The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Memastikan Penderitaanmu



Aprille memandangi lekat-lekat wajah putrinya yang terlelap. Setelah puas menangis hingga membuat lingkaran matanya sembab dan hidung memerah, Meisha memejamkan mata ditemani oleh Sang Mommy. Untuk pertama kali setelah sebelas tahun akhirnya Aprille dapat mengusap lembut rambut Meisha kembali, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik putrinya itu.


"Semoga kau bahagia sayang. Pasti akan ada pria yang bisa menerimamu apa adanya." Lagi-lagi air mata meluncur tanpa permisi, Aprille buru-buru menyeka sudut matanya. Ia tidak ingin kembali menangis karena kesedihan selama sebelas tahun sudah tergantikan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan dapat berkumpul kembali bersama putra dan putrinya. Aprille berharap jika semua ini bukanlah mimpi. Jika pun sedang bermimpi, ia tidak ingin bangun dari mimpi indahnya.


Tidak dipungkiri jika Aprille memikirkan nasib Meisha kedepannya. Ia ingin putrinya selalu bahagia dan memiliki masa depan yang membahagiakan. Tetapi jika memang tidak ada satupun pria yang dapat menerima kekurangan Meisha, maka ia dan suaminya sanggup seumur hidup mereka mengurus dan membahagiakan Meisha.


Aprille tersentak ketika tangan kokoh menyentuh pundaknya, lalu mengusapnya dengan lembut. Wajahnya mendongak dan mendapati suaminya tersenyum padanya.


"Kenapa menangis lagi?" Matthew bertanya demikian melalui sorot matanya, ia melihat sisa cairan bening di sudut mata istrinya itu, hingga kemudian menghapus sisa cairan tersebut menggunakan ibu jarinya.


Aprille tersenyum lembut, ia paham apa yang ditanyakan oleh sang suami. "Aku menangis bahagia karena kita bisa berkumpul lagi dengan Mike dan Mei. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan setelah kejadian mengerikan itu." Ingatan peristiwa mengerikan itu tentu saja tidak bisa dilupakan begitu saja. Peristiwa yang membuat dirinya serta sang suami harus kehilangan putra dan putri mereka dan mengetahui jika keduanya sudah tiada.


Matthew mengangguk, ia pun begitu bahagia dan sama seperti istrinya yang tidak pernah terbayangkan jika mereka akan berkumpul kembali setelah mereka saling dinyatakan meninggal.


Keheningan panjang melingkupi keduanya, Aprille dan Matthew memandangi wajah Meisha yang begitu mereka rindukan. Guratan kesedihan begitu nampak di wajah mereka, tentu bukan sesuatu yang mudah menjadi Meisha, yang harus mengalami trauma mendalam dan berulang kali mencoba untuk mengakhiri hidup. Mengingat hal itu membuat hati keduanya bagai dihantam batu besar, sangat sesak dan sulit untuk bernapas.


"Selama ini Mike pasti kesulitan menjaga Mei, dia harus merintis perusahaan dari bawah dan disaat bersamaan harus menjaga Mei." Aprille berucap begitu lirih. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana perjalanan putra mereka setelah mengalami peristiwa mengerikan dan berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan bahkan mereka bisa merasakan aura mengerikan yang ditemukan dalam diri putra mereka.


Matthew tidak menyahut, ia masih memandangi wajah putrinya. Begitu cantik dan menawan, tetapi apakah ada pria yang suatu saat nanti menjadi jodoh putrinya? Entahlah, Matthew tidak ingin berpikir terlalu jauh. Jika memang tidak ada yang bisa membahagiakan Meisha, maka ia yang akan membahagiakan putrinya, membahagiakan dua wanita yang begitu berarti di dalam hidupnya.


