The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Mempertimbangkan Untuk Menjadi Kekasih



Selama berbincang serius dengan Paman Brian, Ojisan Hiroki, dan Kenzo, Darren tidak menyadari jika sepasang mata cokelat muda memperhatikan dirinya dengan intens dan penuh kekaguman. Wanita itu tidak berkedip hanya karena memperhatikan gerakan bibir Darren serta garis wajah pria itu yang nampak dingin tetapi tetap terlihat tampan. Pemilik mata indah itu tidak lain ialah Keiko Oda, untuk pertama kalinya ada seorang pria yang berhasil menarik perhatiannya.


"Sebentar, aku akan menjawab telepon lebih dulu." Darren menjeda percakapan mereka sejenak. Ia ingin menjawab panggilan yang sejak tadi tidak berhenti bergetar, ia memang sengaja memasang mood getar pada ponselnya agar percakapan mereka tidak terganggu. Namun sepertinya yang menghubunginya ini memiliki urusan penting dengannya sehingga berulang kali menghubungi. Darren kemudian beranjak berdiri dan menjauh dari ketiganya.


Kening Darren mengernyit ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Nona Vero?"


Sebenarnya Darren enggan menjawab, tetapi ia ingin tahu apa maksud wanita itu menghubungi dirinya berulang kali. Ibu jari Darren segera menggulir tombol hijau dan menempelkan ponsel pada daun telinga.


"Ada apa Nona?" tanyanya to the point.


"Aaahh, sial. Kenapa mereka masih mengikutiku?"


Deg


Jantung Darren berdegup gusar, suara wanita itu terdengar samar-samar dengan suara benda bergesekan. Apa mungkin Nona Vero tidak sadar jika ponselnya melakukan panggilan? pikirnya.


"Ahh, Larry kenapa kau lama sekali. Apa aku harus mencoba menghubunginya lagi?" gerutu wanita itu di seberang sana. "Berengsek. Kenapa mereka masih mengikutiku?" lanjutnya panik dan gelisah. Itulah yang Darren tangkap dari nada suara wanita itu.


"Nona, kau baik-baik saja?" Darren mencoba memastikan, tetapi tidak ada sahutan dari sana. Dan justru tidak mendengar suara apapun lagi. Ia melihat layar ponselnya dan panggilan itu sudah terputus. "Damn!" pekiknya.


Darren berlari begitu saja meninggalkan Paman Brian, Ojisan Hiroki dan Kenzo yang menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. Bahkan melintasi Keiko yang berpapasan dengannya. Darren sudah berada di halaman dan mencoba menghubungi anak buahnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan wanita itu?


"Cepat lacak keberadaan Nona Veronica sekarang juga!" perintahnya pada anak buahnya yang menjawab panggilannya.


"Baik Bos Darren." Anak buahnya menyahut mengerti. Tanpa bertanya pun anak buahnya itu sudah paham apa yang harus mereka lakukan. Menyebarkan tim dan melacak keberadaan wanita itu.


Darren menyugar kasar rambutnya. Wajahnya yang datar itu nampak gusar dan entah apa yang di pikiran, hanya pria itu sendiri yang tahu. Ia berharap tidak terjadi apapun dengan wanita itu. Jika tidak, ia sudah bisa membayangkan wajah Nona Elie-nya yang sedih memikirkan teman baiknya.


Ketika Darren membalikkan tubuhnya ia terlonjak kaget mendapati seorang wanita cantik dengan wajah oriental khas Asia. Garis mata wanita itu terlihat pas di wajah wanita Asia itu, tidak sipit dan tidak lebar. Bibir tipis dan mungil serta hidung mancung, tidak berlebihan. Baru kali ini Darren melihat wajah seorang wanita dari dekat. Ralat, ia pernah berdekatan dengan Veronica, bahkan masih segar diingatannya akan bibir wanita itu yang sedikit tebal di bagian bawah. Serta bagian lainnya yang nampak lebih menonjol dari wanita Asia di hadapannya.


Oh, shittt. Apa yang kupikirkan?!


Darren meruntuki pikiran bodohnya. Ia bukan tipe pria yang berpikiran liar, bahkan pada wanita yang bertelanjang di hadapannya sekalipun.


"Namamu Darren?" Suara wanita itu mengembalikan kesadaran Darren dan menyoroti wanita di hadapannya itu.


"Benar. Ada apa Nona?" sahut Darren datar.


Suara berat pria itu mampu menghasilkan gelombang getar di dalam tubuh Keiko hingga menjalar pada detak jantungnya yang kini berdegup kencang.


Untuk mengendalikan dirinya, Keiko menarik napas panjang diam-diam. "Hm, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan benar karena kau sudah menolongku kemarin. Jika tidak ada kau, mungkin aku akan tertimpa kayu besar dan sudah dipastikan akan berakhir di rumah sakit," ucapnya lembut.


"Tidak masalah Nona. Siapapun yang aku lihat dalam bahaya, maka aku akan menolongnya."


Jawaban Darren membuat Keiko tersenyum kecut di dalam hati. Jadi tidak hanya dirinya saja, pria itu akan rela menolong siapapun yang dalam bahaya? pikirnya.


