The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Menyalurkan Perasaan)



Austin menghembuskan napas dalam. Apa sebenarnya gadis ini sedang cemburu padanya?


"Jadi kau cemburu, hm?" tanya Austin menggoda. Menyelipkan senyum di sudut bibirnya.


Kepala Licia menggeleng. "Tidak. Aku tidak cemburu!" elaknya. "Aku hanya tidak habis pikir saja, kau bisa bersama gadis itu, tetapi tidak bisa kembali ke London. Apa kau begitu berat meninggalkannya, huh?!"


"Astaga, Licia...." Austin mulai gemas. Ia bahkan mencengkram masing-masing tangannya. "Aku tidak bisa kembali ke London karena aku sedang menghadiri pelelangan saham di China dan saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan Alisha di Restauran saat sedang makan siang." Ya, pelelangan saham yang saat ini sudah berpindah nama menjadi nama Licia.


"Ah, jadi namanya Alisha." Licia mengangguk-angguk karena baru mengetahui nama gadis itu. Namun memicing sinis pada Austin.


Pria itu menepuk keningnya. Dari semua perkataannya yang panjang lebar, Licia justru hanya berseru nama gadis yang bernama Alisha.


"Dia memang bernama Alisha, putri dari Paman Adam dan saat itu Alisha tidak sendiri, ada Dameer yang menemaninya." Mencoba menjelaskan agar dirinya tidak lagi disudutkan dan Licia tidak lagi salah paham padanya. Dengan kata lain, dirinya tidak hanya berdua saja karena ada Dameer yang menemani.


"Oh...." Kembali gadis itu mengangguk-angguk, tanpa menyurutkan tatapan sinisnya. "Tapi kenapa saat disana kau tidak menghubungiku? Pesanku saja tidak kau balas!"


Huh. Austin kembali dicerca pertanyaan yang sulit untuk dijawab olehnya. "Hm, itu.... karena aku...."


"Apa? Karena apa?" Licia mendorong pelan dada Austin. "Karena kau memang sengaja, bukan? Kau sengaja membuatku kecewa?!"


"Tidak Licia." Austin menyanggah cepat diiringi gelengan kepala. "Aku tidak mungkin sengaja. Bahkan saat itu aku benar-benar sudah ingin membalas pesanmu."


"Benarkah? Tapi kenapa kau tidak membalas pesanku, kenapa malah menghapusnya?!"


"Aku tidak menghapus pesanmu, Licia!" Austin kembali dibuat gemas. Mana mungkin ia menghapus pesan dari Licia karena hanya membaca pesan dari gadis itu yang bisa mengobati kerinduannya.


"Tapi dengan jelas aku melihatmu menghapus balasan sebelum mengirimkannya padaku!" seru Licia spontan.


"Aku tidak--" Kalimat Austin tiba-tiba terputus. Ia merasa aneh dengan perkataan Licia yang mengetahui jika dirinya menghapus pesan balasan untuk gadis itu sebelum berhasil dikirim. "Ka-kau tau dari mana? Tidak mungkin kau mengetahuinya." Kini kedua mata Austin yang memicing curiga. Karena saat di ruangan hanya ada dirinya dan Bastian saja. Atau mungkin Bastian yang memberitahukan gadisnya itu?


Licia memejam singkat kedua matanya dan meruntuki kecerobohan karena kelepasan bicara. Ia bahkan tidak berani menatap Austin yang kini menatapnya penuh selidik.


"A-aku hanya asal menebak saja," cicitnya membuang muka. Berharap Austin tidak dapat membaca raut wajahnya yang mendadak gugup.


"Aku tidak yakin." Ya, mana mungkin Austin percaya begitu saja. "Tadi kau mengatakan jika jelas-jelas kau melihatku menghapus pesan belasan. Memangnya kau berada disana, hm? Katakan dengan jujur!" Dan bergantian pria itu yang mencerca pertanyaan. Tidak masuk akal jika gadis itu hanya menebak saja.


"A-aku...." Suara gadis itu tertahan lantaran mengigit bibir bagian bawahnya.


"Licia...." Austin menekankan suaranya agar gadis itu segera mengaku.


"Baiklah, aku akan menjawabnya!" seru Licia kesal lantaran dirinya sudah terdesak. "A-aku mengetahuinya dari rekaman video yang dikirimkan oleh Kak Ar dan Kak Ar mendapatkan semua rekaman video itu dari Bastian." Pada akhirnya gadis itu mengaku.


