The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kenangan Menyakitkan




Taksi yang ditumpangi Helena tiba lebih dulu di Mansion mewah Keluarga Bonham, disusul mobil yang dikemudikan oleh Nathan berhenti tepat di pelataran. Begitu turun dari taksi, Helena menatap bangunan mewah yang sudah lama tidak ia datangi setelah tiga tahun kepergian Sang Mommy.


Terlalu banyak kenangan di dalam Mansion mewah di hadapannya, baik kenangan bahagia maupun kenangan menyakitkan. Di mansion mewah itu ia telah menjadi saksi rasa sakit Sang Mommy karena pengkhianatan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri, Jorge Bonham. Dan di Mansion itu pula, kebahagiaan Mommy-nya di renggut paksa oleh wanita yang bernama Margareth.


Setitik air mata mulai membasahi kedua pipinya, namun buru-buru Helena menyeka air matanya saat Mikel terlihat menghampirinya.


"Kau tidak boleh lemah di hadapan mereka. Kedua wanita itu akan merasa senang jika kau menderita," ucap Mikel. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke mansion mewah itu, karena tentunya ia tidak memiliki hubungan baik dengan Jorge.


"Memangnya kapan aku pernah lemah di hadapan para pengkhianat itu? Aku tidak akan pernah menunjukkan kelemahanku kepada mereka." Helena berdecak sinis, meskipun sebenarnya ia tidak sekuat itu menghadapi takdirnya. Namun ia tidak ingin para pengkhianat yang sudah menyakiti Mommy-nya tertawa di atas penderitaannya.


Mikel bergeming. Sejak mengenal Helena, wanita itu memang suka sekali semena-mena, padahal ia sangat tahu jika wanita itu hanya berpura-pura kuat dan terlebih ia hanya memperparah keadaan wanita itu. Namun rasa besar cintanya kepada satu wanita, membuatnya tidak bisa memberikan setengah hatinya lagi untuk wanita lainnya, sekalipun kepada Helena.


Suatu saat kau akan menemukan seseorang yang tepat untukmu.


Satu harapan Mikel untuk menembus kesalahannya, ia berharap Helena akan menemukan pria yang bisa mengerti wanita itu. Sejak awal ia tidak pernah menjanjikan sebuah cinta maupun menjanjikan sebuah kebahagiaan. Sebab, ia sendiri sudah kehilangan separuh kebahagiaannya.


Helena terlihat menarik napas dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Ya, sebelum masuk ke dalam sana, tentunya ia harus menguatkan diri. Bukan karena takut bertemu dengan ayahnya, namun semua kenangan menyakitkan di dalam sana masih membekas di ingatannya dan akan kembali membuatnya rapuh.


Dengan langkah penuh keyakinan, Helena mengayunkan langkahnya menapaki tangga untuk masuk ke dalam. Mikel menyeimbangkan langkahnya dengan Helena, sedangkan Nathan mengekor di belakang keduanya. Tidak lama kemudian pintu terlihat di bukakan oleh dua maid wanita, mereka menunduk hormat kepada Helena, Mikel serta Nathan.


Baru saja menapaki langkahnya melewati foyer yang menghubungkan pintu masuk dengan ruangan lainnya, mereka sudah di suguhkan dengan pemandangan dua wanita yang menatap sinis kepada Helena.


"Akhirnya kau datang juga." Sambutan penuh kebencian itu dilayangkan oleh seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik dan seksi. Tangannya bersedekap di depan dada dan menatap putri sambungnya dengan penuh ketidaksukaan.


"Kau benar-benar tidak tau diri, setelah sukses dengan bisnismu di Paris, kau melupakan keluargamu." Wanita cantik yang merupakan adik tiri dari Helena turut melayangkan tatapan sinis, tidak kalah angkuh seperti ibunya.


Helena begitu jengah jika harus meladeni kedua wanita ular tersebut. Jika saja tidak mendapatkan ancaman dari pria tua itu, ia tidak akan sudi pulang ke rumah jika masih ada kedua wanita itu.


"Dimana Daddy? Aku tidak ada urusan dengan kalian. Jadi menyingkirlah." Helena tidak menanggapi perkataan Margareth dan Caroline, ia harus menyelesaikan urusannya disana sebelum ia benar-benar dibuat sesak oleh suasana di dalam sana. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan lebih lama lagi di Mansion yang begitu meninggalkan banyak luka dan penderitaan Sang Mommy.


"Jangan terlalu terburu-buru, bicaralah lebih dulu dengan kami. Apa kau tidak merindukan ibumu dan adikmu?" ujar Margareth yang sebenarnya bermakna sendiran. Entah apa yang tengah direncakan wanita itu, tentu Helena harus tetap waspada.


"Benar. Lagi pula aku juga sudah lama tidak bertemu dengan....." Caroline sengaja menggantungkan kalimatnya, sorot matanya terarah pada Mikel yang memasang wajah datar.


Helena mengikuti arah pandang adik tirinya itu, ia tersenyum sinis. Namun tubuhnya sesaat dibuat limbung, sebab tiba-tiba saja Caroline mendorong bahunya.


