
Di dalam ruang bernuansa cokelat keemasan, samar-samar terdengar suara wanita melenguh pelan di dalam kamar. Perlahan suara itu semakin jelas hingga nyaris berteriak.
"Ahhh.... Hei Elie, pelan-pelan saja. Kau menyakitiku," lirihnya meringis.
"Ck, sudah tau akan terjadi seperti ini, seharusnya kau tidak menggunakan high heel. Lihatlah, kakimu menjadi memar seperti ini." Saat ini Aurelie tengah membantu memijat pergelangan kaki Veronica yang tadi malam sempat terkilir di acara club party.
"Jangan menyalahkanku. Salahkan pria bajingan itu yang ingin mengambil kesempatan untuk meniduriku," sahutnya kesal. Veronica bersedekap dan tidak terima jika temannya itu hanya menyalahkannya saja.
"Tapi baguslah kau berhasil melawannya. Kau benar-benar hebat sudah menunjukkan kepada pria bajingan itu jika kau bukan wanita lemah," seru Aurelie memuji aksi yang dilakukan oleh Veronica. Tidak semua wanita lemah dan hanya akan diam saja ketika ada seorang pria bajingan yang ingin melecehkan.
Mendengar pujian dari Elie, bibir Veronica yang semula mengerucut kini nampak melengkung sempurna. "Kau benar, aku hebat karena berhasil menendang miliknya. Biar dia tau rasa, saat ini mungkin miliknya tidak bisa bangun." Veronica tergelak, membayangkan kejadian semalam saat dirinya dibawa oleh pria itu ke dalam salah satu ruangan, beruntung pengaruh alkohol tidak begitu kuat dan masih dalam keadaan sadar sehingga ia masih mampu menendang milik pria tersebut. "Ini berkatmu Elie, kau pernah mengajariku bagaimana caranya melawan pria-pria diluar sana yang ingin melecehkan kita," sambungnya tersenyum. Ingat benar saat beberapa tahun silam, saat itu mereka tidak begitu dekat. Hanya saja sesuatu insiden saat di club party, Elie berhasil menyelamatkan Veronica yang ingin dilecehkan oleh seseorang, menghajar pria itu tanpa ampun. Sehingga Veronica mengetahui sisi lain dari Aurelie yang ia kenal lembut, hingga akhirnya mereka menjadi teman baik.
"Iya, kau harus berterima kasih padaku. Jika kau tidak bisa melawan, mungkin saat ini kau sudah berhasil di tiduri oleh pria bajingan itu dan di tinggalkan begitu saja," seloroh Aurelie bergidik ngeri. Bahkan ia tidak kuasa membayangkannya.
Veronica mengangguk, ia membenarkan apa diucapkan oleh Aurelie. "Aku beruntung memiliki teman seperjuangan sepertimu, Elie. Terima kasih." Sangking senangnya, kedua tangan Veronica mengguncang bahu Aurelie, hingga seluruh tubuh Aurelie terguncang sepenuhnya mengikuti guncangam tangan temannya itu. "Aaahhh, terima kasih Elie-ku sayang...." Lalu Veronica memeluk Aurelie dengan begitu erat.
"Hentikan Vero, kau membuatku sesak." Aurelie menepuk lengan Veronica karena terlalu erat memeluknya. Lantas membuat wanita itu segera melepaskan pelukannya.
"Sorry...." cicitnya menjulurkan lidahnya.
"Seperti biasa, kau selalu saja heboh meskipun keadaan kakimu memar seperti itu." Aurelie menggeleng kepala, ia sudah terbiasa dengan sikap bar-bar temannya.
"Ehm, yang sakit kakiku bukan mulutku Elie," sahut Veronica cepat. Dan Aurelie mengiyakan saja, karena jika disahuti kembali, Veronica akan semakin menjadi.
Aurelie beranjak dari tepi ranjang dan bercermin, merapikan sulur anak rambut yang sempat berantakan akibat ulah Veronica.
"Elie?" panggil Veronica, menatap punggung temannya itu.
"Hem?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Brandon?" Pertanyaan Veronica membuat pergerakan tangan Aurelie terjeda seketika.
"Aku sudah memutuskannya." Meskipun malas membahas mantan kekasihnya, Aurelie tetap menjawab tanpa menoleh, melirik Veronica melalui pantulan cermin.
