
Austin dan kedua orang tuanya sedang menikmati sarapan. Setiap pagi, pria itu selalu menyempatkan waktu untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Semenjak Arthur dan Elie menikah dan tinggal bersama pasangan mereka masing-masing, Austin menyadari jika kedua orang tuanya sangat merindukan suasana sebelum-sebelumnya. Namun Daddy Xavier dan Mommy Elleana mencoba mengerti jika kehidupan Arthur dan Elie kini bukan lagi hanya tentang mereka saja. Terlebih Arthur yang harus ekstra menjaga Helena yang sedang hamil tua dan Mike, pria itu pun menjaga Elie dengan posesif karena kandungan Elie yang masih muda.
Langkah salah satu pelayan yang menghampiri membuat Austin lantas segera menoleh. Ia memang begitu peka pada suara disekitarnya dan itulah yang membuatnya dapat membaca niat seseorang yang berada disekitarnya. Contohnya saat pertama kali ia diperkenalkan dengan Maxime dan sudah mencurigai pria itu sejak awal sehingga memperingati Licia, tetapi gadis itu terlalu keras kepala hingga kejadian beberapa minggu lalu membuat gadis itu benar-benar baru percaya jika Maxime bukanlah pria yang baik.
Pelayan tersebut terkesiap saat ditatap tajam oleh Austin. Menyadari kedatangan salah satu pelayan, Daddy Xavier dan Mommy Elleana kompak menoleh.
"Ada apa?" tanya Mommy Elleana lembut.
Pelayan tersebut tiba-tiba saja menjadi gugup. Ia bahkan sengaja tidak membiarkan matanya bertemu pandang dengan Tuan Muda Austin. Meski terkadang sangat ramah, tetapi Tuan Mudanya itu juga terkadang menguarkan aura yang menyeramkan.
"Maafkan saya jika mengganggu Tuan, Nyonya dan Tuan Muda,"
"Tidak masalah. Katakan saja, ada apa?" Mommy Elleana mengerti jika salah satu pelayan wanita itu tertakut-takut untuk menyampaikan sesuatu, sebab suaminya memang melarang siapapun mengganggu saat sedang berada di meja makan.
"Hm, di depan ada Tuan Ar dan Nyonya Helena." Akhirnya ia mengucapkan tujuannya mengganggu acara sarapan.
"Benarkah?" Mommy Elleana berseru senang. "Kalau begitu tolong siapkan piring yang lain untuk Ar dan Helen."
"Baik Nyonya." Buru-buru pelayan itu melarikan diri dari sana. Sudah cukup ia ditatap oleh empat pasang mata mematikan sekaligus.
"Aku akan menemui Ar dan Helen dulu," ujarnya penuh semangat. Jujur saja Mommy Elleana sangat merindukan putra dan menantunya itu.
Daddy Xavier mengangguk. Ia membiarkan sang istri menemui Arthur dan Helena terlebih dahulu.
Kedatangan Arthur dan Helena benar-benar membuat Mommy Elleana berlonjak kegirangan. Dan hal itu membuat Arthur hanya menggelengkan kepala heran.
"Mom, jangan memeluk Helen terlalu erat seperti itu." Arthur menegur Mommy-nya saat sang istri dipeluk begitu erat. Ia cemas jika kedua calon bayinya akan terhimpit.
"Astaga, maafkan Mommy." Mommy Elleana segera melepaskan pelukannya. Ia benar-benar lupa jika menantunya sedang mengandung.
Helena hanya tersenyum menanggapi. Padahal ia tidak apa-apa jika di peluk seperti itu, tetapi Arthur terlalu berlebihan dalam menjaganya.
"Bagaimana kabar kalian. Ah, terutama calon cucu-cucu Mommy." Begitu antusias saat menanyakan kabar mengenai kedua cucu-cucunya yang satu bulan lagi akan segera lahir.
"Mereka sangat baik, Mom," sahut Helena sembari mengusap perutnya yang sudah membesar.
"Ah, Mommy benar-benar tidak sabar menunggu kelahiran mereka."
