
Sementara saat ini, Austin dan Jacob tengah berada di markas Red Dragon. Mereka membawa penyusup yang berhasil dilumpuhkan dan kembali memberikan pelajaran saat tiba di Markas. Ternyata bukan hanya satu, ada beberapa yang mengawasi kediaman Keluarga Scott dan berhasil meloloskan diri. Yang tertangkap adalah yang berhasil dihajar oleh Austin. Paman Jeff datang di waktu yang tepat, ia berhasil melumpuhkan satu penyusup yang berpapasan dengannya. Namun naas saat hendak menghantam pisau ke tubuh Paman Jeff, dengan lihai pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu membalikkan serangan, alhasil ujung pisau runcing itu tidak menembus perutnya, melainkan perut penyusup itu sendiri dan seketika kehilangan nyawa.
"Jangan berikan dia ampun jika tetap tidak ingin mengaku!" ujar Jacob kepada anak buahnya. Bahkan ia geram sejak tadi ingin segera menghabisi pria penyusup yang tanpa nama itu, karena tak kunjung memberitahukan keberadaan bos mereka.
Austin hanya diam mengamati, sesekali ia memijat pangkal hidungnya. Coma on, ia belum tidur sejak tadi malam dan kini di hadapi dengan situasi menyebalkan. Sejak tadi dirinya pun menerima panggilan dari Bastian, ia tidak bisa kembali ke perusahaan. Percuma saja jika dirinya bekerja sementara fokusnya terpecah belah. Untunglah, ia memiliki Bastian yang cekatan dan selalu dapat menghandle pekerjaannya.
"As, Daddy baru saja mengirim pesan padaku. Mereka akan segera berangkat ke Los Angeles. Dan artinya tugas kita disini lebih berat," ujarnya terkekeh. Bagaimana tidak berat jika mereka diutus langsung menjaga dan melindungi Nyonya Besar. Jika terluka sedikit saja sudah pasti keduanya mendapatkan hukum berat.
Austin turut terkekeh. Sikap Paman Zayn serupa dengan Daddy-nya. Mereka pria yang sangat posesif meskipun usia tidak lagi muda.
"Aku sudah menghubungi Oscar. Dia yang akan merawat Licia selama dirumah sakit." Sebelumnya ia sudah saling bertukar pesan dengan Dokter Oscar dan Dokter Oscar tentu menyanggupi dengan senang hati.
"Aku percayakan Licia padamu." Jacob menepuk bahu Austin, lalu melewatinya. Namun langkahnya tertahan sejenak, ia membalikkan badan kembali. "Ah ya, aku lupa memberitahumu jika Licia sudah sadar."
"Benarkah?" Austin menyahut senang.
Jacob mengangguk. "Karena itu kita ke Mansion sekarang dan langsung ke rumah sakit."
"Hem...." Austin berdehem disertai anggukan kepala, ia mengikuti langkah Jacob. Keduanya keluar melangkah beriringan keluar dari Markas, namun suara teriakan salah satu anak buah menghentikan keduanya.
"Bos Jac, tawanan kita tewas. Sepertinya dia bunuh diri dengan mengigit lidahnya sendiri yang sebelumnya sudah diberi racun."
Mendengar laporan tersebut, tentu saja membuat Jacob naik pitam. "SIALAN!" Ia meninju pilar yang berdiri kokoh itu. "Buang saja mayatnya. Dia tidak berguna!" titahnya kemudian yang langsung diangguki oleh anak buahnya itu.
"Tenang saja, cepat atau lambat kita akan menemukan persembunyian bajingan itu." Austin menepuk-nepuk bahu Jacob, berusaha menenangkan. Maxime bagaimana tikus yang pandang bersembunyi di lubang kecil sekalipun. Akan tetapi mereka pun tidak akan menyerah hingga benar-benar mendapatkan bajingan itu.
Jacob mengangguk setuju, ia tahu bajingan yang dimaksud Austin adalah Maxime. Ia pun tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada keparat yang membuat adiknya seperti ini. Heh? Ingin membuat keluarganya terpecah belah, maka langkahi dulu mayatnya, pikirnya dengan senyum smirk.
***
Keduanya kini sudah tiba di kediaman Keluarga Scott. Barisan anak buah sudah menunggu kedatangan mereka dan siap mengawal dan menjaga Nyonya serta Nona Muda mereka.
Mereka menghentikan langkah memasuki Mansion lantaran mendapati Mommy Angela sudah lebih dulu turun ke bawah dengan Licia yang duduk di kursi roda. Mommy Angela mendorong kursi roda tersebut hingga mencapai pintu. Jacob segera mengambil alih pegangan kursi roda, ia mendorong hingga menuju pelataran.
Kedua mata Austin memicing tajam, sejak tadi ia memang memperhatikan Licia yang hanya diam saja. Bahkan hanya menundukkan pandangannya ke bawah.
