The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Terlalu Mendalami Peran



Arthur mengangguk seolah paham, lalu menunduk menatap Helena. "Apa sebelumnya kalian saling mengenal, Love?"


Tidak hanya Helena yang dibuat terkesiap lantaran terkejut. Darren pun tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Love? Apa kepala Arthur terbentur sesuatu? pikir keduanya.


Sadar apa yang di ucapkan, Arthur meruntuki kebodohannya. Entah kenapa panggilan itu meluncur sendiri dari bibirnya yang terbiasa dengan kalimat-kalimat pedas dan tajam. Namun Arthur tidak bisa menarik perkataan yang sudah terlanjur terlontar itu. Terlebih ketika memperhatikan raut wajah pria di hadapannya yang semakin geram padanya.


Baiklah, hanya kali ini saja, batinnya tidak mempermasalahkan panggilan untuk Helena, meski ia mendapatkan tatapan heran dari Darren serta wanita itu. Setidaknya dengan berpura-pura acuh tidak akan mempermalukannya.


"Love, kau belum menjawabku, apa sebelumnya kalian sudah saling mengenal?" Kembali Arthur mengulangi panggilan mesra itu, telapak tangannya mengelus kepala Helena untuk menyadarkan wanita itu dari keterkejutannya.


"I-iya, dia adalah kekasih Carol. Aku mengenalnya hanya sekedar itu saja, selebihnya aku tidak tau apapun dan tidak ingin tau mengenai dirinya." Entah kenapa Helena menjelaskan secara detail, berharap Arthur tidak akan salah paham mengenai perkenalannya dengan Edwin Hemsworth. Tetapi kenapa ia harus berpikir seperti itu? Bukankah mereka tidak memiliki hubungan apapun, pikirnya terheran.


"Carol?" Kedua alis Arthur bertautan dalam, merasa tidak asing dengan nama itu. Mengenyahkan pikirannya, mata Arthur kembali menemui Edwin. "Kau sudah dengar apa yang di katakan oleh kekasihku, jadi sebaiknya kau segera pergi dari sini!" ujarnya penuh dengan penekanan.


Tangan Edwin mengepal, ia tidak bisa menyerah begitu saja. "Maaf Tuan Arthur, aku lebih dulu mengenal Nona Helen saat masih bersama dengan Tuan Mikel dan kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memiliki Nona Helen bagaimana caranya." Gila bukan? Jika kedua orang tuanya menyaksikan betapa beraninya putranya itu dengan Pewaris Keluarga Romanov, mungkin mereka akan terkena serangan jantung mendadak.


Maafkan aku Mom, untuk kali ini aku tidak bisa mengalah.


Cinta sudah mengalahkan logikanya. Selama ini Edwin berpikir menggunakan logika, akan tetapi ia tidak merasa bahagia menjalani hidupnya.


"Kau....." Arthur meradang, ia tidak suka di tantang seperti itu. Terlebih mengenai miliknya yang akan di rampas oleh pria lain. Wait? miliknya? Arthur menyadari keanehan pada dirinya, ia membatin heran, kenapa mendadak menjadi bodoh seperti ini? Terlebih bersikap diluar kebiasaannya dan bertindak dalam keadaan kesadaran penuh.


"Cukup Edwin!" Helena menahan lengan Arthur, ia tidak ingin pria itu terpancing emosi, sehingga berusaha menenangkan kekasih pura-puranya itu. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan merebut seseorang yang sudah menjadi milik pria lain. Kau sudah bersama dengan Carol, seharusnya kau sudah cukup puas bersamanya."


"Tidak, kau tau bagaimana perasaanku kepadanya. Aku mencintaimu lebih dari wanita itu." Edwin berusaha meyakinkan, tidak pedulikan sorot tajam mata Arthur yang seolah mampu menikam jantungnya.


"Tapi sayangnya wanitaku ini tidak memiliki perasaan kepadamu. Dia hanya mencintaiku dan aku tidak akan pernah melepaskannya untuk pria sepertimu!" Arthur menekankan perkataannya jika apapun yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah ia lepaskan begitu saja.


Darren dibuat terpengarah, ia tidak percaya jika Arthur dapat mengatakan hal seperti itu. "Ar, kau terlalu mendalami peranmu," batinnya tidak percaya dengan sosok Arthur yang baru pertama kali dilihatnya.


Berbeda dengan Helena yang merasakan ia seolah begitu dicintai, meski sebuah sandiwara ia tidak pernah mendengar kalimat seperti itu. Bahkan Mikel yang selalu berusaha menjaganya saja tidak pernah mengatakan hal demikian.


