
Sementara Arthur masih berada di perusahaan, memeriksa dokumen-dokumen yang selama berada di Ibiza Spanyol tidak disentuh olehnya. Semua dokumen penting telah ia pelajari dan ia bubuhi tanda tangannya, sehingga mengabiskan waktu beberapa jam dan melupakan istrinya yang tengah menunggu dirinya.
Arthur memeriksa ponsel miliknya yang ternyata kehabisan daya. Ia baru menyadari jika sudah meninggalkan Helena begitu lama, yang berjanji pada awalnya hanya pergi sebentar saja.
"Der, aku harus pulang." Arthur segera beranjak berdiri, ia menyambar jas yang dilampirkan pada kursi. "Kenapa kau tidak mengingatkanku?!" Arthur justru malah menyalahkan Darren yang tidak mengingatkan dirinya. Ia selalu saja seperti itu jika sudah bekerja, maka akan lupa waktu.
"Satu jam yang lalu aku sudah mengingatkanmu Ar tapi kau mengabaikanku dan tetap melanjutkan pekerjaanmu." Ya, Darren sudah mengingatkan berulang kali, namun Arthur tetap saja bersikukuh ingin menyelesaikan dua dokumen dan justru berakhir hingga larut seperti ini.
"Ck, bodoh. Jadi kau menyalahkanku?!" Arthur tidak terima, ia tetap menyalahkan Darren. "Jika Helena marah padaku, kau harus bertanggung jawab!" ujarnya sambil berlalu dari ruangannya.
"Baiklah." Darren mendesaah pasrah, ia kemudian mengekori Arthur keluar dari ruangan.
Di sepanjang perjalanan Arthur tidak tenang, memikirkan Helena yang mungkin saja lebih memilih berdiam di dalam kamar dan bersembunyi di balik selimut. Darren sudah menambah kecepatan penuh atas perintah Arthur yang begitu cerewet malam ini. Namun mobilnya tiba-tiba saja dilintasi oleh mobil yang tidak asing. Arthur dan Darren menyadari mobil sport ferrari merah tersebut, mereka ingat benar plat nomor mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu.
"Der, bukankah itu mobil Elie?" kata Arthur memastikan.
"Mobil itu memang benar milik Nona Elie, Ar." Darren menyahuti tanpa mengurangi kecepatan mobilnya, bahkan ia mengikuti jejak mobil Elie, namun tiba-tiba saja dari arah belakang, mobil sedan lainnya menghantam mobil milik Elie.
"Damn!" Arthur mengumpat kesal, ia dapat melihat jelas bagaimana mobil itu berusaha untuk mencelakakan adiknya. "Der, kejar mobil sialan itu!" ujarnya memberi perintah.
"Baik Ar." Darren menginjak pedal gas lebih dalam lagi, ia mengikuti jejak mobil sialan itu. Hingga kini ia menemukan jejak mobil tersebut yang masih saja berusaha mengekor di belakang mobil Elie.
Darren menyalip ke kanan, sehingga mobil itu menghindari hantaman mobil yang tiba-tiba saja menghalangi jalannya. Melihat jika ada seseorang yang membantu target mereka, salah satu pria di dalam mobil tersebut menghubungi seseorang. Dan Arthur segera membuka kaca mobil, berteriak kepada Elie untuk membuka penutup atap mobil yang berbahan plat. Dari balik kaca, Elie terlihat mengangguk, bergegas ia mengikuti arahan Arthur. Atap mobil sport Elie terbuka, kecemasan yang dirasakan Elie seketika lenyap dan sedikit merasa lebih aman ketika sudah ada Arthur serta Darren. Meskipun ia tahu jika mereka masih berada dalam bahaya.
"Pelankan mobilmu!" Arthur kembali berteriak, ia menyembulkan sebagian tubuhnya pada jendela yang terbuka lebar.
"Kak Ar, apa yang kau lakukan?!" Elie berseru kaget tatkala melihat Arthur yang siap untuk melompat ke dalam mobilnya.
"Kau menyetir saja yang benar!" sahut Arthur berteriak.
"Tapi kak..." Elie masih memprotes tindakan kakaknya tersebut.
