The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Mikel Jhonson Bagian Dari Loz Zetas



Arthur bergegas meninggalkan perusahaan begitu mendapatkan panggilan dari Liam. Lion Boys sudah menemukan kelompok yang menyerang Elie beberapa waktu lalu. Dengan diikuti Darren, keduanya kini masuk ke dalam mobil dan berlalu dari Perusahaan. Berkendara selama satu jam lebih, mobil yang dikendarai Darren memasuki kawasan hutan wilayah Black Lion. Hingga tidak berselang lama, menampakkan bangunan tua kokoh yang sudah berdiri selama puluhan tahun.


Kedatangan Arthur serta Darren ke markas membuat para anak buah menyambut. Sekian purnama akhirnya mereka dapat melihat Arthur menginjakkan kaki kembali di Markas Besar Black Lion. Sebab selama ini bos muda mereka itu lebih memilih memberi perintah dari balik layar.


"Selamat sore Bos Ar." Salah satu anak buah mendekati.


"Hem, dimana As dan yang lainnya?" tanyanya.


"Mereka di ruangan kerja, bos."


Arthur tidak menyahut kembali, ia bergegas mempercepat langkahnya menuju ruangan kerja para Lion Boys. Langkah Arthur disusul Darren terhenti di dalam ruangan yang terdapat beberapa komputer dan alat-alat canggih media komunikasi ciptaan pemuda-pemuda tersebut.


"Kak Ar?" Austin menoleh lebih dulu, ia menyambut kedatangan kakaknya. Sontak saja membuat teman-teman yang lain menoleh ke arah yang sama secara serentak.


"Aku tidak memiliki banyak waktu, sekarang di antara kalian siapa yang ingin menjelaskannya?" Wajah datar Arthur begitu menyebalkan di mata mereka semua. Ingin rasanya membuat Arthur bercosplay menjadi pria yang murah senyum, akan tetapi rasanya tidak mungkin.


"Duduk terlebih dulu, Bos Ar. Biar aku dan El yang menjelaskannya." Liam menarik lain kursi ke sisinya, mempersilahkan sang bos untuk mendaratkan tubuhnya disana.


Arthur nampak melirik kursi tersebut, sebelum kemudian menarik kursi dan memposisikan kursi itu menjadi berhadapan dengan Liam serta Elden, dengan meja kaca yang menjadi pembatas di antara mereka. Sementara Austin dan Gavin lebih memilih duduk di kursi lainnya dan Darren, pria itu pun mendudukkan dirinya di kursi yang tidak jauh dari Arthur, agar ia mudah mendengarkan percakapan mereka.


"Ini adalah informasi yang kami dapatkan." Liam meletakkan beberapa lembar kertas mengenai informasi yang telah berhasil mereka retas sistemnya.


Arthur meraih beberapa lembar kertas tersebut, wajahnya nampak datar serupa dinding tebal yang berada di sekitar mereka. "Los Zetas?" tanyanya diiringi alis terangkat satu.


"Loz Zetas diketuai oleh Pablo. Selama ini menguasai wilayah salah satu Kota di Amerika dan Mexico. Dan sepertinya mereka mengincar wilayah perbatasan Skotlandia milik Black Lion," kata Elden menambahi. Tidak perlu diragukan lagi kecerdasan dan kelebihan masing-masing yang mereka miliki. Terbukti mereka cepat mendapatkan informasi tersebut dalam waktu kurang dari satu hari.


"Kak Elie sudah diincar sejak awal dan saat itu seseorang menyelamatkan kak Elie, tetapi kami tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria di dalam rekaman itu," sambung Liam. Sudah mencoba berbagai cara dengan mengobrak-abrik isi dari rekaman tersebut, dirinya serta yang lainnya tidak dapat mengenali wajah pria tersebut.


Arthur tidak memberikan respon, ia masih mencoba mendengarkan keterangan selanjutnya.


"Tapi beberapa dari mereka melakukan pemberontakan." Kini suara Gavin menyita perhatian Arthur, pria itu sontak menoleh ke arah pria berambut ikal tersebut.


"Ya, benar. Ada rekaman dimana mereka saling berkelahi," timpal Austin menggebu-gebu. "Mungkin memperebutkan kekuasaan."


"Aku ingin melihat rekaman itu!" Rasanya Arthur tidak percaya begitu saja jika belum melihat isi rekaman tersebut dengan mata kepalanya sendiri.


"Aku akan memutar videonya." Elden cepat tanggap, ia memutar kursi putar yang di dudukinya menjadi menghadap komputer. Setelah rekaman berdurasi 25 detik itu berputar, Elden segera menyingkir dengan mendorong kursinya ke samping, agar Arthur dapat leluasa melihat rekaman baku tembak tersebut.


