
Mikel mengibaskan pakaiannya yang bernoda oleh debu yang menumpuk di beberapa bagian. Dan hal itu tidak luput dari perhatian Arthur.
"Jadi kau sudah lama menyadarinya? Dan kau berpura-pura tidak mengetahui segalanya?!" serunya disertai decakan lidah, ia merasa sungguh di bodohi. Padahal selama ini tidak ada yang menyadari bahwa Mikel adalah Mike, termasuk Todd. Jika saja ia tidak membongkar jati dirinya pada saat melenyapkan Franco.
"Kau yang lebih dulu merahasiakannya. Jadi aku mengikuti permainanmu saja. Aku tau kau memiliki alasan kenapa menyembunyikannya dariku," ujarnya mencoba mengerti. Padahal jauh di dasar hatinya, Arthur sungguh sangat kesal dengan Mikel yang harus bersembunyi selama itu tanpa mengabari dirinya ataupun keluarganya. Teringat hal itu, Arthur kian geram, ia kemudian menendang kaki Mikel sehingga membuat pria itu terpekik kaget.
"Argh, apa yang kau lakukan bodoh?!" Mikel memprotes tidak terima dengan nada suara meninggi. Tendangan Arthur sungguh meninggalkan rasa nyeri yang luar biasa.
"Kau beruntung hanya mendapatkan tendangan dariku. Aku bisa saja menikam perutmu dengan pisau karena sudah berani membodohiku!" serunya mendengkus kesal. Tidak pedulikan kekesalan di wajah Mikel. Tatapannya mengguncang emosi dalam dirinya.
"Sorry jika aku mengganggu kalian...." Suara Sid menyela keduanya, sehingga mengurungkan Mikel untuk berseru kembali. Arthur serta Mikel serentak menolehkan kepada ke arah Sid yang tengah mengacungkan senjata dan memuntahkan peluru kepada musuh-musuh mereka. "Tapi bisakah kalian membantu kami dan tidak hanya berbicara saja disana, heh?!" katanya disusul hembusan napas yang terbuang kasar. Bisa-bisanya mereka berbicara dengan santai tanpa pedulikan ia serta yang lainnya tengah berjuang melawan musuh-musuh.
Arthur tidak menjawab, ia mengangkat kedua bahunya dengan ekor matanya melirik ke arah musuh yang hendak menyerang, namun pelurunya melesat lebih dulu dan menghantam di kepala musuhnya itu.
"Ck, mereka benar-benar bodoh!" Arthur geram, ia menembaki beberapa musuh yang masih saja menyerangnya.
Mikel pun tidak tinggal diam, ia memuntahkan peluru ke arah yang berlawanan. Pandangan diedarkan kesana-kemari, mencari sosok Pablo yang sudah menghilang entah kemana.
"Shiitt, sepertinya dia melarikan diri!" umpat Mikel melayangkan kepalan tangannya di udara. Dan ia memperhatikan beberapa dari mereka pun mulai mundur satu persatu. Terlebih bos mereka sudah tidak berada di tempat dan memasrahkan segalanya kepada mereka.
Perhatian Mikel tertuju pada Josh, pamannya itu begitu lengah, tidak menyadari jika ada musuh yang mendekat dengan membawa balok kayu siap menebas kepada Josh. Mikel berlari sekencang mungkin hingga pada akhirnya ia menendang punggung anak buah Todd.
Josh terperanjat, ia membalikan tubuhnya ketika melihat seseorang sudah limbung di bawah kakinya.
"Keparat! Aku tidak akan membiarkanmu melukai Paman Josh!" Dengan membabi buta, Mikel menendang tubuh anak buah Todd yang masih tersungkur itu, menggeliat kesakitan ketika tendangan demi tendangan menghantam tubuhnya.
"Sudah Tuan Muda Mike hentikan, dia sudah tidak bergerak." Josh menahan bahu Mikel, bisa dipastikan jika pria itu sudah merenggang nyawa.
Deru napas Mikel masih naik turun, ia menatap wajah tua Josh yang selama ini selalu menemani dirinya dan Meisha. Tentu ia tidak akan terima siapa pun melukai Josh.
Sid melihat keduanya, ia segera mendekati mereka. "Mikel, sebagian melarikan diri bersama dengan Pablo. Sisanya sudah kami bereskan dan...." Lalu pandangannya Sid terarah pada sosok Arthur dan Darren, yang tentu saja ia mengenali mereka yang merupakan bagian dari Black Lion. Sebelumnya Sid mendapatkan bantuan dari Darren pada saat ia kewalahan menghadapi para anak buah Todd dan Pablo bersamaan, tetapi pria itu cepat tanggap dan mengambil alih. "Apa kau meminta bantuan kepada mereka?" tanyanya kemudian tanpa melihat ke arah Mikel dan hanya tertuju kepada Arthur serta Darren.
"Tidak, mereka datang atas keinginan mereka sendiri untuk membantu kita," sahut Mikel menjelaskan. Pandangannya pun tertuju pada Arthur dan Darren secara bergantian.
Sid mengangguk, ia tidak terkejut lagi. Pasalnya selama ini ia pun selalu mengawasi Arthur atas suruhan dari Mikel. "Kalau begitu kita harus menemukan Pablo, aku yakin mereka kembali ke markas."
"Hm, pergilah lebih dulu. Aku dan Paman Josh akan menyusul kalian."
Sid kembali mengangguk, tanpa pikir panjang mengerahkan anak buah untuk bergegas menuju Markas Mocro yang perlu di tempuh setidaknya satu jam.
Melihat kepergian Sid berserta seluruh anak buah yang tersisa, Mikel menyuruh Josh untuk berdiri menunggunya, sementara ia berjalan mendekati Arthur serta Darren.