"Sayang...." Aprille menggenggam tangan Matthew. Membuat pria yang berdiri tegap itu menunduk, memperhatikan istrinya yang duduk di kursi roda. "Kita akan menjaga Mei bersama jika memang tidak ada pria yang menerima Mei. Kita bisa membahagiakan putri kita." Terlihat tegar ketika mengatakannya, tetapi begitu menyimpan kesedihan. Dan ia pun tidak bisa menyalahkan takdir yang sudah terjadi. Ia harus memasrahkan segalanya dan menjadi pelangi untuk putrinya.


Ternyata sang istri berpikir yang sama sepertinya. Mereka sama-sama memikirkan masa depan Meisha dan menginginkan kebahagiaan untuk putri mereka. Sebagai jawabannya Matthew mengangguk disertai senyuman, ia melabuhkan tubuhnya di tepi ranjang, lalu meraih kedua tangan istrinya.


"Kita akan menjaga Mei bersama. Mulai saat ini aku berjanji akan selalu membahagiakan kalian. Tidak akan ada air mata lagi." Melalui sorot matanya yang begitu dalam, Matthew mengatakan demikian. Sebagai wanita yang sudah menemani selama pilihan tahun, tentu Aprille sangat memahami suaminya. Terlebih sudah sebelas tahun ia membaca isi hati Matthew hanya dari sorot mata suaminya itu.


"Aku mencintaimu dan anak-anak." Aprille tersenyum lembut, menyiratkan ketulusan pada tatapannya.


"Aku juga." Kali ini Matthew menggerakkan bibirnya. Membalas pernyataan cinta yang diucapkan oleh sang istri.


Nathan yang baru saja masuk ke dalam kamar Meisha terkesiap ketika mendapati pasangan suami istri itu tengah saling menggenggam.


"Ehem..." Nathan berdehem untuk menyadarkan mereka akan kehadirannya.


Aprille dan Matthew tertegun, mereka menoleh ke arah suara yang berdehem.


"Ada apa Nath?" tanya Mommy Aprille.


"Sudah waktunya makan siang. Tuan dan Nyonya sebaiknya makan terlebih dulu. Biar saya yang menjaga Nona Meisha," ujarnya memberitahu jika hidangan di meja makan sudah tersedia dan menawarkan diri untuk menjaga Meisha.


Aprille dan Matthew melemparkan pandangan, sebelum kemudian mereka mengangguk serentak.


"Baiklah, kami akan turun. Maaf karena kami harus merepotkanmu lagi menjaga Mei." Mommy Aprille tersenyum, ia sedikit merasa tidak enak hati kepada Nathan. Tetapi ia dapat menangkap kebaikan dan ketulusan pria itu.


Nathan mengilas senyum. "Saya tidak merasa direpotkan Nyonya." Untuk sesaat saling melemparkan senyum, sebelum kemudian Matthew mendorong kursi roda sang istri dan keluar dari kamar.


Matthew dan Aprille menikmati makan siang bersama dengan Mikel. Momen yang sudah lama tidak mereka rasakan. Dan kebahagiaan berkali-kali lipat memenuhi keluarga harmonis itu.


"Jika Mei sudah bangun, Mommy ingin menyuapinya." Antusiasme kembali terlihat di wajah cantik Aprille. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin melakukan hal yang selalu dilakukan ketika Meisha masih berusia belia.


"Hm, Mei pasti sangat senang." Mikel menyahut di sela-sela ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ia yakin jika keadaan Meisha yang menjadi jauh lebih baik setelah kedua orang tua mereka kembali dan kini akan selalu menemani mereka. Matthew menanggapi dengan senyuman, kebahagiaannya kembali lengkap.


Tidak ada percakapan kembali setelah beberapa saat, hingga mereka menyelesaikan makan siang mereka. Dan Mikel memutuskan kembali ke ruangan kerja. Sementara Mommy Aprille memutuskan untuk kembali ke kamar Meisha.


Matthew kembali mendorong kursi roda menuju kamar Meisha. Ia menggendong sang istri begitu menaiki tangga dan kursi roda tersebut di bawakan oleh Jared.


"Terima kasih," ucap Aprille dan itu cukup mewakilkan apa yang ingin di sampaikan oleh Matthew kepada Jared


"Sama-sama Nyonya."


