The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Rasa Yang Bersarang Di Hati



Sudah dua hari ini Arthur tidak melepaskan pantauannya kepada Elie. Tanpa sepengetahuan adiknya itu, ia memang mengerahkan lebih banyak anak buah untuk menjaga Elie. Semua terlihat aman-aman saja, tidak mendengar laporan dari salah satu anak buah jika Mikel menemui Elie. Sehingga ia bisa sedikit bernapas lega dan fokus pada pencariannya menemukan Helena.


"Dimana kau, Helena!!" Nampak frustasi, itulah yang terlihat. Rambut Arthur yang semula ditata rapi dengan dibaluri pomade, kini nampak berantakan. Namun terkesan sangat tampan ala bad boy dan kembali menjadi trending di dalam perusahaan mengenai penampilan Presdir mereka.


Darren menghela napas berat, sebesar itukah pengaruh Helena di kehidupan temannya itu? Baru pertama kalinya Darren melihat Arthur seperti ini. Arthur bukan tipekal pria yang mudah terpengaruh dengan perasaan apapun yang akan mencampuradukan urusan pribadinya. Selama ini ia menjadi saksi perjalanan hidup Arthur, berada di sisi pria itu hampir 24 jam membuatnya cukup paham sikap dan sifat Arthur.


Nona Helena, cepatlah kembali. Sepertinya hanya kau yang bisa menjinakkannya.


Darren pasrah, sudah beberapa hari ini dirinya serta para karyawan lain menjadi pelampiasan kemarahan Arthur dan ia berharap jika akan menemukan titik terang keberadaan Helena.


Darren menarik napas panjang sebelum memasuki ruangan Arthur dengan sebuah berkas yang ia genggam. Bukan takut yang menjadi permasalahannya, tetapi teriakan Arthur selalu memekakkan telinga. Bisa saja telinganya itu akan menjadi tuli untuk kedepannya.


Begitu masuk ke dalam ruangan, mendapati Arthur yang tengah menengadahkan kepala di kursi kebesarannya dengan mata yang terpejam. See? Lagi-lagi atasan sekaligus temannya itu terlihat sangat frustasi.


"Ar, laporan bulan ini sudah aku periksa dengan benar, tidak ada kesalahan apapun, kau bisa segera menandatanganinya." Tidak peduli, Darren tetap menyuarakan maksud tujuan datang ke ruangan Arthur.


"Ehm, letakan saja di meja Der." Arthur menyahut dengan malas, masih setia dengan mata yang terpejam.


"Tapi kau harus segera menandatanganinya. Laporan ini akan langsung aku serahkan ke bagian staf keuangan." Tentu Darren tidak mau tahu, bagiamana pun caranya Arthur


"Der, apa kau tau apa yang paling membuatku ingin sekali-kali menghajarmu?" Arthur tidak merespons perkataan Darren yang memaksa dirinya untuk menandatangi berkas laporan keuangan tersebut, pria itu justru melayangkan pertanyaan yang membuat Darren tertegun.


Kenapa tiba-tiba Ar ingin menghajarku? pikirnya.


"Aku tidak tau Ar." Otaknya berputar mencari kesalahan yang mungkin tanpa sadar telah membuat Arthur kesal padanya.


Arthur sontak membuka mata, menegakkan posisi duduknya diikuti dengan mata yang menajam terarah pada Darren. "Kau begitu cerewet seperti wanita. Apa kau ingin aku menghajarmu, heh?!" Mendengkus kesal dan mengambil berkas laporan keuangan di atas meja. Arthur membubuhi tanda tangannya di atas laporan tersebut, lalu memberikannya kembali kepada Darren masih dengan wajah yang bersungut kesal.


Darren meraih berkas itu. Kali ini ia mendapatkan serangan kemarahan Arthur kembali. Jika saja tidak mengingat kebaikan Paman Xavier kepada Daddy Jack dan juga dirinya, mungkin saat ini ia sudah menendang bokong Arthur.


"Kalau begitu aku permisi dulu Ar." Tugasnya sudah selesai dan Darren tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan bersama Arthur yang menjadi sangat menyebalkan itu.


"Kau mau kemana? Aku belum mengusirmu Der!" Namun seruan Arthur menghentikan langkah Darren yang baru saja memutar ara tubuh.


"Memberikan berkas ini ke bagian staf keuangan," sahutnya jujur.


"Duduklah sebentar, aku ingin bicara denganmu!"


"Aku berdiri saja, katakan apa yang ingin kau bicarakan Ar." Bukan tidak ingin duduk, hanya saja jika posisinya berdiri akan memudahkan dirinya melarikan diri jika Arthur melemparkan barang kepadanya.


