
Arthur berada di balkon menikmati dinginnya udara malam yang menusuk tulang. Sesekali melirik ke arah ranjang, dimana istrinya itu sudah terlelap disana setelah beberapa jam lamannya berusaha menenangkannya. Sungguh berbeda dengan pertemuan mereka pertama kali, Helena terlihat begitu penuh percaya diri dan memiliki daya tarik yang kuat sebagai seorang wanita untuk memikat setiap pria yang ditemuinya. Hanya saja yang ia ketahui jika wanita itu begitu tertarik kepada Mikel Jhonson, pria yang dengan mudahnya berpaling dengan wanita lain. Sialnya wanita yang diinginkan oleh pria itu tidak lain adalah adiknya sendiri, Elie.
Arthur menoleh ke arah ponsel ketika suara getaran disusul suara dering pada ponselnya membuatnya merasa terganggu. Bergegas Arthur mengambil ponsel yang berada di atas meja berhadapan dengan ranjang, ia kembali menuju balkon dan menjawab panggilan teleponnya disana.
"Ada apa Der?" Arthur menjawab panggilan yang ternyata dari Darren.
"Benar katamu Ar, Jorge bersama istri dan putrinya menempati tempat tinggal yang mereka bangun beberapa tahun lalu. Meskipun tidak sebesar dari Mansion sebelumnya."
"Hem..." Rasanya Arthur tidak tertarik mendengarkan kehidupan Jorge saat ini. "Kau menghubungiku hanya untuk melaporkan hal seperti itu?" cetusnya menyindir.
"Tidak. Ada hal lainnya lagi," sahutnya cepat. "Beberapa hari ini Jorge datang ke Bonham Company. Dia tidak terima jika perusahaan itu sudah menjadi milik Nona Helena dan akan memanggil wartawan, tujuannya untuk menjatuhkan nama baikmu jika kau sudah menipunya."
Terdengar helaan napas kasar di ujung telepon ketika Darren menyampaikan berita tersebut. "Kau bisa mengurusnya Der. Aku akan kembali beberapa hari lagi. Jika kau butuh bantuan, kau bisa meminta As dan teman-temannya untuk membuat perhitungan kepada Jorge."
"Baiklah, kau tidak perlu mencemaskan masalah disini. Aku masih bisa menanganinya." Mudah bagi Darren menangani masalah seperti saat ini, sebab ia memiliki para anak buah yang kompeten dan cekatan. "Lalu bagaimana keadaan Nona Helena?" tanyanya memastikan, mengingat terakhir kali kondisi Helena belum membaik.
"Dia masih selalu bermimpi buruk, tapi keadaanya lebih baik dari sebelumnya. Ingatannya sedikit demi sedikit mulai kembali berkat obat itu."
"Obat itu bekerja dengan baik rupanya," kata Darren tidak terkejut.
"Hem, aku hanya ingin dia bisa mengingatnya sedikit demi sedikit. Dengan begitu aku bisa lebih mudah mengetahui siapa saja yang sudah terlibat dalam pembunuhan Anna." Ya, Arthur adalah pelaku utama yang memberikan obat ciptaan Dokter Oscar atas perintahnya. Sebenarnya hal itu melanggar kode etik dalam dunia kedokteran, tetapi itu di lakukan untuk membantu Arthur dan Oscar tidak memiliki pilihan lain selain membantunya.
"Bukti yang kita dapatkan tidak mengarah kepada Jorge. Saat Anna sekarat justru Jorge yang membawanya ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak bisa diselamatkan. Dan Jorge sudah memberikan rekaman cctv pada saat kejadian pembunuhan Nyonya Anna. Karena itu kasusnya kembali dibuka dan Jorge akan menyerangmu melalui Nona Helena."
Arthur memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Aku tau Der. Pastikan kau bisa menekan beritanya. Jangan sampai berita itu terdengar oleh kedua orang tuaku."
"Kau tenang saja Ar. Bukti Jorge tidak sepenuhnya kuat dan perlu penyelidikan lebih lanjut."
"Hem, hubungi aku jika kau sudah mendapatkan berita terbaru," sahut Arthur dan segera memutuskan sambungan telepon usai Darren menjawab mengiyakan.