"Diam!" Arthur membentak, ia menoleh ke belakang dimana seseorang siap menodongkan senjata kepadanya. "Der, lebih cepat lagi!"
Darren melirik pada kaca spion, ia menancapkan gas lebih dalam hingga Arthur berhasil melompat dan mendarat sempurna ke dalam mobil Elie. Sungguh Elie dibuat jantungan, jika saja ia tidak menginjak pedal rem, mungkin kakaknya sudah terjatuh dan terpelanting. Peluru yang bermaksud ingin menghantam Arthur melesat dan hanya mengenai kaca mobil yang dikendarai oleh Darren. Beruntung mobil Darren memiliki anti peluru, sehingga tidak menembus ke dalam mobil.
"Jangan kurangi kecepatan mobilnya dan jangan menoleh ke belakang." Bukan tanpa alasan Arthur mengatakan demikian. Jika Elie melihat ke belakang, pasti akan membuat panik melihat beberapa mobil yang sudah siap menyerang mereka.
Elie hanya mengangguk dan menurut. Ia benar-benar tidak menoleh meskipun suara letupan senjata yang saling bersahutan memekakkan telinganya. Wanita itu sesekali merunduk ketika peluru nyaris mengenai kepalanya.
Arthur geram, ia membalas serangan beruntun itu dengan memuntahkan beberapa peluru. Meskipun Darren berada tidak jauh dari posisinya, tetap saja mereka kalah jumlah, sebab para anak buah Black Lion belum terlihat.
Satu mobil, dua mobil berhasil ditumbangkan oleh Arthur. Senjata andalannya memang akan lebih mudah melesat dari senjata yang lainnya. Terlebih mobil beberapa di antara mereka tidak anti peluru.
Menyaksikan kelihaian menembak Arthur serta Darren, mereka nampak tidak terima. Berusaha menyerang bersamaan, tetapi tetap saja gagal.
Dor
Dor
Peluru dari arah lain berhasil membuat salah satu mobil di antara mereka kehilangan keseimbangan dan nyaris terguling. Arthur mendapati beberapa mobil anak buah Black Lion yang melaju, menghimpit mobil lawan yang berusaha menyerangnya.
Karena sudah diambil alih oleh beberapa anak buah yang menyerang secara bertubi-tubi, mobil yang dikendarai oleh Elie dapat melarikan diri. Sementara Darren pun mengekori mobil Elie. Di tengah perjalanan yang sudah nampak lenggang, Elie mengurangi kecepatan, hingga kemudian wanita itu menghentikan laju mobilnya. Sebab Arthur berseru marah kepadanya dan menyalahkan Mikel atas penyerangan yang baru saja terjadi.
"Sekali lagi kukatakan, jauhi Mikel! Kau selalu saja celaka sejak bersamanya!" Teriakan Arthur mengguncang telinga Elie, menggiring rasa emosi pria itu.
"Sudah kukatakan, penyerangan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Mikel!" Elie memukul stir kemudi.
"Tidak! Bukan karena Mikel. Belum tentu mereka adalah musuh-musuh Mikel!" Elie berteriak, ia segera turun dari mobil menghindari kontak mata dengan sang kakak.
"Lalu menurutmu siapa, heh?!" Suara Arthur tidak kalah meninggi, ia pun turun dari mobil.
"Dengar Kak, aku mengenal Mikel. Jika memang mereka benar-benar musuhnya, Mikel pasti akan melindungiku dan tidak akan membiarkan diriku terluka!"
Arthur tersenyum kecut mendengarnya. "Lalu dimana dia saat ini? Dimana dia, Elie? Dimana pria yang kau bilang akan melindungimu itu? Kau hampir saja mati tertembak. Bagaimana jika aku dan Darren tidak melihatmu di jalan tadi?! Kau pikir nyawamu ada puluhan, hah?!" Arthur mengerang frustasi, ia sungguh mencemaskan adiknya, tetapi Elie justru bersikukuh membela Mikel.
Elie membungkam bibirnya dengan rapat. Arthur benar, ia nyaris mati. Biasanya beberapa anak buah Mikel mengawasi dirinya dari kejauhan, entah kemana perginya mereka. Sementara Darren tidak ingin terlibat dalam pertikaian kakak beradik itu, ia berdiri di sisi mobil sembari memperhatikan.
