
Mobil Buggati La Voiture Noire milik Arthur membelah jalanan Kota London yang cukup padat. Atas permintaan Helena, Arthur menepikan mobilnya. Wanita itu ingin menikmati udara sore di London Bridge. Tentu Arthur tidak melarang, sebab apapun yang membuat wanita itu senang akan ia kabulkan. Dan ia tidak keberatan menemani Helena berjalan kaki di sepanjang London Bridge selama istrinya itu tidak kelelahan.
"Lihatlah Honey, perutku semakin besar setelah makan." Bibir Helena mengerucut, ia memperlihatkan perutnya yang sedikit terlihat lebih menonjol, padahal ia sudah mengenakan hoodie kebesaran dan saat ini memang mereka mengenakan hoodie couple berwarna biru. Saat di restauran tadi pun ia hanya makan mashed potato dan salmon with lemon butter sauce, tentunya dengan tambahan dessert mango cheesecake.
Arthur terkekeh, semenjak hamil Helena menjadi sangat manja dan jujur saja ia menyukai sifat manja istrinya.
"Tidak apa. Itu artinya kau memberi makan mereka dengan sangat baik." Arthur membawa Helena agar lebih dekat dengannya dengan satu tarikan tangannya yang saling bertaut dengan istrinya itu.
"Ah, kau benar. Mereka akan tumbuh berkembang dengan baik dan sehat. Aku tidak masalah jika berat badanku harus naik demi kesehatan mereka." Sebagai seorang ibu ia ingin memberikan nutrisi yang terbaik selama masa kehamilannya. Dengan usapan lembut Helena memutar gerakan tangannya berulang kali di atas perutnya yang menonjol.
Arthur tersenyum menanggapi, satu tangannya yang menggenggam tangan Helena kian di perkuat. Keduanya saling menikmati senja sore hari, langit jingga keemasan memecah di atas langit, menambah keindahan Kota London yang membuat suasana kian romantis.
Kedua pasangan itu berhenti berjalan, mereka menatap Sungai Thames yang membentang luas di bawah sana. Helena menyandarkan kepalanya pada bahu Arthur yang kekar. Menikmati keindahan alam yang tersaji di hadapan mereka. Rasanya keduanya seperti merasakan dejavu. Saat itu Helena pernah berada di London Bridge dengan perasaan kacau akibat ulah Mike yang membuatnya kecewa berulang kali. Dan Arthur, pria itu menemani dirinya menumpahkan rasa sesak di dada.
Mengingat moment saat itu Helena terkekeh pelan. Ia tidak pernah menyangka jika hubungan mereka mulai dikatakan membaik sejak saat itu.
"Ada apa?" Tentu Arthur menjadi heran sebab istrinya tiba-tiba saja terkekeh.
"Tidak. Aku hanya teringat pertemuan kita di tempat ini. Saat itu aku sangat kesal dengan Mikel, dia terlalu bodoh karena lebih mempercayai wanita ular yang entahlah aku sudah lupa nama wanita itu." Jika mengingat kejadian kala itu ia benar-benar kesal dengan wanita ular yang mengajaknya bekerja sama untuk mencelakai Elie. Beruntung saja saat itu ia menolak tawaran gila wanita bermarga Born itu. Jika tidak, mungkin perbuatannya itu akan ia sesali seumur hidup.
"Ya, aku ingat." Arthur menyahut datar. Entah kenapa jika mengingat kejadian saat itu ia merasa kesal dengan Mike, padahal pria itu berusaha melindungi adiknya. Namun tetap saja pria itu memang terlalu bodoh tidak mencari tahu kejadian yang sebenarnya terlebih dahulu.
Helena melanjutkan bercerita dan kali ini Arthur merespon hangat. Pria itu menikmati ekspresi wajah Helena yang berubah sesuai nada bicaranya. Hingga kemudian wanita itu menoleh dan menepati Arthur mengulum senyumnya.
"Kenapa kau tersenyum, hm?" Tentu aneh mendapati Arthur mengulum senyum seperti itu. Helena menyipitkan mata curiga. "Apa kau baru saja ingin mentertawakanku?" Kedua tangannya berkacak pinggang.
"Tidak. Apa aku terlihat ingin mentertawakanmu, hm?" Dan Arthur menjawab pertanyaan Helena dengan pertanyaan.
"Entahlah..." Helena mengangkat kedua bahu, namun masih dengan tatapan mendelik. "Tapi pasti kau berpikir jika saat itu aku terlalu bodoh, bukan? Mengejar pria yang tidak mencintaiku? Benar bukan?" Dan wanita itu mendengkus kesal.
