The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Pertengkaran Tidak Penting



"Heh, benarkah?" Entahlah, Jolicia merasa percaya dan tidak percaya. Memangnya sejak kapan Paman Vier bersedia menitipkan sesuatu untuk Daddy-nya? Aneh, pikirnya.


"Licia, sebaiknya kau segera pulang bersamanya, Paman pasti mengkhawatirkanmu." Suara Maxime yang tiba-tiba menyambar menghentikan perdebatan kecil antara Austin dan Jolicia.


"Tapi Max, aku-"


"Terima kasih kau sudah mengerti. Memang selama berada di London, Paman Zayn menitipkan Licia padaku." Austin berbicara penuh penekanan, tidak pedulikan sorot mata Jolicia yang menatapnya tajam. "Ayo Licia, jangan katakan jika kau ingin aku menggedongmu sampai ke mobil?" ujarnya ketika melihat Jolicia masih tidak ingin beranjak sedikit pun.


Kedua mata Jolicia membeliak sempurna. "Tidak! Kau ini, menyebalkan sekali. Siapa yang ingin digendong olehmu?!" Gadis itu buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas dan beranjak berdiri, sebelum Austin benar-benar membuktikan ucapannya. Kakaknya dan Austin tidak ada bedanya, keduanya pria gila yang akan bertindak sesuka hati. "Max, aku pulang dulu. Kau berhati-hatilah," lanjutnya pada Maxime yang tersenyum ke arahnya. Sejujurnya Jolicia merasa tidak enak kepada temannya, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Austin yang tiba-tiba menjadi menyebalkan.


"Tentu aku akan berhati-hati, karena aku masih ingin bertemu denganmu di lain waktu." Maxime masih dengan mempertahankan senyumnya


Jolicia terkekeh mendengarnya, berbeda dengan Austin yang mencibir di dalam hati. "Cih, bertemu di lain waktu. Kau pikir kau siapa?"


"Ayo...." Jolicia menarik lengan Austin ketika pria itu justru mematung di tempat. "Kenapa kau menyebalkan sekali? Untuk apa kau menggangguku?" Di sela-sela mereka berjalan, masih saja keduanya berdebat kecil.


"Kenapa aku harus mengganggumu?" Dan lagi-lagi Austin menjawab pertanyaan Jolicia dengan pertanyaan.


Bibir gadis itu mencebik hingga memasuki mobil pun masih memasang wajah masam. "Kenapa hari ini kau kekanak-kanakan?"


"Aku? Kekanak-kanakan?" tanya Austin menunjuk dirinya sendiri. Ia merasa tidak pernah bersikap kekanak-kanakan, justru gadis itu yang kekanak-kanakan dengan selalu mencari kesempatan menjahilinya. Austin yang tidak terima mencondongkan tubuhnya, lalu menyentil kening Jolicia.


Pletak


"Aakkhh..." Sontak aja gadis itu mengaduh. "Kau ini suka sekali menyentilku." Sembari mengusap keningnya.


"Itu balasan dariku karena kau selalu menjahiliku." Austin kembali memposisikan dirinya menghadap stir dan menghidupkan mesin mobil.


Jolicia bersedekap di depan dada, bibirnya mencebik sehingga membuat Austin yang baru saja melajukan mobilnya mengulum senyum.


Jolicia yang memang tidak terbiasa dengan kesunyian membuka percakapan dan mengganggu Austin yang fokus pada kemudi.


"Hentikan, Licia. Apa kau ingin mobilku menabrak mobil lain?" Tidak ada nada membentak. Itulah yang disukai oleh Licia akan sikap Austin. Jika pada wanita lain, Austin tidak segan untuk membentak dan bahkan mengeluarkan bisa tajamnya seperti Arthur.


Dan gadis itu menurut, tidak lagi mengganggu Austin karena keselamatan mereka lebih penting. Lalu pandangannya mengitar ke belakang dimana di kursi belakang terdapat banyak kotak pizza dan paper bag yang isinya seperti makanan.


"Kau membeli banyak makanan?" tanya Jolicia heran.


"Ehm...."


"Untuk apa sebanyak itu?" Gadis itu bertanya lagi dengan begitu cerewet, sehingga membuat Austin jengah.


"Diamlah Licia, aku sedang menyetir. Lebih baik simpan pertanyaanmu untuk dirimu sendiri, nanti kau juga akan tau jawabannya."


"Ck...." Jolicia sontak membungkam mulutnya dengan perasaan kesal. "Tadi dia bersikap baik dan lembut, kenapa berubah menjadi seperti biasanya?" tanyanya dalam hati.


Perasaan kesal itu masih menggelayuti hati Jolicia hingga mereka tiba di pelataran Mansion Kediaman Scott



Mengacuhkan Jolicia, Austin kemudian memutar tubuhnya kebelakang untuk mengambil beberapa kotak pizza dan paper bag berisi burito.