"Sebaiknya mulai saat ini kau jauhi dia!" Arthur tetap pada keputusannya. Yang ia lakukan saat ini demi keselamatan Elie.
Elie menghembuskan napas kesal. Ia menatap Arthur untuk sesaat, meskipun tidak terima dengan keputusan Arthur, Elie tidak bisa membantah. Tidak ingin berdebat lagi, Elie melesat menuju mobilnya untuk mengambil tas, lalu melangkah menuju mobil Darren.
"Der, antarkan aku menuju apartement Vero," ucapnya kepada Darren dan segera masuk ke dalam mobil tanpa pedulikan Arthur.
Darren menimbang permintaan Elie, kemudian pandangannya menemui Arthur yang menganggukkan kepala.
"Pastikan Elie benar-benar masuk ke dalam apartement Veronica," katanya kepada Darren, sebelum kemudian Arthur masuk ke dalam mobil, mengemudikan mobil milik Elie. Ia segera pergi dan melaju dengan kecepatan tinggi. Emosinya masih tidak terkendali untuk saat ini. Ia cemas jika kembali ke Mansion dalam keadaan emosi, akan berdampak pada Mommy Elleana serta Helena.
Begitu mobil yang dikendarai oleh Arthur lenyap dari pandangannya, Darren masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil menuju apartement Veronica. Tidak ada percakapan selama di perjalanan, baik Elie dan Darren sama-sama terdiam, sehingga beberapa menit lamanya, mobil Darren memasuki pelataran apartement Veronica.
Elie turun dari mobil disaat mobil sudah terpakir sempurna. Wanita itu meninggalkan Darren masuk terlebih dahulu, membuat Darren mempercepat langkahnya mengimbangi Elie.
Begitu berada di unit apartement Veronica, Elie menekan tombol bel berulang kali dengan penuh ketidaksabaran. Hingga menunggu beberapa saat, pintu apartement terbuka dan menampakkan wajah Veronica yang terkejut dengan kedatangan Elie. Sebab wanita itu tidak memberi kabar terlebih dahulu jika akan datang ke apartementnya. Terlebih di belakang Elie terdapat sosok Darren dengan wajah datarnya.
"Elie, kenapa tidak memberi kabar padaku?" Namun pertanyaan Veronica bagaikan angin lalu saja, Elie tidak menghiraukan dan melesat masuk melewati tuan rumah. "Ada apa dengannya?" tanya Veronica kepada Darren.
"Izinkan Nona Elie menginap di apartment Nona," kata Darren membuka suara.
"Aku selalu mengizinkan Elie menginap di tempatku kapanpun dia inginkan." Veronica merasa tersinggung, apa ia terlihat sebagai teman yang jahat dan tidak memperbolehkan Elie menginap di apartemen miliknya? pikirnya.
Darren tidak menanggapi. Ia hanya mengangguk saja, sebelum kemudian Veronica menutup pintu apartement usai Darren pamit undur diri. Namun tiba-tiba saja Darren menahan pintu itu.
"Jaga Nona Elie dengan baik."
Veronica memutar bola matanya. "Aku akan menjaganya dengan baik." Sembari memaksakan senyumnya. Lalu menutup pintu, akan tetapi Darren kembali menahan pintu itu, sehingga membuat Veronica mendengkus kesal.
"Jika kau tidak percaya padaku, silahkan kau menginap dan memastikan keadaan Elie." Veronica kemudian membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan Darren untuk masuk ke dalam apartement miliknya.
Darren kembali tidak menanggapi. "Jangan membuka pintu untuk siapapun. Anak buahku akan mengawasi dan berjaga-jaga di sekitar sini." Setelah mengatakan hal demikian, Darren menundukkan kepala, memberikan hormat kepada Veronica, sebelum kemudian berlalu pergi dari sana.
Veronica hanya terperangah di tempat, memperhatikan punggung Darren yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia menutup pintu dengan kasar dan mendesis kesal. Darren mengatakan jika dirinya tidak diperbolehkan membuka pintu untuk siapapun tanpa diberitahu alasannya.
"Dasar pria aneh!" Bibir Veronica mencebik, ia mengayunkan langkah menuju kamarnya untuk menemui Elie.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...