
Arthur dan Helena sudah berada di London Eye atau Millenium Wheel, roda pengamatan atau lebih dikenal dengan Bianglala tertinggi di Eropa dan terbesar di dunia. London Eye berputar di tepi Sungai Thames dan salah satu tempat wisata yang terkenal di Kota London. Tempat wisata tersebut menjadi salah satu yang disukai oleh Helena.
Jika sedang bersedih biasanya wanita itu akan mengunjungi London Eye dan menaiki bianglala untuk menikmati Kota London dari ketinggian, tetapi kali ini ia tidak menaikinya lantaran Arthur sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak berada di ketinggian selama masa kehamilan.
"Kita bisa datang kemari setelah kau sudah melahirkan." Arthur mengusap kepala Helena, ia mengerti akan kekecewaan istrinya itu. Namun ia tetap tidak akan membiarkan Helena menaiki bianglala tersebut. Ia akan mengabulkan apapun asalkan yang tidak membahayakan nyawa sang istri serta kedua janinnya.
Helena mengangguk samar. Ia pun mengerti larangan sang suami dan tidak boleh egois hanya karena mementingkan keinginannya tanpa memikirkan keselamatannya.
"Apa kau marah, hm?" Arthur bertanya memastikan, sebab Helena hanya mengangguk saja tanpa menyahuti.
Helena menggeleng. "Tidak. Aku tidak marah." Meski berkata tidak marah, tetapi Helena memasang wajah masam disertai bibir yang mengerucut.
"Lalu kenapa tidak tersenyum?" Arthur menggoda istrinya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih rapat dengan Helena. "Dengar, cantikmu akan hilang jika kau memasang wajah seperti itu." Bahkan dengan sengaja menyenggol bahu Helena menggunakan sikunya agar istrinya itu dapat tersenyum.
Helena berdecak dan membuang wajahnya ke arah lain. Berusaha menyembunyikan bibirnya yang berkedut dalam lantaran menahan senyum. Sejak kapan suaminya itu pintar menggoda, bukankah biasanya datar tanpa ekspresi, pikirnya.
Namun rasanya Helena tidak tahan lagi untuk tidak tersenyum. Sesuatu yang langka mendapati Arthur yang mulai bisa menggoda dan hal tersebut hanyalah ditunjukan kepada dirinya saja.
"Aku baru tau jika seorang Arthur bisa menggoda." Dan Helena balas menggoda. Sungguh aneh bukan, bahkan dirinya saja nyaris tidak percaya.
"Memangnya selama ini aku seperti apa, hm?" Arthur mengacak rambut Helena dengan gemas.
"Biasanya kau memasang wajahmu seperti ini." Dan Helena memperagakan wajah Arthur yang datar dan dingin tanpa ekspresi. Kedua matanya dibuat menajam dengan alis yang menukik ke atas. Sontak saja membuat Arthur terkekeh kecil, wajah Helena begitu menggemaskan menurutnya.
"Apa aku seperti itu di matamu?" Arthur bertanya memastikan. Rasanya tidak mungkin wajahnya seperti itu di mata orang lain.
Helena mengangguk membenarkan. "Iya, kau menyeramkan," ucapnya sedikit bergidik saat mengingat bagaimana perlakuan Arthur dahulu padanya. "Tapi sekarang tidak lagi. Wajahmu lebih hangat dan itu hanya ditunjukkan padaku, aku senang sekali." Helena menghambur ke pelukan Arthur. Suaranya begitu riang seolah benar-benar menggambarkan rasa senang wanita itu karena telah menjadi wanita yang dapat melihat sisi Arthur yang manis. Dalam sekejap saja mood Helena sudah kembali membaik. Memang wanita yang sedang mengandung selalu memiliki mood yang mudah berubah kapanpun.
Mendengar perkataan Helena, Arthur menipiskan kedua sudut bibirnya, membalas pelukan Helena dan mengusap punggung istrinya itu. Ia memang sadar benar akan sikapnya dan hanya memasang wajah hangat kepada keluarganya saja dan setelah menikah ia tentunya harus berlaku hangat kepada istrinya.
Ketika matahari sudah mulai terbenam, Helena dan Arthur memutuskan pergi dari London Eye. Di sepanjang mereka berjalan menuju parkiran mobil tautan tangan mereka tidak terlepas. Beberapa pengunjung disana menatap iri kepada pasangan tersebut. Tentu mereka mengenali sosok Arthur dan merasa takjub akan sosok lain dari pria yang terkenal akan sikap dingin dan sisi kejamnya dalam berbisnis.
Saat mengemudikan mobilnya, Arthur sesekali mencuri pandang ke arah Helena yang tengah bertukar pesan dengan Christy. Wanita itu memang setiap hari bertukar pesan dengan asistennya itu sekedar menanyakan keadaan butiknya, Carl Valentine.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tentu Helena merona malu ketika di tatap intens oleh suaminya. Bahkan wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua yang yang masih menggenggam ponsel.
Arthur terkekeh dibuatnya. Padahal ia hanya menatap saja, tidak bermaksud membuat Helena malu seperti itu.
"Tidak ada." Arthur tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut Helena, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke depan kemudi.