"Terima kasih kalian sudah membantuku. Tapi aku harus segera pergi dari sini, aku yakin Pablo akan melarikan diri," ucap Mikel tidak enak hati. Sungguh sejujurnya ia sangat malu karena terlihat begitu lemah dan Arthur datang disaat waktu yang tidak tepat, ketika dirinya nampak tidak berdaya. "Dan sebaiknya kalian segera pergi, aku berterima kasih, sungguh. Tapi aku tidak ingin melibatkan kalian, karena kalian bisa terluka, Todd dan Pablo tidak bisa diremehkan."
Mikel tersenyum tipis, sebelum kemudian menghembuskan napas panjang ke udara. "Baiklah, aku tidak bertanggung jawab jika salah satu di antara kalian terluka ataupun tewas. Bahkan aku tidak bisa menjamin jika diriku akan selamat."
"Jadi itu sebabnya kau memutuskan Elie?" Suara Arthur kembali menyahut, terselip penuh ejekan. Ternyata alasannya meninggalkan Elie hanya karena pria itu takut jika dirinya tidak kembali dengan selamat.
"Aku tidak memutuskannya!" bantahnya. "Aku hanya mengizinkannya berkencan dengan pria lain sebelum aku kembali dan aku tidak ingin membuat Elie semakin mencemaskanku. Apalagi jika aku tidak kembali."
"Tapi kau sudah membuatnya mencemaskanmu bodoh!" Arthur geram, rasanya ingin sekali memukul kepala Mikel yang entah apa di dalam kepalanya itu. "Dan kau menyuruhnya berkencan dengan pria lain, tetapi kau justru tidak membiarkan pria mana pun menyentuhnya!"
"Kau pasti menyembunyikan alat perekam pada saat itu." Mikel tersenyum kecut, tidak menyangka jika Arthur akan melakukan demikian. Pantas saja ia merasa begitu mudah mendatangi apartemen Veronica. "Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuh wanitaku dan aku akan membunuh siapapun itu!"
"Seperti itulah dirimu, kau selalu mengatakan jika Elie hanya milikmu. Tapi apa kau pikir Elie akan dengan mudah menerimanya? Aku sangat mengenal adikku, jika dirinya merasa sudah tidak lagi diinginkan, maka dengan mudahnya dia akan berpaling. Kau ingat hal itu baik-baik!" Dengan sengaja Arthur memanasi Mikel. Benar saja bibir Mikel terbungkam, pria itu tidak berpikir sampai ke arah sana.
"Siaalll!" Mikel meruntuki dirinya. "Elie tidak mungkin seperti itu," gumamnya. Menanamkan pikiran positif mengenai Elie. Tetapi bagaimana jika Elie benar-benar berkencan dengan pria lain dan mencampakkan dirinya?
Arthur tertawa puas di dalam hati, mudah sekali membuat Mikel menjadi panas jika menyangkut dengan Elie. "Dan kau Mungkin bisa mengelabui semua orang, tetapi tidak dengan dirimu. Apa kau lupa jika kau memiliki luka di perut dan bagian lenganmu?" Fakta lainnya yang membuat kecurigaan Arthur semakin menjadi adalah luka di bagian lengan kiri Mikel. Luka sayatan memanjang itu adalah akibat perkelahian yang mereka hadapi bersama ketika di kepung oleh segerombol preman di saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah.
Mendengar perkataan Arthur, Mikel reflek menyentuh luka di lengannya itu tanpa menyurutkan rasa cemas
tatkala terusik dengan perkataan Arthur sebelumnya.
Aku benar-benar sudah meremehkan kakak beradik itu, mereka benar-benar tidak bisa dihadapi dengan mudah. Dan kau Sweetheart, aku yakin kau tidak akan mungkin berpaling dariku, batinnya.
"Baiklah, sejak awal aku sudah ketahuan. Aku akui jika kau dan Elie begitu memperhatikanku, sehingga kalian masih ingat dan hafal bagian tubuhku yang terluka." Masih berusaha untuk tetap tenang, tetapi jauh di dasar hatinya, emosi Mikel ingin meledak dan bahkan ia ingin menemui wanita itu saat ini juga. Sejujurnya Mikel terharu, namun ia merasa geli pada saat mengatakannya. Tidak masalah jika selama ini Elie yang memperhatikan dirinya, tapi come on, Arthur? Ia khawatir jika Arthur menyimpang.
"Cih, aku tau apa yang kau pikirkan?!" Arthur kembali melayangkan tendangan pada tulang kering kaki Mikel. "Aku sudah menikah dengan Helena dan kupastikan jika kau tidak akan bisa mengambilnya dariku!" katanya penuh peringatan dengan kilatan mata yang menajam seolah peringatannya itu tidaklah main-main.
"Ck, baiklah. Dia milikmu dan Elie milikku!" seru Mikel menegaskan kepemilikannya. Rasanya kalimat itu tidak mampu menenangkan hatinya yang tengah gelisah memikirkan Elie disana.
"Mau sampai kapan kalian seperti ini? Bukankah lebih baik kita segera menyusul mereka?!" Suara Darren menyambar dan memecah perdebatan tidak penting keduanya.
"Ah, kau benar Der." Mikel tersadar, ia pun segera berbalik badan menemui Josh. Disusul oleh Arthur serta Darren yang menyusul di belakang. Mereka memasuki mobil yang berbeda menuju tujuan yang sama.
To be continue
Mohon maaf ya Yoona baru sempet up, bocil Yoona lagi sakit udah tiga hari tapi Alhamdulillah ini udah mendingan.
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...