The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Lihat Mataku, Licia!



Dor!


Dor!


Dor!


Bertepatan dengan kedatangan para anak buah Bloods Dead yang menghampiri dan membuat kegaduhan dengan memuntahkan peluru senjata mereka. Jacob serta para anak buah tidak tinggal diam, mereka membalas serangan anak buah Bloods Dead.


Licia tidak merasa terganggu dengan bising baku tembak di sekitarnya. Menarik pelatuk senjata dan kemudian,


Dor!


Sebelum peluru itu mengenai dirinya, dengan lihai Austin merunduk dan berhasil menghindari hantaman peluru itu. Ia berlari kecil dan mencoba merengkuh tangan Licia. Hap, berhasil. Austin segera menarik gadis itu ke sisinya, membuat senjata yang digenggam Licia terhempas ke sembarang arah.


"Sialan!!" Maxime meradang. Ia tidak dapat membaca pergerakan Austin, sehingga pria itu dengan mudah merebut Licia dari sisinya. Terlebih ia terkecoh karena hentakan peluru yang saling bersahutan. Tatapannya yang menajam terarah pada Austin perlahan berubah memudar ketika bersitatap dengan Licia. "Licia, kemarilah." Dan ia membujuk gadis itu agar menjauh dari Austin dan kembali ke sisinya.


Licia terpengaruh dan bereaksi. Gadis itu bahkan mencoba melepaskan lilitan tangan Austin di pinggangnya. "Lepaskan!" Akhirnya suara Licia kembali Austin dengar, meskipun gadis itu berkata ketus.


"Tidak akan. Jangan dengarkan dia." Telapak tangan Austin yang besar itu menutupi pandangan Licia agar tidak bertemu dengan tatapan mata Maxime.


"Lepaskan aku. Aku ingin bersamanya!" Suaranya semakin ketus, meskipun masih terselip kelembutan.


Alih-alih melepaskan seperti permintaan Licia, Austin justru mempererat rengkuhannya. "Sudah kubilang jangan dengarkan dia, Licia. Dia hanya mempengaruhimu. Kau harus lebih percaya padaku, jangan lupakan jika kita sudah bersama sejak kecil."


"Tidak Licia. Jangan dengarkan dia!" Maxime berteriak, ia mencoba mengikis jarak. Biar bagaimanapun ia harus berhasil membuat Licia kembali menurut padanya. Ia sangat yakin jika gadis itu merespon perkataannya, hanya saja si berengsek Austin menahan tubuh gadisnya itu. Melihatnya saja membuat amarah Maxime ingin meledak saat itu juga. Dengan seenaknya, pria itu menyentuh gadis pujaan hatinya.


Licia benar-benar ingin berlari ke dalam pelukan Maxime. Ia mengenali suara pria itu. Suara yang selalu mengisi hari-harinya. Akan tetapi tubuhnya begitu erat didekap oleh Austin.


Maxime terus menerus meminta Licia agar memberontak dan berlari kearahnya, tentu Austin pun bersikukuh mempertahankan Licia. Sungguh suara Maxime membuat kepala gadis itu berdenyut dan terasa begitu nyeri.


"Akkhh...." Licia memekik kesakitan. Kedua tangannya menarik rambutnya guna memudarkan rasa sakit pada kepalanya.


"Kau baik-baik saja?" Austin terkejut. Untuk kali pertama ia melihat Licia begitu kesakitan seperti itu.


Yang dirasakan Licia adalah efek jika gadis itu menolak cara kerja obat yang dibiuskan dalam tubuhnya. Dan akan terus-menerus membuat kepalanya sakit hingga Maxime benar-benar berhenti bersuara. Namun Maxime yang sudah gelap mata tidak pedulikan kesakitan yang dirasakan oleh Licia. Yang ada di dalam kepalanya hanya menginginkan keberadaan gadis itu disisinya. Siapapun tidak akan bisa merebut Licia-nya.


Semakin memerintah Licia, semakin sakit pula yang dirasakan gadis itu. Austin merasa tidak tega, tetapi tidak mungkin ia melepaskan Licia dan membiarkan gadis itu kembali pada Maxime.


"Licia, tenang." Ia mengusap kepala Licia, guna memudahkan rasa sakit pada kepala Licia. "Jangan dengarkan suaranya, dengarkan saja suaraku," imbuhnya berusaha mengalihkan.


Maxime yang tidak tahan lagi bermaksud hendak mendekat, ia sudah geram dengan Austin yang berusaha menjauhkan dirinya dengan Licia. Tetapi kedua anak buah Black Lion lebih dulu menghalangi jalannya, sekaligus menodongkan dua senjata padanya. Ah, sial. Saat ini Maxime tidak memegang senjata apapun. Senjata yang ia berikan kepada Licia terhempas entah kemana.


Dua anak buah Black Lion menjaga Austin dan Licia dari Maxime yang ingin mendekat. Sekali melangkah, maka timah panas itu akan meluncur di bagian tubuh pria itu.