"Bawalah ini, ini dan ini..." Austin memberikan tiga kotak pizza di atas telapak tangan Jolicia yang menengadah.


"Untuk apa?" Tentu saja gadis itu bingung. Kenapa makanan itu tiba-tiba diberikan padanya?


"Untuk Paman Zayn, bukankah sudah kukatakan akan memberikan sesuatu dari Daddy?"


"Eh, jadi kau tidak sedang memberi alasan?" Tatapan Jolicia begitu polos.


"Tidak. Sejak kapan aku suka membuang waktu untuk hal yang tidak penting?" jawabnya berkilah. Padahal ia telah membuang waktu dengan mengganggu Jolicia bersama pria yang bernama Maxime itu.


Austin kemudian keluar dari mobil terlebih dulu, disusul oleh Jolicia. Gadis itu begitu senang karena ia sudah tidak sabar akan menghabiskan satu kotak pizza. Ia adalah penyuka makanan junk food. Hanya saja Daddy-nya itu membatasi dirinya untuk tidak terlalu berlebihan mengkonsumsi junk food.


Austin mengikuti langkah Jolicia yang begitu antusias. Beberapa anak buah yang berjaga menyambut kedatangan mereka. Dan putra bungsu dari Xavier itu melenggang mamasuki Mansion, tidak perlu harus menunggu diizinkan terlebih dahulu.


"Mom.... Dad.... lihatlah aku datang bersama As. Dia membawa banyak makanan." Suara Licia yang melengking itu menggema di dalam Mansion.


Terlihat Zayn yang menuruni tangga dengan penampilan rambut berantakan, sehingga membuat kedua mata Jolicia memicing tajam.


"Ada apa dengan Daddy? Kenapa rambut Daddy seperti itu dan kenapa Daddy tidak memakai baju dengan benar?" Berbagai macam pertanyaan memberondong Daddy Zayn. Pria yang tidak pudar ketampanannya itu hanya bersikap acuh tak acuh. Untuk apa ia menjawab pertanyaan putrinya, yang ada hanya akan mencemari otak putrinya yang masih polos.


"Kau datang As?" Dan ia lebih memusatkan perhatiannya kepada Austin, telapak tangannya mengusap kepala Jolicia yang tengah mengerucutkan bibir lantaran kesal pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.


"Iya, Paman. Aku tidak sengaja bertemu dengan Licia di cafe, lalu mengantarnya pulang," jawab Austin seandanya.


"Tidak Daddy. As memaksaku untuk ikut pulang dengannya. Padahal aku masih ingin di cafe." Dan sepertinya Jolicia ingin di membalas dendam pada Austin melalui Daddy Zayn.


Jolicia terkekeh, ia menjulurkan lidah mengejek Austin. Austin yang tidak terpengaruh dengan tatapan intimidasi Daddy Zayn dengan berani melayangkan tatapan tajam kepada Jolicia.


"Ekhem...." Daddy Zayn berdehem untuk menghentikan sorot mata keduanya. "Lalu kenapa banyak sekali membawa makanan junk food? Kau tau As, aku sudah tidak lagi makan makanan seperti itu, karena hanya membuatku darah tinggi dan tubuh berlemak."


Ya, Austin memang mengetahuinya. Lagi pula makanan itu bukan benar-benar untuk Paman Zayn, hanya saja ia menggunakan alasan seperti itu agar Jolicia ikut pulang bersamanya.


"Hem, Daddy yang berikan makanan-makanan itu untuk kalian. Dan lagi pula Paman perlu mengkonsumsi makanan seperti itu, setidaknya satu kali dalam satu bulan untuk menambah stamina Paman."


Astaga As, alasan macam apa yang baru saja kau berikan, kenapa kau terlihat bodoh?


Pria itu sendiri tidak yakin jika Paman Zayn akan percaya, tetapi setidaknya ia membawa nama Daddy-nya. Tidak mungkin Daddy Zayn akan menang melawan Daddy Vier.


Daddy Zayn menghela napas. "Apa otak Vier ada yang bergeser? Sejak kapan begitu perhatian padaku?" gumamnya dan dapat di dengar oleh Austin. Pria itu sekuat tenaga menahan tawanya. Ia yakin setelah ini pasti akan ada perang sengit di antara para orang tua itu.


"Kalau begitu, aku permisi dulu Paman. Aku masih ada pekerjaan yang akan dibahas dengan Kak Ar." Ekor mata Austin melirik ke arah Jolicia yang tengah menikmati satu loyang pizza. Gadis itu memang pecinta junk food. Anehnya tidak membuat tubuh gadis itu berlemak.


"As, kapan kau datang?" Mommy Angela yang baru tahu kedatangan putra dari sahabatnya itu menyabut ramah.


