The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Seperti Seorang Idiot



BUGGH


Satu dari preman itu jatuh terjerembab lantaran menghantam pintu mobil yang terbuka secara tiba-tiba.


"Berengsek!" Teman dari pria yang tersungkur mengumpat penuh emosi lantaran mobil mewah yang entah sengaja atau tidak telah membuat temannya menghantam pintu.


Langkah Helena terpaksa terhenti lantaran seorang yang ia kenal terlihat menghadang kedua preman tersebut. Untuk memastikannya wanita itu mengerjap berulang kali, ia berpikir bahwa telah berhalusinasi, namun nyatanya pria itu benar-benar Arthur.


"Kembalikan tas wanita itu!" seru Arthur berdiri dengan sangarnya. Auranya begitu kuat sehingga membuat kedua preman itu bergidik.


"Tidak, tas ini sudah menjadi milik kami!" Pria yang memegang tas milik Helena menyembunyikan di belakang tubuhnya. Apapun yang sudah berada di tangan mereka, tentu akan mereka pertahankan.


"Ck, keras kepala!" ujar Arthur. "Berikan tas itu dan aku akan membiarkan kalian pergi." Arthur berusaha bernegosiasi, setidaknya demi kedua preman itu. Karena jika ia sudah turun tangan, maka ia harus benar-benar menumbangkan lawannya.


"Hahahaha kau terlalu banyak bicara!"


"Langkahi dulu mayat kami jika kau bisa!" timpal salah satunya. Keduanya menyerang Arthur bersama-sama.


Arthur berhasil melesat menghindar dengan bergerak mundur. Tetapi kedua preman itu tidak menyerah, kembali menyerang bersamaan. Arthur tidak membiarkan mereka melukai wajahnya bahkan tubuhnya yang lain, sehingga ia menepis dan menghantam bogeman di wajah mereka masing-masing.


"Sialan!!" Keduanya meradang lantaran tidak berhasil menyerang pria di hadapannya. Sehingga salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam yang nampak begitu mengkilat akan ketajamannya.


"Kami tidak akan main-main. Karena itu jangan salahkan kami jika kau terluka!" Dengan sombongnya pria yang menggenggam tas milik Helena mengayunkan sebilah pisau ke arah Arthur. Namun perkiraan mereka salah, Arthur tidak menampakkan kepanikan di wajahnya.


Keduanya maju bersamaan, menghantamkan pisau pada bagian perut Arthur. Sayangnya kembali gagal karena kedua tangan Arthur bergerak serentak untuk menahan dan bahkan menghempas tangan kedua preman itu, sontak saja pisau itu terpelanting di aspal. Sebelum kemudian Arthur menendang, meninju dan tidak memberi ampun kepada kedua preman itu. Tas milik Helena sudah terlempar tepat disisi mobil Arthur, namun Arthur masih tidak melepaskan keduanya. Bahkan ia menginjak kuat leher preman yang jatuh tersungkur, membuat temannya ketakutan dan melarikan diri dari sana dengan tertatih-tatih.


"Dengar, aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menantangku, karena itu jangan salahkan aku jika membunuhmu saat ini juga!" Kaki Arthur semakin menekan leher preman tersebut, membuat wajah pria yang berada di bawah kaki Arthur memerah karena nyaris kehilangan pasokan oksigen.


Helena yang sejak tadi diam memperhatikan menutup mulutnya tidak percaya. Kepalanya menggeleng, bahkan kedua tangannya terlihat bergetar.


"Tidak. Jangan membunuhnya. Jangan.... Tidak...." Berulang kali Helena meracau tidak karuan, wajah pria itu berubah seketika berubah menjadi wajah ibunya.


"Stopp! Hentikan!" Tiba-tiba Helena berteriak histeris. Ia kemudian berlari kecil menuju Arthur. "Jangan. Lepaskan dia. Kau bisa membunuhnya, kau bisa membunuh Mommy." Helena mendorong bahu Arthur, hingga membuat Arthur terdorong dan menjadi kesempatan preman itu untuk menghirup napas dalam, wajahnya yang pucat bagaikan tidak terdapat aliran disana kembali normal meskipun wajahnya penuh dengan luka lebam.


"Hei... kau... Ada apa denganmu?!" Arthur berkerut bingung lantaran wanita itu mendorongnya, terlebih berteriak histeris.


Helena seketika bergeming, terlihat sangat linglung. Wanita itu bahkan tidak mengindahkan seruan suara Arthur. Pandangan Arthur kini hanya tertuju kepada Helena, bahkan ia membiarkan preman itu melarikan diri dari sana dengan penuh luka.


