
"Lupita, kau akan membawa kemana buah itu?" Perkataan Austin menahan langkah Lupita yang hendak membawa buah berduri itu ke belakang. Lebih tepatnya agar aromanya tidak akan terjangkau di indera di penciuman Arthur.
"Saya akan membawa buah ini ke belakang, Tuan Muda. Karena buah ini memiliki aroma yang tidak sedap dan belakangan ini penciuman Tuan Ar menjadi lebih sensitif. Tuan Ar pasti akan menegur kami jika mencium aroma buah yang tidak disukainya," terang Lupita terselip rasa kepanikan disana. Ia sudah melayani Keluarga Romanov selama bertahun-tahun, sudah pasti mengetahui apa saja makanan yang disukai dan tidak disukai, termasuk buah yang kini dalam genggamannya dan ia harus segera menyingkirkannya sebelum Tuan Arthur melihat buah itu.
Baik Austin dan Darren membenarkan. Mereka sangat tahu jika Arthur tidak menyukai aroma dan rasa dari buah berkulit berduri itu.
"Tidak perlu dibawa ke belakang. Aku akan memakannya."
Mendengar perkataan Austin, Darren sontak menoleh ke arah pria itu.
"Mau kau apakan buah itu, As?" tanyanya bingung sekaligus penasaran.
"Tentu saja untuk dimakan," sahut Austin sembari mendekati meja pantry. "Kau pikir untuk apa buah ini di ciptakan? Apa hanya untuk dijadikan pajangan saja?"
"Apa kau yakin?" Darren tidak menanggapi lelucon Austin. Ia justru lebih khawatir jika Arthur akan murka. "Lagi pula kau juga tau jika Ar tidak menyukai buah ini."
"Hm...." Austin berdehem sebagai jawabannya. Jelas ia sangat tahu, tetapi apa salahnya jika ia ingin memakan buah yang sudah lama tidak ia makan. "Lupita, sebaiknya kau belah buah itu dan berikan padaku." Dan ia tetap bersikeras menginginkan buah tersebut, tidak peduli bagaimana reaksi kakaknya nanti.
Lupita menjadi bingung sendiri dengan permintaan tuan mudanya. "Ta-tapi Tuan Muda, Tuan Ar pasti akan marah."
"Tidak. Tenang saja, aku hanya ingin makan buah itu, jadi mana mungkin Kak Ar akan marah."
"Kalau begitu saya akan segera mengupas dan memotong buah ini." Setelah menimbang-nimbang akhirnya Lupita segera membuka buah itu dengan pisau. Saat buah itu terbelah menjadi dua bagian, aroma khasnya begitu menyeruak di indera penciuman mereka.
"As, kau benar-benar bisa memakannya?" Bahkan Darren saja meringis melihat bentuk dari buah itu dengan aroma yang begitu menyengat.
"Ya, kau juga harus memakannya Der." Austin tersenyum licik dan Darren dapat membaca raut wajah menyebalkan Austin, seperti tengah menyiapkan sesuatu
"Tidak!" Darren menolak. Ia pun sama seperti Arthur yang tidak menyukai buah itu.
"Ayolah Der, makan satu bagian saja tidak akan membuatmu keracunan." Salah satu tangan Austin menggapai piring yang sudah terisi beberapa daging dari buah itu. Dan tetap saja respons Darren tetap menolak untuk makan buah itu. "Terima kasih, Lupita. Jangan lupa kau bawakan minuman untuk kami," lanjutnya pada Lupita.
"Baik Tuan Muda." Lupita menjawab disertai anggukan kepala. Ia segera melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan mudanya.
Austin tersenyum tipis dengan membawa piring yang terisi penuh dengan buah yang memiliki aroma menyengat itu. Darren berusaha untuk tidak mencium aromanya, ia mengikuti langkah Austin menuju ruang tamu.
Namun sebelum mencapai ruang tamu, aroma yang menyengat itu sudah terendus di indera penciuman Arthur. Dan bahkan Helena, Elie serta Mike dapat mencium aroma dari buah itu.