"Sebentar lagi Mom, satu bulan lagi atau mungkin bisa lebih cepat dari itu." Arthur memberitahu. Saat ini usia kandungan Helena sudah berjalan 8 bulan. Dan dua hari yang lalu ia baru saja menemani sang istri memeriksakan kandungan.
Mommy Elleana terlihat mengangguk-angguk. "Mommy benar-benar sudah tidak sabar ingin melihat mereka. Pasti sangat menggemaskan."
Helena terkekeh. Dirinya pun sudah tidak sabar. Terlebih mereka begitu aktif bergerak di dalam perut dan terkadang membuat pinggangnya pegal-pegal. Beruntung ia memiliki suami yang selalu menjaga dirinya dan rela mengusap punggung dan pinggangnya yang terkadang pegal-pegal.
"Dimana Daddy dan As, Mom?" Helena bertanya karena tidak melihat keberadaan Daddy mertua dan adik iparnya.
"Ah, mereka sedang sarapan," jawab Elleana. "Kalian juga harus sarapan. Kebetulan sekali Mommy memasak makanan kesukaan kalian." Ya, karena ia merindukan Arthur dan Helena tanpa sadar memasak makanan kesukaan keduanya. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin karena tiba-tiba saja mereka datang tanpa pemberitahuan.
Helena mengangguk. "Baik Mom." Jujur saja meskipun ia sudah sarapan terlebih dahulu sebelum datang ke Mansion, akan tetapi ia begitu merindukan masakan Mommy mertuanya. Terlebih perhatian yang selalu diberikan oleh kedua mertuanya membuatnya benar-benar dilanda kerinduan.
Mommy Elleana menggandeng tangan menantunya ke ruangan meja makan, sedangkan Arthur mengikuti langkah kedua wanita yang teramat ia cintai itu.
Melihat Arthur dan Helena, Daddy Xavier dan Austin beranjak dari kursi mereka secara bersamaan.
Daddy Xavier memeluk putra sulungnya. "Bagaimana kabarmu, Son?" tanyanya usai mengurai pelukan.
"Baik, Dad." Jawaban Arthur membuat Daddy Xavier mengangguk, lalu pandangannya berpindah pada sosok Helena. "Dan bagaimana denganmu, putriku?"
Helena tersipu malu setiap kali Daddy mertuanya selalu memanggilnya dengan panggilan 'putriku'. "Sangat baik, Dad," jawabnya.
"Sudah, sebaiknya kita duduk dan habiskan semua makanan yang ada diatas meja." Jika sang ratu sudah berkata demikian, maka yang bisa mereka lakukan hanya patuh dan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda sebelumnya.
Suasana kian diselimuti rasa hangat. Jika beberapa jam lalu hanya dilingkupi keheningan, kini diselingi canda dan tawa Mommy Elleana dan Helena. Daddy Xavier yang melihat sang istri kembali ceria tentu saja menarik sebaris senyuman. Ia merasa senang saat tidak lagi mendapati wajah suram sang istri.
Usai sarapan, Mommy Elleana membawa Helena ke halaman belakangan. Kedua wanita cantik berbeda usia itu duduk sembari menikmati udara bebas dihalaman. Sedangkan Daddy Xavier, Arthur dan Austin memilih untuk bicara di ruangan kerja. Lebih tepatnya Arthur melancarkan tujuannya datang ke Mansion. Selain untuk melepas rindu, ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Untuk sementara aku ingin menitipkan Helen disini bersama kalian." Apa yang baru saja disampaikan oleh Arthur membuat Daddy Xavier dan Austin sontak terkesiap lantaran terkejut. Tidak ada hujan badai, tiba-tiba saja Arthur ingin menitipkan Helena pada mereka.
"Ada apa, Son? Apa kau memiliki masalah?" Kedua mata Daddy Xavier memicing penuh selidik. Tentu ia tidak masalah jika Helena menetap di Mansion, dengan begitu istrinya tidak lagi merasa kesepian. Namun yang membuatnya cemas adalah alasan putranya itu ingin menitipkan Helena di Mansionnya.
