau terlalu banyak bicara!" protes Arthur.
Helena benar-benar mengunci rapat bibirnya. Namun ia menyelipkan senyuman. Meskipun sikap Arthur dingin, tetapi pria itu sebenarnya sangat baik dan ia pun merasa nyaman bersama dengan Arthur.
To be continue
Babang Arthur
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...