
Hati Arthur menghangat memperhatikan Helena yang diterima di keluarganya. Semua tampak antusias menyambut wanita itu. Senyum Helena mengembang sejak tadi, ia tidak menyadari jika Arthur memperhatikannya. Pria itu hanya berdiri dan berjaga jika sewaktu-waktu Helena kembali mengalami halusinasi.
Darren baru saja datang dari perusahaan, ia mendekati Arthur, mengikuti arah pandang teman sekaligus atasannya itu yang hanya tertuju kepada istrinya.
"Bagaimana Der, apa kau sudah mendapatkan bukti rekaman yang lain?" Tanpa menatap lawan bicaranya, pandangan Arthur hanya lurus ke depan.
"Belum Ar." Darren menjawab pelan, bisa ia rasakan jika Arthur mendesaah kecewa.
"Kalau begitu kau harus mendapatkannya. Jika perlu ubah apapun rekaman cctv yang memperlihatkan wajah Helena," kata Arthur tidak mau tahu. Sehingga Darren hanya mengiyakan dan berusaha menyanggupi. "Aku sudah memanggil Pier untuk menangani kasus ibu mertuaku. Aku tidak percaya dengan mereka!" imbuhnya.
"Hm, beberapa dari mereka memiliki hubungan baik dengan Jorge." Darren setuju. Karena dirinya pun curiga jika mereka akan memberatkan Helena sebagai tersangka utama.
"Itu sebabnya aku memanggil Pier untuk menangani kasus Mom Anna."
Darren kembali setuju diiringi anggukkan kepala. "Aku belum memberitahu mengenai Tuan Mikel. Dia yang selama ini mencari harta peninggalan Keluarga Jhonson."
Mendengar laporan dari Darren, sontak membuat Arthur menoleh. "Untuk apa dia mencarinya? Apa pria itu berkaitan dengan Keluarga Jhonson?" Arthur bertanya memastikan.
"Kau pasti berpikir yang sama sepertiku Ar." Darren yakin jika Arthur sudah mencurigai sesuatu, hanya saja mereka tidak memiliki bukti apapun untuk saat ini.
"Hmm, pastikan dia tidak mendekati Elie."
"Sepertinya sulit Ar. Mereka saling mencintai." Dan belakangan ini Darren selalu kecolongan. Mereka selalu bertemu secara diam-diam, dan ia tidak bisa berbuat apapun. Jika mengadukan hal itu kepada Arthur, maka Elie yang akan mendapatkan masalah.
"Aku tidak mau tau Der. Aku sendiri yang akan memisahkan mereka!" Setelah mengatakan hal demikian, Arthur melenggang pergi, menghampiri istrinya yang duduk di antara Elie serta Mommy Elleana.
Arthur bergabung disana, membenamkan tubuhnya di sofa bersisian dengan Austin. Mereka terlibat percakapan kecil, untuk saat ini Austin menjadi tahanan rumah, sebab kasus pembunuhan seorang mahasiswi di Universitas Oxford belum menemukan titik terang dan minimnya bukti yang mengarah kepada Austin beserta teman-temannya membuat pihak kepolisan tidak akan bisa menahan Austin di dalam penjara.
Darren baru saja turut menggabungkan diri bersama kedua orang tua serta adiknya. Tidak ada sambutan meriah, hanya beberapa keluarga terdekat saja. Sebab Arthur tidak menginginkan banyak orang yang menyambut kedatangan Helena.
Arthur terlihat mengulurkan tangan kepada Helena disaat wanita itu beranjak berdiri, berpamitan untuk beristirahat usai Mommy Elleana menyuruhnya. Arthur menuntun langkah Helena menuju kamar yang berada di lantai dua. Untuk pertama kalinya ia mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamarnya. Biasanya Elie harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin memasuki kamar dan hanya Mommy Elleana yang diberikan izin sesuka hati untuk masuk ke dalam kamarnya.
Helena mengedarkan pandangannya, mengamati kamar yang menjadi tempat Arthur beristirahat selama berada di Mansion. Sembari menunggu Arthur yang keluar dari kamar entah untuk apa, Helena memutuskan untuk melihat seluk beluk isi kamar suaminya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Helena terjingkat kaget, ia memutar tubuhnya dan sudah mendapati Arthur berdiri di belakangnya.
"Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja."
