The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hanya Satu Pukulan



Kedatangan Zayn membubarkan mereka dari ruangan. Bukan tanpa sengaja, hanya saja mereka memiliki urusan. Lagi pula karena sudah ada Paman Zayn yang menjaga, mereka tidak perlu merasa cemas lagi.


Jacob, pria itu juga memiliki urusan. Sore ini memiliki janji temu dengan dosen pembimbingnya di L'eto Cafe yang berseberangan dengan rumah sakit.


Tinggallah Austin, Licia dan Paman Zayn. Keheningan lagi-lagi melingkupi ruang perawatan VVIP tersebut. Paman Zayn terdiam, pun dengan Austin yang tidak berniat membuka suara terlebih dahulu.


"Daddy, dimana Mommy?" Pada akhirnya Licia-lah yang membuka suara terlebih dahulu. Sedari tadi ia merasakan aura gelap yang menguar dari dalam tubuh Daddy-nya. Namun mendapati Daddy-nya datang ke rumah sakit tanpa Mommy Angela, tentu saja membuatnya bertanya-tanya.


Melihat wajah putrinya, ketegangan di wajah Daddy Zayn melunak. "Mommy-mu sedang sedikit flu, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat saja di Mansion." Ya, sebab itu tadi pagi ia tidak bisa menjaga Licia di rumah sakit dan menyuruh Jacob untuk menjaga Licia selama dirinya mengurus istri tercinta. Padahal istrinya itu baru saja keluar dari rumah sakit satu hari yang lalu, tetapi tiba-tiba saja mendadak flu pagi tadi.


Licia mendadak cemas. "Lalu, apa Mommy baik-baik saja? Sebaiknya Daddy menjaga Mommy. Kak Jac juga pasti akan pulang larut." Bukan bermaksud mengusir, hanya saja ia mencemaskan keadaan Mommy Angela.


"Mommy-mu sudah baik-baik saja. Sebelum datang kemari, Daddy-mu ini sudah membantu Mommy minum obat," ujarnya sedikit berdusta. Daddy Zayn menyadari kecemasan pada raut wajah putrinya dan jujur saja ia hanya ingin Licia fokus pada kesembuhannya. Jika putrinya itu mengetahui keadaan Mommy-nya yang sebenarnya, bisa dipastikan putrinya itu akan meminta untuk pulang sebelum waktunya.


"Lebih baik fokus saja pada kesembuhanmu jika tidak ingin membuat Mommy-mu bertambah sakit," kata Daddy Zayn memberikan sebuah nasehat. Licia mengangguk, ia tidak ingin membuat Mommy Angela bertambah sakit karena memikirkan dirinya. "Daddy akan menemanimu disini lebih lama sampai kakakmu datang," imbuhnya sembari melirik ke arah Austin yang ternyata juga menatap ke arahnya.


Austin terhenyak. Secara terang-terangan Paman Zayn tidak membiarkannya berada dalam satu ruangan Dengan Licia hanya berdua saja. Namun ingin protes pun rasanya percuma saja, ia tidak mungkin mendebat Paman Zayn yang sudah seperti ayah baginya.


"Bagaimana lukamu?" Austin sontak menoleh ke sumber suara ketika Paman Zayn bertanya padanya. Ia berpikir keberadaannya tidak terlihat mengingat sedari tadi Paman Zayn seperti dengan sengaja tidak menyapa dirinya.


"Luka di bahuku sudah mengering Paman," sahut Austin bersikap biasa saja. Meskipun jujur saja ia merasa sedikit kesal.


Daddy Zayn mengangguk, lalu kembali berkata, "Terima kasih kau sudah menyelamatkan Licia. Aku sudah mendengarnya dari Jac dan beberapa anak buahku cara kau menenangkan Licia."


"Iya, Paman." Austin menyahut dengan canggung. Jelas-jelas Paman Zayn hanya mengucapkan rasa terima kasihnya, akan tetapi kenapa yang Austin lihat dari sorot matanya, jika Paman Zayn seperti tengah mengejek dirinya. Apa Paman Zayn mengetahui jika caranya menenangkan Licia adalah dengan mencium putrinya? Jika benar, maka habislah dirinya. Paman Zayn pasti akan mengadukan pada Daddy Vier, pikirnya.


Lihatlah, bahkan saat ini Paman Zayn sedang tersenyum miring padanya. Sudah pasti mencibir dan menahan rasa geram.


"Daddy, bantu aku ke kamar mandi." Licia menggoyangkan tangan Daddy-nya itu. Sebenarnya ia ingin tahu lebih banyak lagi mengenai kejadian beberapa hari yang lalu, akan tetapi ia tidak tahan untuk buang air kecil.


"Kemarilah. Aku akan menggendongmu." Daddy Zayn sudah mengulurkan kedua tangannya, bersiap untuk menggendong putrinya.


Alih-alih menyambut, Licia justru menepis tangan Daddy Zayn. "Issh Daddy, aku masih bisa berjalan. Tidak perlu menggendongku."


Daddy Zayn terkekeh mendengar protes putrinya. "Baiklah, pegang tanganku saja sampai di depan pintu kamar mandi."


Licia mengangguk, kemudian ia memegang tangan Daddy Zayn. Sebelum melangkah menuju kamar mandi, Licia menoleh pada Austin dan memberikan senyum pada pria itu.


