
The Georgian Restauran at Harrons in London menjadi tujuan Arthur untuk bertemu dengan seseorang setelah dua hari yang lalu Darren berhasil membuat janji. Sorot mata yang lurus itu menemukan sosok yang tidak asing, sebelum kemudian bergulir kepada sosok wanita yang lainnya.
Langkahnya terhenti sejenak, memastikan penglihatannya tidaklah salah. Sorot matanya perlahan menajam, bagai radar yang memberikan sinyal jika ada sesuatu yang wanita itu rencanakan dengan pelayan wanita tersebut. Langkah Darren yang turut terhenti mulai mengikuti arah pandang Arthur, keningnya mengernyit karena ia juga merasa tidak asing dengan wanita itu.
Senyum penuh kelicikan tersemat di wajah cantik wanita itu pada saat pelayan tersebut sudah berlalu dan melangkah menuju Arthur dan Darren berdiri.
Grep
Arthur menahan lengan pelayan tersebut, hingga membuat pelayan wanita yang tidak diketahui namanya itu terkesiap dan segera mengangkat wajahnya pada sosok tinggi yang tengah menahan langkahnya itu.
"Apa yang sudah wanita itu rencanakan?" tanya Arthur. Tatapan yang dingin tidak terdapat keramahan disana mampu membuat pelayan tersebut bergidik ngeri.
"A-apa maksud tuan?" Pelayan tersebut berusaha tidak terpengaruh dengan tatapan pria di hadapannya.
"Jangan kau pikir aku tidak melihatnya. Dia memberikanmu sesuatu, bukan?" Namun Arthur tidak akan mudah melepaskan pelayan tersebut yang berusaha menyembunyikan ketakutannya.
Benar, saat ini wajah pelayan itu nampak gugup dan ketakutan karena rencananya dilihat oleh orang lain. "Tu-tuan saya hanya melakukan pekerjaan saya.... saya tidak bermaksud berbuat jahat."
Arthur berdecak sinis. "Der, kau urus dia. Biar aku yang mengurus wanita itu."
Darren mengangguk paham hingga kemudian Arthur kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Darren dengan pelayan tersebut.
"Tu-tuan maafkan saya... saya masih ingin bekerja disini. Jadi tolong jangan laporkan saya." Pendingin di dalam Restauran mendadak panas menyapu wajah serta tubuh pelayan tersebut hingga keringat dingin memenuhi keningnya.
"Kau bisa menjelaskannya nanti. Sekarang ikut denganku!" sahutnya tegas. Dan tanpa menunggu jawaban dari pelayan itu, Darren mengayunkan langkahnya menuju ruangan. Tubuh pelayan terasa lemas seketika, entah apa yang akan terjadi dengan nasib dan pekerjaannya.
***
Dari kejauhan Arthur mengawasi pergerakan dua wanita. Duduk di salah satu kursi dengan disuguhkan minuman dingin dan cake sekedar untuk mendinginkan kepalanya saat mengintai dua wanita. Meski tidak menampakkan gelagat jika dirinya sedang mengawasi seseorang, akan tetapi sorot matanya tidak beralih lurus ke depan. Meski terhalangi beberapa meja, ia masih dapat mendengar dengan jelas percakapan kedua wanita itu.
Namun tiba-tiba matanya dibuat memanas kala wanita itu justru menghampiri seorang wanita yang duduk di salah satu kursi, entah apa yang tengah mereka bicarakan. Keduanya seolah sudah saling mengenal, Arthur dapat melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara wanita itu berusaha membuat masalah. Hingga mengundang pelayan lainnya untuk memisahkan mereka.
"Dengar, aku tidak mengambil gelang milikmu. Untuk apa aku mengambilnya?!"
"Bukankah kau juga berada di toilet bersamaku? Aku meninggalkan tasku disana. Ck, karena kau sudah di keluarkan dari agensi, sekarang kau beralih menjadi pencuri?"
"Jaga bicaramu! Sudah kukatakan aku tidak mencurinya. Kau cari dengan benar, jangan menuduh orang lain tanpa bukti!"
"Aku tidak menuduh tapi aku tau pasti jika kau yang mengambilnya. Sebelum ke toilet gelangku masih ada!"
"Dengar Nona Helena, aku tau apa niatmu, kau sengaja ingin mempermalukanku bukan? Tapi sayangnya aku tidak akan tinggal diam!"
Terdengar hembusan napas kasar, Arthur tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Terlebih adiknya dalam masalah. Ia tidak habis pikir, wanita itu selalu berusaha mencari masalah dengan Elie. Ya, salah satu wanita tersebut tidak lain adalah Aurelie, adik kembarnya. Sementara wanita yang berusaha membuat masalah adalah Helena Bonham.
"Kau...." Helena tidak bisa membantah sehingga hanya bisa bisa mengepalkan satu tangannya. "Aku tidak mau tau, aku ingin kalian memeriksa tas wanita ini." Dan menunjuk salah satu pelayan untuk mencari bukti di dalam tas Aurelie.
"Apa kau tidak waras?!" seru Aurelie membentak. Hilang sudah kesabaran dirinya. Terlebih ia dipermalukan di depan publik dan di depan teman baiknya Veronica. "Jangan pernah menyentuh tas milikku. Jika tidak, kau akan tau akibatnya." Aurelie sangat tidak menyukai jika tasnya disentuh oleh seseorang yang tidak dekat dengannya. Dan lagi pula ia tidak pernah mengambil perhiasan seperti yang dituduhkan wanita itu.
