The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Berhenti Mengganggu



"Apa??!!"


Suara Arthur yang menyahut dengan nada meninggi itu membuat Helena terjingkat kaget. Wanita itu memperhatikan lekat wajah Arthur, terlihat jelas rahang pria itu yang mengetat.


"Aku akan kesana. Jangan lakukan apapun. Jika kau gegabah, maka nyawa Chris taruhannya!" Arthur segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak sadar jika sedari tadi kedua iris abu-abu milik Helena menatap lekat padanya.


Tangan Helena hanya menggantung di udara, sedari tadi ia ingin menyentuh baru pria itu, namun nyalinya kembali menciut melihat wajah garang Arthur. "A-apa yang terjadi?" Dan pada akhirnya Helena memberanikan diri untuk bertanya, ia tidak peduli jika akan kembali disembur oleh pria itu.


Arthur menoleh, pertanyaan Helena yang seolah ingin mengetahui masalahnya itu tidak membuatnya langsung menjawab. Dari sorot matanya saja sudah dapat ditebak jika Arthur nampak terganggu dengan pertanyaan Helena yang terkesan ingin ikut campur.


Helena sontak menundukkan pandangannya ke bawah. Oke, kali ini ia memang benar-benar salah karena bertanya yang bukan menjadi urusannya, pikirnya.


Arthur benar-benar tidak berminat menjawab pertanyaan wanita itu. Ia justru melewati Helena, berlalu dari sana dengan langkah panjangnya. Helena mengangkat wajahnya dengan tercengang, memutar tubuhnya agar leluasa memperhatikan punggung Arthur yang semakin menjauh. Pria itu sepertinya sedang ditimpa masalah, dilihat dari kejauhan pun nampak jelas jika ia tengah menghubungi seseorang.


"Ck, dia benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak bisa tersenyum sedikit saja?" Helena bergumam sembari menggeleng heran, sayang sekali wajah tampan pria itu tertutupi sikap dinginnya.


Helena kemudian mengayunkan langkahnya keluar dari rumah sakit. Namun tiba-tiba saja menghentikan langkah karena ia melihat sosok Nathan berada di parkiran rumah sakit. Asisten pribadi Mikel, pria yang selalu menolak dirinya mentah-mentah.


"Apa yang dilakukan pria itu disini? Apa Mikel juga berada di rumah sakit?" Tidak. Helena tidak ingin bertemu dengan Mikel. Jika mereka bertemu kembali, lukanya akan kembali terbuka. Sudah susah payah ia menahan diri untuk tidak bersikap seperti sebelumnya.


Helena memutuskan pergi melalui jalur lain agar tidak berpapasan dengan Nathan yang mungkin saja Mikel berada di dalam mobil tersebut. Lantas Helena segera memutar arah tubuhnya, namun seseorang ternyata sudah berdiri di belakangnya sehingga tubuhnya itu berbenturan dengan dada seseorang tersebut.


Mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang bertabrakan dengannya. Seketika mata Helena membeliak karena terkejut, sosok itu tidak lain ialah Mikel, pria yang ingin ia hindari tetapi justru pria itu sudah berdiri tepat berada di jangkauan matanya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kau...." Helena spontan berangsur menjauh. Ia tidak ingin lagi dicap sebagai wanita tidak benar.


"Aku mencarimu."


Mulut Helena terbuka, terperangah nyaris tidak percaya saat mendengar perkataan Mikel jika pria itu mencari dirinya. Karena ini adalah kali pertama Mikel mencari dan menemuinya terlebih dahulu.


"U-untuk apa kau mencariku?" Helena tergagap, biasanya ia selalu lantang dan berani berhadapan dengan Mikel. Namun kali ini nampak seperti seekor kucing malang yang tertunduk, bahkan menatap saja begitu enggan.


"Aku ingin mengembalikan uang Jorge. Tapi dia menolaknya jika aku tidak membawamu. Kau tau, aku tidak bisa berhutang lebih lama lagi, pria tua itu akan semakin bertingkah dengan perusahaanku!"


