
Arthur bersikeras untuk keluar dari rumah sakit, sehingga kini pria dingin itu sudah berada di Mansion. Baik Xavier dan Elleana tentu tidak bisa berbuat apapun, sikap keras kepala putra sulung mereka memang menurun dari Xavier.
"Daddy.... Mommy.... Elie berangkat." Suara Elie menggema di lantai satu, wanita itu terlihat tergesa-gesa menuruni tangga.
"Astaga Elie, kenapa kau berlarian di tangga seperti itu?" Elleana menghampiri putrinya, ia takut jika sang putri terjatuh atau menggelinding di tangga.
Elie terkekeh melihat wajah cemas Mommy-nya. "Maaf Mom. Elie terburu-buru, Mandy sudah menunggu di Birmingham."
"Tapi tidak perlu berlari di tangga seperti itu sayang. Bagaimana jika kau terjatuh, hm?" Gemas dengan tingkah putrinya itu, Elleana menepuk kening Elie.
"Iya, aku sudah minta maaf, Mom." Bibir Elie mengerucut sembari mengusap keningnya. "Dimana Daddy, Mom?" Pandangan Elie kemudian disapukan pada sekitar. Tidak ada tanda-tanda Daddy-nya dimanapun.
"Daddy sedang bersama Ar. Mereka di ruangan latihan. Kakakmu harus melatih lengannya yang sedikit sulit digerakan." Pasca terkena luka tembakan, tangan kiri Arthur merasa sedikit kebas saat digerakkan. Itu sebabnya Xavier melatih tangannya agar tidak memperhambat aktivitasnya.
"Lalu dimana As?" Elie kembali bertanya keberadaan adiknya itu.
"Ck, apa kau lupa jika adikmu As tidak mungkin betah berada di Mansion. Dia pasti menemui teman-temannya."
Elie mengangguk mengerti, Austin memang tipe ekstrovert sama seperti dirinya. Berbeda dengan Arthur yang lebih cenderung Tsundere. Terlihat kejam, menyeramkan dan dingin, akan tetapi sangat menyayangi keluarganya.
"Kalau begitu Elie berangkat Mom. Sudah jam satu siang, Elie harus tiba disana sebelum jam 4 sore." Elie kemudian mencium pipi kanan dan kiri Mommy Elleana, sebelum kemudian melambaikan tangan tanpa memberikan kesempatan Mommy-nya itu untuk menjawab. Ia sudah hampir terlambat, terlebih jarak dari Kota London menuju Kota Birmingham sekitar dua jam. Dan baru saja berada di pelataran Mansion, ia berpapasan dengan Darren yang berjalan ke arahnya.
"Oh, astaga Der. Apa kau ingin menemui Kak Ar?" Elie terkejut mendapati Darren sudah berada di hadapannya. Ekor matanya hanya melirik singkat kepada bodyguardnya yang tengah memasukkan barang-barang miliknya ke dalam bagasi.
"Benar Nona. Seharusnya kemarin aku menemuinya di rumah sakit, tapi Ar melarangku datang dan menyuruhku untuk tetap berada di Perusahaan." Ketika Arthur sadar dari koma, Darren juga salah satu yang begitu senang sekaligus haru. Sayangnya atasan sekaligus temannya itu menyuruhnya untuk tetap di perusahaan dan menggantikan pekerjaannya.
"Ya sudah, kau masuk saja. Kak Ar bersama Daddy di ruang latihan." Elie kemudian menarik handle pintu setelah Darren mengangguki perkataannya. Namun urung masuk ke dalam mobil karena teringat sesuatu. "Der, terima kasih kau sudah menjaga Vero." Mendengar hal itu Darren sontak membalikkan arah tubuhnya, Elie sudah masuk ke dalam mobil tanpa menunggu dirinya untuk menjawab terlebih dahulu.
Memang semenjak Veronica keluar dari rumah sakit, ia ditugaskan untuk menjaga Veronica dan memberikan beberapa pengawalan terhadap wanita itu. Meski tugasnya menjadi bertambah, hal yang tidak bisa ia lakukan adalah memprotes atau mangkir dari tugasnya.
