The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Harus Segera Sadar



Beberapa jam sebelumnya


"Mikel, ada apa denganmu?" Helena berjalan menghampiri Mikel, terlihat wajah pria itu yang sedikit frustasi.


"Jangan mendekat!" Mikel mengangkat tangannya, menahan Helena agar tidak berjalan semakin mendekat ke arahnya. "Menyingkirlah dariku, Helen!" Ia hanya tidak ingin jika Elie melihat dirinya bersama dengan Helena dan semakin menjadi salah paham. Sudah cukup sikap wanitanya itu menjaga jarak dengannya.


Sikap Mikel kepadanya membuat kening Helena berkerut dalam, bingung dengan sikap Mikel yang selalu berubah-ubah. Namun Helena tidak ingin mengambil pusing, jika dulu ia akan selalu merasa tertantang untuk membuat masalah agar menarik perhatian Mikel, kali ini ia mengangkat kedua bahunya acuh.


"Jika kau lelah, sebaiknya beristirahat saja. Wajahmu benar-benar mengerikan. Kekasih tercintamu akan merasa takut saat melihat wajahmu seperti itu." Helena melewati Mikel begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang membuat Mikel terusik.


"Kau...." Mikel mengeram. "Wajahku ini tidak mungkin membuatnya ketakutan!" katanya berseru tidak terima.


"Ya.... Ya... terserah kau saja." Sungguh Helena malas menanggapi seseorang yang tengah jatuh cinta. Ia lebih baik melanjutkan langkahnya, tidak pedulikan Mikel yang juga hendak berlalu. Keduanya saling memunggungi dan berjalan berlawanan arah, langkah Helena menuju pada lobby rumah sakit, sementara Mikel mengayunkan langkah menuju parkiran mobil.


"Jadi yang berada di ruangan itu adalah Arthur?" Suara Mikel yang baru saja menerima panggilan dari seseorang menghentikan langkah Helena. "Dan dia sudah koma selama empat hari?" sambungnya kemudian. Terdengar suara penuh keterkejutan ketika mendengar laporan dari anak buahnya di seberang sana. Mikel baru mengetahui berita tersebut, ia berpikir jika Elie sedang menemani temannya yang bernama Veronica. Pantas saja ruangan Arthur di penuhi banyak orang, ternyata Arthur dalam kondisi kritis. Saat ini Elie pasti sangat sedih dan ia menghilang tanpa kabar karena keadaan Meisha yang kembali mengakhiri hidupnya dan harus dilarikan ke rumah sakit besar di Kota Wales.


Sedari tadi Helena menelinga pembicaraan Mikel, batinnya bertanya-tanya, apakah Arthur yang dibicarakan adalah Arthur pewaris Keluarga Romanov? Untuk memastikannya, Helena memutar tubuhnya dan segera melangkah menuju posisi Mikel, pandangannya mengedar mencari sosok Mikel. Namun pria itu sudah tidak terlihat. Akhirnya Helena melanjutkan langkahnya kembali, ia memiliki jadwal periksa terakhirnya hari ini sebelum ia kembali ke Paris minggu depan.


***


Setelah selesai memeriksakan diri, Helena keluar dari ruangan dokter psikolog. Dokter Oscar yang selama ini merupakan kerabat Arthur. Wanita itu tidak mengetahui hubungan dekat yang terjalin antara Arthur dengan Dokter Oscar.


"Suster, untuk satu jam ke depan aku tidak bisa menerima pasien," ucap Dokter Oscar begitu menutup rapat ruangannya setelah pasien terakhir di tangani. Ia bicara dengan seorang perawat yang berjaga di depan ruangannya


"Baik Dokter," sahut suster wanita tersebut. "Tapi apa Dokter akan pulang sekarang?"


Dokter Oscar menggeleng. "Aku hanya ingin melihat kondisi temanku. Sudah empat hari dia masih belum sadarkan diri."


"Tuan Arthur?" Perawat itu bertanya memastikan.


