The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Permintaan Maaf



Beberapa jam sebelumnya


Kedua wanita cantik duduk saling berjarak, terdapat meja bulat yang menjadi pembatas di antara mereka. Tidak ada yang ingin memulai percakapan terlebih dahulu usai pelayan mengantarkan pesanan di meja mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, beberapa waktu lalu mereka terlibat perang dingin karena memperebutkan pria yang sama. Tidak, lebih tepatnya salah satu dari mereka yang terlalu berharap. Meski sudah ditegaskan mengenai hubungan mereka, wanita itu tidak terima, sehingga selalu mencari masalah dengan wanita di hadapannya itu. Dan beberapa waktu lalu ia sudah menyadari kesalahannya, hanya saja baru hari ini ia memberanikan diri untuk menemui wanita yang begitu di cintai oleh pria masa lalunya. Bagaimana mungkin ia bisa menganggap pria itu sebagai masa lalunya? Sebab ia akan mencari kebahagiaannya tanpa membawa serta pria itu ke dalam masa depannya.


"Aku...." Helena ragu untuk bersuara, karena ia selalu berpikir jika Elie tidak akan memaafkannya. "Aku minta maaf atas sikapku selama ini padamu." Pada akhirnya kata maaf terucap dari bibir Helena, sehingga membuat Elie terperangah sejenak.


"Kau... apa kau sedang bercanda?" Tentu saja Elie tidak percaya begitu saja, ia ingin memastikan terlebih dahulu jika wanita di hadapannya itu tidak sedang bersandiwara.


Helena menanggapi dengan senyuman, ia paham jika Elie tidak akan percaya padanya begitu saja mengingat dirinya sangat menyebalkan.


"Hem, aku tau kau tidak akan percaya begitu saja. Tidak masalah, aku tetap ingin meminta maaf padamu." Helena mengulas senyum tipis, meski Elie tidak akan mempercayainya, ia akan tetap meminta maaf. "Aku memang bodoh, aku menutup mataku tentang fakta yang sebenarnya. Mikel tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya menjagaku karena tanggung jawabnya. Dia selalu mengatakan jika aku seperti adiknya, karena kami sama-sama memiliki nasib yang sama, aku-" Tertunduk sedih, Helena tidak mungkin menceritakan dirinya yang selalu mencari cara untuk mengakhiri hidupnya.


Elie diam mendengarkan, sejujurnya ia merasa prihatin dan iba. Jika nasib Helena sama seperti Meisha, artinya wanita di hadapannya itu benar-benar rapuh dan membutuhkan sandaran, hanya saja Mikel tidak bisa melakukannya, sebab pria itu hanya mencintai dirinya. Entah kenapa Elie menjadi merasa bersalah, meski sikap Helena saat itu keterlaluan dengan mengganggunya terus-menerus, tetapi wanita itu tidak sepenuhnya bersalah. Hanya saja ia mencari tempat untuk bersandar dan belum mendapatkannya.


"Apa kau selalu seperti itu?" Elie takut-takut saat menanyakannya, ia tidak ingin membuka luka lama Helena, namun ia sungguh penasaran.


Mendengar pertanyaan Elie, Helena sontak mendongak. "Mengakhiri hidup?" Alih-alih sedih, Helena justru tersenyum tipis. Teringat akan bertemu pertama kali dengan Mikel dua tahun lebih yang lalu usai menjalani kehidupan yang sulit tanpa ibunya yang sudah berpulang satu tahun lamanya. "Saat itu Mikel menyelamatkanku yang ingin bunuh diri, dia menarikku saat aku baru saja akan melompat dari jembatan." Helena terkekeh kecil seolah itu adalah peristiwa yang lucu, tetapi tidak dengan Elie yang terdiam, berusaha menjadi pendengar yang baik tanpa harus menggurui. "Kau tau apa apa yang dia katakan? Dia berkata jika aku tidak boleh menyia-nyiakan hidupku, dia tidak ingin aku seperti adiknya, aku yang tidak peduli tetap bersikeras akan mengakhiri hidup, karena untuk apa aku hidup jika sandaranku di dunia ini sudah pergi meninggalkanku. Selama ini Mommy yang selalu berada di sisiku, kami berdua saling menguatkan satu sama lain. Tapi duniaku seketika hancur ketika aku melihat Mommy bunuh diri, aku....." Helena tidak dapat membendung air matanya yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga saat menceritakan masa lalunya yang menyedihkan.