"Tapi tetap saja aku harus berterima kasih padamu." Biarlah. Yang terpenting Keiko mengucapkan rasa terima kasih dengan tulus. "Dan aku ingin mengundangmu makan siang di rumahku dan-"


"Maaf Nona, sepertinya siang ini aku sedikit sibuk karena harus menyelesaikan pekerjaanku agar bisa cepat kembali ke London." Darren menyela ucapan wanita di hadapannya. Ia menolak tegas dan memberikan penjelasan yang dapat di pahami oleh wanita itu.


"Tapi Darren, aku-"


Suara dering ponsel Darren menghentikan kalimat Keiko yang hendak memprotes.


"Maaf Nona, aku harus menjawab telepon. Permisi." Setelah berpamitan, Darren segera berlalu untuk menjawab panggilan dari anak buahnya, meninggalkan Keiko yang berdecak kesal karena ditinggalkan begitu saja.


"Bagaimana?" tanya Darren kemudian begitu menjawab panggilan dari anak buah.


"Teman pria?" Kening Darren mengernyit, entah kenapa ia terganggu dengan kalimat 'teman pria', alih-alih merasa lega mendengar jika wanita itu sudah aman.


"Benar. Teman pria, saat kami menghajar dua pria yang mengikuti Nona Veronica tiba-tiba saja temannya datang dan membawanya pergi."


Tidak ada sahutan dari Darren, pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bos Der, kau masih disana?" Hingga anak buahnya itu harus memastikannya jika panggilan mereka masih terhubung.


"Ya," jawabnya setelah beberapa detik terdiam. "Lalu siapa dua pria itu?"


"Hanya fans fanatik Nona Veronica. Mereka mengaku sudah beberapa hari mengikuti kemanapun Nona Veronica pergi."


Mendengar laporan diseberang sana, Darren menarik napas dalam. "Kalau begitu sebarkan saja anak buah untuk mengawasinya dari jauh."


"Baik."


Sambungan telepon terputus. Sejenak Darren menatap layar ponselnya. "Sepertinya ada yang salah denganku. Kenapa aku menyuruh mengawasinya dari jauh?" gumamnya bingung. Ia kemudian kembali melangkah dan menuju halaman tamu yang terbuka.


***


Sudah hampir satu minggu Darren berada di Jepang. Ia memberikan strategi yang lebih baik untuk pertahanan Klan Shogun Young. Dengan membekali Kenzo beberapa ilmu yang ia kuasai. Kenzo tentu sangat senang, selain mengurus perusahaan ia bisa menjadi pimpinan Klan Shogun Young.


"Kenapa tidak kau saja yang menjadi pemimpin Klan Shogun Young?" Paman Brian secara terang-terangan menunjukkan keberatan jika putranya menjadi pemimpin Klan Shogun Young. Ia hanya mencemaskan keselamatan putranya.


"Aku tidak masalah Pa. Selama ini aku bisa menjaga Klan Shogun Young saat Kakek Yushio tidak sadarkan diri." Kenzo merasa tidak setuju dengan ayahnya. Ia tidak lemah dan bisa melindungi dirinya sendiri.


"Tapi Ken, nyawamu menjadi taruhannya!" Suara Paman Brian meninggi, entah bagaimana lagi ia memberitahu putranya yang keras kepala itu.


"Ck, aku bisa menjaga diriku sendiri, Pa. Lagi pula aku tidak sendiri, ada Nobi dan Dai yang selalu bersamaku." Namun Kenzo tetap pada pendiriannya, ia akan menjadi pemimpin Klan Shogun Young seperti keinginan Kakek Yoshio.


Paman Brian menghela napas. Ia tidak bisa mengubah keputusan putranya, sehingga mau tidak mau harus menyetujuinya. "Baiklah..." putusnya pada akhirnya meskipun berat.


Darren dan Kenzo saling pandang, senyum Kenzo mengembang. Sebenarnya tanpa sepengetahuan ayahnya, ia sudah banyak berlatih menjadi pemimpin dan bahkan ia sudah sering membunuh dengan caranya sendiri.


"Kalau begitu semua sudah diputuskan. Jika Kenzo yang akan menjadi pemimpin Klan Shogun Young. Aku akan mengatakannya pada Daddy. Dan sebelum aku kembali ke London, aku akan menemui Kakek Yushio," ujar Darren.


"Sepertinya kau benar-benar tidak sabar ingin segera kembali ke London," kata Paman Brian. "Apa kekasihmu disana menunggumu?" imbuhnya menggoda. Yang sebenarnya Paman Brian mengira jika Darren sudah memiliki kekasih.


Kenzo yang mendengarnya hanya terkekeh. Ia tahu benar jika Darren tidak memiliki kekasihnya. Jangankan kekasih, dekat dengan wanita saja sepupunya itu sudah menjaga jarak terlebih dulu.


"Tidak Paman, tidak ada yang menungguku," sanggah Darren cepat hingga membuat Paman Brian mengernyit bingung.


"Darren tidak memiliki kekasih, Pa." Dan perkataan Kenzo memperjelas status sepupunya itu.


"Ah, begitu." Paman Brian mengangguk paham. "Kalau begitu, apa kau ingin mempertimbangkan Keiko untuk menjadi kekasihmu Der?"


Perkataan Paman Brian membuat Darren tertegun, sementara sukses membuat tubuh Kenzo menegang.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...