
Percakapan keluarga yang dipenuhi canda tawa itu terjeda sejenak ketika Mommy Millie menceritakan perihal perjodohan Darren dengan Keluarga Oda yang berasal dari Jepang. Mommy Elleana yang baru saja kembali mengantarkan Granny Marry dan Granpa Jhony ke kamar untuk beristirahat, lantas kembali bergabung di ruang keluarga.
"Jadi mereka mengajukan perjodohan untuk Darren, Millie?" Mommy Elleana memastikan pendengarannya.
"Benar Elle. Aku dan Jack sampai terkejut. Bahkan Brian mengatakan jika Tuan Hiroki Oda dan putrinya yang bernama Keiko akan datang ke London," sahut Mommy Millie memberitahu apa yang disampaikan oleh Brian.
"Apa?" Mommy Olivia yang sejak tadi menyimak tiba-tiba terkejut. "Ternyata mereka benar-benar ingin menjadikan Darren sebagai menantu."
"Lalu bagaimana dengan Darren? Apa Darren sudah mengetahui perjodohan mereka?" Kali ini Mommy Angela yang begitu penasaran. Ia tahu benar bagaimana sikap Darren, tidak jauh berbeda dengan Arthur.
Mommy Millie mengangkat kedua bahunya. "Der sudah menolaknya melalui Brian. Tetapi entahlah, Keluarga Oda ingin membicarakannya pada kami."
"Mereka benar-benar berusaha keras untuk menjadi besan kalian." Elleana menanggapi dengan kekehan, menggoda Millie.
"Tapi mungkin saja Darren membutuhkan waktu untuk menerima perjodohan mereka." Jennifer turut menimpali. Rasanya ia begitu penasaran dengan percintaan Darren yang tidak pernah mereka dengar. Dan berharap dengan perjodohan ini, keponakannya itu akan membuka pintu hatinya untuk seorang wanita.
"Ya, mungkin saja. Tetapi aku tidak akan memaksa putraku. Der baru akan berusia 25 tahun. Aku tidak akan memaksanya untuk menikah muda." Mommy Millie memikirkan keputusan Darren. Putranya itu masih muda dan ia akan membiarkan Darren untuk memilih pilihannya sendiri. Meskipun ia dan suaminya Jack tidak yakin, mengingat sikap putra mereka yang tidak pernah memikirkan wanita manapun.
"Wah, ada apa ini? Jadi Darren menerima perjodohannya dengan wanita Asia itu?" Tiba-tiba Daniel menyambar percakapan para wanita. Dan segerombolan pria yang datang dari halaman turut bergabung dengan istri-istri mereka.
"Jangan bicara sembarangan." Jack menimpuk kepala Daniel dengan bantal sofa ketika temannya itu baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa. "Aku belum menerima ataupun menolak perjodohan ini. Hanya saja aku perlu bicara dengan mereka. Bukan untuk masalah perjodohan saja, tetapi juga masalah Klan Shogun Young."
"Bukankah Darren sudah menolaknya?" ujar Xavier mengingatkan percakapannya dengan Jack satu hari sebelumnya. "Kau jangan memaksanya, biarkan Darren memilih wanita yang ingin dia nikahi," sambungnya.
"Ck, aku tidak pernah memaksa Der untuk menerima perjodohan dengan Keluarga Oda, bos," sahut Jack menyanggah.
"Sama saja, bodoh!" seru Xavier. "Kau mengizinkan mereka untuk datang ke London. itu artinya ada kemungkinan kau mempertimbangkan mereka."
"Bos Benar. Bisa saja mereka berharap pada perjodohan putrinya dengan Darren," timpal Keil sependapat dengan bosnya yang tidak lain adalah Xavier.
"Seharusnya kau langsung menolaknya saja. Kau pikir Darren tidak bisa mencari wanitanya sendiri?!" Kali ini Nico berseru. Rasanya ia tidak setuju dengan pemikiran Jack yang tidak menolak tegas. Ia serta yang lainnya tahu benar bagaimana sikap Darren.