Arthur menggelengkan kepala. "Tidak," jawabnya jujur. Namun ia memaklumi sikap Helena yang menjadi lebih sensitif semenjak hamil.
"Bohong. Jelas-jelas tadi kau ingin tertawa."
"Tidak, Love." Bibir Arthur berkedut lantaran berusaha menahan senyum. Sebab saat ini istrinya sangat menggemaskan dengan bibir yang mencebik maju.
"Tapi tadi kau.... hhmmmpphh..."
Sebelum Helena menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya lebih dulu ditarik oleh Arthur dan dibungkam bibirnya dengan bibir pria itu. Kedua mata Helena membeliak lantaran terkejut, tetapi detik kemudian Helena membalas ciuman Arthur. Keduanya saling melummat dalam tanpa penuh napsu, yang mereka salurkan adalah rasa cinta yang menggebu-gebu.
Keduanya mengakhiri ciuman ketika dirasa sudah kehabisan oksigen. Wajah Helena bersemu mewah, bagaimana tidak mereka baru saja berciuman di tepi jalan dan mungkin saja dirinya dan juga Arthur menjadi objek pusat perhatian para pengendara lain yang berlalu lalang.
Arthur menghapus jejak saliva yang tertinggal di sudut bibir Helena. "Kau wanita pertama yang membuatku jatuh cinta, jadi mana mungkin aku berpikir jika kau bodoh."
Perkataan Arthur memberikan sengatan haru di hati Helena. Ia benar-benar merasa sangat dicintai dan jujur saja ia sudah sangat jatuh dalam pesona dan lingkaran cinta yang dibuat oleh Arthur. Demi Tuhan, wanita itu tidak ingin kehilangan Arthur. Dengan gerakan cepat, Helena menghambur ke dalam pelukan Arthur. Ia membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Gerakan narik turun telapak tangan Arthur pada punggung Helena membuat wanita itu semakin merasa nyaman. Terlebih Arthur melabuhkan kecupan singkat pada puncak kepalanya.
Namun suasana yang tengah romantis itu harus terganggu lantaran suara ponsel Arthur yang berada di balik saku celana menyentakkan telinga mereka. Pria itu ingin mengumpati siapa pun itu yang sudah berani mengganggunya. Dengan terpaksa mereka harus mengurai pelukan dan Arthur segera merogoh ponselnya. Nama Darren yang tertera membuat Arthur tidak melanjutkan umpatannya.
"Ada apa Der?" tanyanya dengan datar. Mendengar penuturan Darren di seberang sana, Arthur menatap Helena. "Kau tunggu sebentar disini, Love. Aku perlu bicara dengan Darren." Dan telapak tangannya membelai wajah Helena. Setelah mendapat anggukan dari wanita itu, Arthur menjauhkan diri dari Helena. Pria itu berjalan menuju mobil mereka yang terpakir tidak jauh.
"Aku tau Der. Aku sudah merasakan sejak tadi. Apa kau sudah menyebarkan anak buah yang lainnya untuk mengejar mereka?" Ya Arthur tidaklah bodoh. Sejak di perjalanan ia merasa jika ada mobil yang mengikutinya.
"Sudah Ar, tapi mereka berhasil melarikan diri. Karena itu kau harus lebih berhati-hati, kita tidak tau siapa musuh yang kita hadapi kali ini."
"Hm...." Setelah menjawab dengan deheman, Arthur memutuskan sambungan teleponnya. Sejak menjawab telepon, ia tidak mengalihkan pandangannya dari Helena. Tentu ia harus mewaspadai sekitarnya dan tidak ingin terjadi sesuatu kepada Helena. Dari yang ia lihat jika Helena tengah menjawab telepon dari Elie. Dari mana ia mengetahuinya? Tentu saja ia sudah menyadap ponsel istrinya itu.
Arthur mencekik leher pria itu dan menggantungkan tubuh pria itu di udara. "Siapa yang menyuruhmu?!!" Tatapan Arthur menggelap. Ia tidak menyangka jika ada yang berani menyerangnya secara langsung.
Pria itu tidak membuka suara dan justru mencoba mengayunkan pisau untuk menikam lengan Arthur yang tengah mencengkram lehernya. Dengan gerakan cepat, Arthur berhasil menghindar dengan melepaskan cengkraman tangannya. Namun detik itu juga Arthur mengambil alih pisau tersebut dan menghunuskannya ke dada pria itu. Alhasil apa yang dilakukannya membuat sedikit darah mengenai hoodie yang dikenakannya.
