The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tembak Dia, Sayang



Dengan seorang diri Austin berlari menuju Paviliun Babilone. Ia harus tiba tepat waktu sebelum Maxime membawa Licia pergi dari sana. Tidak pedulikan suara samar-samar yang menelusup di telinganya, ia berlari melewati lahan kosong yang cukup luas, hingga akhirnya bangunan bernuansa putih sudah berada di depan mata.


Namun tiba-tiba saja bahunya di tahan oleh seseorang, padahal Austin berlari begitu cepat, tetapi seseorang itu mampu menjangkaunya.


Nyaris Austin menepis tangan yang berada di bahunya dan bahkan ingin membanting pria yang berusaha menahannya itu. Tetapi terurungkan, lantaran seseorang yang menahannya adalah Jacob. Napas keduanya terengah-engah dan berusaha saling menghirup oksigen. Jacob berlari karena mengejar Austin, ia terpaksa mengejar karena sedari tadi Austin mengabaikan teriakannya.


"Jangan gegabah As. Kita selamatkan Licia bersama-sama," ujarnya setelah mampu mengatur napasnya dengan baik. Sebelumnya ia merasa curiga dengan bangunan lain yang berjarak beberapa meter darinya, sehingga memutuskan untuk melihat bangunan itu. Tetapi ia menangkap sosok Austin yang lebih dulu berlari ke arah bangunan itu, sehingga ia menyimpulkan jika Licia berada disana dan berusaha mengejar Austin.


"Kita tidak memiliki banyak waktu Jac, bajingan itu akan membawa Licia pergi dari sini."


"Hah? Apa?!" Jacob memekik.


Namun Austin melintasi Jacob begitu saja dan kembali berlari, mengabaikan Jacob yang tercengang itu. Hingga beberapa detik kemudian, Jacob menyadari jika Austin sudah berlalu dan segera menyusul, diikuti oleh beberapa anak buah.


Langkah Austin yang lebih cepat itu mengantarkannya tepat berada di depan gerbang Paviliun Babilone. Alih-alih menendang gerbang berbahan kayu itu, Austin justru memanjatnya. Jacob melihat bagaimana Austin memanjat dengan mudahnya dan melompati gerbang itu. Mau tidak mau ia pun memanjat gerbang kayu tersebut.


Benar saja, dari posisi mereka saat ini mendapati satu mobil yang sudah siap untuk meninggalkan Paviliun. Terlihat Maxime yang baru saja keluar dari bangunan itu dengan menggandeng tangan Licia. Austin dan Jacob mengintruksikan beberapa anak buah untuk mengepung mobil itu agar Maxime tidak dapat melarikan diri.


Kehadiran mereka yang sangat tepat waktu bagaikan sebuah bom untuk Maxime. Karena ia sudah terjebak dan tidak mungkin bisa keluar dari Paviliun. Maxime terpaksa melangkah mundur dan segera menyembunyikan Licia di belakang tubuhnya. Sosok Austin dan Jacob menatap dirinya dengan nyalang dan penuh permusuhan.


"Shiittt!!!" Maxime mengumpat. Rupanya ia sudah dikepung.


"Bajingan, kembalikan adikku!" Jacob bergerak maju dan hal itu membuat Maxime kembali melangkah mundur.


"Tidak akan kubiarkan kalian mengambil Licia dariku! Licia hanya milikku!" Maxime tidak gentar. Ia mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


Jacob mendelik, ia tidak menduga dengan respon pria itu. "Dia adikku dan kau ingin merampas paksa dari keluarganya, hah!" Tentu tidak terima, Licia adalah miliknya dan kedua orang tuanya. Atas dasar apa bajingan itu mengklaim Licia sebagai miliknya.


Maxime terkekeh, kemudian berdecih sinis. "Cih, meskipun dia adikmu, tapi saat ini yang dia kenali hanya aku."


"Kau....!!" Jacob geram. Tentu saja Licia hanya mengenali Maxime, karena sudah pasti adiknya itu terpengaruh akan obat yang diberikan oleh bajingan itu. "Aku bersumpah akan menguliti tubuhmu!" sungutnya penuh amarah. Ia benar-benar akan menguliti tubuh Maxime jika ia dan Austin berhasil mengambil Licia dari bajingan di hadapan mereka itu.


Maxime tertawa alih-alih merasa terancam. "Silahkan saja. Asalkan kau bisa." Dengan senyum meremehkan yang disematkan pada sudut bibirnya.


Sungguh reaksi yang tak terduga. Maxime nampak tidak terusik dengan gertakan mereka. Sehingga membuat Jacob dan Austin kehilangan kesabaran.


Austin mendekat satu langkah. Ia bergantian menatap Maxime dan Licia yang menyudut ke sisi bahu kiri pria itu. Nampak jelas jika gadis itu ketakutan.


"Mungkin kau mencintainya, tapi tidak dengan Licia. Apa kau pikir dia mencintaimu?" Dan Austin mencoba memberikan pengertian. "Tidak. Dia hanya menganggapmu sebagai teman saja."


Maxime menggeleng, menolak akan pernyataan yang sengaja ditekankan. "Tidak. Licia juga mencintaiku. Sudah sejak lama kami saling mencintai." Tatapan matanya menyiratkan sebuah obsesi yang menurutnya itu adalah sebuah cinta. Ia begitu mencintai Licia dan ingin hidup bersama gadis itu.


