The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
You Have To Let Me Let You Go?



Pada akhirnya Mikel memutuskan untuk menemui Ellie. Ia begitu tidak tenang setelah mendengar laporan mengenai wanitanya yang tengah diserang dan nyaris celaka. Itu semua adalah kecerobohannya, karena kebersamaan mereka menyebabkan pria keparat itu menargetkan Elie, wanita yang tidak bersangkutan dalam permasalahan mereka.


Kini Mikel sudah mendarat kembali di London. Tadi malam ia bergegas kembali menggunakan jet pribadi, sementara Sid beserta para anak buah mereka menyusuri keberadaan Mateo. Dari laporan anak buahnya, Elie berada di apartemen Veronica, sehingga pria itu kini sudah berada di pelataran apartemen wanita itu.


Kedua matanya mengedar, membaca situasi. Arthur pasti mengerahkan anak buah untuk menjaga Elie. Sebab itu Mikel perlu melakukan penyamaran dengan menggunakan penutup mulut. Dengan langkah tegas dan tubuh yang menjulang tinggi, Mikel berjalan menapaki lobby. Ia menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya, sebab itu berpura-pura menekan tombol lift menuju lantai yang berbeda guna mengecoh orang itu. Dan pada saat sosok itu sudah berlalu dari sana, buru-buru Mikel keluar dari lift dan melesat memasuki lift yang lain. Beruntung lift itu terbuka sehingga ia segera melesat masuk dan menekan tombol unit apartemen Veronica. Tidak membutuhkan waktu lama, Mikel sudah berada di lantai unit Veronica. Ia mempercepat langkahnya mencapai pintu. Punggung jemarinya berulang kali mengetuk pintu dengan penuh ketidaksabaran. Padahal ia bisa saja menekan bel, tetapi ia seolah mengabaikannya.


Veronica tentu saja tidak membukakan pintu, sebab ia sudah diberikan peringatan terlebih dahulu oleh Darren. Mikel menjadi gusar, setelah menunggu sekian lama, pintu tidak kunjung terbuka. Kemudian ia memutuskan menghubungi Elie, ia membuka aplikasi ciptaannya, aplikasi yang terhubung dengan ponsel Elie. Dalam waktu hitungan detik saja ia bisa menghubungi nomor ponsel Elie.


"Hallo, siapa ini?" Seseorang menjawab panggilan Mikel, suara lembut dan merdu itu seolah mengalun di telinga Mikel.


"Aku sudah berada di depan apartemen milik temanmu. Buka pintunya sebelum aku tertangkap oleh anak buah Ar."


Elie terkejut, ia yang berada di ruang tamu menolehkan kepala ke arah pintu. Sejak tadi ia serta Veronica mendengar ketukan suara pintu tetapi keduanya sepakat untuk tidak membukakan pintu untuk siapapun itu. Namun ketika mengetahui siapa yang mengetuk pintu, Elie buru-buru berlari untuk membukakan pintu. Benar saja, sosok Mikel berdiri menjulang tinggi memenuhi penglihatannya.


"Masuklah." Elie kemudian membukakan pintu dengan lebar, sehingga Mikel segera melesat masuk ke dalam.


Pandangan Mikel dan Elie bertemu seperkian detik, sebelum akhirnya mereka memutuskan kontak mata ketika menyadari keberadaan Veronica di antara mereka.


"Kalian bicaralah, aku akan ke kamarku." Mengerti situasi, Veronica memilih menyingkir dari sana. Memberikan ruang kepada kedua pasangan kekasih itu untuk saling berbicara.


Ekor mata Elie melirik singkat ke arah Veronica yang baru saja lenyap tertelan pintu kamar. Hingga kemudian perhatiannya kembali tertuju pada sosok pria yang di cintainya itu.


Mikel melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka, hingga kemudian menarik Elie ke dalam dekapannya. "Aku minta maaf karena sudah gagal melindungimu."