***
"Nona, apa benar ini jalannya?" Satu bodyguard yang tengah mengemudikan mobil bertanya kepada Elie. Ia merasa heran, sebab jalan yang mereka tuju semakin jauh dari jalan raya.
"Benar, aku tidak salah. Jalannya memang berada disini." Elie menolehkan kepala kesana-kemari, meneliti jalan yang tengah mereka tempuh. Satu jam yang lalu, ia mendapatkan sebuah pesan dari salah satu yang bertugas jika lokasi pemotretan berubah dan berpindah di alamat yang kini tengah mereka telusuri.
"Sebaiknya Nona mengkonfirmasi terlebih dahulu, mungkin ada kesalahan." Bodyguard yang lain turut menyarankan. Ia dan rekannya itu mencium sesuatu yang tidak beres.
"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi Mandy." Elie kembali meraih ponsel yang diletakkan di sisi pahanya. Ia mulai mencari nomor ponsel Mandy, asistennya itu. Keningnya berkerut menjadi satu saat nomor ponsel Mandy justru tidak dapat dihubungi. Padahal saat ia baru saja tiba di Kota Birmingham masih saling bertukar pesan, namun saat menuju ke lokasi Beachon Hill, ia mendapatkan pesan dari salah satu kru yang saat ini bertugas bersama dengan Mandy, bahwa lokasi mereka berubah.
"Ponsel asistenku tidak aktif," tuturnya kepada dua bodyguard yang berada di kursi depan tersebut.
Kedua bodyguard itu saling pandang. "Lalu kita harus bagaimana Nona? Apa kita kembali saja ke pusat kota?"
"Tidak, sebaiknya kita pastikan dulu. Bukankah di depan sana ada bangunan. Mungkin mereka sudah tiba lebih dulu dan menungguku di bangunan itu." Elie menunjukkan bangunan kokoh yang terdapat di tengah-tengah bukit tanah tandus yang tidak jauh berbeda dengan gurun pasir. Memang tidak terdapat bangunan lain disana selain bangunan yang sedari tadi ia perhatikan.
"Baiklah, kami akan memastikannya. Tapi Nona jangan keluar mobil sebelum kami memastikan tempat itu aman." Bodyguard tersebut kembali memegang stir kemudi dan segera melaju mencapai bangunan kokoh itu.
Begitu menepikan mobil pada tempat tujuan, dua bodyguard segera turun dari mobil. Mereka merasakan keanehan, sebab tidak nampak seorang pun disana. Banyak peralatan mesin bor dan sejenisnya. Mereka berasumsi jika bangunan tersebut digunakan untuk penyimpanan batu bara karena tercium aroma yang menyengat. Keduanya saling pandang, buru-buru mereka mengambil senjata yang mereka simpan di bawah kursi mobil.
"Nona, sebaiknya tunggu saja disini."
Dan keduanya melindungi Elie yang baru saja turun dari mobil. Kedua pandangan mereka diedarkan mencari sesuatu yang mencurigakan disana. Tangan mereka masing-masing sudah siap mengekor jika ada sesuatu yang bergerak.
Mereka tidak menyadari jika terdapat seseorang yang berada di atas bukit, pria itu turun dari motor. Satu senjata laras sudah disiapkan beberapa menit yang lalu. Sembari menunggu target, pria itu berkeliling mencari mobil yang sekiranya sudah masuk ke dalam perangkap.
Ya, pria itu tidak lain ialah Mikel Jhonson. Demi menyelamatkan Meisha dan Nathan, adik serta asistennya yang berada dalam genggaman Pablo, Mikel terpaksa menerima misi untuk membunuh seorang wanita yang berharga bagi Black Lion, musuh dari Loz Zetas.