"Apa?" Rahang Austin terjatuh. Ia tidak menduga jika Bastian merekam dirinya. Benarkah? Bahkan ia bertanya-tanya dalam hati. "Ada berapa video yang dikirimkan oleh Kak Ar?" tanyanya kemudian.


"Hm, tiga, empat, atau lima...." Licia mencoba mengingat video yang dikirimkan oleh Arthur padanya. "Ah, sepertinya ada lima puluh."


"What???" Austin syok setengah mati. Ia mengira hanya tiga hingga lima saja. Yang ternyata ada sebanyak lima puluh. Lalu, apa saja sekiranya rekaman video yang dikirimkan oleh Bastian pada kakaknya. Jangan katakan jika Bastian juga merekam saat dirinya mengamuk ingin segera kembali ke London dan bahkan video disaat dirinya sedang mabuk? pikirnya.


"Pinjam ponselmu." Ya, Austin harus memeriksanya sendiri di dalam ponsel Licia.


"Eh, untuk apa?" Licia menjadi gelagapan.


"Aku hanya ingin pinjam."


"Tidak... Tidak. Tidak boleh!" Licia menggeleng, lalu berjalan mundur untuk mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas kursi.


Namun Austin yang menyadarinya, melintasi Licia dan berjalan menuju kursi lebih dulu. Dan dalam sekejap saja ponsel Licia sudah berada di tangan Austin.


"As, kembalikan ponselku!" Licia mendekati Austin untuk merebut kembali ponselnya.


"Tidak. Sebelum aku selesai melihat semua video yang dikirimkan oleh Bas pada Kak Ar dan Kak Ar mengirimkannya juga semua videonya padamu." Austin tidak pedulikan Licia yang merengek padanya. Ia mulai memecahkan sandi di ponsel Licia. Karena ia sudah mengetahui kode sandi ponsel Licia, sehingga memudahkannya memeriksakan isi ponsel gadis itu.


Licia menyerah. Gadis itu membiarkan Austin membuka seluruh video yang dikirimkan oleh Arthur. Dan dalam beberapa detik saja, mata Austin melebar penuh. Semua kegiatannya selama di Indonesia dan bahkan negara lain yang dikunjungi oleh dirinya dan Bastian direkam oleh asistennya itu tanpa sepengetahuan dirinya.


"Bastian....." Giginya bergemeletuk menahan amarah pada asistennya itu. Sebab selain video dirinya presentasi, rapat dan kunjungan ke negara lain. Terdapat video saat ia sedang mengamuk dan ketika menscroll lebih kebawah ia mendapati video dirinya yang sedang mabuk dan meracaukan nama Licia. Sungguh memalukan.


"Kenapa? Kau terlihat keren di video itu. Aku baru tau ternyata kau suka mengigau disaat mabuk," ucap Licia yang diam-diam mengintip video yang sedang berputar itu.


Telinga Austin menjadi merah. Secara tidak langsung, gadis itu tengah menggodanya.


Licia terkekeh sembari mengambil kembali ponsel miliknya dari tangan Austin. "Jadi disana kau sangat merindukanku, ya?" godanya disertai senyum yang dikulum.


Austin tersipu malu. Namun dapat menguasai dirinya. "Sejak kapan kau mendapatkan video itu, hm?" Dan ia mengalihkan pembicaraan. Sebab ia harus mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.


Sontak saja Licia kembali menutup rapat bibirnya. Ia tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya.


"Hm, itu...."


"Cepat, katakan!" Austin mendesak dengan sorot mata yang memicing tajam.


Gadis itu kembali merasa tersudut. Tidak ada pilihan selain menjawab jujur. "Se-sejak tiga hari yang lalu."


Satu alis Austin terangkat naik saat mendengar jawaban Licia. "Tiga hari yang lalu?" Detik itu juga ia teringat jika selama tiga hari berturut-turut mengunjungi Kediaman Scott tetapi Paman Zayn selalu mengatakan jika Licia tidak ingin menemui dirinya. Itu artinya.....


"Jadi kau sudah mengetahui yang sebenarnya, tetapi tidak ingin menemuiku, hm?" Austin melangkah maju dengan sorot mata yang tajam. Sehingga Licia reflek melangkah mundur.


"Ma-maafkan aku," cicitnya mendadak takut.


"Kau dan Paman Zayn dan bahkan Jac sengaja mengerjaiku, hm?" Meski berkata lembut, tetapi Licia justru bergidik ngeri lantaran aura mengintimidasi Austin begitu kuat terasa.


