
Suara hingar bingar musik yang menggelegar membuat seorang wanita mengikuti iramanya dengan sesekali mengangguk-anggukkan kepala dan menggoyangkan gelas champagne yang memiliki bentuk tinggi dan mengecil di bagian atasnya, sebelum kemudian kembali meneguknya.
Dihentakannya gelas ramping itu ke atas meja untuk melampiaskan kekesalannya. Yang benar saja, ia sudah menunggu hampir satu jam seperti wanita bodoh dan wanita kesepian. Lihat saja, saat ini beberapa pasang mata menatap kasihan padanya. Mungkin mereka berpikir jika dirinya sedang patah hati dan memutuskan pergi ke bar untuk bersenang-senang dengan minum-minuman beralkohol. Ck ayolah, ia bukan tipe wanita yang akan meratapi nasib percintaannya. Meskipun jauh di dasar hatinya menginginkan cintanya terbalaskan oleh pria dingin yang yang tidak lain ialah Darren. Namun ada kalanya ia juga lelah mengejar seseorang yang sulit sekali digapai.
"Ck, kenapa tiba-tiba aku merindukannya?" Veronica mendecakkan lidah dan meruntuki dirinya yang selalu saja merindukan Darren. Padahal sejak beberapa hari yang lalu ia memutuskan menyibukkan diri dengan menerima job pemotretan di Bristol, tujuannya agar tidak lagi memikirkan pria itu.
Apakah ia lelah mengejar cinta pria itu? Entahlah, Veronica sendiri tidak mengerti. Di satu sisi ia haus akan belaian kasih sayang seorang pria, sehingga terlintas dipikirannya untuk menerima pria lain yang berusaha mendekatinya. Tetapi disisi lainnya lagi ia tidak bisa menyerah dan meninggalkan pria itu begitu saja. Rasanya usahanya akan menjadi sia-sia jika berhenti di tengah jalan.
Sejujurnya berat sekali mencintai seseorang yang tidak mencintai dirinya. Tetapi meskipun begitu, ia merasa senang karena Darren terlihat sudah tidak menolak kehadirannya, tidak seperti awal-awal mereka bertemu.
Veronica kemudian mendesahkan napas ke udara. Sepertinya ia harus terus berjuang mendapatkan hati dan cinta Darren. "Kau pasti bisa Vero. Sedikit lagi dia akan menjadi milikmu." Wanita itu berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Ah, membayangkan pria itu akan membalas perasaannya membuat sudut bibirnya melengkung sempurna.
Kini moodnya tiba-tiba saja berubah menjadi lebih baik, sehingga membuatnya kembali menuangkan champagne ke dalam gelas dan segera meneguknya.
Setelah meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja, Veronica kembali menyapukan pandangannya ke sekitar. Berharap jika ia menemukan Larry di antara kerumunan orang-orang disana. Namun sialnya temannya itu belum juga kembali atau mungkin saja melupakan dirinya seorang diri di Bar.
"Sialan Larry. Dia pasti melupakanku dan bersenang-senang dengan Vallen!" Siapa yang tidak kesal jika sebelumnya Larry mengatakan hanya mengantarkan Vallen sebentar saja. Tetapi setengah jam berlalu pria menyebalkan itu belum juga kembali. Awalnya ia tidak masalah membiarkan Larry mengantar kekasihnya. Sebab merasa kasihan melihat Vallen yang sudah sangat mabuk. Wajar saja Vallen tidak kuat minum seperti dirinya, karena kekasih dari Larry itu termasuk tipikal wanita yang polos. Beruntung sekali Larry mendapatkan wanita baik-baik seperti Vallen, yang mampu membuat Larry move on dari Elie.
"Ah, seandainya saja Darren memiliki sifat setengahnya dari Larry, mungkin aku tidak akan kesulitan mendekatinya." Sungguh ia sangat menyayangkan sifat dingin Darren. Tetapi hati kecilnya pun sangat mengagumi sifat pria itu yang tidak mudah tergoda dengan wanita manapun.
Tanpa sadar pandangan Veronica terjatuh pada sosok pria tidak asing di masa lalunya. Pria yang benar-benar tidak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
"Cih, kenapa dia bisa berada disini?" Veronica berdecih melihat mantan kekasihnya. Terlebih pria itu tersenyum menjijikkan ke arahnya. Ah, sial. Niatnya ingin pergi, tetapi ia sudah terjebak. Pria itu lebih dulu berjalan ke arahnya dengan membawa dua gelas minuman dan kini tanpa permisi duduk tepat di kursi kosong di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Berbeda dengan pria itu yang tersenyum senang, Veronica justru melayangkan tatapan malas sekaligus jijik. Ia teringat akan percintaan pria itu dengan Barbara. Ck, sungguh sial dirinya malam ini, ditinggalkan seorang diri dan bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Apa kepalamu baru saja terbentur sesuatu? Kenapa tiba-tiba menjadi baik padaku?" Ya, Cade. Pria itu adalah Cade, mantan kekasihnya yang berengsek. Bukankah pertemuan terakhir kali mereka tidak baik? Lalu kenapa pria itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun kala itu. Padahal jelas-jelas Cade dihajar habis-habisan oleh Darren.
