The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hari Pertunangan



Beberapa minggu kemudian


Semua tamu nampak antusias menghadiri pesta pertunangan. Selain datang untuk memenuhi undangan, acara pesta seperti ini menjadi ajang mereka untuk memamerkan kekayaan, mempererat jalinan bisnis serta menambah banyak relasi.


Meskipun hanya mengundang tidak lebih dari 500 tamu undangan, pesta pertunangan Darren dengan Veronica disulap sangat indah di hotel mewah Shangri-La The Shard, London.


Malam ini Veronica dan Darren nampak serasi dengan pakaian yang senada. Veronica mengenakan gaun hitam semata kaki, yang memperlihatkan punggungnya yang mulus. Sedangkan Darren mengenakan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu.


Keduanya berjalan memasuki ballroom dengan Darren yang menggandeng tangan Veronica. Bisik-bisik terdengar jelas, mereka membicarakan wanita yang akan menjadi tunangan Darren. Meski bukan dari kalangan berada, tetapi Veronica mampu mencapai puncak menjadi seorang model terkenal dengan usahanya sendiri. Sehingga beberapa dari mereka memuji dan menilai jika Veronica sangat cocok jika bersanding dengan Darren.


Suara MC yang mengintrupsi membuat suasana seketika menjadi hening. Para tamu undangan ingin fokus menyaksikan pertukaran cincin yang akan berlangsung.


"Mungkin terdengar tergesa-gesa ditelinga kalian. Tapi inilah wanita yang kupilih untuk menjadi istriku di masa depan." Darren kemudian merangkul pinggang Veronica, memperkenalkan sang kekasih dengan bangga. "Karena dia akan menjadi bagian dari Keluarga Hamilton, maka siapapun yang membuat masalah dengannya, akan berhadapan denganku!"


Perkataan Darren sontak saja membuat Veronica tertegun, ia menoleh dan menatap kekasihnya itu penuh tanda tanya. Namun Darren hanya membalas dengan senyuman. Apa yang dikatakan tentu saja membuat Mommy Millie dan Daddy Jack setuju. Veronica sudah menjadi bagian dari keluarga mereka, sehingga siapapun tidak boleh menghina dan merendahkan calon menantu mereka.


Bukan tanpa alasan Darren berkata demikian, sebab ia dapat melihat tatapan sebagian tamu undangan yang tidak menyukai Veronica. Dan juga seorang pria yang secara terang-terangan cemburu dengan dirinya. Cade. Pria itu memang sengaja ia undang agar kedepannya berpikir ulang ketika ingin mencari masalah dengannya, dengan mendekati Veronica.


Semua yang hadir nampak mengangguk setuju. Mereka pun tidak ingin mencari masalah dengan calon istri Tuan Darren yang merupakan asisten serta tangan kanan kepercayaan Tuan Arthur, karena itu sama saja bunuh diri.


Sebelum pertukaran cincin, Daddy Jack memberikan sambutan terlebih dahulu kepada para tamu undangan yang sudah berkenan hadir di pesta pertunangan putra sulungnya. Menit berikutnya, MC kembali bicara dan dimulailah proses pertukaran cincin.


Suara tepuk tangan terdengar riuh memenuhi Ballroom. Terlebih Darren mengakhiri acara pertukaran cincin dengan mencium kening Veronica. Hanya melihat sekilas saja mereka sudah dapat menyimpulkan betapa pria itu sangat mencintai wanitanya. Maka untuk kedepannya mereka tidak akan pernah ingin bersinggungan dengan Keluarga Hamilton dan Keluarga Romanov atau keluarga-keluarga lainnya yang bersekutu dengan Keluarga Romanov.


Acara berlanjut dengan para tamu yang dipersilahkan untuk menikmati berbagai macam kudapan yang tersedia. Dibalut dengan alunan saxophone yang syahdu di telinga, mereka memilih berbincang sembari melahap kudapan.


"Hei As, ada apa denganmu? Belakangan ini kau terlihat berbeda." Elden bergabung bersama dengan Austin, mengambil satu kursi bar yang tersedia.


Austin berhenti meneguk minumannya dan menatap teman sekaligus sepupunya dengan kerutan dalam di keningnya. "Tidak ada yang berbeda, aku masih seperti yang biasanya."


Elden menggeleng cepat, ia segera membantah. "Tidak. Kau berbeda akhir-akhir ini. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya penasaran. Sebab selama yang ia tahu, Austin bukan pria yang pandai berdiam diri. Dan lebih suka berbaur ketimbang menikmati kesendirian.


"Banyak yang kupikirkan, salah satunya pekerjaan," sahutnya kembali meneguk wine.


Seolah mengerti, Elden mengangguk. Ia menyapukan pandangannya sejenak ke sekitar. Mendapati sosok Jolicia bersama adik-adik sepupunya, seketika ia teringat sesuatu.


"Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu bersama Licia. Apa kalian sedang ada masalah?"