Bukan perkara yang sulit baginya karena ia sering mendapatkan misi membunuh seseorang. Mikel tersenyum smirk saat melihat sebuah mobil hitam sudah terparkir, ia melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, lalu melemparkannya dengan asal. Mikel kemudian melangkah mendekati senjata yang sudah terpasang sempurna, dilapisi oleh lapisan tambang agar tidak terlihat seperti sebuah senjata. Senjata miliknya dilengkapi dengan penglihatan elektronik yang mampu membidik secara akurat dan tepat sasaran. Satu mata Mikel sudah terpejam, sementara satu mata lainnya menempel pada optik yang mengekor ke satu titik, dimana ia melihat targetnya yang seorang wanita tengah berdiri di antara dua pria yang mungkin ditugaskan untuk menjaga wanita itu. Akan tetapi kedua pria itu sudah memegang senjata masing-masing. Mikel bisa menyimpulkan jika mereka sudah mencurigai sesuatu dan siap menyerang jika dirinya menghantamkan peluru kepada wanita itu.
Mikel yang berkonsentrasi membidik dan hendak menekan pelatuk, mengurungkan niatnya selama beberapa saat. Matanya membeliak karena terkejut ketika wanita itu melepaskan coat hitam dan penutup kepalanya. Ia tidak pernah menduga jika wanita yang harus ia singkirkan adalah Elie.
Tubuhnya mendadak melemas dan segera menyingkirkan senjatanya yang sedari tadi sudah siap untuk menembak. Memastikan pandangannya jika ia tidak salah melihat. Namun ternyata wanita itu benar-benar Elie, wanita yang teramat ia cintai setelah ibu dan adiknya.
"Bagaimana mungkin aku bisa membunuh wanita yang ku cintai?" Bibir Mikel bergetar hebat. Ia bisa melihat wajah Elie yang polos dan ceria menikmati hembusan angin yang menerpanya, tanpa menyadari jika ada seseorang yang mengincar nyawanya.
Setitik air mata terlihat keluar dari sudut mata Mikel. Sungguh ia tidak akan sanggup membunuh belahan jiwanya sendiri, ia bisa mati jika terjadi sesuatu dengan wanitanya.
"Apa yang sudah aku pikirkan?" Mikel mengusap wajahnya frustasi. Ia menyesali telah menerima misi dari Pablo karena ingin menyelamatkan Meisha dan juga Nathan.
Bibir Mikel berulang kali bergumam, ia berpikir sangat keras. Jika wanita itu berharga bagi Black Lion, sudah pasti Elie memiliki hubungan dengan organisasi Mafia itu. Ingatan Mikel menangkap satu perkataan Pablo yang membekas.
Dia putri dari Black. Saat ini putranya menggantikannya menjadi ketua. Jika kau berhasil menyingkirkan wanita itu, maka selanjutnya kau juga akan berhasil menyingkirkan penerus Black Lion.
"Paman.... Ar...."
Kini ia sudah mendapatkan jawaban setelah berusaha berpikir keras. Itukah sebabnya Pablo sangat membenci Keluarga Romanov dan memanfaatkan dirinya untuk membunuh mereka dengan tangannya sendiri.
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan Elie terluka. Aku tidak bisa membunuhnya!" Mikel menyeka sudut matanya yang basah. Ia kembali memegang senjata laras panjang itu, namun tidak diarahkan kepada Elie seperti sebelumnya, melainkan mengarahkannya ke langit.
DOR!
Peluru berhasil dimuntahkan Mikel di udara, membuat kedua bodyguard dan Elie terlonjak bersamaan. Kedua bodyguard itu langsung berlari melindungi Nona mereka. Dan meminta Nona Elie untuk masuk ke dalam mobil. Sebelum kemudian keduanya memasuki mobil dan bergegas meninggalkan lokasi tersebut.
Mikel menjatuhkan tubuhnya di atas tanah, setidaknya ia berhasil membuat wanitanya pergi dari sana. Sebelum para anak buah Pablo memantau dan justru menyerang Elie jika melihat wanita itu masih dalam keadaan hidup.
To be continue
Babang Mikel
Yoona ada cuplikan videonya, kalian bisa lihat di Instagram Yoona ya 🤗 Btw makasih yang udah ngucapin selamat ulang tahun ke Yoona di chat.. Smoga kalian juga panjang umur dan sehat selalu ya 🥰💕
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...