"Damn it!!" Ia mengumpat lantaran hoodie itu merupakan salah satu benda couple miliknya dengan Helena.
"Bos Ar. Biar kami yang mengurusnya." Dua anak buah mendekati Arthur. Wajah mereka tertakut-takut jika Arthur meledak saat itu juga lantaran mereka ceroboh tidak dapat membaca gerakan musuh.
Ditatapnya kedua anak buahnya yang lalai itu dengan tatapan tajam hingga sukses memberikan tekanan kepada mereka.
"Maaf Bos Ar, kami ceroboh." Tentu mereka harus mengakui kelalaian mereka dalam berjaga.
"Urus dia dan pastikan dia membuka mulut!"
"Baik Bos Ar." Keduanya segera memapah pria itu usai melihat kepergian Arthur. Tidak lupa salah satu dari mereka menutupi luka tusukan di dada pria itu dengan jaket guna menghindari tatapan orang-orang, mengingat mereka berada di tempat umum.
Helena masih terlibat percakapan di sambungan telepon dengan Elie. "Sepertinya aku harus mengakhiri percakapan kita. Aku dan Ar sedang berada di London Bridge."
"Ah, kau tidak mengatakannya sedari tadi. Maaf, aku sudah mengganggu kencanmu dengan Kak Ar." Elie berpura-pura merasa tidak enak padahal di sebrang sana ia terkekeh karena sudah berhasil mengganggu pasangan suami istri itu. Ia terlalu bosan seorang diri lantaran Mike masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak masalah. Aku tau pasti kau sedang bosan." Ternyata Helena mengetahui kebiasaan adik iparnya itu. Jika sedang bosan tentu saja Elie akan menghubungi dirinya. "Ah, Ar sudah kembali. Kututup dulu teleponnya. Bye Elie." Tanpa menunggu jawaban dari Elie, Helena segera memutuskan sambungan teleponnya.
Arthur terlihat berjalan mendekat, ia sudah melepaskan hoodie karena tidak ingin Helena menyadari setitik noda darah di lengan hoodie-nya. Pria itu berjalan mendekati Helena seolah tidak terjadi apapun.
"Ada apa?" Arthur teheran mendapati istrinya itu menatap dirinya dengan tatapan memuja.
"Ah, suamiku sangat tampan. Lihatlah, otot-otot di lenganmu ini, aku benar-benar ingin memakannya." Helena memainkan lengan Arthur dengan jari telunjuknya sehingga membuat Arthur menggelengkan kepala diiringi kekehan kecil. Ada ada saja tingkah istrinya itu.
"Tapi kenapa kau melepaskan hoodiemu?" lanjut Helena dengan penuh tanya. Tubuh sang suami semakin tercetak jelas di balik T-shirt hitam yang dikenakannya.
"Ada banyak debu yang menempel di lengan hoodie." Jawaban Arthur mendapatkan anggukan kepala dari Helena. Wanita itu tidak curiga dan percaya begitu saja.
"Kalau begitu kita segera pergi dari sini. Aku ingin mengunjungi tempat lainnya." Helena melingkarkan tangannya di lengan Arthur setelah memasukkan ponsel ke dalam saku hoodie.
"Apa ini keinginan mereka?" Arthur menyentuh perut Helena lalu mengusapnya dengan lembut. Ia menebak jika Helena sedang mengidam ingin berjalan-jalan dengannya. Memang salahnya karena belakangan ini ia mengurung Helena di penthouse sehingga mungkin saja wanita itu merasa jenuh.
Helena mengangguk antusias. ia memang ingin menikmati waktu sore bersama dengan Arthur. Jujur saja ia ingin melakukan kencan seperti yang dikatakan oleh Elie.
"Hm, baiklah." Arthur melingkarkan tangannya di pinggang Helena, sedangkan tangannya yang bebas memegang hoodie. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana.
Kepergian mobil mewah Arthur menjadi pusat perhatian dua orang yang berada di dalam taksi.
"Kenapa kau selalu mendapatkan pria yang kuinginkan?" Wanita itu nampak iri menyaksikan kemesraan Helena dengan Arthur. Dan berandai-andai jika dirinya yang berada di posisi Helena.
Berbeda dengan wajah pria paruh baya di sampingnya yang nampak mengeraskan rahangnya. "Kebahagiaan kalian tidak akan bertahan lebih lama lagi!" geramnya dalam hati mengutuk kedua pasangan itu. Sebelum kemudian menyuruh sang sopir untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...