Pergerakan tangan Austin yang ingin kembali meneguk minumannya terhenti seketika. Kemudian ia mengikuti arah pandang Elden. "Tidak," jawabannya spontan. "Aku sibuk di perusahaan dan dia juga sibuk di kampus." Memang satu bulan terakhir ini ia dan Jolicia jarang bertemu, sebab kesibukan masing-masing.


Tapi sungguh rasanya aneh, Elden tidak percaya begitu saja. Ia harus menggali lebih dalam lagi. "Kupikir dia sudah memiliki kekasih, karena itu kalian tidak bisa menghabiskan waktu seperti sebelumnya."


Bungkam. Austin enggan menjawab. Entahlah, ia hanya tidak ingin mencari tahu.


"Sebaiknya kau tinggalkan aku saja, El. Kau terlalu banyak bicara!" sindirnya ketus. Ia ingin menikmati kesendirian, tetapi sejak tadi Elden selalu mengganggu dirinya.


Elden menciut. Jika Austin sudah mengeluarkan aura permusuhan, maka satu-satunya jurus yang digunakan adalah melarikan diri.


"Baiklah, aku akan bergabung dengan yang lain," sahutnya. "Jangan terlalu banyak minum." Menepuk bahu Austin, lalu Elden segera melangkah pergi.


Dipandanginya sosok Jolicia yang tengah bercengkrama. Jika saja saat itu, ia tidak lepas kendali, mungkin Jolicia masih menempel padanya. Hanya karena pria berengsek yang bernama Maxime itu, Jolicia tidak mempercayai dirinya.


"Fucking!!" Austin menyentak gelas kristalnya di atas meja, sehingga menimbulkan getaran kecil. Dengan kesal, ia meninggalkan meja bar dan segera berlalu. Bukan untuk bergabung dengan yang lainnya, langkahnya justru meninggalkan Ballroom.


Dan kepergian Austin dari pesta menarik perhatian Jolicia yang sedang bersenggama. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Austin. Salahkan saja pria itu karena sudah membuat masalah. Sudah jelas Maxime hanya menolong dirinya saja dari berandalan yang ingin menggodanya. Tetapi justru Austin berpikir yang tidak-tidak mengenai Maxime.


"As, kau masih saja keras kepala," gumamnya berdecak. Masih segar di ingatannya ketika Austin menghajar Maxime dengan brutal dan mengakibatkan Maxime harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Tidak ada yang mengetahui permasalahan mereka, karena keduanya menutup masalah dengan baik. Terlebih tidak ingin merasa canggung saat berkumpul. Hanya karena kesalahpahaman dua minggu yang lalu, membuat hubungannya dengan Austin menjadi berjarak.


"As, Maxi hanya menolongku saja. Dia tidak pernah berniat jahat padaku!" Jolicia berteriak, mendorong bahu Austin yang kembali bersiap untuk melayangkan pukulan pada Maxim.


"Aku tau pria seperti apa dia!" seru Austin tetap bersikukuh dengan penilaiannya. Ia memang tidak memiliki bukti, tetapi cepat atau lambat ia akan mendapatkan bukti-buktinya.


"Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar denganmu!" Jolicia memejamkan singkat matanya. Baru saja ia mendapatkan serangan syok dari beberapa berandalan yang ingin melecehkan dirinya dan juga amarah Austin.


"Aku tidak mengajakmu bertengkar! Aku hanya ingin menghabisi bajingan ini!" Sembari menunjuk Maxime yang meringis kesakitan akibat menerima beberapa pukulan darinya.


"Tapi dia temanku! Maxi pria yang baik!" Jolicia tetap bersikeras membela Maxime.


"Jangan terlalu naif dan bodoh, Licia! Kau belum terlalu lama mengenalnya!" Austin sangat tidak menyukai Maxime, dari auranya saja ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.


"Aku tidak naif dan bodoh!!" Tentu ia tidak terima. Suaranya sedikit bergetar sebab merasa tersinggung dengan perkataan Austin.


"Baiklah, terserah kau saja. Aku sudah memperingatimu!" Austin tidak mau tahu lagi. Ia pun sangat kecewa terhadap Jolicia yang lebih memilih membela pria lain. "Jangan datang padaku jika ucapanku terbukti benar!" Setelah mengatakan hal itu, Austin segera melenggang pergi dari sana.


Jolicia hanya bisa menatap nanar punggung Austin yang menjauh. "Kenapa seperti ini?" gumamnya lirih. Tentu ia sedih saat melihat kilatan marah dan rasa kecewa Austin padanya.


"Eughh...." Lenguhan Maxime menyadarkan Jolicia. Wanita itu segera menghampiri Maxime. "Sebaiknya kau segera ke rumah sakit. Aku akan menemanimu." Lalu ia membantu Maxime untuk berdiri, memapah Maxim masuk ke dalam mobilnya.


To be continue


Bang Darren



Masih semangat kan.... yuk kita tuntaskan satu persatu 🤗🤗


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...