"Wah benarkah?" Entah kenapa Veronica terkesan senang mendengar kabar tersebut. "Pria bodoh sepertinya tidak pantas untukmu," tuturnya kemudian hingga di angguki oleh Aurelie. Pandangan Veronica beralih kepada langit-langit kamar hotel, nampak tercenung memikirkan sesuatu. "Kau tau Elie, aku tidak percaya jika kau menjadi simpanan salah satu pengusaha seperti yang dibicarakan mereka. Aku lebih mengenalmu, dekat dengan pria saja tidak, apalagi menjadi simpanan pria kaya." Sebenarnya desas-desus mengenai Aurelie sempat membuat Veronica mencemaskan temannya itu, ia benar-benar tidak mempercayai berita hoax tersebut. Sebab ia sangat tahu bagaimana kepribadian Elie, bagaimana pergaulan Elie selama ini. Itu semua tidak luput dari perhatian dirinya sebagai teman baiknya.
Mendengar penuturan Veronica, Aurelie hanya tersenyum tipis menanggapi. "Aku tidak peduli mereka ingin menyebarkan citra buruk tentangku. Aku tidak perlu memberitahu bagaimana diriku bukan? Karena mereka yang sudah tidak menyukaiku akan selalu menutup mata mengenai kebaikanku dan justru sebaliknya, mereka akan melebarkan mata untuk melihat keburukanku. Jadi aku tidak ingin mengambil pusing, aku sudah cukup memiliki kau dan juga Mandy yang percaya padaku."
Sungguh Veronica dibuat terharu mendengar perkataan Elie yang memang ia kenal dapat menghadapi situasi apapun. "Kau memang luar biasa Elie, aku memberikanmu dua ibu jari." Veronica benar-benar mengacungkan dua ibu jarinya kepada Aurelie. Hingga sukses membuat Aurelie terkekeh-kekeh.
"Lagi pula Kak Ar tidak akan tinggal diam saja. Berita seperti itu akan dengan mudah dihilangkan." Aurelie membatin dengan seulas senyum.
"Baiklah, karena pergelangan kakimu sudah lebih baik, aku pergi dulu," tutur Aurelie. Setidaknya ia tidak perlu khawatir lagi karena kaki Veronica sudah lebih membaik.
"Kenapa cepat sekali. Aku kesepian dan kebetulan tidak ada jadwal pemotretan selama beberapa hari."
"Ck, kau ini. Lebih baik kau membeli apartemen dari pada harus tinggal di hotel terus menerus," ujar Aurelie. Setau dirinya, Veronica lebih nyaman menetap di hotel ketimbang membeli apartemen pribadi yang lebih dekat dengan agensi mereka.
"Aku hanya baru menginap di hotel ini selama dua hari saja." Veronica membantah tuduhan Aurelie, ia memiliki rumah meski tidak besar. Hanya saja jarang di singgahi, ia lebih nyaman menetap di hotel.
"Baiklah... Baiklah... terserah kau saja." Aurelie tidak ingin memperpanjang. Ia tidak pernah ikut campur mengenai dimana Veronica tinggal. Langkahnya kemudian tertuju pada ruang tamu, lalu meraih tas yang berada di sana. "Aku pergi dulu Vero, bye...." Aurelie kemudian melambaikan tangannya.
"Elie.... wait! Aku akan mengantarmu sampai depan pintu." Dari dalam kamar, Veronica berteriak. Ia ingin mengantar temannya itu hingga ke depan pintu. Jika perlu, ia akan mengantar hingga Aurelie masuk ke dalam mobil.
"Tidak perlu di antar." Namun percuma saja menolak, Veronica sudah beranjak berdiri dan berjalan perlahan dengan tertatih-tatih. "Iish kau ini." Aurelie berdecak lidah, mau tidak mau ia harus memapah tubuh Veronica.
"Aku masih bisa jalan Elie, meskipun sedikit sakit." Veronica menolak bantuan Aurelie, ia berjalan mendahului temannya mencapai pintu. Aurelie hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu menyusul Veronica menuju pintu.
"Baiklah, aku pergi dulu," ucapnya saat sudah berada di ambang pintu ketika Veronica membukakan pintu tersebut untuknya.
"Hem, hati-hati dijalan," jawab Veronica. "Dan terima kasih sudah memijat kakiku sampai merasa lebih baik seperti ini."
Aurelie terkekeh. "Tidak masalah, tapi aku akan mengirim nomor rekeningku."
Mendengar ucapan Aurelie, bibir Veronica mencebik. "Ck, kau ini." Dan keduanya terkekeh. Hingga kemudian Aurelie berpamitan dan segera meninggalkan Veronica.
