The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Saling Menyerang



Keterkejutan Demon masih membekukan suasana. Ledakan susulan menyadarkannya kembali. Pria tua itu bergegas keluar dari ruangan.


"Sialan! Siapa yang menyerang, hah?!" Meninggalkan anak buah, ia menuruni tangga. Di pelataran Paviliun Dongdae sudah terdapat para anak buah yang berhamburan menghampiri dirinya.


"Bos, bagaimana ini. Markas kita sudah diserang dan sepertinya Paviliun Dongdae juga akan mendapatkan serangan." Laporan dari salah satu anak buah semakin membuat Demon gusar. Tetapi sebaik mungkin berusaha untuk bersikap tenang, biar bagaimanapun ia harus terlihat berwibawa di hadapan para anak buah yang menggantungkan hidup padanya.


"Kumpulkan yang lain. Kita akan membalas serangan!" ujarnya memberi perintah. Meskipun ia sendiri tidak begitu yakin jika akan menang, tetapi lebih baik melawan, alih-alih mengangkat kedua tangan sebelum bertempur.


"Tapi bos, kita kita tidak memiliki banyak bom. Persediaan senjata juga tidak banyak, karena Tuan Brison menolak mengirimkan senjata." Anak buah tersebut tertakut-takut menyampaikan perihal Tuan Brison yang menolak mengirimkan senjata kepada mereka.


Demon mendelik, ia menatap tajam anak buahnya tersebut. "Apa kau bilang?! Brison menolak mengirimkan senjata? Bukankah dia sudah mendapatkan uangnya, hah?!"


"Be-benar. Tapi setelah itu kita tidak bisa menghubunginya lagi, Bos. Tuan Brison sudah pergi ke Italia."


BUGH


Demon geram sehingga ia melayangkan bogem pada anak buahnya itu. "Sialan! Jadi dia menipuku, heh?!" Didorongnya anak buahnya tersebut hingga tersungkur di lantai carport. Tidak menduga jika pria tua yang ia percayai untuk bekerjasama justru membodohi dirinya. Mereka tidak tahu jika sebenarnya Brison berpihak pada Black Lion. Berpura-pura akan mengirimkan senjata pada Bloods Dead, tetapi justru melarikan diri ke Italia setelah menerima uang yang banyak.


Anak buahnya itu hanya meringis kesakitan. Sungguh sial bukan? Ia hanya menyampaikan, tetapi menjadi pelampiasan amarah bos mereka.


"Bos...." Anak buah yang lainnya melangkah maju. Ia baru saja memeriksa keadaan senjata yang tersisa. "Kita masih bisa membalas serangan. Meski senjata yang kita miliki terbatas, tapi kita masih memiliki meriam."


Telinga Demon berdengung, ia terusik ketika mendengar kata 'meriam' yang tentu saja akan sangat berguna. Dari jarak mereka saat ini, ia bisa meluncurkan peluru meriam.


"Kalau begitu siapkan meriam sekarang juga! Jika musuh sudah terlihat, segera luncurkan pelurunya!" perintahnya kemudian. Bibirnya menyunggingkan senyum miring. Bloods Dead memang kekurangan senjata, akan tetapi masih memiliki meriam yang sudah pasti tidak kalah dahsyat dari sebuah bom.


"Baik bos!" sahut mereka serentak. Sebelum kemudian berhamburan untuk melakukan tugas masing-masing.


Sebelum musuh menyerang paviliun, tentunya mereka sudah bersiap untuk meluncurkan serangan. Tidak perlu dari jarak dekat, sebab dari jarak jauh pun bisa mereka lakukan jika menggunakan meriam.


Dari jarak 100 meter, Black Lion serta Red Dragon bergegas menuju Paviliun usai mereka memporak-porandakan markas Bloods Dead. Mereka mengambil beberapa senjata yang masih dapat digunakan. Dari serangan bom yang mereka lakukan tak sedikit anak buah Bloods Dead yang tewas.


"Sepertinya mereka mengetahui strategi kita As, setelah kita melemparkan bom, hanya beberapa saja yang tewas. Sisanya sudah pasti melarikan diri," ujar Jacob disaat mereka berjalan menyusuri halaman luas untuk menembus Paviliun Dongdae.


"Kita tidak bisa gegabah Jac. Licia masih di tangan Maxime. Jika kita meledakan posisi pria itu juga, sudah pasti Licia juga akan terkena ledakan." Sejak awal Austin tidak setuju jika mereka kembali melemparkan granat. Ia khawatir jika Licia berada di posisi yang terkena ledakan granat tersebut.


Helaan napas terdengar panjang, Jacob membenarkan. "Kau benar. Aku hampir lupa jika Licia masih di tangan bajingan itu!" Sungguh geram. Ia ingin semua segera berakhir dan memastikan dengan kepala matanya sendiri keadaan adiknya itu.