Dengan seksama Arthur melihat rekaman video tersebut, semula wajahnya nampak datar. Namun ketika melihat sesuatu yang mengganggu penglihatannya, ia mencoba menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatannya.


Wajah yang samar-samar terlihat itu perlahan terlihat begitu jelas memenuhi penglihatannya. Tidak salah lagi, pria itu adalah Mikel. Rahang Arthur seketika mengetat disertai satu tangan yang mengepal. Jika pria itu adalah bagian dari Loz Zetas, sudah pasti berkaitan dengan penculikan Elie saat itu.


Bukan pekerjaan gelap Mikel yang menjadi permasalahannya. Bahkan dirinya saja merupakan Mafia berkedok pengusaha. Hanya saja pria yang selalu menginginkan Elie justru ingin melenyapkan adiknya itu.


Tidak bisa dibiarkan. Jika selama ini Mikel mengejar adiknya untuk memanfaatkan dan mencari celah kelemahan Black Lion, tentu Arthur harus menyingkirkan pria itu terlebih dahulu sebelum semakin dalam menjerat adiknya. Ia menyadari dengan baik jika Elie sudah mulai menaruh perasaan terhadap pria itu, terlihat jelas di manik hazel sang adik.


"Kirimkan video itu padaku!" ujarnya beranjak berdiri. "Der, kita pergi dari sini!" imbuhnya kemudian kepada Darren dan segera mengayunkan langkah menuju pintu.


Keempatnya menghembuskan napas kelegaan ke udara ketika Arthur dan Darren sudah lenyap dari pandangan mata mereka.


"Kenapa kau dan kakakmu sangat berbeda, As? Sejak tadi aku menahan napasku seolah jika aku bernapas dia akan membunuhku detik itu juga!" kelakar Liam mengeluh kepada Austin akan sikap dua pria yang memiliki sikap dan sifat yang berbeda.


Mendengar penuturan Liam. Austin, Gavin serta Elden tergelak geli. Memang hawa Arthur yang dingin itu mampu membekukan sekitar, bahkan Elden yang juga merupakan bagian keluarga pria itu saja merasa canggung jika berdekatan dengan Arthur.


"Bukankah kalian sudah terbiasa melihat Kak Ar seperti itu?" Tiada hentinya Austin tergelak, bahkan nyaris tersedak tawanya tersebut.


"Benar, tapi tetap saja aku seolah melakukan kesalahan jika di tatap seperti itu," seru Liam masih mengeluhkan pendapatannya tersebut.


"Lim terbiasa di tatap wanita, jadi wajar saja jika di tatap Bos Ar nyalinya menciut." Gavin mengejek dengan seringai tawanya, hingga membuat Liam mendesis tidak terima.


"Sialan kau!" umpatnya. "Lebih baik aku ditatap wanita-wanita seksi yang bertelanjang dari pada harus di tatap oleh Bos Ar!" Dan perkataan Liam seperti sebuah lelucon bagi Austin, Gavin dan Elden. Di otak Liam hanya ada wanita saja, mereka memaklumi hal itu dan menganggap biasa akan sifat Liam yang memang bisa membuat wanita-wanita di kampus mereka sanggup melenggak-lenggok tanpa busana.


***


Sementara di dalam mobil, Arthur masih saja terbayang akan video tersebut. Menyusun berbagai rencana untuk menjauhkan Elie dari Mikel.


"Der, tugaskan lebih banyak lagi anak buah untuk menjaga Elie!"


Saat mendengar perintah Arthur, Darren alihkan pandangannya dari kemudi. Meski penuh pertanyaan, ia hanya mengangguk patuh. "Baiklah..."


Tidak diragukan lagi, ternyata Arthur sudah melihat sosok Mikel Jhonson di dalam video tersebut. Tanpa ia memberitahukan sosok pria itu, Arthur sudah lebih dulu mengetahuinya. Sejujurnya sudah dari beberapa minggu yang lalu Darren mengetahui Mikel Jhonson adalah bagian dari Loz Zetas. Bukan bermaksud melindungi Mikel, hanya saja ia belum mendapatkan bukti keterlibatan pria itu dalam penyerangan Nona Elie. Sebab rasanya tidak mungkin, ia bisa melihat ketulusan di mata pria itu untuk Elie. Namun jika Mikel benar-benar berniat ingin memanfaatkan Elie demi melancarkan rencana pria itu, bahkan sebelum Arthur bertindak, ia yang akan bertindak terlebih dahulu.


To be continue


Fyi : Yoona ingatin lagi ya 🤗


Elden : Babang Nico & Jennifer


Gavin : Babang Keil & Emely


Liam : Babang Daniel & Ashley


Yoona gak pakai visual dulu biar cepat lolos review.


...Semoga kalian gak bosan dukung Yoona ya 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...