"Cih, apa kau takut jika gelangku benar-benar berada di tasmu?!" Dan Helena pun bersikeras menyudutkan Aurelie.
"Aku bilang tidak ada ya tidak ada. Apa kau tuli, hah?!" bentak Aurelie.
"Ck, sudah menjadi pencuri tapi tidak ingin mengakuinya. Wanita sepertimu benar-benar tidak pantas untuk Mikel. Apa kau tau jika Mikel adalah milikku!" cibirnya meremehkan.
"Kau merebutnya dariku!" sahutnya tidak kalah meninggi.
"Maaf Nona...." Dan seorang pelayan wanita lainnya datang tergopoh-gopoh menghampiri Helena. "Saya menemukan perhiasan ini di dalam toilet. Kemungkinan perhiasan ini yang Nona cari." Lalu menyodorkan gelang tersebut kepada Helena.
Helena memicing tajam, menatap seksama gelang tersebut yang ternyata memang miliknya. Tetapi seharusnya gelang itu berada di dalam tas wanita itu, pikirnya.
Kemudian ia mengambil secara kasar gelang miliknya dari tangan pelayan tersebut. Ekor matanya menyapu keberadaan pelayan wanita yang ditugaskan olehnya untuk memasukkan gelang miliknya ke dalam tas Elie. Tetapi bagaimana bisa gelang itu ditemukan di dalam toilet.
"Ck, terbukti bukan jika temanku ini tidak mencuri. Seharusnya kau mencarinya dengan benar, Nona." Suara Veronica memecah keheningan yang melingkupi mereka selama beberapa saat. Secara tidak langsung mencibir Helena karena sudah menuduh temannya Elie. "Dan sebaiknya Nona minta maaf kepada temanku!" tambahnya kemudian. Karena Elie sudah dipermalukan, tentunya wanita itu harus bertanggung jawab membersihkan nama baik Elie dengan meminta maaf.
Helena dibuat malu sendiri akan rencananya yang gagal total. Alih-alih ingin mempermalukan Elie, justru dirinya kini menjadi pusat perhatian disana. "Ck, jangan bermimpi aku akan meminta maaf." Sudah kepalang malu, sehingga Helena bergegas pergi dari sana tanpa mengucapkan kalimat permintaan maafnya kepada Elie. Beberapa pelayan yang berdiri mengepung juga membubarkan diri setelah meminta maaf kepada Aurelie karena sudah membuat mereka menjadi tidak nyaman.
"Dasar wanita tidak waras. Sudah menuduh tapi pergi begitu saja." Kesal, ingin rasanya Veronica menjambak rambut wanita gila itu. Berani-beraninya mempermalukan Elie dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf, pikirnya.
"Sudahlah, biarkan saja." Aurelie tidak ingin mengambil pusing. Ia kembali menduduki kursinya. Lagi pula pengunjung yang lain sudah tidak memperhatikan dirinya lagi setelah terbukti dirinya tidak mencuri gelang itu.
Sepertinya dia akan selalu mencari masalah denganku, batinnya. Sejak awal ia ingat wajah wanita yang tidak asing itu, menduga-duga jika wanita itu mirip dengan wanita yang bersama dengan Mikel di perusahaan. Dan benar saja wanita itu membahas Mikel, si mesum gila. Lebih tepatnya mereka berdua sama-sama gila.
"Tapi siapa dia? Aku seperti tidak asing dengan wanita itu. Dan kenapa tadi dia mengatakan jika kau merebut...." Perkataan Veronica menggantung, ia nampak berpikir karena melupakan nama seorang pria yang disebutkan oleh Helena.
"Sudahlah lupakan saja. Itu tidak penting." Tidak ingin membahas Mikel lebih jauh karena ia masih merahasiakan hubungannya yang sebenarnya dengan Mikel. Aurelie tidak ingin menjawabnya dan meminta temannya itu untuk kembali menyantap makanannya. Hingga keduanya kemudian melanjutkan makan siang mereka yang sebenarnya sudah dingin akibat insiden yang tidak penting.
Sementara Helena berlalu pergi, menggerutu kesal dengan langkahnya yang mengayun menuju toilet. Ia sudah membayar satu pelayan untuk melancarkan rencananya, tetapi kenapa pelayan itu tidak menjalankan tugasnya dengan benar?
"Ck, dasar tidak berguna," gumamnya berdecak kesal. Ia sudah berusaha mencari pelayan wanita itu, tetapi tidak menemukannya dimanapun. "Rupanya dia melarikan diri," imbuhnya.
Baru saja ingin berbelok, tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria yang sedang membawa minuman coffee latte dingin, sehingga menumpahkan minuman tersebut dan mengenai pakaiannya.
"Hei kau. Apa kau tidak memiliki mata?!" serunya sembari mengibas pakaiannya yang kotor terkena siraman coffee latte. Pandangannya menunduk pada bagian pakaiannya yang kotor itu dan belum menyadari siapa pria yang sudah menumpahkan minuman tersebut.
"Tanganku licin, tidak ada hubungannya dengan mataku," sahutnya santai. "Lagi pula minuman yang tumpah ini sangat baik untuk mendinginkan kepalamu yang kecil tetapi kotor!"
Mendengar ucapan pria di hadapannya yang menusuk dan memiliki maksud, sontak saja membuat Helena mengangkat wajahnya.
"Kau...??"
To be continue
Elie
Helena
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...