Austin tidak kembali menyahuti. Ia meluruskan langkahnya menuju Paviliun Dongdae. Bangunan satu lantai itu sudah nampak jelas di penghujung penglihatan mereka. Jarak mereka semakin dekat dan dekat, namun suara puing angin samar-samar terdengar mendekat.


"Peluru meriam. Berpencar!" Salah satu anak buah Black Lion yang menyadari suara tersebut, sontak berteriak guna memberikan instruksi untuk saling merenggang. Jika posisi mereka saling menghimpit, tidak menutup kemungkinan mereka akan terkena peluru meriam yang serupa dengan ledakan bom.


Austin dan Jacob serta beberapa anak buah Black Lion berlari berlawanan dengan yang lainnya. Sebelum kemudian,


DUAR!!


Peluru meriam itu menghantam tanah hingga menimbulkan guncangan dan gumpalan tanahnya berhamburan di udara.


Semua yang berada disana terbatuk-batuk. Tak terkecuali Austin dan Jacob yang harus terhempas hingga berguling-guling di tanah, lantaran menghindari serangan peluru meriam.


"Kau baik-baik saja, Jac?" Austin lebih dulu bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk pakaiannya yang dipenuhi oleh tanah.


"Ya, aku baik-baik saja." Jacob segera bangkit berdiri. Ia pun membersihkan tanah yang melekat pada pakaiannya. "Berani-beraninya mereka menyerang dari jarak jauh!" dengkusnya kesal. Sebab saat ini mereka tidak membawa meriam dan hanya beberapa granat dan tentunya banyak senjata.


Austin terkekeh. "Itu artinya mereka lemah."


"Ah, kau benar. Mereka hanya bisa menyerang dari jarak jauh." Jacob pun mencibir remeh. Jika memang berani, bukankah satu lawan satu akan lebih terlihat gentleman?


"Hei, kalian baik-baik saja?!" Dari jarak jauh mereka mendengar teriakan yang lainnya. Entah siapa yang berteriak, tetapi Jacob dan Austin dapat mendengar suara mereka.


"Kami baik-baik saja!" Jacob balas berteriak.


"Kalau begitu tunggu apalagi, kita serang saja sekarang! Bukankah kita memiliki senapan jarak jauh?!" Ternyata yang berteriak adalah Elden. Ia memberitahu agar mereka segera menyerang sebelum peluru meriam itu kembali diluncurkan.


Dari posisinya, Austin pun nampak setuju, ia menatap Jacob untuk meminta persetujuan. Dan Jacob menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Dengan segera Austin mengacungkan ibu jarinya ke arah mereka.


Melihat kode jari Austin, Lion Boys bersama Black Lion dan Dragon Boys bersama Red Dragon memposisikan diri dengan merunduk. Dan mereka siap untuk memuntahkan peluru.


Dor


Dor


Dor


Beberapa peluru menghantam gerbang paviliun. Hentakannya mampu membuat Bloods Dead kian panik. Mereka tidak menyangka jika musuh mereka akan membalasnya dengan peluru senapan. Tetapi tidak masalah, mereka bersiap untuk kembali memuntahkan peluru meriam.


Suara yang menyatu dengan suara angin itu membuat Black Lion dan Red Dragon terkesiap. Mereka bangkit dan buru-buru menghindar. Ledakan itu tepat di belakang mereka, sehingga beberapa dari mereka terpental dan bercerai berai.


Jacob dan Austin yang menyaksikan hal itu berubah menjadi lebih geram. Keduanya berharap teman-teman serta para anak buah lainnya baik-baik saja.


"Kita berpencar Jac. Aku akan melewati dinding disana." Austin menunjuk dinding di sisi timur.


Jacob menelisik dinding tersebut. Tidak begitu tinggi dan cukup mudah untuk Austin dan yang lainnya memanjat. "Kalau begitu aku akan melewati pintu barat," ujarnya sembari mengeluarkan granat dari balik saku pakaiannya.


Austin mengangguk. Ia memberikan instruksi pada beberapa anak buah Black Lion untuk mengikuti dirinya dan sisanya bersama dengan Jacob. Sebisa mungkin Austin tidak menimbulkan suara, hingga salah satu anak buahnya memanjat lebih dulu untuk memastikan keadaan sekitar. Tidak ada siapapun yang berjaga, sehingga meminta Austin untuk memanjat setelahnya.


Sedangkan di sisi barat, terdengar suara ledakan yang menggelegar. Sudah pasti Jacob membuat kekacauan disana usai Bloods Dead kembali memuntahkan peluru meriam yang ketiga kalinya. Bukan hanya Jacob saja yang geram, Austin pun merasa sangat geram. Jika terus-menerus yang lainnya diserang oleh peluru meriam, tidak menutup kemungkinan mereka akan tewas. Bahkan saat ini saja ia menduga jika para anak buah Black Lion dan Red Dragon sudah ada yang terluka.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...