***
Dua hari kemudian
Mobil yang ditumpangi Arthur sudah tiba di Bristol Harbour Hotel. Petugas valet membukakan pintu untuk keduanya. Disusul oleh Darren yang menolak untuk dibukakan pintu. Ia sudah terbiasa mandiri untuk apa di bukakan pintu.
"Selamat datang Mr dan Mrs. Romanov." Kedua petugas valet menyapa ramah dengan membungkuk hormat.
Arthur dan Helena mengangguk. Keduanya masuk ke dalam hotel dengan tangan Arthur yang melingkar di pinggang Helena. Sebelum mengikuti langkah Arthur serta Helena, Darren menoleh ke arah salah satu petugas valet.
Ketiganya sudah disambut oleh dua staf hotel dan tugas mereka menjadi menuntun jalan para anggota British Chamber of Commerce menuju ballroom.
Meskipun tidak diragukan lagi sosok Arthur tetapi peraturan tetap harus dijalankan. Siapapun yang menghadiri acara asosiasi tersebut harus menunjukkan undangan untuk membuktikan keaslian undangan yang berlogo BCOC berlapis tinta emas. Keamanan disana sungguh terjaga karena yang hadir adalah para pebisnis besar setiap manca negara dan tentunya meminimalisir tamu yang tidak diundang.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan Arthur, Helena serta Darren dipersilahkan untuk masuk. Seketika dua pintu yang menjulang tinggi itu terbuka lebar dengan karpet merah membentang sebagai sambutan utama untuk para pebisnis yang hadir.
Suara riuh mulai menyapa indera pendengaran Helena. Untuk pertama kalinya wanta itu datang ke acara seperti ini. Ia hanya seorang desainer, acara besar seperti ini tentu saja tidak pernah ia datangi dan tentunya ia tidak pernah mendapatkan undangan.
Ternyata banyak sekali pebisnis yang datang, diantaranya Helena mengetahuinya, akan tetapi sebagian banyaknya masih asing baginya. Sebab selama ini dirinya tidak terlalu mengikuti berita mengenai pengusaha-pengusaha muda diluar sana.
Seketika Arthur dan Helena menjadi pusat perhatian entah dari wanita dan pria. Tentu mereka tidak akan melewatkan kedua pasangan penomenal yang beberapa bulan lalu mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran yang begitu menggemparkan. Bagaimana tidak, hanya seorang yang berasal dari Keluarga Billionare yang mampu mengadakan pesta pernikahan di kapal pesiar dengan tamu undangan sekitar 4000 lebih. Tentu ada rasa takjub karena untuk pertama kalinya Arthur membawa seorang wanita yang tidak lain ialah istrinya.
"Apa kabar Tuan Arthur?" Tuan Aldof menyapa Arthur dan mengulurkan tangan kanan untuk berjabat tangan. Meski perusahaan mereka tidak pernah melakukan kerjasama, tetapi mereka kerap kali saling menyapa pada saat pertemuan assosiasi.
"Kabar baik," sahut Arthur datar seperti biasa. "Bagaimana kabar Tuan Aldof sendiri?" tanyanya kemudian. Dalam dunia bisnis saling menanyakan kabar adalah bentuk formalitas untuk menjalin keakraban.
"Kabarku juga baik." Tuan Aldof menjawab dengan diselipi senyuman. Lalu pandangannya beralih pada Helena yang berdiri di sisi Arthur. Cantik. Kata tersebut memang pantas disematkan untuk Helena. "Hallo, Nyonya Romanov apa kabar?" sapanya ramah. Mereka baru saling bertemu sehingga tidak sopan jika memanggil nama saja. Namun sejujurnya ingin rasanya mengulurkan tangan, namun ia urungkan karena tatapan Arthur seolah sudah memperingatinya.
"Kabar baik Tuan," jawab Helena sekenanya. Tentu saja karena ia tidak tahu siapa pria dihadapannya itu. Ia dapat menyimpulkan jika usianya tidak berbeda jauh dengan Arthur.
Aldof mengangguk saja. Tapi wait? pandangannya beralih pada perut Helena yang membuncit, yang tidak bisa disembunyikan oleh gaun long dress off shoulder berwarna hitam yang dikenakan oleh Helena.
"Apa Nyonya Romanov sedang hamil?" tanya untuk memastikan rasa penasarannya.
Helena mengangguk. "Benar Tuan."
"Wah, selamat Tuan Arthur dan Nyonya Romanov," seru Tuan Aldof turut senang dengan kabar tersebut.
"Terima kasih." Baik Helena dan Arthur menjawab serentak.
Sepertinya mulai saat ini Helena mulai harus membiasakan diri menjadi pusat perhatian dan menjadi bahan perbincangan setiap mata yang melihatnya. Memang bukan sesuatu yang baru baginya, karena ia terbiasa ditatap seperti itu ketika memperkenalkan rancangannya. Tetapi fashion show dan menghadiri acara asosiasi para pengusaha adalah dua hal yang berbeda.
Arthur dan Tuan Aldof masih terlibat percakapan kecil dan tentu saja Darren dilibatkan setelah Tuan Aldof menanyakan kabar orang kepercayaan Arthur. Namun perkataan mereka seketika teralihkan akan kehadiran kedua pasangan yang tentunya tak kalah memukau.
Ya, Mike dan Elie. Keduanya nampak tampan dan cantik dengan warna pakaian yang senada. Elie tampil anggun dengan balutan embroidered and sparkly the length black dress.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...