
Menyadari wanitanya nyaris kehilangan asupan oksigen, Mikel lantas mengakhiri pagutan bibir mereka yang jika diteruskan mungkin ia tidak bisa menahan untuk tidak melakukan lebih. Tangannya kemudian terulur menyeka saliva mereka yang tertinggal di sudut bibir Aurelie.
"Kau menyukainya, hm?" tanyanya lembut yang sebenarnya bermaksud menggoda. Menatap wanitanya yang tengah mengatur napas akibat ulahnya menggunakan ibu jari yang masih berada di sudut bibir wanitanya itu. "Mulai detik ini juga kau adalah kekasihku," sambungnya tidak ingin mendengar bantahan.
Aurelie memberanikan diri untuk membalas tatapan Mikel meskipun dengan wajahnya yang masih menyembulkan semburat merah muda, lalu menepis tangan Mikel yang masih mengusap sudut bibirnya itu. Bayangkan saja, ia turut menikmati ciuman mereka padahal sebelumnya ia sempat kesal dan tidak terima pria itu mencuri ciuman pertamanya.
"Kenapa kau suka sekali memaksa?!" cetusnya berusaha menormalkan ekspresi wajahnya yang sejujurnya tengah merasa malu.
"Karena itulah diriku. Aku tidak suka penolakan, Sweetheart." Masih menyahuti wanitanya dengan seulas senyuman.
"Tapi aku tidak suka dipaksa, jadi sebaiknya kau menyingkirlah!" Dan kedua telapak tangan Aurelie berupaya mendorong dada Mikel yang sepertinya masih tidak ingin meloloskan dirinya. Terbukti tubuh kekar itu tidak bergeser sedikitpun meski telapak tangannya nyaris patah lantaran sekuat tenaga mendorong.
"Tidak akan. Kecuali..." Dengan sengaja Mikel menggantungkan ucapannya, nampak seringai nakal terukir di wajah tampan pria itu hingga sukses membuat Aurelie bergidik.
"Kecuali apa?" tanyanya mendelik waspada, bahkan Aurelie semakin merapatkan punggung pada dinding. Namun kepalanya sedikit mendongak agar akses pandangnya lebih jelas menyoroti pria di hadapannya.
Masih dengan seringainya, Mikel kembali menyoroti bibir Aurelie yang sedikit membengkak, bahkan lipstik yang dikenakan wanita itu sudah sedikit memudar akibat ulahnya itu.
"Kecuali jika kau menciumku, maka aku akan melepaskanmu," sambungnya tanpa tau malu.
"Ck, tidak akan!" Aurelie mendecakan lidahnya. Menolak dengan tegas. Benar dugaannya jika pria itu menginginkan sesuatu lagi darinya, yaitu sebuah ciuman.
Dasar maniak ciuman, batinnya.
"Lagi pula tadi kau sudah mencuri ciumanku. Apa tidak cukup?!" serunya.
Tidak nampak kekecewaan ketika wanitanya menolak penawaran dirinya, Mikel justru sangat gemas melihat wajah tidak bersahabat wanitanya. "Benar, tapi kau juga menikmatinya, Sweetheart," sahutnya tersenyum puas. Meski di awal wanita itu sempat menolak dan meronta, tetapi pada akhirnya menikmati ciuman mereka. Ciuman pertama yang ia berikan kepada wanita bernama Aurelie.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Mikel, bibir Aurelie terbungkam. Ia tidak bisa membatah karena memang benar apa yang dikatakan pria itu jika ia pun turut menikmati.
"Ak-aku...." Benar-benar tidak tau harus berkata apa sehingga Aurelie berusaha menghindari kontrak mata dengan pria yang masih mengukung dirinya.
Wanitanya sudah tidak bisa lagi menyerang perkataannya, sehingga Mikel terkekeh gemas. "Bagaimana hm?" tanyanya kemudian. Tentu ia tidak akan melupakan tawarannya itu.
Aurelie mengatupkan rapat bibirnya, nampak seperti tengah tercenung. Namun bukan karena mempertimbangkan tawaran Mikel, melainkan memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kungkungan presdir tampan tetapi gila itu. "Menyingkirlah terlebih dahulu. Sungguh aku tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Kakiku sangat pegal dan punggungku juga sangat panas." Aurelie memasang wajah permohonan, tidak lupa mata bening itu membentuk puppy eyes agar pria di hadapannya merasa kasihan dengannya. Jika memang pria itu menyukai dirinya, pasti tidak akan tega ketika melihat wajahnya yang memelas. "Aku mohon, apa kau tidak kasihan padaku, hm?" Suaranya dibuat mengalun selembut mungkin, setidaknya bisa untuk meluluhkan pria di hadapannya.
Kedua mata Mikel mengerjap berulang kali, ia terlalu terkejut lantaran sikap wanita itu menjadi begitu manis jika dibandingkan dengan sebelumnya yang nampak galak. Terlebih suara wanitanya yang manja, begitu menggemaskan di telinganya.
"Baiklah," ucap Mikel pada akhirnya. Sungguh, ia tidak bermaksud membuat wanitanya lelah berdiri. Ia hanya tidak ingin wanita itu pergi begitu saja, setidaknya ia ingin merasakan bibir semanis buah cherry yang dapat meningkatkan imun di dalam tubuhnya. Tubuh Mikel kemudian berangsur menjauh dari Aurelie dengan mundur beberapa langkah, namun tidak melepaskan pandangannya sedetikpun.
Seketika hawa panas itu melebur begitu saja bersamaan dengan jarak Mikel yang tidak sedekat sebelumnya. Membenarkan penampilannya yang entahlah seperti apa jika terpantul di cermin. Pasti benar-benar mengerikan melihat bibirnya yang sedikit dirasa membengkak.