"Aku harus pergi ke Dubai untuk memastikan proyek perusahaan kita yang mengalami kendala dan juga beberapa pekerja yang tewas di lapangan kerja."
"Ah...." Kini Daddy Xavier paham kenapa Arthur sampai menitipkan Helena. Padahal ia sudah mengatakan pada Arthur untuk tidak perlu risau. Sebab ia sudah mengutus orang kepercayaannya untuk terbang ke Dubai.
"Bukankah sudah kukatakan tidak perlu cemas. Tidak perlu datang kesana, aku sudah mengirim orang-orang kepercayaanku kesana."
Memang benar. Bahkan Arthur mengetahui siapa saja yang diutus Daddy-nya ke Dubai. Namun sepertinya Daddy-nya itu belum mendapatkan berita terbaru. Kemudian Arthur menyodorkan ponsel miliknya, ia menerima kiriman berita dan gambar dari salah satu orang yang juga ia tugaskan untuk kesana terlebih dahulu. Saat melihat caption dan berbagai argumen di dalam berita itu membuat Daddy Xavier melebarkan matanya.
"Sampai seperti ini?" Ia tidak menyangka jika perusahaannya mendapatkan kecaman. Bukankah selama puluhan tahun Romanov Group berdiri belum pernah ditimpa masalah seperti ini.
Perasaan Austin mendadak tidak enak. Ia yang sedari tadi turur mendengarkan menjadi penasaran. Dan menyambar ponsel yang masih berada di tangan Daddy-nya.
Austin pun dibuat tak percaya dengan pemberitaan tersebut. Sudah pasti perusahaan keluarganya akan bertanggungjawab, tetapi justru mereka memberikan argumen yang negatif.
"Hanya untuk beberapa hari saja. Setelah semua selesai dengan damai, aku akan kembali lagi ke London." Sejak awal Arthur sudah mantap dengan keputusannya. Sebagai pemimpin yang menggantikan Daddy-nya, tentulah nasib para pekerja Romanov Group berada di pundaknya. Pandangannya kemudian tertuju pada Austin. "As, untuk sementara kau bisa menggantikanku di perusahaan. Kau harus bisa menghandle perusahaan selama aku berada di Dubai."
Austin menatap Arthur yang menaruh harapan padanya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan perusahaan keluarganya berada dalam masalah. "Kau tenang saja Kak," percayakan perusahaan padaku." Ia berucap mantap. Tidak akan membiarkan kecemasan Arthur kian bertambah.
Daddy Xavier menghela napas, lalu memijat pangkal hidungnya. Untuk pertama kalinya Romanov Group diterjang masalah yang serius.
"Lakukan yang terbaik. Apapun keputusanmu, aku akan mendukung kalian," putus Daddy Xavier pada akhirnya. "Tapi ingat Ar, kau harus kembali sebelum Helen melahirkan. Jika tidak, maka aku sendiri yang akan menyeretmu pulang!" uangnya kemudian penuh dengan ancaman.
Arthur menipiskan bibirnya, lalu mengangguk. "Untuk sementara jangan biarkan Helen dan Mommy mengetahui masalah ini."
Daddy Xavier mengangguk setuju, pun dengan Austin. Mereka tentunya tidak ingin membuat Helena dan Mommy Elleana menjadi cemas karena memikirkan masalah perusahaan.
"Dan aku sudah menghubungi Mike. Dia dan Elie akan menemani Helen di Mansion," sambung Arthur.
"Apa Elie mengetahui masalah ini?" tanya Daddy Xavier memastikan.
Arthur menggeleng. "Mike merahasiakan masalah perusahaan dari Elie."
Daddy Xavier kembali mengangguk setuju. "Bagus. Aku tidak ingin putriku memikirkan masalah perusahaan. Karena saat ini dia sedang hamil muda."
Arthur dan Austin mengangguk setuju. Mereka akan menutup masalah ini dengan rapat dan tentunya menyelesaikan dengan jangka waktu yang cepat pula.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...