Austin berdiri menjulang dihadapan Licia, hingga gadis yang tertunduk itu mendapati sepasang sepatu memenuhi pandangannya. Lantas ia segera mendongak, sosok Austin dengan wajah tampannya menyelipkan sebuah senyuman tipis.
"Kau akan baik-baik saja. Jangan berpikiran yang tidak-tidak," ucapnya lembut. Entah kenapa rasa kesal dan rasa kecewanya menguap begitu saja. Tentu Austin tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Licia, biar bagaimanapun Licia adalah korban dan tugas dirinya adalah melindungi gadis di hadapannya itu.
Licia mengernyit bingung. Ia tidak memikirkan apapun dan entah kenapa tidak bisa memikirkan apapun. Hanya saja ada banyak pertanyaan dalam benaknya, salah satunya 'untuk apa dirinya dibawa kerumah sakit'. Sejak tadi itulah yang mengganggu dirinya, akan tetapi ia menelan rasa tanyanya sebab ia menyadari jika Mommy Angela menghindar setiap kali ia ingin bertanya.
Dengan dibantu oleh Austin, Licia duduk di kursi penumpang bersama dengan Mommy Angela. Sedangkan Jacob mengambil alih kemudi, ia dan Austin yang akan mengantarkan Licia ke rumah sakit dan memastikan jika perjalanan ke rumah sakit tidak akan ada hambatan. Itu yang dipikirkan Jacob serta Austin. Namun sialnya mereka tidak menyadari jika pergerakan meraka sudah di pantau sebelumnya.
Perjalanan yang semula mulus, tiba-tiba saja mendapatkan serangan secara beruntun. Mobil mereka di tembakin dari jarak 10 meter.
"Shiittt!!" Jacob harus membanting stir ke kiri dan ke kanan guna menghindari serangan peluru.
"Kau ada senjata api?" tanya Austin sembari mengamati beberapa mobil yang mengejar mereka.
"Cari saja di bawah kursi, biasanya aku dan Daddy menyimpan senjata di bawah kursi." Mata Jacob tetap awas mengamati mobil-mobil di belakangnya. Beruntunglah ia selalu mengantisipasi hal-hal yang bisa saja terjadi, sehingga ia selalu menyimpan senjata-senjata di bawah kursi yang didudukinya saat ini dan kursi samping kemudi.
Tidak banyak bertanya lagi, Austin segera mengambil senjata yang memang tersimpan di bawah tempat duduknya. Revolver berkaliber 22 yang berisi 8 hingga 10 peluru di genggam oleh Austin. Kemudian ia membuka jendela mobil dan mulai membidik untuk membalas serangan.
Dor
Dor
Baku tembak tak terelakan. Mereka saling memuntahkan peluru dan saling membalas serangan. Beruntung saat ini Jacob dan Austin mendapatkan bala bantuan. Anak buah Red Dragon dengan sigap mengambil alih dan menghadapi beberapa mobil yang menyerang mereka. Sehingga mobil mereka saat ini dapat meloloskan diri. Jacob menambah kecepatan penuh, ia sungguh mencemaskan Licia dan Mommy Angela.
"Mom, kalian baik-baik saja?" tanyanya melirik melalui kaca spion.
Tidak mungkin baik-baik saja jika berada di posisi mereka. Hanya saja Mommy Angela berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin Licia merasa ketakutan seperti dirinya.
"Mommy baik-baik saja. Syukurlah kita bisa meloloskan diri." Setidaknya ia bisa sedikit bernapas lega. Ia masih mendekap tubuh Licia yang tiba-tiba bergemetar.
"Sayang." Mommy Angela menjauhkan tubuh Licia agar ia bisa leluasa menatap wajah putrinya.
Sungguh wajah Licia begitu pucat, gadis itu hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan tatapan kosong.
"Sayang...." Mommy Angela semakin panik. Ia mendapati putrinya yang tidak memberikan respons apapun.
"Licia?" Austin mencondongkan tubuhnya ke belakang. Dan detik selanjutnya ia melompat ke kursi belakang dan kini sudah berada di tengah Licia serta Mommy Angela. Ia ingin memastikan kondisi Licia saat ini, tidak menutup kemungkinan jika Licia akan kembali di kendalikan. No, Austin tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia harus membuat Licia tetap pada kesadarannya.
Jacob membiarkan Austin memastikan keadaan adiknya, sementara dirinya fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi kabut yang tiba-tiba mengudara, mengaburkan pandangannya, semaksimal mungkin ia menghindari kabut tebal yang entah datang dari mana. Mengurangi kecepatan mobilnya dengan berhati-hati.
Namun sial, di depan mobilnya terdapat truk tronton yang melintas. Dengan reflek Jacob membanting stir, hingga sisi kanan mobil bertabrakan dengan truk besar itu.
BRAK
Mobil mereka terguling dan tergelincir cukup jauh. Austin berusaha melindungi Licia dan Mommy Angela, tidak pedulikan tubuhnya yang nyaris terjepit. Dan Jacob, entahlah. Terlihat darah segar mengalir keluar dari kepalanya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...