The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Mereka Masih Hidup?



Arthur memasuki kamar tanpa menimbulkan suara. Perhatiannya tersita sejenak kepada Helena yang sudah terlelap di atas ranjang. Ia kemudian berjalan mengendap menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Tidak membutuhkan waktu lama berada di kamar mandi, Arthur segera masuk ke dalam walk in closet, mengenakan piyama tidur.


Emosinya sedikit mereda usai menghujani kepala serta tubuhnya dengan air dingin. Cukup lama ia berputar-putar pusat kota, berupaya meredam emosinya agar sisinya tidak mengambil alih. Dan cara itu berhasil, ia bahkan dapat mengendalikan diri dan tidak mengedepankan emosi. Langkah Arthur kembali menuju ranjang, ia bergeming sesaat, sebelum kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


Di pandangnya wajah Helena dengan intens, sungguh wajah cantik yang mampu menguasai pikiran serta hatinya saat ini. Arthur mengecup singkat bibir Helena dan kemudian beranjak berdiri, tetapi tiba-tiba telapak tangannya ditahan oleh Helena, yang ternyata wanita itu merasakan adanya dirinya, sehingga kini iris perak kebiruan itu menatap sayup sosok Arthur.


"Kau baru saja pulang?" tanyanya dengan suara serak.


Arthur mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tepi ranjang, ia kembali duduk menghadap Helena yang masih terbaring.


"Hmm, kau kembali tidurlah. Aku tidak akan kemana-mana." Tangan Arthur memberikan usapan lembut pada wajah Helena, membuat wanita itu memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang disalurkan melalui telapak tangan Arthur.


"Aku sangat takut...." Bibir Helena bergetar, seolah menyimpan ketakutannya pada nada suaranya itu. "Entah kenapa aku selalu bermimpi buruk. Aku seperti melihat diriku sendiri yang sudah mencelakakan seseorang."


Dada Arthur mencelus, deru napasnya dipaksakan untuk terhembus secara teratur. Obat yang selama ini ia berikan Helena benar-benar bekerja. Namun hal yang kini membuatnya menjadi takut dan cemas bersamaan adalah jika ternyata Helena yang membunuh ibunya secara sengaja atau tidak, ia sungguh mencemaskan psikis istrinya yang akan terguncang karena sudah menyebabkan ibunya meninggal.


Kelopak mata Helena terpisah, pandangannya kembali terisi oleh Arthur yang tampak diam saja, tidak memberikan respons apapun.


"Ada apa? Apa kau sedang memiliki masalah?" tanyanya mendelik. Sebab tidak biasanya Arthur tidak merespons mengenai apa yang ia ceritakan di dalam mimpinya.


Arthur terkesiap dan mengulas senyum tipis. "Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah," katanya tidak berdusta. Ia akui tubuhnya sedikit lelah, tetapi hanya dengan melihat keadaan Helena yang baik-baik saja sudah cukup melegakan dirinya.


"Kalau begitu kau harus beristirahat. Belakangan ini kau pasti lelah karena mengurusiku saja." Helena kemudian menggeser tubuhnya. "Kemarilah, biarkan aku memelukmu," sambungnya kemudian sembari menepuk-nepuk sisi disampingnya.


Arthur tidak menjawab, tetapi pria itu melakukan apa yang dikatakan oleh Helena, membaringkan tubuhnya di ruang kosong yang sudah disediakan oleh Helena, persisnya disisi wanita itu. Helena benar-benar memeluk Arthur, menjadikan lengannya sebagai bantalan suaminya.


Mata Arthur terpejam, ia menemukan kenyamanan pada diri seorang wanita. Yang ia pikir sudah nyaman dengan kehidupan dan dirinya sendiri tanpa adanya seorang wanita. Namun nyatanya kini, ia menemukan kenyamanan yang lain pada diri Helena dan tidak ingin kehilangan kenyamanan itu.


Tangan Helena yang lain mengusap surai kecoklatan milik Arthur dan melabuhkan kecupan di puncak kepala suaminya itu. Tidak ada kecanggungan yang ia rasakan ketika beberapa minggu ini hidup bersama dan menambah kedekatan mereka. Helena hanya ingin Arthur menjadikan dirinya sebagai sandaran jika pria itu merasa lelah. Setidaknya ia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk Arthur, sudah terlalu banyak pria itu membantu dan bahkan bersedia berada disisinya meskipun mengetahui kondisinya.