Arthur kembali menghela napas panjang. Kepalanya kembali menoleh ke arah ranjang dengan tatapan entah. Tekadnya untuk melindungi istrinya itu semakin kuat. Lama memandangi Helena dari jarak jauh, Arthur mengayunkan langkah mendekati ranjang. Ia meletakkan ponsel di atas nakas, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Tangannya terulur membelai sulur anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Helena.
Tatapannya mengiba, dalam dan penuh cinta. Hanya saja Arthur begitu kesulitan mengumbar rasa cintanya untuk Helena. Berbeda dengan Daddy-nya yang begitu mudah mengatakan cinta setiap harinya kepada Mommy Elleana.
Helena melenguh pelan ketika sentuhan lembut mengusik alam bawah sadarnya. Ia perlahan membuka kelopak mata dan mendapati Arthur tengah mengusap wajahnya dengan begitu lembut.
"Ar..." ucapnya dengan suara serak yang terdengar sangat seksi di pendengaran Arthur.
"Sepertinya aku membangunkanmu." Arthur sedikit terkekeh kecil hingga menampakkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sehingga membuat Helena terpesona sejenak. Senyum yang jarang sekali ditampakkan dan wanita itu baru pertama kali melihat Arthur tersenyum. Jangankan Helena, keluarganya saja nyaris tidak pernah melihat Arthur tersenyum lembut seperti itu.
Helena berusaha beranjak duduk dan dengan sigap Arthur membantunya. Kini pandangan keduanya kembali bertemu, dalam dan penuh sejuta makna. Helena mengulas senyum dengan irama jantungnya yang ternyata tidak bisa dikendalikan ketika berdekatan dengan Arthur.
"Kenapa tersenyum?" Arthur menyentuh wajahnya, mengira jika terdapat sesuatu di wajahnya. "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya memastikan.
Helena menggeleng. "Tidak ada, hanya saja kau terlalu tampan. Dan ternyata pria tampan ini adalah suamiku." Jemari Helena tanpa sadar menjepit wajah Arthur, memberikan cubitan kecil di rahang tegas suaminya itu dengan kekehan panjang, mentertawakan perkataannya sendiri.
Arthur menangkap tangan Helena sehingga membuat wanita terkesiap dan berpikir jika Arthur tidak menyukai tindakan spontan dirinya.
"Maaf, aku...." Namun diluar dugaan, ternyata Arthur mengecup punggung tangan Helena, menghentikan ucapan wanita itu yang belum sempat diucapkan lantaran sudah lebih dulu terkejut dengan tindakan Arthur yang tiba-tiba mengecup punggung tangannya. Membuat wajah Helena merona malu, ia menunduk, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah ketika Arthur menatapnya dengan begitu intens. Bahkan tidak ragu mengecup punggung tangannya berulang kali
"Apa kau sudah siap menjadi istriku sepenuhnya?" Suara Arthur terdengar berat, akan tetapi penuh dengan kelembutan. Menahan gairah tentu saja tidak mudah, terlebih jika disuguhkan pemandangan cantik dan indah yang sudah sah menjadi miliknya.
"Eh, apa?" Helena terkesiap, pandangannya kembali menemui Arthur.
Alih-alih menjawab Arthur justru mengangkat tubuh Helena dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Kini Arthur dapat leluasa melihat lebih dekat wajah Helena serta tubuh putih mulus sang istri yang dibalut dress menerawang, tidak berbeda jauh dengan lingerie. Dua gundukan Helena yang nampak menyembul terlibat jelas di depan mata Arthur, sehingga Helena reflek menutupinya dengan satu tangannya.
"Jangan ditutupi. Bukankah semuanya akan menjadi milikku?" Suara Arthur benar-benar serak dipenuhi hasrat yang membara.
"Aku...." Helena tidak mempu berkata ketika Arthur membelai setiap jengkal wajahnya.
Mata Arthur tak hentinya memuja wajah Helena bergantian menatap bibir ranum istrinya dengan penuh damba. Semakin merapatkan tubuh hingga tiba-tiba Arthur membenamkan ciuman di bibir Helena. Ciuman lembut Arthur sungguh memabukkan dan seolah-olah mampu menghipnotis Helena, hingga wanita itu memejamkan kedua matanya. Membalas ciuman yang perlahan penuh kelembutan, kini berubah menjadi penuh gelombang panas dan menuntut lebih.
To be continue
Nanggung ya? Wkwk nanti dilanjut lagi ya 😆😆
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...