"AS, BERHENTI DISANA!" Suara Arthur tiba-tiba saja menggelegar, hingga membuat Helena, Mike serta Elie terlonjak kaget. "CEPAT SINGKIRKAN BUAH ITU!" sambungnya menatap tajam adik bungsunya.
"Kenapa Kak?" Namun alih-alih menurut, Austin justru semakin melangkah mendekat. "Aku menyukainya dan akan memakannya bersama kalian," katanya santai dan semakin mengikis jarak.
"Shiitt!!!!" Arthur mendesis. Tiba-tiba saja hal yang ia khawatir terjadi. Perutnya mendadak bergejolak dan ingin memuntahkan isi perutnya. Arthur yang sudah tidak bisa menahannya segera berlalu dari sana menuju kamar mandi.
"Hahahahaha....." Tawa Austin meledak. Kakaknya itu benar-benar tidak menyukai buah yang berada ditangannya. Sedangkan Darren hanya menghela napas, setelah ini pasti akan ada pertikaian antara kakak beradik itu.
"Apa yang terjadi dengan Ar?" Helena menjadi panik. Terlebih melihat suaminya itu berlari seperti itu.
"Kau tenang saja, Kak Ar baik-baik saja. Dia hanya tidak menyukai Durian," seru Elie menjelaskan.
"Durian?" cicit Helena bertanya-tanya, pasalnya ia tidak tahu apa itu Durian.
Elie terkekeh. Bisa ditebak jika Helena tidak mengetahui buah yang berasal dari Asia itu. Salahkan saja Paman Adam yang memperkenalkan Durian itu pada keluarganya sehingga ia dan Austin menjadi terbiasa dengan aromanya dan jujur saja ia sedikit menyukainya.
"Durian itu sejenis buah dari Indonesia dan memiliki aroma yang sangat menyengat," sahut Elie menjawab kebingungan Helena. "Kau bisa menciumnya sendiri, bukan? Aromanya benar-benar khas."
Helena mencoba mengendus aroma buah itu dan benar saja buah Durian itu memiliki aroma yang begitu menyengat.
"Kau benar, aromanya menyengat sekali," cetusnya meringis ketika menyaksikan Austin begitu lahap memakan buah yang menurutnya aneh itu.
"Kak Mike, kemarilah. Kau pasti akan menyukainya." Austin memanggil Mike agar bergabung dengannya. Ia begitu nikmat memakan daging buah Durian yang memiliki tekstur lembut.
"Tidak As. Aku sudah pernah merasakan buah itu dan aku tidak terlalu menyukainya," sahut Mike jujur. Ia pernah mencoba buah yang bernama Durian itu dan rasanya begitu aneh menurutnya, sehingga ia tidak ingin mencoba buah itu kembali.
"Jika Mike tidak mau, maka biar aku saja yang makan. Aku sangat menyukai Durian." Elie melangkah mendekati adiknya, matanya berbinar penuh saat melihat buah yang tidak terdapat di Eropa.
Hah?
Helena, Mike dan Darren tercengang. Astaga, kedua kakak beradik itu benar-benar menikmati buah yang begitu aneh.
Arthur baru saja kembali setelah berhasil memuntahkan isi perutnya. Baru beberapa langkah, aroma tidak sedap itu kembali menyapa indera penciumannya, sehingga ia harus kembali berlari menuju kamar mandi.
"Damn!" Arthur yang kesal pun hanya mampu mengumpat. Setelah ini, ia akan memberikan pelajaran kepada Austin.
Melihat Arthur yang kembali melangkah menuju kamar mandi, Helena menjadi cemas. Ia hendak melihat keadaan suaminya itu. Selama beberapa hari ini Arthur memang sangat sensitif mencium aroma apapun, bahkan pada aroma makanan sekalipun.
"Sepertinya aku harus melihat Ar. Beberapa hari ini Ar memang selalu mual jika mencium aroma yang menyengat dan akan merasa lebih baik setelah makan sesuatu yang asam."