Aurelie menggenggam tali tas yang masih menggantung di pundaknya. Menyadari tatapan Mikel yang tidak lepas darinya, ekor wanita itu melirik ke arah lain untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba saja melingkupi seluruh ruangan.
Ponsel Mikel yang berdering mengalihkan sejenak perhatian pria itu. Hingga hal tersebut tidak disia-siakan oleh Aurelie untuk melarikan diri dari ruangan luas dan elegan itu. Ah, mungkin lebih tepatnya kandang macan, karena Mikel selalu menatap dirinya seolah ia adalah mangsanya.
Merasa sudah tidak diperhatikan lagi, Aurelie melangkah menuju pintu, namun nyatanya Mikel tidak membiarkan itu terjadi. Tangannya menahan lengan wanita itu lebih dulu, meskipun ia sejenak mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akan tetapi yang menjadi pusat utama perhatiannya hanya wanita yang hendak melarikan diri itu.
Aurelie berdecih, ia nyaris saja berhasil meloloskan dirinya namun ternyata pria itu cukup lihai membaca pergerakan langkahnya yang ia buat setenang mungkin. Wanita itu kemudian tersentak kaget karena Mikel menariknya begitu kuat hingga tubuhnya nyaris terjungkal jika saja pria itu tidak segera menangkap pinggul rampingnya.
"Kau.... kenapa senang sekali menarikku?!" pekik Aurelie dalam posisi mereka yang begitu dekat. Demi apapun jika Mikel berhasil membuatnya terjatuh tadi, ia pasti akan menghajar pria itu dengan membabi buta.
"Maaf Sweetheart, aku tidak sengaja." Tangan Mikel terulur untuk membelai rambut panjang Aurelie yang sedikit bergelombang di bagian ujungnya. "Aku sedikit kesal karena kau tidak menempati ucapanmu," katanya kemudian bernada sangat lembut. Jika wanita lain yang mendengarnya mungkin sudah membuat mereka kehilangan kesadaran karena merdunya suara bariton milik Mikel.
"Lepaskan aku." Aurelie tidak mengindahkannya, lalu menyingkirkan tangan Mikel yang tengah merengkuh pinggulnya itu. "Sejak awal aku tidak menjanjikan apapun, kau saja yang memaksaku!"
"Jadi kau terpaksa, hm?" tanya Mikel. Wajahnya nampak datar dan justru terlihat mengerikan di mata Aurelie.
"Benar!" Dan dijawab lantang oleh Aurelie.
Entah kenapa ekspresi Mikel berubah sedikit sendu, hingga sedikit menyita perhatian wanita itu. Keduanya hanya larut dalam diam tanpa ada yang melemparkan kalimat. Mikel menjadi terdiam, ia merasakan dejavu pada percakapan yang baru saja terjadi. 11 tahun yang lalu, ia menyatakan perasaan kembali untuk yang kesekian kalinya, meminta Aurelie untuk menjadi kekasih hidupnya. Dan jawaban yang sama diberikan kembali oleh Aurelie, wanita itu menolaknya lagi dan bahkan mengatakan jika selama ini ia terpaksa menemani Mikel kemanapun hanya karena atas permintaan Mommy Elleana.
"Ka-kau baik-baik saja?" Entah kenapa ada rasa tidak nyaman ketika melihat wajah Mikel berubah menjadi sendu seperti itu. Sebab wajah itu mengingatkan dengan wajah seseorang, meskipun nampak berbeda. Akan tetapi jika dilihat dari warna mata dan ketajaman mata pria itu terlihat begitu mirip dengan.... Michael.
"Ya, aku baik-baik saja selama kau berada di sisiku." Mikel sudah kembali pada dunianya saat ini setelah seperkian menit berkelana ke masa lalu.
Aurelie memutar bola matanya malas, pria itu sudah kembali menyebalkan seperti sebelumnya. Sia-sia saja tadi sempat mencemaskan pria itu. "Baguslah," sahutnya seolah ia tidak peduli. "Kalau begitu biarkan aku pergi," pintanya dengan berkacak pinggang.
"Tidak diizinkan!" Mikel menyahut tegas. "Meskipun kau memasang wajah memohon seperti sebelumnya. Aku tidak akan tertipu," sambungnya menyindir usaha Aurelie yang sukses membuatnya luluh dan merasa bersalah.
"Cih, pintar." Aurelie berdecih sebal. Hingga membuat Mikel terkekeh. "Aku tidak perlu izin darimu untuk pergi dari sini. Jadi biarkan aku pergi Tuan Mikel yang terhormat."
Kesal? Ya, setiap kali Aurelie memanggilnya dengan panggilan Tuan membuat Mike kesal setengah mati. Panggilan itu seperti memiliki jarak yang begitu membentang mereka.
"Sudah ku katakan jangan memanggilku Tuan," katanya mengingatkan. "Kau boleh memanggilku apa saja, honey, baby, darling atau hubby juga boleh, kecuali Tuan. Aku bukan Tuanmu dan kau juga bukan pembantuku!"
What? Aurelie nyaris tertawa terpingkal-pingkal mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Mikel. "Kau lucu sekali." Sembari tertawa. Untuk kali ini ia mengakui jika Mikel juga memiliki sisi humoris.
Untuk seketika Mikel dibuat tidak bisa berkedip saat melihat wanitanya yang tertawa begitu lepas kepadanya. Ia menikmati wajah cantik tanpa cacat itu yang masih tidak menyurutkan tawanya.
To be continue
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...