"A-aku minta maaf. Daddy dan Jac hanya mengikuti perkataanku saja." Ya, sebenarnya saat itu ia tidak lagi marah dan mencoba mengerti alasan Austin tidak menghubungi dirinya dan tidak membalas pesan darinya. Bahkan ia juga sudah mengetahui jika gadis itu bernama Alisha yang merupakan putri dari Paman Adam. Hanya saja ia ingin menguji kesungguhan Austin padanya.


Namun Austin tidak mengindahkan perkataan Licia. Semakin gadis itu melangkah mundur, maka Austin akan melangkah maju.


Langkah Licia terhenti saat kaki wanita itu tersudut oleh tanaman besar. Ia tidak dapat bergerak kemanapun lantaran Austin sudah memerangkap dirinya.


"A-aku minta maaf." Jika sudah seperti ini, Licia hanya bisa mengucapkan permintaan maaf berulang kali. "A-aku hanya ingin melihat usaha dan kesungguhanmu saja," ucapnya penuh kejujuran.


Menarik sudut bibir, Austin menekan Licia melalui tatapannya. "Lalu, setelah kau mengetahui kesungguhanku. Apa yang akan kau lakukan, hm? Apa kau sebenarnya sudah menerimaku hari itu juga?"


Benar. Sejak mendapatkan kiriman video dari Arthur, Licia begitu terharu melihat kesungguhan Austin padanya. Ia baru tahu jika pria itu sangat sibuk dengan berkunjung ke berbagai negara di Asia, sehingga sangat jarang menyentuh ponselnya. Terlebih ketika ia baru saja mencuri dengar percakapan Austin dengan Daddy Zayn membuatnya begitu terkejut lantaran pria itu tiba-tiba melamarnya di hadapan Daddy-nya. Lalu bagaimana dia bisa menolak jika ia sendiri memiliki perasaan yang sama.


"Apa kau juga mendengar percakapan lamaranku pada Paman Zayn, hm?" Tatapan Austin begitu intens, membuat gadis itu menelan saliva dengan susah payah.


Licia mengangguk kaku. "I-iya, aku mendengar semuanya." Dan memang dirinya, Jacob serta Mommy Angela mencuri dengar percakapan mereka.


Saat mendengarnya, Austin semakin mengunci pandangan Licia padanya, namun gadis itu mencoba untuk mengalihkan pandangan, sehingga tatapan mereka harus terputus. Dengan cepat, jemari Austin mengapit dagu Licia dan menuntun pandangan gadis tertuju kembali padanya.


Deg


Jantung Licia berdegup kencang ketika matanya kembali bersitatap dengan Austin.


"Kenapa tidak ingin menatapku, hm?" tanya Austin lembut. Namun hal itu membuat Licia terkesiap dan bahkan tubuhnya begitu tegang.


"A-aku...." Licia terbata-bata. Rasanya sulit sekali bernapas seolah ia lupa caranya untuk bernapas.


"Tenang saja, aku tidak mungkin memakanmu." Austin terkekeh kecil sembari menyelipkan sulur anak rambut ke belakang telinga gadis itu.


Licia terpaku dengan perlakuan Austin. Bahkan terpana dengan ketampanan pria itu. Ah, entah kenapa ia sedikit meruntuki kebodohannya karena tumbuh bersama tetapi tidak pernah memandang Austin lebih dari teman. Dan untunglah ia belum terlambat menyadarinya.


Gadis itu tidak menyadari jika kepala Austin sudah lebih dekat dari wajahnya. Dan seketika bibir mereka saling bersentuhan. Licia terkesiap dengan mata yang membeliak. Lagi-lagi Austin menyerang dirinya yang tanpa kesiapan.


Austin menekan leher Licia agar gadis itu tidak bisa memalingkan wajah. Bibirnya terus melesak masuk dan menuntut balasan akan ciumannya. Karena sudah terhanyut oleh ciuman Austin yang begitu lembut, Licia segera membalasnya. Meski masih amatir, gadis itu mengikuti pergerakan bibir Austin. Sehingga memudahkan dirinya mengakses bibir Austin yang begitu lembut mengecap bibirnya.


Dan Austin, ia benar-benar merasa candu dengan rasa bibir Licia yang semanis buah Cherry, sehingga tidak ingin mengakhiri ciuman mereka. Jika bisa ia akan mencium gadis itu hingga malam menjelang, tidak peduli jika harus mendapatkan hantaman tinju dari calon ayah mertua yang menyebalkan itu. Yang terpenting bagi Austin, bisa menyalurkan perasaannya melalui ciuman.


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...