"Aku...." cicitnya bergumam. Helena sendiri tidak tau apa yang terjadi dengannya. Sebelumnya ia melihat wajah preman itu seolah wajah ibunya.


"Ada apa denganmu?" Sungguh Arthur menangkap sesuatu yang aneh dengan Helena. Tatapan wanita itu seketika kosong, matanya yang nampak digenangi air mata sedikit memerah. "Kau kenapa, hei?!" Karena Helena tidak kunjung merespons, sehingga Arthur berusaha mengguncang pundak wanita itu.


Guncangan tersebut mampu membuat Helena tersadar dan mendongak menatap Arthur, detik itu juga Helena menggeleng cepat.


"Aku.... tidak apa-apa. Aku baik-baik." Helena menepis kedua tangan Arthur dari bahunya, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan tas miliknya. Sorot matanya menangkap tas yang tergeletak di sisi mobil, lantas wanita itu segera meraih tas itu dengan membungkuk. "Terima kasih kau sudah menolongku, aku harus pergi," katanya menatap sekilas, lalu hendak pergi dari sana.


"Tunggu...." Entah kenapa Arthur menahan pergelangan tangan wanita itu, ia sendiri bingung. Tetapi memang sikap wanita itu benar-benar sangat membingungkan, nampak syok disertai tatapan kosong.


"Ada apa? Aku sudah mengucapkan terima kasih, jadi aku harus pergi." Dapat terlihat kesedihan di kedua manik milik Helena, namun Arthur tidak bisa menebak kesedihan itu.


Helena tidak menggubris, ia lantas segera berlalu dari sana. Dan keberuntungan berpihak padanya karena terdapat taksi yang melintas di depannya. Helena mengehentikan taksi tersebut lalu berlalu dari pandangan Arthur.


Melihat taksi itu benar-benar sudah lenyap dari penglihatannya, Arthur segera masuk ke dalam mobil, lama ia berdiam disana tanpa berniat ingin menghidupkan mesin mobil. Sungguh sikap wanita itu sedikit membingungkan dan tentunya membuatnya penasaran.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?" gumamnya.


Suara dering ponsel yang menyentakkan telinganya itu membuatnya sedikit terganggu, sehingga ia segera menjawab panggilan yang entah dari siapa, karena Arthur tidak melihatnya dan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo...." jawabnya.


"Kak Ar, kau dimana?" Hanya mendengar dari suaranya saja, sudah membuat Arthur mengetahui pemilik suara di seberang sana.


"Elie ada apa?" tanyanya. Ia menangkap dari suara Elie yang nampak panik dan sedikit bergetar.


"Bisakah kau melacak keberadaan Vero kak?"


"Vero?" Kening Arthur mengerut dalam. Ia sangat asing dengan nama yang disebut oleh adiknya itu. "Siapa dia?" tanyanya memastikan.


"Teman baikku. Selama ini hanya Veronica dan Mandy yang mau berteman denganku," sahutnya menjelaskan.


Arthur mengangguk. "Lalu?"


"Beberapa hari ini aku sulit menghubunginya kak. Aku khawatir padanya karena Mandy juga tidak tau keberadaannya." Sebelumnya Elie memang sudah menghubungi Mandy, bertanya akan kabar manager sekaligus asistennya itu yang ia beri libur selama satu minggu. Bahkan Elie sengaja tidak memberitahu keadaannya yang tengah berada di rumah sakit, karena tentunya belum siap memberitahu identitas dirinya yang sebenarnya. Namun sudah berhari-hari ia sulit menghubungi Veronica sehingga membuatnya merasa gemas.


"Aku ingin Kak Ar melacak keberadaan Vero, aku takut terjadi sesuatu yang buruk dengannya, karena sejak kemarin perasaanku tidak enak."


"Baiklah, kirimkan saja alamat dimana dia tinggal dan nomor ponselnya. Kak Ar akan menyuruh Lim untuk melacaknya," sahutnya. Ia tidak mungkin tega membiarkan adiknya sangat mencemaskan teman baiknya itu.


"Terima kasih kak, kau memang yang terbaik."


"Hem..." Setelah menjawab dengan deheman, Arthur memutuskan sambungan telepon. Ia melemparkan ponsel miliknya ke kursi sisi mobil. Sebelum kemudian menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan lokasi tersebut. Ada yang berbeda yang Arthur rasakan, entah kenapa ia masih terbayang sosok Helena yang nampak terlihat berbeda dan itu seperti bukan dirinya saja.


"Ck, idiot!" Bahkan Arthur meruntuki dirinya yang bersikap seperti seorang idiot.


To be continue


Babang Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...