Elie mengangguk pelan. Sungguh ia tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya melihat Mikel baik-baik saja selama beberapa hari menghilang sudah cukup melegakan paru-parunya yang terasa sesak.


"Kau baik-baik saja?" tanya Elie mendongak tanpa melepaskan pelukan mereka.


"Hmm, aku baik-baik saja, Sweetheart. Kau tidak perlu mencemaskanku. Yang aku cemaskan adalah dirimu. Tadi malam kau pasti sangat ketakutan." Mikel menangkup kedua pipi Elie yang putih pucat tanpa make up.


Elie mengangguk membenarkan. Ia tidak pandai menghadapi serangan jika berada di mobil, sehingga ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk melarikan diri. Namun sialnya mobil itu tidak menyerah dan justru menghantam bagian mobil belakangnya. Beruntung ia dapat menghindari bahaya yang nyaris menabrak pembatas jalan, bertepatan dengan Arthur serta Darren yang datang tepat waktu.


"Aku tidak bisa menghadapi serangan jika sedang mengemudi. Fokusku akan terpecah, karena itu aku lebih memilih menghindar."


"Aku tau, jangan diteruskan. Yang terpenting saat ini kau baik-baik saja." Mikel pun meneliti tubuh Elie, tidak terdapat luka di bagian tubuh yang di jangkau oleh kedua matanya.


Elie kembali mengangguk, ia mengurai pelukan mereka ketika perhatiannya tersita pada kalung liontin yang mengalung di leher Mikel. Matanya memicing tajam, ia bisa tahu jika liontin itu milik wanita.


"Kenapa kau mengenakan ini?" tanya Elie sembari menatap liontin yang menggantung tersebut.


"Ini milik Mommy. Aku menemukan liontin ini di Mansion Kakek Mateo."


"Kakek Mateo?" Elie merasa asing dengan nama tersebut.


"Hem...." Mikel kemudian mulai menceritakan kenapa dirinya menghilang selama beberapa hari hanya memberi kabar terhadap Elie. Ia hanya tidak ingin keberadaan Elie dapat dilacak oleh Todd. Sehingga sebisa mungkin tidak menghubungi Elie, namun ia tidak menduga jika Todd benar-benar menyerangnya melalui Elie.


Elie menutup mulutnya tidak percaya. Pandangannya mulai memudar, sebab memupuk air mata yang mengembun. Ia benar-benar terharu mendengar jika Paman Matthew dan Bibi Aprille kemungkinan masih hidup.


"Aku bodoh. Aku tidak berguna. Aku gagal melindungi adikku, aku tidak bisa menemukan kedua orang tuaku dan bahkan kau hampir celaka karena diriku!" Tubuh Mikel bergetar, matanya memerah menahan air mata yang membendung emosi serta ketakutannya.


Hati Elie mencelos, untuk pertama kalinya ia melihat Mikel yang rapuh seperti ini. Hanya kepada Elie, Mikel dapat menumpahkan segala beban dan kesakitan yang selama ini ia rasakan.


"Aku tidak bisa berhenti bertanya kepada diriku sendiri...." Mikel menjeda perkataannya, menahan rasa sesak di dada. "Kenapa aku sangat membenci diriku sendiri?!" teriaknya penuh dengan emosi. Kedua matanya mengembun kekecewaan pada dirinya sendiri. "Dan sekarang aku mengetahui jawabannya. Ar benar, aku hanya memikirkan diriku saja, memikirkan dendamku segera terbalaskan tanpa memikirkan dirimu yang bisa celaka kapanpun. Tanpa memikirkan Mei yang juga membutuhkan kehadiranku saat itu!" Mikel benar-benar menyesali semua itu, ia yang dulu tidak berusaha untuk selalu berada di sisi Meisha. Setiap harinya hanya bekerja untuk mencapai kejayaan dan mencari keberadaan Todd untuk membalaskan dendamnya.