"Mikel, sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Apa kau tidak merindukanku, hm?" Suara Caroline terdengar mendayu-dayu manja diiringi tangannya berusaha melingkar di lengan Mikel. Benar-benar membuat Helena jijik melihat sikap wanita itu yang tidak tahu malu. Seketika ia teringat sikapnya terdahulu yang serupa dengan adik tirinya itu, entah kenapa saat itu dirinya begitu menjijikan.


"Singkirkan tanganmu!" Mikel menarik tangan Caroline dan mendorong wanita itu detik itu juga. Ia mengibaskan lengannya serta telapak tangannya seolah sentuhan wanita itu seperti virus.


Caroline terperangah, ia tidak percaya jika Mikel masih tidak berubah. Padahal ia sudah berias dan mengenakan pakaian dari desainer ternama, berharap kali ini Mikel menatapnya. Namun melirik saja tidak, pria itu langsung menghempaskannya dengan kasar. Karena ditolak secara mentah-mentah, Caroline menghentakkan kaki lalu kembali mendekati ibunya.


Sejujurnya Margareth pun kesal dengan sikap Mikel yang memperlakukan putrinya seperti itu. Tetapi apa daya, Mikel bukan pria yang mudah di hadapi. Jika suaminya saja sulit menyusun rencana untuk menghancurkan perusahaan pria itu, terlebih dirinya yang hanya memikirkan uang. Sebab itu Margareth menginginkan Mikel untuk menjadi suami dari putrinya, Caroline.


"Aku tidak memiliki banyak waktu. Jika aku tidak bisa bertemu dengan Daddy, sebaiknya aku pergi." Kedatangan Helena memang atas ancaman pria tua itu, tetapi sedari tadi ia tidak menemukan keberadaan Jorge dimanapun. Sehingga untuk apa ia berada di sana, hanya akan menambah luka di hatinya.


"Kau tidak bisa pergi kemanapun!" Suara bergetar dengan volume yang terdengar lemah memenuhi ruang tamu dan menghentikan Helena seketika yang hendak berlalu dari sana.


Helena menolehkan kepala kepada sumber suara itu berasal. Pria baru baya dengan wajah yang ditumbuhi bulu-bulu berwarna hitam dan putih di setiap rahangnya menatap sengit putrinya.


"Kau benar-benar keterlaluan. Kau tidak akan pulang jika aku tidak mengancam terlebih dahulu!" Jorge nampak marah, tentu ia merasa tidak lagi dihargai sebagai ayah dari wanita yang menatapnya penuh kebencian.


"Dan aku yakin kau akan benar-benar memindahkan makam Mommy-ku jika aku tidak datang. Jangan mengira aku tidak tau apa yang kau rencanakan!" Helena balas menatap sengit, tangannya melipat di depan dada. Ya, ancaman itulah yang dilayangkan Jorge kepadanya. Pria tua itu tau jika dirinya tidak mungkin tega membiarkan makam mendiang ibunya di porak-porandakan.


"Jaga bicaramu Helen. Semenjak kau sukses, kau melupakan dari mana kau berasal!" seru Jorge. Membuat Margareth serta Caroline memperhatikan dengan seringai senyum. Mereka puas jika Helena kembali bertengkar dengan Jorge, karena itu yang mereka harapkan.


"Cih...." Helena berdecih, nyaris meludah di hadapan Jorge. "Aku dilahirkan oleh Anna Carl dan aku tidak melupakan dari mana aku berasal. Setiap saat aku mengunjungi makam Mommy. Lalu dimana salahku? Aku hanya melupakan para pengkhianat seperti kalian!" imbuhnya sengit.


"HELEN!" Emosi Jorge tidak tertahankan lagi, nampak jelas kegeraman pada guratan wajah senjanya disertai tangan yang mengepal. "Kau sama seperti ibumu, tidak pernah menghormatiku. Apa kau lupa jika selama ini kau dibesarkan oleh Keluarga Bonham. Aku yang mengangkat derajat ibumu, aku melimpahkannya dengan banyak uang. Tapi apa yang dia lakukan? Dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan kau sama saja seperti ibumu, tidak tahu diri!"


Kedua mata Helena terpejam dengan hati yang perih saat pria tua itu menghina ibunya. "Mommy sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, tapi kau.... KAU YANG MEMBUAT MOMMY MENJADI TIDAK MENGHARGAIMU, KARENA APA HAH? KARENA KAU TELAH BERSELINGKUH DENGAN WANITA ULAR ITU!!" Helena berteriak penuh emosi, bahkan nyaris histeris tidak terkendali dengan mata yang mengembun memumpuk air mata.


"TUTUP MULUTMU!!!" Jorge bergerak maju, telapak tangannya terangkat untuk menampar Helena. Namun Mikel terlebih dulu menahan tangan Jorge sebelum telapak tangan itu mendarat kasar di wajah Helena.


"Kau boleh saja menyakiti ibunya dengan caramu. Tapi setidaknya kau tidak bersikap kasar kepada darah dagingmu sendiri!" Sedari tadi Mikel menahan kegeramannya, pun dengan Nathan yang tidak habis pikir jika ada seorang ayah yang begitu kejam terhadap putrinya sendiri.


Kini Nathan mengetahui ucapan Mikel saat itu, jika ia hanya berusaha melindungi Helena dari orang-orang disekitarnya yang tidak lain ialah keluarga wanita itu sendiri.


To be continue


Caroline Bonham



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...