
Setibanya di kediaman Paman Brian Young. Darren segera membersihkan diri dan begitu keluar dari kamar mandi, langit sudah berubah warna. Pandangannya memperhatikan kediaman mewah Paman Brian. Kediaman yang aneh menurutnya karena terdapat beberapa ruangan terpisah, termasuk kamar yang ditempatinya saat ini. Jika ingin makan, maka ia harus melewati halaman menuju ruangan makan, pun jika ingin ke ruang tamu, ia harus ke ruangan lainnya lagi. Jika ada Lion Boys dan Dragon Boys disini, ia sangat yakin jika mereka akan mengeluh lelah karena harus kesana-kemari hanya untuk mengambil makanan.
Karena lelah, pada akhirnya Darren memutuskan untuk beristirahat dan menit kemudian pria itu terlelap. Keesokan paginya, Darren baru saja mengenakan pakaian lengkap setelah mandi di pagi hari. Ia teringat jika belum menyentuh ponselnya terhitung sudah tiga hari ini, sehingga ia segera mengambil ponselnya yang tersimpan di laci meja. Benda itu memang sengaja ia tinggalkan selama melakukan penyerangan.
Dahinya tiba-tiba saja mengernyit ketika membaca pesan masuk dari seorang wanita yang menyebalkan menurutnya.
Tuan Darren, jangan lupa kau masih berhutang untuk menemaniku makan siang.
Seperti itulah isi pesan yang ia baca berulang kali. Dan dilihatnya waktu pesan masuk itu di ponselnya, tertera pukul lima sore kemarin. Artinya di London pukul 9 pagi karena perbedaan waktu di Eropa dan Asia berbeda 9 jam dan waktu di Jepang lebih cepat dari London.
Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang berada di Jepang.
Darren baru saja mengetik balasan untuk wanita itu, akan tetapi ia segera menghapusnya. Lalu ia mencoba untuk mengetik sesuatu lagi di layar ponselnya.
Aku sedang sibuk, Nona.
Dilihat seksama balasannya tersebut. Dan detik kemudian ia segera menghapusnya kembali. Ck, kenapa hanya membalas pesan wanita itu saja ia harus memikirkan jawabannya? pikirnya.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi, ibu jarinya kembali mengetik balasan.
Maaf, sepertinya harus membuat Nona kecewa. Aku sedang berada di Jepang dan tidak bisa menempati janjiku.
"Memangnya aku memiliki janji apa padanya?" gumamnya pada diri sendiri. Padahal wanita itu yang begitu antusias mengajaknya makan siang dan ia tidak menjanjikan apapun. Saat itu wanita itu pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawabannya.
Darren kembali menghapus balasannya itu sebelum berhasil di kirim. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja, mengaggap jika tidak perlu membalas pesan wanita itu. Lagi pula pesan itu sudah berlalu dan ia hanya perlu mengabaikannya saja. Namun baru saja ia mengalihkan pandangan dari ponsel, sekelebat bayangan senyum ceria wanita itu melintas cepat.
"Astaga, kenapa dia selalu menggangguku dimanapun aku berada," keluhnya mendesahh kesal. Sehingga ia kembali meraih ponselnya dan ibunya jarinya mengetik pesan balasan dengan cepat.
Perlu Nona ketahui, aku sedang berada di Jepang. Lain kali aku akan menemani Nona makan siang.
"Der, kau sudah bangun?" Paman Brian yang masuk tiba-tiba menyentak kedua bahu Darren dan tanpa sengaja ibu jarinya menekan layar send.
"Shiitt, Paman. Lihat, apa yang baru saja Paman lakukan?" Seketika Darren panik, tidak mungkin ia membatalkan pesan yang sudah dikirim itu.
Paman Brian mengernyit bingung, sungguh ia tidak tahu apapun. Akan tetapi Darren memarahinya begitu ia masuk ke dalam.
"Maaf, jika memang Paman mengejutkanmu karena masuk tanpa mengetuk pintu. Paman pikir kau belum bangun, jadi Paman masuk saja." Paman Brian menampakkan senyum polosnya.
Darren tidak menjawab, ia masih menunduk menatap layar ponselnya. Lalu berpikir, "Wanita itu pasti akan benar-benar menagih janjiku sepulang dari Jepang."