"Ck, sadarlah. Kau hanya terobsesi pada adikku!" Dan secara terang-terangan Jacob mencetuskan opininya, ia bisa menilai jika yang dirasakan pria itu kepada adiknya bukanlah cinta, melainkan obsesi semata.


"Kubilang tidak ya tidak! Aku mencintainya bukan obsesi!! AKU MENCINTAINYA!" Tidak terima dikatakan jika dirinya hanya terobsesi pada Licia, sehingga Maxime menekankan perkataan yang dari dasar hatinya.


"Ah, terserah kau saja!" Jacob mengusap kasar wajahnya. Ia merasa frustasi sendiri berbicara dengan pria tidak waras seperti Maxime. "Aku tidak peduli apapun yang kau katakan, tapi kembalikan adikku. Dia tidak pantas untukmu!"


"Cih, hanya aku yang pantas bersamanya!" Ketakutan tiba-tiba saja melanda. Maxime sungguh ketakutan setengah mati jika Jacob dan Austin berhasil merebut Licia darinya. Kemudian tatapannya beralih pada Austin. "Kau...!" tunjuknya tajam. "Kau tidak pantas bersama Licia. Kau tidak akan bisa merebutnya dariku!" Ya, ia dapat merasakan jika Austin memiliki perasaan terhadap gadisnya. Sehingga sebisa mungkin ia harus menjauhkan pria itu darinya.


Digenggamnya pergelangan tangan Licia dengan erat. Tidak akan ia lepaskan tangan gadis itu, meski ia harus tewas sekalipun.


"Licia, kemarilah," ucap Austin melembutkan suaranya. Berharap gadis itu masih mengenali suaranya dan akan mengikuti dirinya.


"Tidak Licia, jangan dengarkan dia!" Maxime menarik Licia dan berangsur menjauhi gadis itu dari Austin.


"Kemarilah Licia," tutur Austin mengulurkan satu tangannya. Ia masih berusaha untuk menyadarkan Licia yang hanya menatap kosong ke arahnya. Benar-benar tidak mengenali dirinya.


Maxime semakin gusar. Ia bahkan berusaha menghalangi pandangan Licia dari tatapan mata Austin.


"Licia dengar." Maxime menangkup wajah Licia untuk mempertemukan pandangan mereka. Kini pandangan Licia hanya dipenuhi olehnya. "Hanya aku yang baik padamu. Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Dia... dia tidak senang dengan kebahagiaan kita. Dan dia juga berusaha untuk memisahkan kita."


"Tidak Licia. Kau jangan percaya padanya!" sergah Austin mencoba menggagalkan hasutan Maxime.


Suara Austin sedikit berhasil mengalihkan perhatian Licia, gadis itu melirik singkat ke arah Austin. Sehingga membuat Maxime gusar. Dirangkumnya kembali wajah Licia agar hanya menatapnya saja. "Jangan dengarkan dia. Kau hanya perlu mendengar dan mengingat suaraku saja."


"Licia!!!" Austin maju satu langkah. Licia dapat merespon suaranya dan ia rasa perlahan-lahan pengaruh obat itu akan berangsur memudar.


Maxime mengeram. "DIAM BERENGSEK!" teriaknya bersamaan dengan dirinya yang mengambil senjata, yang diselipkan di belakang celananya. Lalu menodongkan senjatanya itu kearah Austin.


Austin terkesiap. Ia mengurungkan langkahnya. Seperti halnya Jacob yang hanya diam menyaksikan. Ia tidak ingin bertindak gegabah karena Licia berada tepat disamping pria itu.


"Jika kau bicara lagi, aku akan menembak kepalamu saat ini juga!" seru Maxime penuh ancaman. Kilatan api amarah semakin menggelapkan matanya.


Maxime melirik Licia yang masih diam tak bergeming. Namun kedua mata gadis itu berkaca-kaca.


"Licia, kau hanya perlu mendengarkanku," ujarnya kembali dan menarik Licia dalam rengkuhannya.


Detik itu juga Licia mengangguk, membuat Maxime menarik sudut bibirnya ke atas. "Good. Gadis pintar. Kau hanya perlu mendengarkanku karena kau mencintaiku." Lagi-lagi Maxime menanamkan perkataan yang sebaliknya. Pria itu meraih tangan Licia dan meletakkan senjatanya di atas telapak tangan gadis itu.


"Tembak dia untukku Licia," ucapnya kemudian penuh penekanan. Bak kerbau dicocok hidungnya, lagi-lagi Licia menuruti perkataan Maxime.


Tentu Austin tidak terima. Ia bahkan menodongkan senjatanya ke arah Maxime. Namun Maxime memanfaatkan keadaan, ia berlindung di belakang tubuh mungil Licia. Dengan begitu Austin tidak dapat berkutik.


Dan dalam sekejap saja, entah siapa yang memulai lebih dulu, baik Austin dan Licia sudah saling menodongkan senjata satu sama lain. Tatapan mereka saling bertemu, namun sialnya tatapan Licia nampak kosong.


Maxime menyeringai puas, ia mendekatkan wajahnya di belakang telinga Licia dan berbisik, "Tembak dia, sayang. Sejak dulu kau sangat membencinya. Sangat membencinya." Kembali meracuni otak Licia dengan perkataannya yang penuh dusta.


Suara Maxime memberikan respons sinyal yang mulai merasuk ke dalam otak Licia. Gadis itu benar-benar tidak bisa mendengar suara apapun. Meskipun Jacob berulang kali meneriaki dirinya. Licia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan oleh Maxime. Menarik pelatuk hingga kemudian,


Dor!


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...