"Ehm, mungkin terdengar sensitif untukmu, tapi aku hanya ingin kau menjawab dengan jujur," kata Arthur bermakna dalam, namun Darren tidak bisa menebak apa yang ibu dibicarakan oleh Arthur.


"Baiklah, aku akan menjawab sebisaku."


"Sejak kapan kau mengetahui jika kau menyukai Elie?" tanyanya begitu ringan dan gamblang tanpa memikirkan perasaan Darren.


Tubuh Darren seketika menegang, sungguh Arthur benar-benar ingin menyiksa dirinya yang sedang dalam proses move on.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung sesuatu yang berusaha ingin kau hilangkan. Tapi aku ingin mendengarnya langsung untuk memastikan sesuatu." Benar, Arthur hanya ingin mengetahui apa yang ia rasakan. Apakah bisa disebut cinta seperti perasaan cinta dari Darren untuk adiknya itu.


"Aku tidak tau, tapi mungkin kau sudah menyadarinya jika aku menaruh kekaguman pada Nona Elie sejak kecil."


"Lalu apa itu disebut cinta? Kau pasti hanya menganggapnya sebagai kakak saja, seperti kau menganggap Kim, Frey, Liv dan juga Grei sebagai adikmu."


Darren nampak berpikir, mencoba menimbang perkataan Arthur. Namun seperkian detik kemudian ia menggeleng keras.


"Tidak. Aku tidak merasakan apapun ketika berdekatan dengan Kim, Frey, Liv dan Grei. Tapi hanya melihat Nona Elie jantungku sudah berdebar tidak jelas. Hanya itu yang membuatku yakin jika aku memiliki perasaan untuk Nona Elie," ujarnya memberitahu. Tetapi detik itu juga baru tersadar apa yang baru saja ia utarakan. "Maaf Ar, aku tidak bermaksud memiliki Nona Elie. Dia berhak memilih pasangan hidupnya sendiri."


"Baiklah, cukup!" Tangan Arthur mengintrupsi kalimat Darren yang belum selesai itu. "Aku hanya ingin memastikan itu, Der." Menurutnya, ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Jantung berdebar ketika melihat wanita itu bukan karena memiliki suatu penyakit, itu adalah perasaan yang di namakan cinta. Ck, Arthur meruntuki kebodohannya yang tidak tahu menahu mengenai rasa yang sudah bersarang di hatinya.


"Kau boleh pergi dari ruanganku, Der!" ujar Arthur dengan santainya.


Hah? Darren tercengang. Lalu tujuan Arthur menanyakan hal itu untuk apa? Hanya mengingatkan akan perasaannya yang tidak akan pernah tersambut hingga kapanpun itu.


"Kalau begitu aku P-E-R-M-I-S-I dulu. Panggil aku kapanpun kau I-N-G-I-N-K-A-N!" Darren yang geram pun menekankan kata 'permisi' dan juga 'inginkan' sebagai sindiran untuk Arthur. Namun sialnya Arthur tidak peka dan terlalu acuh. Hingga Darren berlalu kesal dengan menutup pintu sedikit kasar dan membuat Gabriela sang sekretaris terperanjat kaget.


"Tuan Darren, ada apa?" Tentu Gabriela menanyakan apa yang terjadi, sebab tidak biasanya Darren membanting pintu seperti itu.


"Tidak ada apa-apa." Darren menyahut datar. "Jangan ke dalam, kau bisa terkena serangan jantung!" Setelah mengatakan demikian, Darren melenggang pergi begitu saja.


Gabriela menatap pintu ruang Arthur yang menjulang tinggi itu. Memang belakangan ini Presdirnya itu berlaku lebih kejam dari sebelumnya. "Bagaimana ini, aku harus menyerahkan berkas ini secepatnya." Gabriela mengigit satu jarinya, tentu ia tidak berani masuk seorang diri. Nyalinya lebih dulu menciut sebelum berani memberikan berkas tersebut. "Sebaiknya aku mengajak Tuan Darren untuk menemaniku ke dalam ruangan Tuan Arthur." Kepalanya mengangguk mantap, ia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan selanjutnya. Semoga saja Tuan Darren bisa menyelamatkannya, pikirnya.


To be continue


Yoona ingetin lagi ya...


Kimberly : Nico & Jennifer


Freya : Edward & Olivia


Livy : Daniel & Ashley


Greisy : Keil & Emely


Babang Arthur



Babang Darren



...Semoga kalian gak bosan dukung Yoona ya 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...