Jack yang tiba-tiba diserang seperti itu hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Padahal ia hanya mempertimbangkan niat baik Keluarga Oda. Meskipun hubungannya dengan Brian tidak berjalan dengan baik. Lebih tepatnya ia masih kesal dengan kelakuan Brian di masa lalu yang menginginkan Millie.
"Hahahahaha...." Gelak tawa Zayn seketika menggema di dalam suasana yang sedikit mencekam itu. "Sudahlah, jika wanita yang dijodohkan dengan Darren sangat cantik, terima saja. Tidak ada salahnya, bukan? Jika di tolak, lebih baik untukku saja."
"Zayn! Kau ingin menikah lagi?!" Angela menegur suaminya itu, tidak lupa kedua matanya melototi suaminya dengan tajam.
Zayn menggeleng. Ia harus segera mengoreksi ucapannya sebelum istrinya itu murka. Bisa gawat jika ia harus tidur tanpa memeluk sang istri tercinta. "Bukan untukku sayang, tapi untuk Jacob. Bukankah putra kita itu lajang seumur hidupnya."
"Zayn, Jacob masih muda. Dia baru akan 22 tahun, jadi wajar saja jika masih ingin menikmati masa mudanya." Lagi-lagi Angela memprotes perkataan suaminya itu. Ia tidak setuju jika Jacob dijodohkan.
Zayn terkekeh, ia menjadi menciut seketika. Jika Nyonya sudah berbicara, maka ia hanya perlu mengiyakan saja. "Iya sayang, terserah padamu saja. Kita akan menikahkan Jacob di usianya sudah menginjak 30 tahun atau 40 tahun. Tidak masalah," ujarnya pada akhirnya mengalah. Tetapi sungguh berkata dengan asal dan sukses kembali mendapatkan tatapan tajam dari sang istri. "Ck, salah lagi," batinnya meringis.
"Hahahaha..." Kali ini tawa Edward yang meledak. "Jika menikah di usia 40 tahun, aku tidak yakin Jacob bisa bertahan membuat anak."
"Heh, jangan meragukan keturunan Scott, usiaku sudah 50 tahun, tapi aku bisa membuat anak lagi." Zayn tidak terima. Tidak ada yang boleh meremehkan keturunannya.
"Spermamu sudah kadaluarsa. Kau pikir bisa membuat Angel hamil lagi, heh?!" seru Xavier mencibir dengan tatapan mencemooh.
"Heh, aku masih sangat kuat. Spermaku berkualitas premium. Jika saja Angel bersedia hamil lagi, aku sudah pasti memiliki sebelas anak." Perkataan absurd Zayn membuat Angela menutupi wajahnya karena malu. Suaminya itu benar-benar tidak pernah dipikir terlebih dulu jika berbicara.
"Kau akan membentuk sepak bola, Zayn?" cibir Edward terkekeh.
"Benar. Dan aku akan menendang kepalamu!" Zayn menyahut kesal. Tentu saja itu tidak mungkin, sebab Angela sudah tidak bisa mengandung lagi, karena istrinya itu melakukan pengangkatan rahim. Sehingga ia bisa puas bercinta tanpa memikirkan kecebongnya akan tumbuh.
Semua yang disana tergelak melihat kekesalan di wajah Zayn. Mereka selalu menikmati perdebatan para pria jika sedang berkumpul.
"Aprille, kau akan terbiasa dengan mereka," kata Elleana kepada Aprille yang duduk di sisinya.
"Benar, mereka memang seperti itu jika sudah bertemu. Selalu ada perdebatan tidak penting." Millie menimpali.
Aprille terkekeh. Semenjak mengenal mereka, Aprille sudah mulai terbiasa dan menikmati kebersamaan mereka. Terlebih ia bisa melihat wajah suaminya Matthew yang tertawa, meski tanpa suara. Ya, seharusnya Matthew berada di rumah sakit, karena keesokan harinya akan menjalani operasi. Akan tetapi berita bahagia yang mereka dengar tidak ingin mereka lewatkan. Sehingga memutuskan untuk menunda operasi. Mike pun tidak keberatan, putranya itu justru sudah menjadwalkan ulang operasi suaminya minggu depan.
Veronica duduk mematung di tempatnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu ia bergabung disana, ia tidak begitu menanggapi perkataan yang lainnya. Hanya sesekali menyahut ketika mereka bertanya padanya.