Mendengar nama ayahnya disebut, Helena sontak mendongak. "Daddy?" cicitnya.


"Hem, ikutlah pulang bersamaku. Kau tidak perlu takut padanya, aku akan-"


"Apa pedulimu!" seru Helena menyela sebelum Mikel menyelesaikan kalimatnya. Jika saat itu yang Mikel temui hanya tatapan memuja wanita itu, kali ini berbeda, tidak ada binar di dalam mata Helena saat melihatnya seperti sebelumnya. "Urusanmu dengan pria tua itu, tidak perlu membujukku untuk ikut denganmu ke Mansion neraka itu. Sampai matipun aku tidak akan menginjakkan kaki di Mansion itu!" Emosi Helena terkumpul sehingga wajahnya menegang menahan rasa kebenciannya.


"Helen, jangan keras kepala! Kau akan menyesal jika tidak menemuinya." Nyaris saja Mikel kehilangan kendali, tetapi ia berhasil menekan emosinya.


Mikel bergeming, membiarkan Helena meluapkan rasa sakit hatinya. Memang tidak seharusnya ia meminta wanita itu untuk pulang, namun ia tidak memiliki pilihan lain.


Napas Helena naik turun, ia baru saja meluapkan emosinya kepada Mikel. Biarlah, pria itu harus tahu bagaimana ia sangat membenci ayah kandungnya sendiri. Sedari tadi Helena mengabaikan dering panggilan pada ponselnya, mulanya ia tidak pedulikan dering ponsel yang berulang kali berdering hingga nyaris memekakkan telinganya. Namun sungguh panggilan yang entah dari siapa itu sangatlah mengganggu, sehingga mau tidak mau Helena merogoh tas untuk mengambil ponselnya dan segera menjawab panggilan tersebut.


Belum sempat mengeluarkan suaranya, suara seseorang di sebrang sana sudah terlebih dahulu melayangkan sebuah ancaman dan sumpah serapah, membuat Helena tidak mampu berkutik maupun membantah. Panggilan itu diputuskan secara sepihak oleh orang itu sebelum ia menjawabnya.


"Sialan. Pria tua itu tidak berhenti menggangguku!" Helena mendengkus kesal. Tidak mungkin ia bisa melawan pria itu, karena ia belum cukup berkuasa.


Wajah Helena yang memerah mengeram amarah tidak luput dari perhatian Mikel, ia sudah menduga jika Jorge akan menghubungi putrinya. Ternyata pria tua itu cukup pintar karena ia tidak bisa membujuk Helena, sehingga pria tua itu turun tangan dengan sendirinya.


Dengan deru napas yang masih tersulut emosi, Helena menatap Mikel. "Apa kau sudah tau sebelumnya?" Dan Mikel mengangguk sebagai jawabannya. Mikel memang mengetahui ancaman Jorge, sebab itu ia meminta Helena untuk pulang agar Jorge mengurungkan niatnya.


"Ck, tua bangka itu menggunakan kelemahanku." Helena mengusap wajahnya frustasi, ia tidak menduga jika ayah kandungnya benar-benar menggunakan cara licik agar membuatnya pulang ke Mansion.


"Sebaiknya kau tahan emosimu. Jika tidak, kau akan-"


"Sudah kukatakan jangan bersikap seolah kau peduli padaku!" sembur Helena. "Ingat, kau bahkan belum meminta maaf padaku. Sebaiknya kau menjauh dariku!"


"Baiklah...." Mikel mendesahkan napasnya ke udara. Memang seperti itulah seharusnya, agar wanita itu tidak lagi mengharapkan cinta yang tidak bisa ia berikan.


Helena berlalu terlebih dahulu dari sana, padahal Mikel sudah menawarkannya untuk pergi bersama menemui Jorge. Namun wanita itu menolak dengan tegas, sehingga Mikel membiarkan Helena menggunakan taksi dan ia menyuruh Nathan agar berjaga di belakang taksi yang di tumpangi oleh Helena. Setidaknya sudah tertanam dalam dirinya jika Helena sudah ia anggap seperti adiknya.


To be continue


Babang Mikel



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...