"Hem...." Dokter Oscar mengangguk tanda mengiyakan. "Jangan menyebarkan berita apapun mengenai Keluarga Romanov jika kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu?!" Dokter Oscar sedikit memberikan ancaman kepada perawatnya itu. Bukan sengaja menakuti-nakuti, tetapi hanya tidak ingin kondisi Arthur menjadi konsumsi mereka dan pada akhirnya terdengar oleh wartawan yang pasti akan menjadi topik hangat dan akan membuat gencar seluruh benua Eropa.


"Ba-baik Dokter, saya akan tutup mulut dengan rapat." Sembari mengunci mulutnya dengan jarinya, tentu ia tidak ingin kehilangan pekerjaan karena menyebarkan berita mengenai pewaris keluarga besar itu.


Dokter Oscar mengangguk, ia kemudian segera berlalu meninggalkan ruangannya. Langkahnya menuju Helena yang masih berdiri mematung, wanita itu mencuri dengar pembicaraan Dokter yang menangani dirinya dengan seorang perawat.


Niat hati ingin bertanya tetapi bibirnya terasa membeku untuk bersuara, hingga Dokter Oscar melewatinya setelah menyapa melalui senyuman. Helena balas tersenyum, membiarkan Dokter Oscar lenyap dari pandangannya. Untuk apa ia mempedulikan pria yang nyaris membunuhnya itu? Tapi..... Helena menggigit bibir bawahnya, ia begitu penasaran dengan kondisi pria itu, terlepas apa yang dilakukan pria itu kepadanya beberapa hari yang lalu. Helena kemudian mengikuti langkah Dokter Oscar secara diam-diam, ia baru mengetahui jika Dokter itu ternyata mengenal Arthur.


Helena mengintip di balik dinding, melihat Dokter Oscar memasuki salah satu ruangan VIP Room. Tidak ada ruangan lain disana, sebab ruangan itu memang dikhususkan untuk orang-orang tertentu saja.


"Dia benar-benar pewaris Keluarga Romanov. Wajar saja sikapnya begitu dingin dan menyebalkan." Tanpa sadar bibir Helena mencebik sebal. Untuk pertama kalinya ia menyadari status mereka yang jauh berbeda.


Helena spontan bersembunyi ketika tidak berselang lama melihat Dokter Oscar keluar dari ruangan itu bersama dengan seorang wanita setengah baya yang masih nampak begitu cantik, meski kerutan kasar terlihat di antara sudut mata wanita setengah baya itu.


Matanya lamat-lamat memerhatikan keduanya yang berlalu dari ruangan. Entah mereka akan kemana, Helena tidak tahu, sebab arah yang berlawanan juga terdapat sebuah lift yang lain. Helena kemudian melangkah pelan mendekati ruangan tersebut. Ia tidak yakin untuk masuk, akan tetapi tubuhnya benar-benar berlawanan dengan isi pikirannya. Terbukti kini Helena sudah menutup pintu usai tubuhnya masuk ke dalam ruangan tersebut.


Mendorong pintu kaca tersebut, kemudian berjalan mendekati ranjang. Suara Ventilator memenuhi ruangan sehingga terdengar menggema, membuat ruangan itu kian mencekam.


"Apa yang terjadi denganmu?" lirihnya. Kedua matanya tidak henti meneliti tubuh Arthur dari kepala hingga ujung kaki yang terbungkus selembar selimut. Merasa teriris melihat pria gagah yang selalu berkata dingin kini terbaring lemah. Bahkan untuk bernapas saja perlu dibantu dengan alat bantu pernapasan.


"Aku harap kau segera sadar. Sayang sekali wajah tampanmu tertutupi oleh alat itu." Helena memperhatikan wajah Arthur yang sebagian tertutupi oleh selang yang menutupi hidung serta mulut pria itu.