Matthew segera mendudukkan kembali istrinya di atas kursi roda. "Siapa namamu? Apa kau sudah lama bekerja dengan Mike?" tanya Mommy Aprille.


"Kalau begitu saya permisi Tuan... Nyonya..." Jared berpamitan dan setelah diiyakan oleh Matthew serta Aprille, Jared kembali menuruni tangga menuju ruangan kerja bosnya.


***


Mikel baru saja menerima telepon dari Sid mengenai keberadaan Todd yang sudah ditemukan di Pelabuhan Vladivostok, pelabuhan terbesar Rusia di tepi pantai Samudera Pasifik.


"Jadi pria tua itu ingin melarikan diri ke Tiongkok?" Mikel berseru disusul dengan decakan lidahnya. Laporan tersebut tentu membuatnya sangat kesal. Sebenarnya pria tua itu memiliki berapa nyawa sehingga selalu lepas dari pantauannya.


"Benar, tapi sialnya Pasukan Spetsnaz sudah lebih dulu menangkapnya."


"Tidak bisa Sid. Aku tidak akan membiarkan Todd di tangkap oleh Pasukan Spetsnaz. Aku menginginkannya mati di tanganku!" Mikel reflek menggebrak meja, meskipun Sid tidak dapat melihat kemarahannya, tetapi suaranya sudah menghasilkan rasa kesal dan amarah yang tertahan.


"Lalu apa rencanamu? Kita tidak mungkin membawa Todd dari Pasukan Spetsnaz." Sebenarnya Sid begitu enggan berurusan dengan Pasukan menyebalkan itu, akan tetapi ia juga tidak terima jika Todd mati di tangan orang lain.


"Cari celah! Mereka pasti akan membawa Todd ke tempat tahanan khusus." Mikel tidak mau tahu, ia harus mendapatkan Todd.


"Kau benar. Kalau begitu aku akan mengawasi mereka."


"Hm, aku akan kesana sekarang juga!"


Dan kemudian telepon pun terputus. Jared mendengarkan percakapan bos serta Sid dan tidak memberikan reaksi apapun.


"Jared, kau dan Amber jaga kedua orang tuaku. Dan pastikan keamanan di Mansion," perintahnya kepada Jared.


Jared menyahut, "Baik bos."


Mikel mengayunkan langkahnya menuju pintu, setelah pintu itu terbuka, ia terkejut mendapati Daddy Matthew sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa Dad?" tanya Mikel bersikap setenang mungkin. Ia tidak tahu apakah Daddy-nya mendengarkan percakapannya atau tidak.


Matthew menyodorkan secarik kertas kepada Mikel tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok putranya itu.


"Aku mendengar semuanya. Karena itu aku ingin ikut denganmu dan kau tidak boleh melarangku!"


Mikel mengalihkan perhatian dari tinta yang menggores secarik kertas kosong tersebut, lalu menatap wajah Daddy Matthew.


"Apa Dad yakin?" Mikel ragu, sebab akan sangat berbahaya jika Daddy-nya itu ikut dengan dirinya. Namun Matthew mengangguk meyakinkan dan ia pun tidak menerima penolakan.


"Baiklah, aku akan mengatakan pada Mom jika aku akan membawa Daddy ikut bersamaku," jawabnya pada akhirnya. Ia menyimpan secarik kertas itu di dalam saku celananya. Kemudian Mikel melangkah keluar diikuti oleh Jared.


Matthew kembali mengangguk, ia melihat punggung Mikel yang menjauh bersama Jared yang berjalan di belakang putranya.


Aku akan memastikan keselamatan Mike. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengannya.


Sorot mata Matthew menyiratkan kesenduan. Dulu ia tidak dapat melindungi putra dan putrinya dengan baik, tetapi kali ini ia berjanji akan selalu melindungi mereka.


Aku akan bertemu denganmu Todd dan memastikan penderitaanmu lebih dariku.


To be continue


Babang Mike



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...