"Baru saja, Bibi."


"Mom, kemarilah. As membawa beberapa burito. Bukankah Mommy menyukai burito dan saat sedang mengandungku dan Kak Jac Mommy mengidam makanan ini, tapi justru Daddy yang harus menghabiskannya sehingga membuat Daddy tidak berhenti muntah." Dengan polosnya Jolicia membuka aib Daddy Zayn di masa lalu. Sehingga sukses membuat pria tua yang masih tampan itu mengeram kesal terhadap putrinya. Padahal sudah diceritakan sangat lama, tetapi putrinya masih mengingat hal itu.


Angela hanya terkekeh, ia tahu jika suaminya itu kesal, akan tetapi tidak bisa memarahi putri mereka.


"Terima kasih As. Bibi akan memakan burito yang kau bawa," katanya lembut.


"Iya Bibi. Kalau begitu aku pamit dulu Paman, Bibi."


"Kenapa cepat sekali? Apa kau tidak ingin menemui Jac? Dia ada di kamarnya," seru Mommy Angela menahan kepergian Austin.


"Tidak Bibi, aku masih memiliki perkerjaan yang harus dibahas dengan Kak Ar." Austin menolak halus.


"Aish, kau ini selain tampan, juga pekerja keras. Bibi sangat bangga padamu." Angela begitu gamblang memuji Austin di hadapan suaminya yang sudah memasang mood cemburu.


"Jangan memuji pria lain, Sayang." Benar bukan? Daddy Zayn melayangkan protesnya.


Angela menanggapi dengan senyuman. "As bukan pria lain, dia sudah seperti putra kita."


Merasa keadaan sudah tidak lagi kondusif, Austin memutuskan untuk segera pergi dari sana. "Kalau begitu aku permisi dulu Bibi, Paman." Dan tanpa berpamitan kepada Jolicia, ia melenggang pergi begitu saja. Salah sendiri gadis itu hanya asyik memakan Pizza saja, pikirnya.


Untuk mengembalikan mood suaminya. Mommy Angela memeluk singkat pria posesif miliknya. "Sudahlah, jangan cemburu. Lebih baik kita makan saja."


"Ehm, tunggu sebentar aku akan menghubungi Vier." Daddy Zayn membiarkan istrinya bergabung dengan Jolicia, sementara ia mulai menghubungi sahabat yang lebih terlihat seperti musuh itu.


Pada nada tunggu ketiga terdengar suara samar-samar aneh di seberang sana. Tetapi ia memilih mengabaikan.


"Vier, apa kau benar-benar ingin membuatku darah tinggi? Kenapa kau mengirimkan makanan junk food untukku?!" Suara Zayn begitu menggebu-gebu dengan keras sehingga sukses membuat Mommy Angela dan Jolicia menoleh ke arahnya.


"Apa kau sudah gila?! Untuk apa aku mengirimi makanan? Apa kau sudah tidak memiliki uang untuk membeli makanan seperti itu?!" Xavier balas dengan berteriak dan napasnya terdengar memburu.


"Tapi kau memberikannya melalui As! Apa kau sengaja ingin membuat tubuhku gemuk? Kau tau perutku mudah berlemak jika makan makanan seperti itu!" seru Zayn kesal.


Terdengar helaan napas di seberang sana. Padahal ia tidak tahu menahu mengenai makanan itu. Tetapi mendengar nama putranya disebut, ia kini menjadi tahu alasan Zayn marah-marah padanya.


"Sudahlah makan saja, perutmu hanya akan berlemak, tidak akan meledak!" sahutnya tidak kalah kesal. "Lagi pula kenapa kau menghubungiku? Aku baru saja menaburkan garam tadi pagi agar diriku terbebas dari gangguanmu tapi kau masih bisa menghubungiku!"


"Kau pikir aku ini ular, heh?!" desis Zayn. Tapi kemudian ia berpikir, apa hubungannya garam dengan dirinya yang menghubungi pria itu atau tidak?


"Kau memang ular berbisa yang mematikan!" jawabnya disusul kekehan. "Sudahlah, kututup teleponmu. Kau sudah menggangguku yang sedang bercinta dengan istriku!"


Daddy Zayn sontak mengernyit, pantas saja ia mendengar suara aneh yang ternyata adalah suara desahaan. "Cih, bercinta di siang hari! Apa kau-" Tut! Terdengar suara panggilan yang terputus.


"Vier sialan!" umpatnya kian kesal karena makhluk di seberang sana itu memutuskan panggilannya begitu saja.


Mommy Angela dan Jolicia yang memperhatikan Daddy Zayn kompak menggelengkan kepala. Tidak bertemu saja mereka bisa bertengkar hanya karena masalah tidak penting. Lalu bagaimana jika mereka bertemu saat ini? Mungkin sudah terlibat baku hantam.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...