Arthur berusaha memejamkan mata, tetapi sejujurnya ia belum merasakan kantuk. Dan dekapan Helena sungguh menenangkan hingga kecemasan yang sebelumnya menderanya berangsur menyurut. Tangan Arthur kini mendekap perut Helena, menenggelamkan wajahnya pada dada istrinya.


Entah sejak kapan tali dress di pundak Helena sudah tersingkap, bahkan satu buah dada wanita itu sudah berada di dalam mulut Arthur dan memilinnya dengan penuh semangat. Sesuatu yang baru rasakan setelah menikah dan sialnya Arthur menyukai dirinya menjadi bayi.


"Ar..." Helena melenguhkan desahaan. Tubuhnya meremang ketika Arthur menghisap dadanya dengan kuat. Namun ia sangat menyukai jika Arthur bermain-main pada buah dadanya yang bulat dan besar.


Arthur menyudahi kegiatannya tersebut. Ia mendongak untuk bersitatap dengan Helena. Keduanya saling menatap penuh cinta, wajahnya mereka bahkan nyaris bersentuhan. Hingga pada akhirnya Arthur membenamkan ciuman di bibir Helena. Keduanya saling melummat dan bertukar saliva dengan bibir yang bertautan semakin dalam. Hingga beberapa menit lamanya berciuman, Arthur menanggalkan piyama tidur di tubuhnya serta melucuti dress tidur Helena. Sangat normal jika Arthur menyalurkan hasratnya, menghilangkan rasa pening di kepala dengan bercinta. Dan jika sudah bercinta, Arthur tidak dapat berhenti hanya dengan satu kali permainan saja, pria itu akan kembali menggempur istrinya hingga dini hari.


***


Sementara di tempat yang berbeda, tepatnya di Landsmeer, Amsterdam. Mikel baru saja menerobos masuk ke dalam kediaman Kakek Mateo. Pria tua yang selama ini dicari olehnya sudah ia temukan keberadaannya. Ia dan beberapa anak buahnya menyusuri kediaman mewah itu, namun sialnya tidak mendapati Kakek Mateo atau siapapun disana.


"Arrghh,.... siaallll!!" umpat Mikel. Terlambat. Ternyata sudah ada yang lebih dulu datang kemari dan mengobrak-abrik kediaman Kakek Mateo. Bisa dilihat jika di sekelilingnya terdapat barang-barang yang berhamburan di lantai, bahkan terdapat noda bercak darah di lantai.


"Bos, kami tidak menemukan siapapun di gudang dan halaman belakang." Beberapa anak buah baru saja kembali dari menggeledah bagian gudang dan sekitarnya.


"Mikel, di loteng juga tidak ada siapa pun." Sid terlihat menuruni tangga, berjalan mendekati Mikel. "Tapi aku menemukan ini di loteng. Sepertinya benda ini terjatuh." Kemudian memberikan satu lembar foto yang ia temukan di antara sela-sela meja dan kursi.


Mikel segera meraihnya dengan emosi yang tertahan. Sebab mereka datang terlambat, sehingga kemungkinan besar Todd sudah menemukan Kakek Mateo terlebih dahulu dan menahannya.


Sorot mata Mikel yang semula menggelap seketika membeliak lantaran terkejut dengan apa yang tengah dilihatnya. "Dimana kau temukan foto ini, Sid?!" tanya Mikel mendesak, pandangannya sedikit memudar karena mengembunkan air mata.


"Di loteng." Sembari menuju tempat ia menemukan foto tersebut.


Mikel menubruk bahu sebelah kiri Sid ketika pria itu berlari ke arah loteng. Menyusuri lorong kecil hingga mencapai beberapa anak tangga kayu. Mikel harus meringsut memasuki ruangan sempit itu, hingga kemudian mencari sesuatu disana. Meja serta kursi tidak luput dari pencarian Mikel, bahkan beberapa kotak dihancurkan oleh Mikel menggunakan kepalan tangannya. Namun ia tidak menemukan apapun selain pakaian usang yang penuh dengan noda darah di dalam kotak tersebut.


Benda yang terjatuh adalah liontin milik ibunya terdahulu. Benda itu tidak pernah terlepas dari leher Mommy Aprille. "Ini tidak mungkin...." Mikel nyaris tumbang, ia menopang tubuhnya pada kursi dengan masih memperhatikan lekat liontin di tangannya.