Selama ini ia bisa bertahan karena berbekal keinginan Mommy-nya yang ingin dirinya menjadi seorang desainer terkenal. Ketika Mommy-nya masih hidup, Helena sudah dibantu membangun sebuah butik. Carl Valentine nama yang dicetuskan oleh Anna Carl untuk butik kecilnya itu. Siapa yang menduga jika saat ini butik dan rancangannya menjadi salah satu yang di minati di Kota Paris.


Melihat bagaimana rapuhnya Helena, tanpa di duga Elie beranjak berdiri dan memeluk wanita itu. "Tidak apa-apa, semua sudah berlalu, kau wanita terkuat yang pernah aku temui." Berusaha menenangkan Helena dengan lembut, tangannya terulur mengusap bahu Helena. "Aku tidak membencimu, sungguh. Jangan seperti ini lagi." Perasaan sedih, kecewa yang dirasakan oleh Helena seolah tersalurkan kepada Elie, sehingga ia dapat merasakan kesakitan yang ditanggung oleh wanita yang tengah di dekapnya ini. Elie tidak ingin menggali lebih dalam lagi, sebab sebenarnya ia sudah mengetahui kejadian yang sesungguhnya dari Mikel. Peristiwa bunuh diri ibu Helena, hingga keluarga yang tidak pernah mendukung dan bahkan tidak pernah menganggap wanita itu. Dirinya sudah mengetahui semuanya, itu yang membuatnya tidak bisa membenci Helena.


Mendengar kalimat Elie, Helena semakin terisak, kalimat yang sangat menyentuh hatinya. Terlebih kalimat 'aku tidak membencimu' seolah memberikan kekuatan untuk meredam rasa sakit yang kini menguasainya kembali.


"A-aku baik-baik saja, kau memelukku sangat erat. Aku kesulitan bernapas." Helena menyeka air mata yang membanjir wajahnya itu.


"Astaga, maafkan aku." Lantas Elie segera melepaskan pelukannya. Bahkan wanita itu diam-diam menyeka sudut matanya yang basah. Elie kembali membenamkan tubuhnya di kursi. Keduanya saling bersitatap, lalu terkekeh bersama.


"Terima kasih kau sudah mau memaafkanku dan juga mendengarkan ceritaku. Kau wanita yang baik, pantas saja Mikel sangat mencintaimu." Tulus, itulah yang dapat dilihat dari sorot mata Helena. Sebenarnya wanita itu adalah wanita yang baik, Elie dapat merasakannya sejak pertemuannya dengan Helena. Meski menyebalkan, wanita itu seperti menutupi sesuatu dibalik sikapnya itu.


"Kau juga wanita yang baik." Elie membalas memuji, bukan sekedar berbasa-basi, tetapi itulah yang ia lihat dari sosok Helena selama ini. Salah besar jika menganggap dirinya menaruh kebencian kepada wanita di hadapannya. Meski ada rasa cemburu ketika Mikel bersama dengan Helena, akan tetapi ia berusaha meredam api cemburu tanpa tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi.


Helena terkekeh, wanita baik? Entah kenapa kalimat itu seperti tidak cocok untuknya. "Kau jangan salah paham mengenai hubunganku dengan Mikel. Dia hanya bertanggung jawab menjagaku seperti adiknya saja."


Elie mengangguk, ia paham apa yang ingin disampaikan oleh Helena. "Mike.... Maksudku Mikel sudah menjelaskannya padaku, kau tidak perlu cemas."


Helena menundukkan pandangannya, menyembunyikan perasaannya yang entah apa itu. Hubungan Mikel dengan Elie terlihat sangat baik, sehingga Mikel tidak segan untuk menjelaskan sendiri secara langsung agar wanita yang dicintainya itu tidak salah paham dan tidak seharusnya ia merasa iri, sebab mereka pantas untuk bersama. Keduanya kembali canggung, sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing. Elie menyimpulkan jika Helena masih menyimpan perasaan untuk Mikel. Benar, wanita itu hanya sedang menata hati, sebab meski perasaan itu tersisa sedikit, ia tidak berniat untuk merebut Mikel kembali. Mungkin tidak ada salahnya jika ia mengharapkan cinta yang baru, seperti Mikel yang begitu mencintai Elie. Dirinya pun berharap akan ada seorang pria yang tulus mencintainya tanpa memandang keadaannya yang penuh dengan masalah.