"Maksudku kenapa kau tidak duduk saja." Arthur mengoreksi perkataannya. Ia kemudian menuntut Helena untuk duduk di sofa.
Bibir Helena terbuka, membentuk bulatan O, ia pikir Arthur marah kepadanya karena telah lancang melihat isi kamarnya.
"Lagi?" Helena hanya melihat obat yang diletakkan di atas piring kecil tersebut tanpa ingin menyentuhnya atau bahkan meminumnya.
"Hmm, agar kau cepat pulih." Arthur tau jika Helena mungkin merasa enggan setiap hari harus meminum obatnya. Namun ini ia lakukan agar wanita itu berangsur pulih dan dapat mengingat kembali peristiwa yang sudah dilupakan.
"Baiklah." Helena pasrah, ia membuka mulutnya ketika Arthur membantu memasukan dua butir obat ke dalam mulutnya. Memastikan Helena benar-benar menelan obat itu, Arthur meletakkan gelas tersebut di atas meja.
"Sekarang tidurlah, aku akan membangunkanmu dua jam lagi saat waktunya makan siang."
Perkataan Arthur seperti sihir, seketika Helena merasakan kantuk, wanita itu menguap sembari mengangguk. Arthur kemudian menggendong Helena dan membaringkannya di atas ranjang. Menyelimuti sang istri dan mengusap lembut sulur rambut yang membingkai wajah Helena. Dalam sekejap saja Helena sudah terlelap, obat tersebut memang memiliki kandungan obat tidur. Sehingga dengan mudah membuat seseorang yang meminumnya akan segera terlelap dalam hitungan menit saja.
"Maaf, tapi aku harus melakukan ini padamu." Sejujurnya Arthur merasa bersalah, tanpa sadar ia memaksa Helena agar dapat mengingat memori yang telah hilang. Tetapi meskipun pada akhirnya Helena bersalah sekalipun, ia akan tetap berada disisi istrinya.
***
Langit sudah berubah warna. Usai makan malam penghuni disana lebih memilih berkumpul, dan Helena turut bergabung. Sedari tadi wanita itu mengedarkan pandangan ke arah sekitar, mencari keberadaan Arthur. Sejak sore Arthur berpamitan pergi sebentar kepada Helena. Akan tetapi hingga malam menjelang, suaminya itu belum juga kembali.
Mommy Elleana menyadari kegelisahan pada raut wajah menantunya. Ia mengusap bahu lembut Helena, sehingga membuat wanita itu menoleh ke arah ibu mertuanya.
"Ar, sebentar lagi akan pulang. Apa kau sudah merindukannya, hm?" ucap Mommy Elleana menggoda. Mencairkan suasana antara dirinya dengan Helena.
Helena tersenyum. "Iya Mom. Aku hanya mencemaskan saja." Ia begitu malu, apa sungguh kentara sekali wajahnya yang tengah merindukan pria itu padahal mereka baru terpisah beberapa jam saja. Beberapa bulan ini ia seolah terbiasa akan kehadiran pria itu dan sepertinya saat ini ia benar-benar merasa kehilangan.
Mommy Elleana tersenyum menanggapi, ia menemani Helena hingga Arthur kembali. Sebab Elie berpamitan pergi untuk pemotretan siang tadi. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi Arthur belum juga kembali. Pada akhirnya Helena memutuskan untuk ke kamarnya, berpamitan kepada yang lainnya dan ditemani oleh Mommy Elleana hingga mencapai depan pintu kamar. Wanita itu menolak pada saat Mommy Elleana menawarkan diri untuk menemaninya kembali di dalam kamar. Helena hanya tidak ingin merepotkan ibu mertuanya. Mommy Elleana tidak memaksa, wanita paruh baya itu tersenyum dan meninggalkan Helena di dalam kamarnya. Helena menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, ia benar-benar mencemaskan pria yang sudah menjadi suaminya itu, sehingga tidak dapat memejamkan matanya.
Ternyata Arthur sudah memiliki peran penting di dalam hidupnya. Terbukti ia tidak bisa tidur tanpa memeluk pria itu, tidak bisa tenang sebelum melihat Arthur berada di hadapannya saat ini.
"Kau dimana?" bibir Helena bergetar, ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal yang baru saja ia ambil. Rasanya ia sangat membutuhkan Arthur, pelukannya, suaranya dan bahkan sentuhannya membuat dirinya benar-benar merindukan suaminya.
To be continue
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...