Bisakah, dia bersikap seperti ini lebih lama lagi? Ya, Helena begitu menikmati sikap Arthur yang seperti ini, tidak seperti biasanya yang memasang wajah dingin dan tidak tersentuh.


"Aku akan buktikan jika aku juga pantas bersama dengannya, aku-"


Klik!


Kalimat Edwin terputus ketika ia merasakan ada seseorang yang baru saja mengambil gambar mereka. Pun yang dirasakan oleh Arthur serta Darren, Arthur sekilas melirik Darren, memberikan perintah untuk mengurus paparazi yang dengan sengaja mengambil gambar mereka. Posisinya yang begitu dekat Helena, pasti mengundang beragam asumsi mengenai hubungannya dengan seorang wanita di sisinya ini. Dan berita tersebut bisa di manfaatkan oleh pencari sumber berita untuk menaikkan pamor perusahaan itu.


"Sebagai pria yang sudah ditolak, seharusnya kau segera pergi dari sini. Kau Pewaris tunggal Keluarga Hemsworth, bagaimana jadinya jika aku menarik investasi Romanov Group di perusahaan Hemsworth?!" Sebenarnya Arthur malas harus membawa kekuasaan yang ia miliki untuk menekan seseorang. Tapi salahkan saja pria itu karena terlalu bebal dan tidak tahu malu.


Mendengar perkataan pria di hadapannya, tubuh Edwin mendadak menegang. Ternyata Arthur mengetahui siapa dirinya, bisa gawat jika pria itu sampai menarik investasi pada perusahannya.


"Honey, sebaiknya kita saja yang pergi dari sini. Aku tidak ingin ada paparazi yang mengambil potret kebersamaan kita." Satu tangan Helena kembali mengalung di lengan kokoh Arthur.


"Baiklah, aku akan membawamu pergi dari sini." Sungguh tatapan dan suara lembut Arthur sangat menggetarkan hati Helena, tanpa sadar wanita itu berjinjit dan melabuhkan kecupan singkat di bibir Arthur. Sungguh ia begitu berani, tetapi tidak masalah. Sebab Helena berpikir setelah ini ia tidak akan bertemu dengan Arthur karena ia akan kembali ke Paris.


Tidak hanya Edwin yang terkejut sembari menahan rasa cemburu yang membara, Arthur pun tertegun lantaran Helena berani mengecup bibirnya.


"Kau berani sekali, hm?" bisiknya di telinga Helena, kemudian tangannya melingkari di pinggul wanita itu.


"Aku melakukan itu supaya dia cepat pergi, tapi lihatlah dia tidak pergi juga," balasnya berbisik. Ekor mata keduanya melirik ke arah Edwin yang masih bergeming di tempat, tanpa terlihat ingin berlalu. Sungguh tebal muka.


Tangan Arthur kemudian menarik dagu Helena dan tanpa di duga oleh wanita itu, Arthur melabuhkan bibirnya tepat di bibir Helena. Tak mampu menutupi keterkejutannya dengan bola mata yang membeliak penuh, Helena membalas serangan yang tiba-tiba. Bukankah sandiwara mereka akan semakin sempurna jika Edwin melihatnya begitu intim dengan Arthur. Keduanya ini saling memagut mesra, tidak pedulikan Edwin yang menatap penuh kemurkaan. Sebab di abaikan begitu saja seolah tidak ada dirinya disana.


Edwin menahan geram sambil berlalu pergi, wajahnya yang merah padam mewakilkan kemarahan pria itu.


"Edwin, kau dari mana saja?" Caroline berjalan menghampiri. Sudah sedari tadi wanita itu mencari Edwin, tetapi tidak menemukan dimana pun.


"Menyingkirlah!" Edwin mendorong kasar tubuh Caroline.


"Edwin! Kenapa kau kasar seperti ini?!" Caroline tidak terima, sebab selama ini Edwin tidak pernah menunjukkan perangai yang kasar. "Ayo, kita pulang bersama. Kita akan mengunjungi-"


"Aku peringatkan padamu Carol, kita bukan lagi sepasang kekasih!" Edwin menyela, sungguh jengah dengan sikap Caroline yang seolah tidak terjadi apapun. "Bukankah itu keinginanmu, jadi berhentilah bicara dan kau bisa pulang sendiri!"


Caroline menghentakkan kaki dengan kesal ketika melihat punggung Edwin yang perlahan menjauh. Namun detik kemudian senyumnya terbit.


"Tidak masalah jika Edwin pergi, aku bisa mendekati Tuan Arthur," ucapnya penuh percaya diri. "Ahhh, sepertinya aku harus segera pulang dan memberitahu berita bagus ini kepada Mommy." Wajahnya sumringah, ia melangkah menuju tepi jalan untuk menyetop taksi.


To be continue


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...