Mikel buru-buru keluar dari loteng begitu sudah mampu menguasai dirinya. Sid menghampiri, ia serta beberapa anak buah mendapati wajah Mikel yang mendadak sendu hanya dalam sekejap saja.


"Mereka masih hidup, Sid. Mereka masih hidup." Rasanya sulit sekali mempercayainya. Akan tetapi ia sangat yakin jika liontin itu milik Mommy-nya.


"Apa yang kau bicarakan? Siapa yang masih hidup?" Sid sungguh penasaran, sehingga ia mendesak Mikel untuk segera menjawab.


"Kedua orang tuaku," lirih Mikel menyahuti.


Sid terkejut. Tetapi ia tidak bisa menyimpulkan jika kedua orang tua Mikel masih hidup. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Bukankah kau bilang kedua orang tuamu terbakar di Markas Todd?"


Mikel menggeleng kuat, ia mengusap wajahnya berulang kali. "Foto ini. Ini bukanlah foto lama kedua orang tuaku." Dan kemudian memperlihatkan foto itu kepada Sid. Sebelumnya Sid sudah melihat foto tersebut tetapi ia tidak pernah tahu wajah kedua orang tua Mikel. Dan di dalam gambar itu terdapat satu pria yang berpose bersama Kakek Mateo, tampak berdiri tegak meski wajahnya dipenuhi guratan kasar, serta wanita paruh baya yang masih begitu cantik duduk di kursi roda. Meski foto itu nampak memudarkan warnanya, namun sekali lagi Mikel meyakini jika foto tersebut baru saja di ambil beberapa tahun yang lalu. Mikel sangat ingat jelas jika 11 tahun yang lalu wajah kedua orang tuanya tampak masih muda.


"Itu artinya Mateo mengetahui keberadaan kedua orang tuamu." Pada akhirnya Sid dapat menyimpulkan seperti itu.


"Aku tidak tau! Yang pasti aku harus menemukan Kakek Mateo!" Mikel berseru penuh kegusaran. Tekadnya semakin kuat untuk menemukan keberadaan Kakek Mateo. Ya, harus! Bahkan malam ini juga mereka harus menyusuri seluruh kota di Amsterdam.


"Aku akan membantumu. Kau tidak sendirian." Sid mencoba memberikan semangat. Ia sangat paham bagaimana perasaan Mikel saat ini. Terlebih jika kedua orang tua Mikel benar-benar masih masih hidup, mereka harus segera menemukannya.


Mikel mengangguk, ia begitu beruntung memiliki teman seperti Sid. "Kita harus pergi sekarang!" Dan kemudian keduanya berlari menuju mobil. Namun satu anak buah tiba-tiba saja menghentikan langkah Mikel.


"Bos, Nona Elie diserang dan hampir celaka."


Seketika Mikel menoleh dan terkejut. "Bagaimana mungkin? Dimana mereka yang sudah aku tugaskan untuk menjaga Elie dari kejauhan?!" Mikel kembali tersulut emosi. Ia bahkan menendang perut anak buah yang melaporkan berita mengenai Elie sehingga membuat anak buah itu menahan rasa nyeri pada perutnya.


"Mereka sepertinya tewas bos."


"Fuckiing!!" Dan kini salah satu mobil menjadi pelampiasan kemarahan Mikel. "Lalu bagaimana keadaan Elie?" tanyanya disaat mulai mengatur emosinya agar stabil.


"Nona Elie baik-baik saja karena Tuan Arthur dan kaki tangannya datang tepat waktu."


Napas penuh kelegaan dihembuskan Mikel. Meski merasa lega, namun tetap saja penyerangan itu nyaris membuat wanitanya celaka.


Sid menangkap kegelisahan memenuhi wajah Mikel, ia mendekati Mikel dan menepuk bahu temannya itu. "Kembalilah ke London. Aku dan yang lainnya akan mencari Mateo."


"Tapi...."


"Kau harus menyelesaikan masalahmu. Dia pasti kecewa karena kau gagal melindunginya," ujar Sid memberi saran. Hanya sekedar saran. Jika Mikel tetap ingin berada di Amsterdam, maka ia pun tidak akan memaksa Mikel.


Mikel mendesahh frustasi. Pikirannya kembali bercabang. Mana yang harus ia prioritaskan terlebih dahulu?


To be continue


Babang Mikel



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...