***
"Ck, sial. Ternyata dia hanya menemui temannya saja." Helena reflek memukul dinding, menggambarkan betapa ia kesal karena tidak mendapati wanita itu bersama dengan seorang pria. Padahal ia sudah menyiapkan kamera ponselnya untuk diabadikan sebagai barang bukti.
Pandangannya masih berpusat pada punggung Elie yang semakin menjauh. Menghentakkan kaki, lalu segera berlalu dari sana menuju lift.
Baru saja mengayunkan langkah menapaki Lift, ponselnya yang berdering mengentikan langkahnya. Lantas ia segera melihat siapa yang menghubungi dirinya. Wajahnya berubah sendu, namun perlahan kembali datar disertai dengan decakan malas.
Ya, Helena malas menjawab telepon dari ayahnya yang berada di Kota Westminster, Inggris. Namun jika tidak menjawab, maka pria tua itu akan mendatangi dirinya.
Dengan terpaksa Helena menggulir tombol hijau di layarnya, lalu menempelkan ponsel pada daun telinga. "Ada apa Dad?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Daddy tau kau sedang berada di London. Kenapa tidak pulang ke Mansion, hm?"
Helena berdecak sinis tanpa diketahui oleh pria yang di panggil Daddy di seberang sana. "Untuk apa aku pulang jika keberadaanku tidak di inginkan disana? Bukankah sudah ada penggantiku dan Mommy," jawabnya acuh.
"Helen, Margareth juga Mommy-mu. Mau sampai kau tidak mengakuinya?" Terdengar nada tidak suka di seberang sana.
"Dia hanya istrimu Tuan Jorge Bonham. Mommy-ku sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"HELEN!!" bentak Jorge. Tidak terima dengan ucapan putrinya. "Ingat, selama dua tahun ini aku membantu pria yang kau cintai itu!"
"Ck, aku tidak memaksamu saat itu. Kau sendiri yang suka rela berinvestasi di perusahaan Mikel," sahut Helena sinis. "Aku akan mengembalikan saham yang sudah kau beli, jadi jangan khawatir Tuan Jorge Bonham, urus saja istri dan putrimu yang lain. Aku tidak akan membiarkan mereka mencampuri urusanku!" sambungnya geram. Sebelum kemudian Helena segera memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Deru napasnya naik turun, ia begitu emosi setiap kali berbicara dengan Daddy-nya. Sudah dua tahun hubungan mereka merenggang, karena pria yang selalu ada untuknya sejak ia lahir hingga Mommy tercintanya tiada, Jorge menjadi berubah dan terpikat dengan janda cantik yang sudah memiliki putri yang usianya tidak jauh darinya.
"Hari ini aku sangat sial!" gumamnya sembari menapaki kaki masuk ke dalam lift, tanpa memperhatikan kedua pria yang juga berada di dalam lift.
Tangannya mendial nomor seseorang yang sudah ia tugaskan selama dua hari ini. "Kau sudah melakukan apa yang kuminta?"
"Sudah Nona."
"Hem, pastikan wajah wanita yang bernama Elie Cassandra itu terlihat jelas. Aku ingin Mikel merasa jijik melihat wanita itu!" perintahnya hingga kemudian memutuskan sambungan telepon begitu diiyakan oleh suruhannya di seberang sana.
Ting
Pintu lift terbuka menandakan Helena sudah tiba di lantai dasar. Ia segera keluar dari lift, meninggalkan tanda tanya untuk kedua pria yang mendengarkan percakapan Helena.
"Kau mendengarnya Der?" tanya Arthur tidak lama setelah wanita itu berlalu. Ya, yang berada satu lift dengan Helena adalah Arthur serta Darren.
"Tentu aku mendengarnya," sahut Darren tanpa menoleh.
"Kalau begitu pastikan tidak ada video apapun mengenai Elie," ucapnya bernada perintah.
"Hem, akan aku pastikan tidak ada video apapun."
"Dan cari tau tentang wanita itu!" perintahnya kemudian. Lalu keluar dari lift dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana.
Darren mengekor langkah Arthur, namun pandangannya sejenak beralih pada ponsel. Jarinya mengetik sesuatu untuk di kirimkan kepada grup Black Lion.
Cari tau wanita yang berada satu lift denganku dan bos kalian. Four Season Hotel London. Pastikan malam ini aku mendapatkan informasi tentang wanita itu.
To be continue
Elie
Veronica
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...