Paman Brian memperhatikan Darren yang menghela napas. Apa Darren semarah itu padanya?
"Darren, apa kau benar-benar marah pada Paman? Ayolah, Paman hanya tidak sengaja masuk begitu saja." Paman Brian mencoba menjelaskan. Ia tidak ingin jika Darren akan mengadukan kepada Millie jika tidak nyaman berada di Kediamannya. Bisa-bisa pria menyebalkan itu menyerang perusahaannya. Pria yang dimaksud adalah Jack, suami Millie. Hubungan mereka sejak dulu memang tidak pernah akur dan ada saja sesuatu hal yang membuat mereka berdebat jika bertemu.
Darren mengangkat wajahnya. Ternyata Pamannya masih memikirkan hal itu. Padahal ia tidak marah, hanya saja panik ketika pesan itu sudah terlanjur dikirim.
Paman Brian mengangguk mengerti. "Kalau begitu kau harus ke ruang makan. Bibimu sudah menyiapkan sarapan untuk kita."
"Baik Paman, aku akan kesana setelah membalas pesan penting," sahut Darren diiringi anggukan kepala.
Paman Brian segera keluar dari kamar Darren. Menuju ruangan makan lebih dulu. Sedangkan Darren membalas pesan penting dari Arthur lalu membalasnya dengan cepat. Saat ini London masih tengah malam, sehingga Darren hanya membalas pesan saja. Kemudian ia teringat akan Veronica, pantas saja tidak ada balasan dari wanita menyebalkan itu, karena sudah pasti wanita itu masih terlelap.
Karena sudah ditunggu oleh keluarga Pamannya, Darren kembali meletakan ponsel di atas meja, sebelum kemudian keluar dari kamarnya menuju ruangan makan. Dari kejauhan ia melihat jika beberapa orang sudah berkumpul di meja makan. Dan sorot matanya terarah pada dua tamu yang sudah datang di hari sepagi ini.
"Kak Der kemarilah." Gadis cantik yang sudah duduk lebih dulu di kursi mengayunkan tangan memanggil Darren.
Darren tidak menanggapi. Ia melihat ke arah Bibi Sora yang sibuk menata makanan dibantu oleh dua pelayan.
"Selama dua hari ini Bibi memasak masakan yang bisa dimakan olehmu. Semoga kali ini kau juga menyukai masakan Bibi." Bibi Sora meletakkan menu terakhir di atas meja.
Darren terenyuh, padahal ia bisa makan apa saja meski bukan masakan Eropa. "Menurutku masakan Asia tidak terlalu buruk Bi dan sangat cocok di lidahku. Aku menyukai semua masakan Bibi."
Wajah Bibi Sora bersemu merah dipuji oleh Darren. Dan segera mempersilahkan Darren serta yang lainnya untuk duduk begitu melihat sang suami yang sepertinya cemburu. Darren mengambil tempat duduk tepat bersisian dengan Kairi, adik dari Kenzo.
Tanpa ia sadari jika sedari tadi wanita cantik memperhatikan dirinya saat berbicara dengan Bibi Sora. Tidak hanya tubuhnya saja yang seksi, tetapi suaranya juga terdengar berat dan seksi. Begitu pikir wanita itu.
"Ojisan Hiro, Kei... kapan kalian datang?"
Suara Kenzo yang baru bergabung di meja makan mengalihkan pandangan Keiko dari Darren. "Baru saja Ken. Dan Bibi Sora mengajakku dan Papa untuk sarapan bersama."
Kenzo mengangguk. Ia pun membenamkan tubuh di kursi, bersisian dengan Keiko.
"Setelah makan ada yang ingin dikatakan oleh Paman Hiro, karena itu Der kau harus menyempatkan waktu untuk berbicara dengan kami." Bukan tanpa asalan Paman Brian berkata demikian, karena berada di Jepang pun Darren masih saja mengurus pekerjaannya.
"Baik Paman." Darren mengangguk mengerti. Dan lagi-lagi suaranya itu mampu menggetarkan hati Keiko yang menatapnya tanpa berkedip.
Kenzo memperhatikan sekilas wajah Keiko. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu ketika mendapati teman baiknya diam-diam memperhatikan sepupunya.
To be continue
Bang Darren
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...