"Jika kau sadar aku akan memaafkan dan melupakan bahwa kau pernah mencekikku sampai hampir mati. Bukankah setiap orang pernah melakukan kesalahan, begitu pun denganku, aku dulu sangat menyebalkan. Tapi berkat perkataanmu saat itu aku selalu berpikir ulang untuk menjadi menyebalkan lagi." Helena sedikit terkekeh saat mengingat pertemuan mereka kala di London Bridge yang membentangkan sungai Thames disana. Padahal saat itu dirinya tengah marah karena Mikel benar-benar tidak percaya padanya.


"Aku tidak tau apapun tentang cinta karena aku tidak pernah merasakannya. Tapi yang aku tau, jika pria itu mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu merendahkan dirimu sendiri."


"Lihatlah, kau terlihat menyedihkan karena menginginkan pria yang tidak pernah melihatmu."


Helena tersenyum kecut kala ingatan akan perkataan Arthur kembali berputar di kepalanya. Namun yang di katakan Arthur benar, jika dirinya sangat menyedihkan.


"Haaahhh...." Helena menghembuskan napasnya ke udara. Ia ingin membuang rasa sakit dan semua masa lalu yang menyesakkan. Kembali berpusat pada Arthur yang sepertinya mendengarkan dirinya berbicara. Jari Helena tiba-tiba mencubit lengan Arthur yang terbebas dari infus. "Jika kau mendengarku, kau harus segera sadar. Lihatlah, aku mencubitmu seperti itu. Apa kau tidak marah, hm? Jika kau marah, kau harus sadar dan membalasku secepatnya." Helena kemudian terkekeh, sungguh aneh menginginkan seorang pria untuk membalas perbuatannya itu. "Baiklah, aku harus segera pergi. Aku tidak ingin orang lain memergokiku seperti seorang pencuri." Mengulas senyum tipis, ia berbalik dan memunggungi Arthur, sebelum kemudian berlalu dari ruangan, tanpa memperhatikan jemari Arthur yang sedari tadi sedikit memberikan reaksi.


"Kau siapa? Apa yang kau lakukan di ruangan putraku?" Baru saja Helena keluar dari ruangan, wanita itu dibuat terjingkat ketika mendengar suara lembut seorang wanita paruh baya yang memergoki dirinya.


Helena segera menoleh, wanita yang sama yang dilihatnya berlalu bersama Dokter Oscar. Helena terpekik untuk beberapa saat ketika sebelumnya wanita setengah baya itu menyebut ruangan putranya. Itu artinya wanita ini adalah Mommy dari Arthur? pikirnya.


"Nyonya maafkan aku, sepertinya aku salah ruangan." Helena tersenyum manis, berusaha menutupi kesalahannya karena telah masuk tanpa izin. "Aku ingin menjenguk temanku, tapi yang aku lihat putra Nyonya terbaring di atas tempat tidur dan...."


"Putraku koma sudah empat hari ini." Elleana menyela ucapan Helena, menjelaskan sembari mengulas senyum tipis namun penuh kegetiran disana. Siapa yang tidak sedih jika melihat putranya dalam keadaan kritis seperti itu?


Helena dapat merasakan kepedihan yang dirasakan wanita setengah baya di hadapannya itu. "Nyonya, aku turut prihatin. Semoga putra Nyonya segera sadar." Telapak tangannya kemudian mengusap lengan Elleana. Sadar apa yang dilakukannya adalah sebuah kelancangan, Helena menarik kembali tangannya dari lengan Elleana.


"Terima kasih." Elleana tersenyum lembut. "Wanita yang sangat cantik," batinnya menatap lekat manik abu-abu milik wanita di hadapannya.


"Sama-sama Nyonya." Helena balas tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu." Lalu segera melenggang pergi usai berpamitan.


Elleana hanya bisa menatap punggung Helena yang perlahan lenyap di balik pintu lift. "Seharusnya aku bertanya namanya," gumamnya. Entahlah, Elleana merasa tertarik dengan Helena, padahal ia baru pertama kali bertemu dengan wanita muda itu.


To be continue


Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...