"Hanya itu saja yang ingin aku bicarakan padamu. Aku senang kau bersedia memaafkanku. Tadinya aku sempat berpikir kau akan menjambak rambutku." Helena terkekeh, memberikan suasana candaan agar kecanggungan yang kembali melingkupi itu sedikit menyurut.


Elie turut terkekeh. "Sayang sekali jika seorang desainer cantik tertangkap kamera dengan penampilan berantakan," balasnya memberi candaan. Elie paham jika Helena ingin mengubah suasana yang sebelumnya sempat canggung.


Kedua wanita itu saling melepaskan tawa. Tidak ada kecanggungan yang keduanya rasakan. Jika orang lain melihat, mereka seperti seorang sahabat. Memiliki wajah yang cantik dan berpenampilan anggun.


"Aku pergi dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku." Helena mengusap bahu Elie, mencoba lebih akrab. Keduan sudah keluar dari cafe dan berdiri di tepi jalan.


"Hem, tidak masalah. Aku senang bisa bertemu denganmu seperti ini, kita terlihat seperti teman baik."


Tercengang untuk beberapa saat, sebab Elie sudah menganggap dirinya teman baik. Sejak dulu ia lebih suka menyendiri ketimbang mencari teman baik.


"Terima kasih." Kedua mata Helena berkaca-kaca, terharu dengan kalimat Elie tersebut.


"Iya, kau juga."


Keduanya baru saja hendak berjalan berlawanan arah, tetapi sebuah mobil sedan hitam terlihat melaju dengan kecepatan tinggi. Helena yang kebetulan menoleh ke belakang terkejut melihat mobil itu tertuju pada Elie.


"Elie!!!!" Helena berlari secepat mungkin untuk menjangkau tubuh Elie. Entah kenapa tubuhnya bergerak dengan sendirinya.


Brugh


Keduanya terpental di bahu jalan, namun yang terluka adalah Helena karena Elie terjatuh di atasnya.


"Helena!" Elie terkejut, ia tidak menyadari jika mobil itu mengincar dirinya, sehingga Helena harus menyelamatkan dirinya.


"Aku baik-baik saja. Yang penting kau tidak terluka, Mikel bisa mencemaskanmu." Dalam keadaan seperti ini pun, Helena masih saja memikirkan keadaan Elie. Setidaknya ia berhasil menyelamatkan wanita yang paling berarti bagi Mikel.


"Bodoh, kau masih saja memikirkan diriku." Elie meringis ketika cairan kental berwarna merah mengalir dari lengan Helena.


***


"Bodoh! Melenyapkan wanita itu saja kalian tidak bisa!" Seorang pria setengah baya nampak berkilat marah karena dua anak buah gagal menjalankan tugas.


"Maaf Master, ada dua wanita disana. Kami bingung yang mana target kami!"


BUGH


"Bodoh!" Dan penuturan satu anak buah semakin membuatnya murka. "Apa kalian tidak melihat foto yang kukirim hah?! Wanita itu seorang desainer, seharusnya kalian tau wajah wanita itu!"


"Maafkan kami Master." Keduanya tertunduk takut.


"Pergi kalian! Jangan sampai aku menebas kepala kalian!" Dan buru-buru pergi sebelum ancaman Master mereka benar-benar terjadi.


Pria setengah baya itu menjambak rambutnya frustasi. Ia kembali menatap sebuah guci berisikan abu jenazah putranya.


"Kau harus melihat wanita yang kau cintai itu mati, Mike!!!" geramnya penuh dendam. Mike atau Mikel adalah pria yang sudah melenyapkan putranya. Keponakannya itu masih hidup di belahan bumi lain dan bodohnya ia baru menyadari ketika pria yang sudah beranjak dewasa dan penuh perhitungan itu membalaskan dendamnya terlebih dulu kepada putranya. Dengan menargetkan wanita yang Mike cintai, ia bisa puas karena pria itu kembali merasakan yang namanya kehilangan.


To be continue


Elie



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...