Austin balas tersenyum, ia memperhatikan Licia hingga gadis itu menghilang di balik pintu. Padahal hanya tersenyum seperti biasa, tetapi kenapa hatinya berdebar. Disentuhnya dada kirinya, benar-benar berdetak lebih cepat dari jantung normal pada umumnya. Apa ia memiliki tanda-tanda penyakit jantung? Tidak mungkin, bukan?


"Sebenarnya sejak kemarin aku bertanya-tanya." Suara Paman Zayn membuat Austin terkesiap, lalu memfokuskan pandangannya pada Paman Zayn.


"Kenapa Paman? Jika ada yang ingin Paman tanyakan, aku akan menjawabnya." Austin tahu jika Paman Zayn bukanlah pria bodoh yang tidak mengetahui apapun yang terjadi. Ia sudah siap jika Paman Zayn akan memberinya pelajaran karena telah lancang mencium putri tercintanya.


"Kau tau, aku ingin sekali menghajarmu!" Suara Daddy Zayn tiba-tiba saja berubah tidak ramah, bahkan terdengar marah. "Berani-beraninya kau mencium putriku!" sungutnya emosi.


See. Daddy Zayn mengetahuinya. Pria paruh baya itu nampak tidak terima. Putrinya yang polos sudah ternodai dan itu karena putra dari Xavier, musuh bebuyutan sekaligus teman baiknya. Sialnya ia tidak bisa memprotes, percuma saja, baik dirinya dan Xavier tidak ada yang ingin mengalah.


"Maafkan aku, Paman. Aku melakukannya karena ingin menenangkan Licia. Jika tidak seperti itu, dia akan terus merasa kesakitan." Austin menjelaskan. Ia tidak ingin Paman Zayn berpikir jika dirinya hanya ingin mengambil kesempatan.


Zayn berdecak. Ia memang mendengar dari Jacob bagaimana putrinya itu mengerang kesakitan. Tetapi pada saat Austin menciumnya, putrinya itu menjadi lebih tenang. Rasanya sulit dipercaya, tetapi semua saksi yang berada disana mengatakan demikian. Sial. Tidak ada celah untuk dirinya menghajar pria muda di hadapannya itu. Biar bagaimanapun berkat Austin, Licia bisa terselamatkan dan luka yang seharusnya diterima oleh Licia justru diambil alih oleh Austin yang menyadari jika peluru itu ingin melesat mengenai tubuh putrinya. Tetapi entah kenapa alasan apapun membuatnya tidak bisa terima.


"Lalu kenapa harus menciumnya, heh?!" tanyanya kemudian menghardik. Entahlah, Daddy Zayn benar-benar sangat kesal. Bisa tidak, jika ia menghajar satu kali wajah pria muda di hadapannya itu tanpa akan ketahuan oleh Xavier. Pria itu pasti akan menuntut balas jika menghajar putra bungsunya.


"Karena tidak ada cara lain lagi, Paman. Sebenarnya aku juga spontan mencium Licia. Dan diiluar dugaanku Licia berhenti memberontak dan tidak lagi merasa kesakitan." Ya, itulah yang sebenarnya Austin rasakan pada saat itu. Bukan benar-benar mengambil kesempatan. Sejak dulu ia selalu menghargai Licia sebagai gadis yang polos.


Daddy Zayn menyugar rambutnya frustasi. Benar-benar tidak ada cara untuk meredakan amarahnya. Sekali saja mungkin tidak masalah jika ia memukul Austin. Setidaknya amarahnya akan mereda.


Mengerti akan kekesalan pada raut wajah Paman Zayn, Austin terima jika ayah dari Licia itu menghajarnya. Ia memang patut disalahkan karena sudah mencuri ciuman pertama putri kesayangannya.


"Baiklah, aku tidak akan ragu lagi." Daddy Zayn berjalan beberapa langkah, mendekati Austin. Tinjunya sudah melayang dan... BUGH. Mendarat sempurna tepat di sudut bibir Austin.


Kepuasan tergambar pada raut wajah Daddy Zayn. Amarahnya benar-benar meluap hanya karena melayangkan satu pukulan saja.


Austin tidak merasa marah, atau pun tersinggung. Ia menerimanya dengan suka rela.


Mendengar suara yang cukup keras, Licia buru-buru keluar dari kamar mandi. Terlihat jelas jika Daddy-nya itu baru saja melayangkan pukulan di wajah Austin.


"Astaga, Daddy!" Licia terlonjak kaget. Ia segera mendekati Daddy-nya itu. "Kenapa Daddy memukul As?" tanyanya kesal dan menuntut penjelasan.


"Hanya masalah pria. Satu pukulan saja tidak akan membuatnya mendapatkan perawatan di rumah sakit." Daddy Zayn berbicara dengan pongah. Sungguh mengesalkan sekali.


Licia ingin marah, tetapi melihat Austin yang mengatakan tidak apa-apa melalui isyarat bibirnya membuat Licia urung memarahi Daddy-nya itu.


Setelahnya mereka kembali dalam suasana yang hangat, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya. Daddy Zayn pun tidak lagi menyindir Austin dengan kata mutiaranya. Hanya saja setelah ini, ia sangat yakin jika Xavier akan mendatanginya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...