Ingatan Mikel tiba-tiba berputar akan perkataan Arthur beberapa hari yang lalu sebelum ia pergi ke Amsterdam. Arthur mendatangi dirinya di perusahaan. Lalu mengatakan, "Jika kau benar-benar mencintai adikku, maka lindungi dia dengan baik. Tapi jika kau hanya bisa membahayakan nyawanya saja, makan pergilah sejauh mungkin. Kau bisa menyelesaikan semua masalahmu, lalu kembali dengan pundak yang tidak lagi menyimpan dendam. Jangan melibatkan Elie."


Untuk sesaat perkataan Arthur mampu membuatnya terbungkam. Ia tidak bisa mengelak atau pun membela diri, sebab selama ini ia terlalu memikirkan perasannya untuk bersama dengan wanitanya. Tanpa berpikir jika kebersamaan mereka dapat membahayakan Elie. Seharusnya ia datang kepada Elie pada saat dirinya sudah berhasil membunuh Todd. Dan kini ia memikirkan bagaimana nasib Elie serta Meisha jika ia terbunuh. Sebab di antara mereka harus ada yang berakhir pada kematian, antara dirinya atau Todd. Ia pun tidak bisa berhenti sampai disini, pengorbanan serta usahanya akan sia-sia jika ia melepaskan Todd. Bahkan dirinya beserta orang-orang disekitarnya akan terbunuh oleh dendam masa lalu.


Mikel kemudian memejamkan singkat matanya. Ia mengingat satu kalimat terakhir sebelum Arthur pergi dari ruangannya.


Aku senang kau masih hidup.


"Haaaaah...." Mikel mendesahkan napas di udara. Mungkin selama ini Arthur menyadari siapa dirinya yang sebenarnya dan pria itu ingin ia menyelesaikan dendamnya terlebih dahulu agar tidak melibatkan banyak orang yang tidak bersalah, tak terkecuali Elie.


Mikel menyeka sudut matanya yang basah. Ia menatap Elie yang diam mendengarkan keluh kesah dirinya.


"Maafkan aku Sweetheart. Aku harus pergi lagi dan tidak tau kapan kembali." Sejujurnya berat untuk Mikel mengatakan hal demikian. Tetapi harus ia lakukan untuk keselamatan wanitanya. Terlebih ia harus menemukan keberadaan Mateo dan akan selalu mengabaikan wanitanya itu. "Berkencanlah dengan pria lain, tapi jangan melebihi batas."


Elie membisu untuk beberapa saat dan Mikel dapat melihat perubahan wajah Elie diiringi mata yang berkaca-kaca. Wanita itu tentu keberatan akan perkataan Mikel yang begitu ringan saat mengatakannya.


"Percayalah, aku akan membunuh siapapun pria yang berusaha mendekati atau menyentuhmu!" ujar Mikel penuh penekanan.


Demi apapun Elie ingin menghajar Mikel, pria itu baru saja menyuruhnya untuk berkencan dengan pria lain, akan tetapi pria itu juga akan membuhuh siapapun pria yang mendekatinya.


"You have to let me let you go....? (Kau membiarkan aku yang membiarkanmu pergi?" ucap Elie lirih, membuang pandangannya ke arah lain, mengalihkan perhatiannya agar air mata yang siap tumpah itu tidak merembas begitu saja dan berusaha untuk mengulas senyum, menunjukkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Mikel mengangguk, ia menarik napas dalam. Sebelum kemudian mendekati Elie kembali dan melabuhkan kecupan singkat di kening wanita yang dicintainya. Telapak tangan Mikel yang besar mengusap wajah Elie. "Jaga dirimu baik-baik, Sweetheart." Dan dengan berat hati, Mikel melangkah pergi dari sana meninggalkan Elie tanpa menoleh. Jika ia menoleh, maka akan semakin berat meninggalkan Elie.


Sepeninggalnya Mikel, Elie hanya mampu terisak. Ia bisa memahami keadaan Mikel yang tidak memiliki pilihan lain. Sementara Veronica hanya mampu bersembunyi di balik pintu kamarnya. Ia turut bersedih dan meneteskan air matanya.


To be continue


Elie



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...