Cade terkekeh. Ia tidak merasa tersinggung dengan perkataan Veronica. "Apa salahnya aku menyapa mantan kekasihku?"
Memang tidak ada salahnya. Tetapi tetap saja Veronica merasa aneh. Mencurigakan, batinnya.
"Aku kebetulan sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. Lihatlah, mereka semua adalah teman-temanku." Cade kembali bersuara dan menunjukkan letak keberadaan teman-temannya, baik teman pria maupun wanita. Setelah selesai bertemu dengan klien, Cade menyempatkan waktu untuk menyegarkan pikiran bersama teman-temannya.
Whatever. Kau pikir aku peduli!
Wanita itu membatin dengan memutar bola matanya malas. Untuk apa Cade memberitahu dirinya? Ia tidak peduli pria itu bersenang-senang atau mati sekalipun.
"Sudah bicaranya?" Respons Veronica benar-benar tidak bersahabat dan terkesan membenci pria di hadapannya itu. Sehingga membuat Cade memasang wajah kecewa.
"Ayolah Vero, kita lupakan saja apa yang pernah terjadi. Aku benar-benar sudah melupakan semua yang terjadi di antara kita. Aku sudah putus dengan Barbara dan sekarang aku sedang menikmati kesendirianku." Jika Veronica terlihat membencinya tentu saja Cade yang harus memulai lebih dulu mendekati wanita itu, seperti saat-saat pertama kali mereka berkenalan hingga akhirnya berkencan satu kali dan memutuskan untuk menjalin hubungan.
Melupakan kepalamu! Justru aku benar-benar muak denganmu dan berharap malam ini pertemuan kita yang terakhir kalinya.
Wanita itu menatap sinis usai memaki pria itu di dalam hati. "Dengar Cade, aku tidak peduli kau putus dengan Barbara atau siapapun itu. Apapun tentangmu aku tidak mau tau lagi! Apa kau sudah lupa jika aku sudah memiliki kekasih yang lebih kaya darimu?!" Veronica mendengkus kesal. Pada akhirnya ia harus kembali mengingatkan akan kekasih palsunya. "Ah, maaf Darren, aku memanfaatkanmu lagi," sambungnya dalam hati.
"Lalu dimana kekasihmu yang kaya itu? Bukankah seharusnya dia berada disini menemanimu?" Kentara sekali jika Cade tengah mengejek sekaligus menyindirnya.
"Dia sibuk. Tidak sepertimu yang memiliki waktu luang untuk bermain-main dengan banyak wanita!"
Lagi-lagi pria itu mengepalkan satu tangannya. Wanita di hadapannya ini benar-benar bermulut pedas. Ah, tiba-tiba ia ingin merasakan lagi bibir manis yang dahulu selalu ia kecup dan ia pangut dengan liar.
"Sudahlah. Kau hanya membuang waktuku. Aku harus segera pergi, kekasihku akan marah jika aku berbicara dengan pria lain." Veronica lantas segera berdiri dari kursinya dan hendak melangkah pergi, namun Cade lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Hei, aku belum selesai bicara, Vero." Cade tidak terima ditinggalkan begitu saja. Ia pun bangkit berdiri.
"Tapi aku sudah selesai." Veronica berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Cade. Namun sangat kesulitan sebab Cade sungguh begitu kuat menggenggamnya.
"Aku akan membiarkanmu pergi setelah kita bersulang. Sayang sekali bukan jika minuman mahal yang sudah aku pesankan untukmu ditinggalkan begitu saja." Kedua mata Cade penuh dengan permohonan, pria itu berharap jika Veronica bersedia bersulang dengannya sebelum akhirnya ia membiarkan wanita itu pergi.
Veronica nampak menimbang-nimbang, ia menatap ke dalam mata Cade yang sepertinya bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Baiklah, hanya bersulang saja bukan?" Pada akhirnya Veronica tidak menolak sehingga membuat Cade melebarkan senyuman. Lalu pria itu mengambil salah satu minuman yang berbuih-buih itu.
Veronica menerimanya tanpa ragu. Tidak ada yang aneh pada white wine yang diberikan oleh Cade.
"Bersulang!" seru Cade bersemangat.
Ting
Terdengar dentingan suara gelas saling beradu. Veronica segera meneguk minuman itu lebih dulu, kemudian disusul oleh Cade. Pria itu menampilkan senyum puas ketika Veronica menghabiskan minuman darinya.
"Kau puas?" Veronica berseru dengan tatapan kesal. Ia meletakkan gelas kosong itu dengan kasar ke atas meja.
Cade terkekeh diiringi anggukan kepala. "Sekarang kau bisa pergi."
"Itu yang aku inginkan sejak tadi." Dan wanita itu melengos pergi begitu saja tanpa menoleh kebelakang.
Sedangkan Cade menatap punggung Veronica yang perlahan-lahan lenyap diantara kerumunan. Sebelum akhirnya ia beranjak berdiri untuk menyusul mantan kekasihnya itu.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...