Jacob yang masih bersitegang dengan beberapa anak buah Bloods Dead sekilas memperhatikan sang adik sedari tadi, ia mencemaskan keadaan adiknya itu. Tetapi Jacob tidak bisa menghindari peluru yang berlari ke arahnya itu. Sehingga ia mempercayakan Licia pada Austin.


Licia semakin mengerang kesakitan, hal itu membuat Maxime tersenyum puas. Ia yakin jika Austin tidak akan tega dan pada akhirnya akan menyerahkan gadis itu padanya.


"Sadarlah Licia, kau sudah dipengaruhi olehnya. Jangan dengarkan dia, kau harus bisa melawan rasa sakit pada kepalamu." Austin memegang kedua bahu Licia yang tentu saja gadis itu meronta-ronta. "Pikirkanlah Bibi Angel dan Paman Zayn, mereka sangat mencemaskanmu." Namun rasanya perkataan Austin terbuang percuma, sebab Licia tidak peduli. Gadis itu bahkan menutup kedua telinganya.


"Diam! Aku hanya ingin kau melepaskanku!" Licia mencoba menepis kedua tangan Austin dari pundaknya.


Austin mendesahkan napas panjang ke udara. Harus bagaimana lagi ia menyadarkan Licia, semua perkataannya tidak dihiraukan oleh gadis itu. Terlebih Licia yang semakin meronta kian membuat Austin gusar. Dia harus mencari cara agar pikiran Licia teralihkan.


Dirangkumnya wajah Licia, memaksa gadis dihadapannya itu untuk menatap dirinya. "Lihat aku Licia, lihat mataku. Kau harus bisa melawan pikiranmu."


Semula Licia membuang pandangannya ke arah lain, namun paksaan pria di hadapannya itu membuatnya mau tidak mau menatap mata Austin.


Sorot mata yang begitu familiar. Ia seperti mengenali manik hazel itu dan mencoba meraba ingatannya. Namun ia tidak menemukan ingatan apapun mengenai pria di hadapannya itu.


"Kau pasti mengenaliku, Licia," lirihnya sendu. Austin ingin Licia-nya yang cerewet segera kembali seperti semula. Gadis itu berulang kali mencoba menepis kedua tangan Austin dari wajahnya. Tetapi pria itu tidak mengindahkan. Justru mendekatkan wajahnya pada wajah Licia, bahkan hidung mereka sudah bersentuhan.


"Menjauhlah dariku berengsek!" Untuk pertama kalinya Licia memaki Austin dengan kalimat kasar. Perlu diapakan bibir gadis itu? Austin tentu tidak terima.


"Lepaskan.... lepaskan... LEPASAKAN!!" Ia berupaya memukul dan mendorong dada Austin. Sehingga membuat Austin tersulut kesal, ia menarik tengkuk Licia dan menyambar bibir gadis itu agar terbungkam.


Benar saja, Licia tidak lagi meronta. Lebih tepatnya gadis itu terkesiap lantaran terkejut akan serangan pada bibirnya.


Austin melumatt bibir Licia. Perlahan ia merasakan cengkraman tangan Licia pada lengannya mengendur. Gadis itu seperti mendapatkan ketenangan. Ah, ternyata dengan cara menciumnya bisa membuat gadis itu menjadi lebih tenang.


"BAJINGAN SIALAN!" Maxime menyaksikan bagaimana Austin mencium bibir gadisnya. Ia benar-benar diliputi oleh amarah dan mendorong kedua anak buah Black Lion, hingga keduanya tersungkur. Amarah yang membara itu tidak mampu dihentikan oleh dua anak buah Black Lion. Maxime justru menghajar mereka dengan membabi buta.


Jacob kehabisan peluru senjata. Dengan terpaksa ia berlari dan melompat, memberikan tendangan tepat di dada salah satu anak buah Bloods Dead. Sebelum kemudian berlari menuju Maxime. Ia tidak akan membiarkan Maxime melukai Austin dengan senjata yang digenggamnya. Maxime terlihat ingin menembakkan peluru tepat di punggung Austin yang masih mencumbu adiknya. Meski ia terkejut tetapi melihat Licia yang menjadi lebih tenang membuatnya tidak mempermasalahkan perbuatan Austin yang lancang mencium Licia.


Dor!


Pergerakan Jacob terlambat, peluru itu lebih dulu melesat tepat mengenai bahu Austin. Namun mengabaikan rasa sakit pada bahunya, Austin tetap melanjutkan cumbuannya.


BUGH


Dari arah berlawanan, Maxime menerjang Maxime. Hingga keduanya tersungkur dan menghantam lantai. Senjata yang Maxime rebut paksa dari salah satu anak buah Black Lion sudah terhempas tepat di bawah kaki Gavin yang baru saja tiba disana bersama yang lainnya. Gavin menyaksikan Austin dan Licia yang berciuman, kemudian ia membuang pandangannya ke arah lain. Berbeda dengan teman-teman yang lain, meskipun sangat terkejut, tetapi mereka menikmati pemandangan tersebut.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...