"Maksudmu Kak Ar juga mengidam?" Elie bertanya memastikan. Benarkah jika ia tidak salah mendengar?
Heh? Sungguh? Mike dan Darren bahkan terkejut. Seorang Arthur mengidam? Sungguh sesuatu yang langka.
Helena yang mencemaskan Arthur mengabaikan tatapan tidak percaya mereka. Ia ingin memastikan keadaan suaminya di dalam kamar mandi.
"Honey, kau sudah merasa lebih baik?" Bertepatan saat Arthur keluar dari kamar mandi.
"Hm, sudah lebih baik," sahutnya mencoba untuk tersenyum lembut. Ia tidak mungkin melontarkan kekesalannya kepada istrinya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau tidak merasa mual mencium aroma Durian?" Arthur merangkum wajah Helena, ia tidak mendapati wajah sang istri yang pucat seperti sebelum-sebelumnya.
"Tidak." Kepala Helena menggeleng. "Aromanya memang sangat menyengat tapi tidak sampai membuatku mual."
Mendengar penuturan Helena, Arthur menghembuskan napas lega. Setidaknya istrinya itu tidak memuntahkan sandwich yang dimakan beberapa menit lalu.
Arthur merangkul pinggang Helena, menuntun istrinya itu kembali ke ruang tamu. Ternyata aroma menyengat itu tidak tercium kembali dan terganti dengan buah segar lainnya yang sudah tertata di atas meja dengan beberapa minuman. Dan buah itu sudah disingkirkan terlebih dahulu sebelum Arthur benar-benar akan murka.
"As!!" Arthur memanggil adiknya dengan penuh penekanan.
Glek
Austin menelan salivanya dengan susah payah. "Sorry Kak Ar, aku tidak tau jika kau sedang mengidam."
"Persetan dengan mengidam. Kau sudah tau jika aku tidak menyukai Durian!" seru Arthur semakin menatap tajam.
"Hm, sorry. Aku hanya ingin makan Durian dan Kak Elie saja menikmatinya." Ekor mata Austin melirik ke arah kakak perempuannya.
Elie yang ikut terseret melayangkan tatapan tajam pada Austin. Namun detik kemudian ia hanya tersenyum kikuk ketika tatapan tajam Arthur beralih padanya.
"Sudahlah Ar, As dan Elie hanya ingin makan buah itu." Mike menengahi, lebih tepatnya membela istrinya agar tidak menjadi sasaran kekesalan Arthur.
"Kau....!" Arthur mengeram menahan kekesalannya.
"Honey, sudahlah. Sebaiknya kita duduk saja, perutku tiba-tiba saja merasa kram." Helena mencoba mengalihkan perhatian suaminya. Perutnya memang merasa sedikit kram, mungkin janin mereka turut merasakan ketegangan yang terjadi.
Benar saja perhatian Arthur tersita pada istrinya. "Sebaiknya kau beristirahat, aku akan menemanimu."
"Tapi-"
"Kau perlu beristirahat, Love." Dan tentunya Arthur tidak menerima bantahan. Lalu tatapannya tertuju pada yang lainnya. "Aku akan menemani istriku."
"Hm, Helen kau perlu beristirahat. Tidak perlu sungkan pada kami," tutur Elie. Ia bisa melihat jika Helena tidak enak meninggalkan mereka begitu saja.
"Kalau begitu aku akan beristirahat. Aku minta maaf karena tidak bisa menemani kalian lebih lama."
"Tidak masalah." Mike menyahut dan yang lainnya menjawab dengan anggukan kepala.
Dengan dibantu oleh Arthur, Helena melangkah menuju kamar yang berada dilantai dua.
Austin kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah jejak bayangan kakak serta kakak iparnya lenyap dari sana. Beruntung kakaknya itu bisa menahan kekesalannya. Jika tidak, maka tubuhnya sudah menjadi samsak.
To be continue
Babang Mike
Elie
Austin
Darren
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...