"Vero, ada apa?" Sejak tadi Elie menyadari jika teman baiknya itu tidak dalam mood yang baik.
Veronica menoleh ke arah Elie, lalu menyelipkan senyuman. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja. Kau tau, aku baru pulang dini hari."
Elie mengangguk ragu. Entahlah, ia tidak yakin. Sebab meski kelelahan sekalipun, Veronica akan tetap cerewet.
"Wah, jadi ini wanita yang akan dijodohkan dengan Kak Der?" Entah siapa yang lebih dulu memulai, tiba-tiba saja Livy berseru dengan decakan kagumnya. Seperti Daniel, Livy memiliki sifat yang heboh.
"Benar. Cantik sekali, bukan?" kata Kimberly. "Lihatlah lipatan matanya, kecil sekali."
"Wanita Asia memang seperti itu," sahut Freya menatap lekat foto yang berada di dalam galery milik Kimberly, putri dari Nico.
"Namanya, Keiko yang berarti keberuntungan dan kebahagiaan," ujar Greisy, putri dari Keil.
"Wah, mungkin dia adalah wanita yang bisa memberikan Kak Der kebahagiaan." Livy kembali berseru antusias.
Jika kelima gadis itu mengangumi kecantikan Keiko, berbeda dengan Veronica yang diam-diam menajamkan telinga untuk mencuri dengar percakapan mereka.
"Ck, Keiko. Namanya aneh sekali," batin Veronica mencibir tidak suka. "Lebih bagus namaku Veronica yang artinya....." Jeda sejenak, Veronica nampak berpikir, ia tidak tahu apa arti namanya itu. "Aish, kenapa aku lupa arti namaku sendiri," runtuknya kemudian dalam hati.
"Aku ingin melihat foto Keiko. Memang wajahnya seperti apa?" Elie tiba-tiba saja menyambar ponsel milik Kimberly. Dilihatnya dengan seksama foto wanita Asia itu. "Cantik...." Dan satu kata itu membuat hati Veronica semakin panas. Kenapa teman baiknya justru memuji rivalnya? pikirnya.
"Helen, coba kau lihat. Apa menurutmu wanita ini cocok dengan Darren?" Elie menunjukkan foto Keiko kepada Helena.
Kakak iparnya itu tersenyum, sebelum berkata, "Dia sangat cantik, tapi kita tidak tahu selera Darren seperti apa, bukan?"
"Ah, kau benar." Elie mengangguk setuju. Bisa saja Darren tidak menyukai wanita Asia.
"Seleranya tentu saja diriku." Tentu saja Veronica hanya dapat berucap dalam hati.
"Vero, apa kau ingin melihat foto Keiko. Lihatlah." Sebelum Veronica menjawabnya, Elie sudah lebih dulu memberikan ponsel itu padanya, sehingga wajah Keiko memenuhi layar ponsel tersebut.
Veronica tersenyum kaku. "Hm, dia cantik." Dua kata yang mewakili perasaannya. Entahlah, ia tidak benar-benar memuji wanita itu. Ayolah, wanita itu adalah rivalnya. Mana mungkin ia memujinya. Big No. Tetapi tidak mungkin Veronica berkata yang berlawanan, semua yang disana sudah pasti mempertanyakan dirinya.
Lantas Veronica memberikan ponsel itu kepada Elie. Ia tidak ingin melihat wajah wanita itu lebih lama lagi. Walaupun ia mengakui kecantikannya, tetapi ia merasa jika dirinya lebih cantik. Tanpa sadar Veronica membuang pandangannya ke arah lain dan tidak sengaja pandangannya bertemu dengan Darren. Hanya seperkian detik saja, sebelum akhirnya Veronica membuang muka.
Darren yang tidak tahu apapun menukik tajam kedua alisnya. "Ada apa dengannya?" batinnya bertanya.
To be continue
Fyi :
Freya : Putri dari Edward
Kimberly : Putri dari Nico
Livy : Putri dari Daniel
Greisy : Putri dari Keil
Mereka ngumpul disinilah. Ini Mansionnya. Yang mau gabung silahkan 😂
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...